Sebulan kemudian... Arini kembali melamun. Bayangannya tertuju pada sosok Raffa. Lelaki yang tanpa sengaja telah mengambil hatinya dan juga cintanya. Arini menatap layar ponsel itu. Terakhir kali, yang ia telepon adalah Aqilah. Sahabatnya itu. Ia bercerita kalau menurut pengamatannya, Raffa sama sekali tak nampak seperti lelaki yang tengah patah hati. Justru terlihat binar bahagia di matanya. "Apa hanya aku yang mencinta? Dia tidak serius?" Batin Arini. Kala itu, setelah ucapannya saat ingin bekerja lagi. Ada tamu yang datang ke rumah Arini. "Assalamu'alaikum." Ucapnya. Dua orang datang bertamu. Kyai besar dan Nyai di Pesantren datang. "Wa'alaikum Salam. Pak Kyai." Ucap Paman Ari. Kini semua tengah berada di ruang tamu. Sementara Arini membuatkan teh untuk tamunya. "Begini, nak Ar

