Sekamar Dengan Dua Wanita

1106 Kata
"Ada hal yang sedang aku urus," jawab Bara dengan lirih. "Kamu jangan terlalu banyak bermain-main Bara, kamu harus fokus dengan tujuanmu!" Suara di telepon itu terdengar kesal. Bara diam tak menanggapi. Laki-laki itu justru menatap wajahnya di depan cermin wastafel. "Cepat selesaikan tugasmu dan segeralah kembali. Dua tahun itu sudah cukup untuk kamu bisa mengendalikan segalanya." Peringatan dari penelpon itu. Panggilan itu pun berakhir begitu saja. Bara segera memasukkan ponselnya ke saku celana hitam yang ia kenakan saat ini. Laki-laki itu segera menyalakan keran air untuk mencuci wajahnya, setelah merasa segar ia bergegas membuka pintu kamar mandi. Namun, saat ia melihat ke dapur Aluna sudah tak berada di sana lagi. "Mungkin gadis itu telah tidur saat ini," gumam Bara sambil meninggalkan dapur. Laki-laki yang kini mengenakan kaos putih polos itu segera menuju sofa panjang di ruang tamu, tetapi justru ia terkejut karena melihat Aluna sudah berbaring di sana dengan mata yang terpejam. Bara mendekati gadis berusia 22 tahun itu dan menatap wajah cantik Aluna, senyum simpul mengembang sempurna di bibirnya. "Kenapa kamu selalu membuatku lemah, aku hampir saja melupakan tujuan awalku ketika sedang bersamamu," lirih Bara pelan. "Aku ingin wanita itu keluar dari rumah, aku merindukanmu, Ibu." Aluna tengah mengigau saat ini. Bara benar-benar merasa sedih karena kisah hidup gadis itu tak mudah. Setelah puas memandangi wajah cantik Aluna, laki-laki itu akan melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruangan. Namun, yang terjadi adalah tangan Aluna dengan cepat menarik ujung kaos putih Bara. Tentu saja hal itu membuat Bara terpaksa menghentikan langkah kakinya, ia memutar tubuhnya menghadap ke arah Aluna yang saat ini masih tertidur. Gadis itu benar-benar tengah menarik kaos putih yang Bara kenakan saat ini tanpa sadar. Bara memutuskan untuk mendekat, tubuh laki-laki berdada bidang itu segera membungkuk untuk melepaskan tangan Aluna darinya, tetapi gadis berambut panjang itu justru mengigau lagi. "Jangan pergi Ibu, Aluna ingin tidur dalam pelukanmu." Bara mengehela napas panjang, laki-laki itu terpaksa menekuk lutut dan duduk di lantai samping sofa di mana Aluna tengah tertidur saat ini. Gadis itu tetap tak mau melepaskan tangannya dari menggenggam baju Bara. Bara tersenyum tanpa sadar melihat wajah Aluna saat tidur, senyuman yang benar-benar terlihat dari lubuk hatinya. Tangan laki-laki dengan tinggi 177 cm itu segera mengelus pucuk kepala Aluna dengan lembut seperti seorang kekasih yang begitu mencintai pasangannya. Aluna kini justru menggeser tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Bara walau ia melakukan itu tanpa sadar, tapi cukup membuat jantung Bara berdebar. Hal itu juga hampir saja membuat gadis itu terjatuh dari sofa, tetapi Bara segera menahan kepala anak bosnya itu. Karena Ia tak ingin mengganggu tidur nyenyak Aluna saat ini, Bara justru membiarkan gadis itu tidur di telapak tangannya dengan nyaman. Tangan Bara benar-benar seperti alas bantal bagi Aluna. Rambut Aluna yang jatuh menutup wajahnya membuat Bara segera menyelipkan di telinga gadis cantik itu. Aluna benar-benar cantik saat tertidur seperti wajah bayi sungguh imut dan manis. Kurang lebih satu jam Bara membiarkan Aluna menjadikan tangannya sebagai alas bantal, saat tubuh gadis itu merubah posisi ia segera mengangkat tangannya yang kini sudah mati rasa akibat gadis berambut panjang itu. Laki-laki berparas tampan itu segera bangkit, ia meraih selimut putih di atas meja dan segera menyelimuti tubuh Aluna. Bara kini justru memilih tidur di lantai beralaskan seprai agar bisa menjaga gadis itu agar tak terjatuh. Pukul 07:00 WITA, Citra terbangun. Gadis pemilik rambut pendek itu membuka mata dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang saat ini ia tempati. Citra benar-benar terlihat bingung, ia sampai memeriksa seluruh tubuhnya karena hal itu, takut ia telah diapa-apakan oleh seseorang. Gadis bergigi gingsul itu melangkah mendekat ke sebuah meja kerja dan melihat foto Bara di atas meja, ia segera tersadar dan berlari ke luar kamar. Namun, saat sampai di ruang tamu justru ia semakin terkejut mendapati Aluna dan Bara masih tertidur. Aluna yang tidur di atas sofa sementara Bara tidur di bawahnya, tetapi anehnya tangan mereka saat ini justru tengah saling menggenggam. "Apa-apaan ini?" gumam Citra. Gadis berusia 22 tahun itu segera mendekat ke arah Bara dan Aluna. Ia bahkan berteriak dengan kencang. "Bangun!" Bara yang tak tahan dengan suara keras membuka mata perlahan-lahan, ia duduk dengan nyawa yang belum terkumpul. Saat ia menyadari melihat Citra tengah berdiri di hadapannya laki-laki itu terkejut bukan main sampai-sampai hampir loncat dari tempatnya duduk saat ini. "Ada apa? Kenapa kamu terkejut?" tanya Citra begitu saja. "Kamu? Aku kira hantu," jawab Bara sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku hantu?" tanya Citra sambil menatap wajah Bara dengan sangat tajam. Bara segera menggeleng. "Bukan, bukan begitu maksudku. Aku hanya terkejut karena tiba-tiba aku melihatmu sudah berada di hadapanku." Citra menatap Bara, gadis itu masih memiliki banyak cinta pada Bara, tetapi ia sudah tak memiliki nyali untuk mengatakannya lagi. Ia benar-benar sudah kalah sebelum berjuang keras. "Kenapa malah bengong?" tanya Bara. "Ah, enggak. Aku cuma heran kenapa kalian bisa tidur di sini sambil bergandengan tangan seperti itu?" Pertanyaan Citra seketika membuat Bara tersadar bahwa saat ini tangannya tengah berpegangan pada Aluna. Laki-laki yang memiliki bulu halus di atas bibirnya itu segera melepaskan tangan dari genggaman Aluna. "Maaf, mungkin saat kami tidur itu terjadi karena tidak sengaja." Bara berusaha untuk menjelaskan pada Citra. "Untuk apa kamu menjelaskan hal seperti itu padaku? Kita juga tak memiliki hubungan apa-apa bukan?" "Aku hanya takut kamu salah paham dan menganggap kami memiliki hubungan," kata Bara dengan hati-hati. "Sudahlah lupakan saja!" Citra terlihat kesal. Aluna yang sedari tadi masih tidur tak menyadari apa yang saat ini telah terjadi. Ia terbangun dan melihat Citra dan Bara tengah berdiri di hadapannya. Gadis dengan rambut panjang hitamnya itu segera bangun dari tidur dan duduk manis di sofa. "Kalian berdua sedang apa di sini?" Aluna justru menatap bingung pada mereka. Bara menggaruk kepalanya dengan satu tangan, ia segera meninggalkan kedua gadis itu di ruang tamu sementara ia masuk ke kamar mandi agar fresh dan kuat menghadapi kedua gadis aneh yang saat ini berada di apartemennya. "Citra ada apa, sih?" tanya Aluna dengan raut wajah khas baru bangun tidur. "Gak ada apa-apa." Citra buru-buru menggeleng. Ia juga lebih baik fokus untuk membuatkan Bara sarapan. "Citra katakan ada apa?" tanya Aluna lagi. Mendengar pertanyaan itu Citra justru meninggalkan Aluna begitu saja untuk mencari letak keberadaan dapur laki-laki tampan itu. Aluna yang baru selesai mengikat rambut segera mengejar Citra yang kini terlihat mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk dimasak dari kulkas. "Apa-apaan ini, bahkan laki-laki itu tak memiliki sayuran justru makanan cepat saji," gerutu Citra. Namun, gadis cantik bergigi gingsul itu tetaplah Citra yang memiliki banyak ide untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. "Citra kamu mau apa?" tanya Aluna bingung melihat sahabatnya tengah celingukan. "Masak, aku ingin menjadi calon istri yang baik untuk Bara. Jadi aku tak akan menyerah untuk mendapatkan hatinya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN