Wanita yang Menghubungi Bara

1090 Kata
Aluna tiba di tempat yang anak buah ayahnya katakan saat langit sudah gelap bertabur bintang. Gadis itu melangkah cepat masuk ke tempat di mana ia dan Citra menghabiskan waktu bersama jika tengah suntuk. Namun, saat melihat Citra setengah mabuk dengan kesal Aluna meraih gelas kecil dari tangan sahabatnya itu kasar, membuat Citra menoleh ke arahnya dengan terkejut. "Berikan gelasku!" pinta Citra dengan rancau. "Enggak!" tegas Aluna. "Aku bilang berikan," ucap gadis itu lagi sambil berusaha berdiri, tetapi ia justru hampir jatuh karena tak berdiri dengan benar. "Berikan Luna cepat, kamu apa-apaan sih?!" Citra berusaha menggapai gelas kaca yang berada di tangan sahabatnya. "Kamu itu yang apa-apaan, hanya karena laki-laki seperti Bara kamu seperti ini. Dasar bodoh!" ucap Aluna keras. Aluna meletakkan gelas di meja, Citra segera menghambur ke pelukan sahabatnya itu dan mulai menangis. "Aku benar-benar menyukai Bara, apa pun akan aku lakukan agar ia jadi milikku," ucap Citra sembari memukuli lengan Luna pelan. "Apa sih, gak usah gila. Lagian apa yang kamu lihat dari Bara?" "Kamu tak akan paham, aku benar-benar jatuh hati padanya." Aluna meletakkan kedua tangan di atas bahu Citra dan berkata, "Bara bahkan tak sepadan dengan kita Citra, jika orang tuamu tahu apakah kamu pikir mereka akan setuju?" Citra menggeleng-geleng. "Aku gak peduli. Aku hanya mau Bara." Citra membuat Aluna semakin kesal, gadis itu benar-benar tak peduli dengan dirinya sendiri justru ia terus saja menginginkan Bara seperti anak kecil merengek untuk mendapatkan apa yang ia mau. Aluna merasa heran, apa sih, yang dilihat Citra dari laki-laki itu. Bara bahkan hanya pegawai biasa memang sih, wajah Bara tampan, tapi kasta mereka jelas-jelas jauh berbeda. "Sudahlah hentikan ini ayo kita pulang!" ajak Aluna. "Enggak mau! Aku mau Bara!" teriak Citra frustrasi. "Sadarlah Citra, Bara itu sampai kapanpun tidak dapat membalas perasaanmu ke dia. Kamu ingat tante-tante itu, kan? Kamu tahu sendirikan, kamu lihat sendirikan. Dia sama ibu-ibu itu pasti memiliki hubungan khusus. Dengar baik-baik, kamu itu jauh lebih baik jadi untuk apa kamu menginginkan laki-laki biasa seperti Bara, dia hanya tangan kanan ayahku," jelas Aluna panjang lebar. "Persetan dengan hal itu, intinya aku mencintai Bara, titik. Aku hanya mau Bara!" Citra benar-benar sudah kehilangan kendali. Sementara Bara kini justru hanya memperhatikan kedua gadis itu dari jauh, ia lalu berjalan mendekat ke belakang tubuh Aluna. Citra yang duduk di hadapan sahabatnya itu tentu saja kini melihat kehadiran Bara. Seketika Citra bangkit dan tersenyum aneh ke arah Bara. "Kenapa aku harus terjebak dengan dua gadis aneh ini," gumam Bara begitu pelan. "Apa kamu ke sini untuk meminta maaf padaku?" tanya Citra begitu saja. Mendengar hal itu Bara langsung mengangguk. "Tentu saja, aku tahu aku salah padamu." Citra lalu tersenyum senang mendengar hal itu, gadis itu akan mendekat untuk memeluk Bara jika bukan tiba-tiba saja kakinya menyandung sesuatu dan terjatuh. "Citra, hati-hati," ucap Aluna segera meraih tangan sahabatnya yang berbaring di lantai saat ini. Namun, ternyata Citra tengah kehilangan kesadaran. Hal itu membuat Bara segera menggendong tubuh gadis berambut sebahu itu atas permintaan Aluna. Citra yang sudah berada dalam gendongan Bara segera melingkarkan kedua lengan di tengkuk laki-laki itu, tentu saja Bara marah terkejut saat ini mereka tahu bahwa sebenarnya Citra hanya berpura-pura pingsan. "Turunlah, jangan seperti ini!" pinta Bara sambil menurunkan kaki Citra dari gendongan ala bridal style itu. Citra yang kini berdiri di hadapan Bara tetap tak ingin melepaskan tangannya dari leher laki-laki itu. "Bara, aku benar-benar menyukaimu. Apakah kamu tahu itu?" Lagi-lagi Citra merengek. Aluna segera menarik tangan sahabatnya itu dan membuka pintu untuk memasukkan gadis itu ke dalam mobilnya. Seperti biasa karena Citra mabuk jadilah Aluna yang mengendarai mobil pink itu. "Bisakah kamu tak membuatku malu?" Aluna bicara sendirian saat ini. Aluna bener-bener tidak tahu ia harus ke mana dengan keadaan mereka saat ini, hanya ada satu tempat yang aman untuk mereka berdua dan Aluna memutuskan untuk pergi ke rumah itu. Saat tiba di depan pintu apartemen itu seorang laki-laki membuka pintu. "Kalian? Mau apa ke sini?" Bara terkejut. "Tentu saja kami akan menginap di sini karena sebenarnya kami nggak punya tujuan, ke mana lagi tempat yang aman untuk kami saat malam seperti ini selain bersamamu," jawab Aluna jujur. Walau dengan rasa berat hati akhirnya Bara mengijinkan kedua perempuan itu masuk ke dalam apartemennya. Ia sendiri sebenarnya merasa senang ada Aluna bersamanya saat ini, tetapi karena suatu hal, ia lebih suka menutupi dengan sikap dinginnya itu. Aluna segera merebahkan tubuh Citra di atas tempat tidur besar itu, ia merasa seperti seorang pelayan bagi Citra saat ini. Gadis itu juga melepaskan kedua sepatu dan kaos kaki perempuan yang ia sebut sebagai sahabat. Setelah menyelimuti tubuh Citra Aluna memilih keluar dari kamar dan melihat apa yang saat ini tengah Bara lakukan, tetapi tiba-tiba saja Aluna merasa pusing dan ia hampir saja jatuh jika tidak karena Bara yang segera menahan pinggang gadis itu agar dari tidak jadi terjatuh. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bara saat kedua mata mereka bertemu. "Aku baik-baik saja," jawab Aluna. "Hanya sedikit pusing." "Apa kamu sudah makan?" Bara bertanya lagi. Aluna menggeleng. "Aku bahkan tak sempat makan hari ini." "Baiklah, kalau begitu ikutlah denganku." Ajak Bara. Aluna segera mengikuti langkah kaki baru sampai mereka berdua kini berada di dapur bernuansa putih itu. "Kita ngapain di dapur? Aku akan pesan makanan saja," cetus Aluna. "Tidak, jangan!" ucap Bara tiba-tiba. "Kenapa?" "Duduklah, aku akan membuatkan kamu makan malam," ujar Bara. Benar saja laki-laki dengan tinggi 177cm itu begitu lihai memasak. Aroma makanan itu benar-benar tercium menggoda di hidung Aluna saat ini. "Bagaimana kamu bisa begitu pintar memasak seperti saat ini?" tanya Aluna bingung. "Tentu aja aku belajar karena aku tak ingin saat memiliki istri nanti ia sibuk memasak sendirian." Aluna mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Bara. Laki-laki yang kini duduk di hadapannya setelah menyodorkan piring berisi tumis daging sapi lada hitam. "Makanlah, dan jangan buat isi perutmu kosong lagi seperti ini." Aluna menatap bingung pada laki-laki itu, Bara benar-benar tak bisa ditebak. Terkadang ia terlihat manis, menyebalkan, dingin, dan peduli. Sebetulnya, mana pribadi laki-laki itu sebenarnya. Aluna segera memasukan suapan pertama ke mulutnya, menimang rasa masakan itu, tetapi setelah menelannya gadis itu justru ketagihan dan menghabiskan makanan yang Bara masak khusus untuknya. "Jika kamu sudah kenyang, kamu bisa beristirahat di kamar dengan Citra. Aku akan tidur di sofa," lanjut Bara membuat Aluna semakin merasa bahwa Bara tak seburuk dengan apa yang ia pikirkan. Bara kini meraih ponselnya, ia bergegas ke kamar mandi untuk mengangkat panggilan masuk di alat komunikasi jarak jauh itu. Setelah menutup pintu kamar mandi ia segera mengangkat panggilan dari seseorang yang telah menghubunginya sejak tadi. "Kenapa kamu lama sekali mengangkat teleponnya?" Suara seorang wanita dari ponsel Bara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN