Tuduhan Steven

1143 Kata
Aluna turun dari mobil dengan kesal, ia menutup pintu taxi dengan kasar lalu pergi setelah membayar. Gadis itu melihat dengan jelas ada mobil yang begitu ia kenali saat ini terparkir di halaman rumah. Seperti tak memedulikan apa yang saat ini mungkin saja terjadi di dalam, Aluna melangkah masuk ke rumah mewah itu dengan percaya diri, bahkan tak sedikit pun ia menundukkan kepala di hadapan orang-orang yang saat ini tengah duduk di sofa hitam mengkilap itu. "Dari mana kamu?" tanya Pak Haris saat melihat sang putri kini telah berdiri di hadapannya. "Kenapa?" Aluna bukannya menjawab pertanyaan sang ayah ia justru bertanya balik. "Apa benar kata Steven kamu memutuskan dia?" Pak Haris menatap tajam wajah sang putri. Aluna hanya mengangguk dengan santai. "Apa yang membuat kamu memutuskan hubungan kalian, Luna?" Pak Haris terlihat kecewa dengan gadis itu. Aluna segera duduk di samping sang Ayah, menyilangkan kaki jenjangnya dengan santai lalu tersenyum pada Steven. "Tentu saja karena dia telah berselingkuh di belakang Steven," ucap ibu Steven penuh amarah. Aluna yang mendengar pernyataan dari orang tua Steven justru tertawa terbahak-bahak seperti ada hal yang begitu lucu terjadi saat ini. "Lihat, gadis ini benar-benar gila. Ia benar-benar kehilangan kewarasan, apa yang tengah ia tertawakan saat ini?" Ibu Steven terlihat kesal. "Justru karena aku masih waras maka aku memutuskan hubungan aku dengan anak Anda," jawab Aluna setelah berhenti tertawa. "Luna, apa maksudmu?" Pak Haris menatap putri tunggalnya itu lagi. "Aluna akui saja, kamu berselingkuh dengan anak buah ayahku itu. Sungguh rendahan sekali seleramu!" Steven menatap mantan kekasihnya penuh jijik. "Diam, mulut kotormu itu tak pentas menghina Bara seperti itu. Ia jauh lebih baik daripada laki-laki rendahan sepertimu!" Luna memasang wajah sinis. "Eh, enak sekali kamu membandingkan putra saya dengan pegawai biasa!" Pak Haris kini menatap Luna, meminta putrinya untuk menjelaskan apakah benar apa yang Steven dan keluarganya tengah katakan saat ini. "Terserah Ayah mau percaya pada siapa, tapi Aluna hanya sedang menjaga diri Aluna dari laki-laki b******k macam Steven." "Pak Haris, Anda dengar itu bagaimana Aluna menghinakan anak saya. Apakah dia pikir, dia putri radja sehingga bebas melakukan apa yang ia mau!" "Maaf, Bu Dewi. Saya tahu bagaimana putri saya, jika ia bersikap seperti ini pasti ada hal yang sudah Steven lakukan padanya," ucap Pak Haris tegas. "Maksud Pak Haris, Steven yang salah dalam hal ini? Anak saya itu korban perselingkuhan! Putri Anda itu mengkhianatinya dengan berhubungan dengan pegawai Anda sendiri." "Berhenti menyalahkan putri saya. Karena memang benar, ia adalah putri radja, aku dan ibunya membesarkan dia selama ini memang sebagai putri." Bu Dewi terdiam. Sebenarnya jika pertunangan itu batal bukan keluarga Pak Haris juga yang rugi karena kekayaan Pak Haris jauh lebih besar dari orang tua Steven. Jika kerjasama itu batal maka tentu saja perusahaan Bu Dewi yang pasti akan merugi. "Ayah tahu, Steven mencoba untuk menyentuhku, dia memasukan obat ke minumanku. Jika Ayah tak percaya, tanyakan pada Bara," ujar Aluna dengan santainya. "Bara memang sudah Ayah panggil dan ia masih dalam perjalanan menuju ke sini." "Steven gak mungkin melakukan hal itu!" Bu Dewi tak terima. "Mungkin saja kamu dan laki-laki itu bersekongkol untuk menyalakan anak saya." "Dih, ngapain aku bohong. Jika tak percaya aku punya buktinya. Di pesta ulang tahun itu temanku memasang CCTV apa aku perlu meneleponnya juga?" "Tidak!" seru Steven tiba-tiba. "Ma, gak usah diperpanjang lagi masalah ini. Aku rasa kita pulang saja sekarang." "Kenapa Steven? Kenapa kamu buru-buru? Apa kamu takut?" Ledek Aluna. Steven menatap Aluna tajam, dalam hatinya saat ini ia akan memberikan pelajaran pada gadis itu nanti, lihat saja. Bara yang tiba di depan rumah Pak Haris, segera keluar dari mobil hitamnya dan melangkah menuju rumah besar itu. Ia kini berada di ruang tamu dan memberikan hormat pada Pak Haris dengan menundukkan kepalanya. "Ada Pak, kenapa Bapak memanggil saya ke sini?" tanya Bara yang kini meletakkan kedua tangan di depan tubuhnya dengan begitu sopan. "Apakah kamu dan Aluna memiliki hubungan?" tanya Pak Haris begitu saja membuat Bara terkejut setengah mati. Bara terbatuk-batuk, jantungnya saat ini terasa hampir saja lepas dari tempatnya. Bagaimana mendadak semua orang seakan-akan mengetahui perasaannya untuk Aluna. Bara menggeleng. "Kami tak memiliki hubungan apa pun, kecuali karena saya bertugas untuk menjaganya." "Lalu, apa benar bahwa Steven hendak melecehkan Aluna?" Bara mengangguk. "Iya, Steven memuaskan obat ke minuman Aluna untuk menyentuhnya, tapi malam itu aku menggagalkan rencananya." Wajah Steven memerah, ia benar-benar tak bisa lagi berbohong apalagi Pak Haris memang lebih mempercayai Bara lebih dari siapapun. Steven berdiri begitu saja, laki-laki itu segera pergi meninggalkan rumah Pak Haris dengan dendam di hati. Sementara sang ibu tentu saja mengejar putranya tanpa pamit. Aluna yang masih duduk di sofa ia hanya diam tak berkata lagi pada sang ayah. Situasi terasa canggung karena hubungan ayah dan putrinya memang tak begitu baik setelah kehadiran Maureen di rumah itu. Ponsel Aluna berdering, gadis itu segera mengangkat panggilan dari anak buah sang ayah yang ia perintahkan untuk mencari keberadaan Citra. "Baiklah aku pergi ke sana sekarang!" tegas Aluna lalu memasukkan kembali ponsel ke tasnya. Aluna pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun pada sang Ayah, gadis itu benar-benar tak menganggap keberadaan sang ayah di hadapannya. Ia segera keluar dari ruang utama. "Bara, kamu tolong jaga Aluna. Ikuti dia mau ke mana saat ini," pinta Pak Haris. "Baik, Pak. Saya akan melaksanakan perintah. Bapak tenang saja," ucap Bara. "Terimakasih banyak, saya begitu percaya padamu. Terimakasih banyak karena sudah mau menjaga Aluna dengan baik." Bara mengangguk dan tersenyum. Walau dalam hatinya saat ini berkata. Percayalah padaku karena itu memang yang aku inginkan. Bara segera pergi mengejar Aluna setelah berpamitan pada Pak Haris, tetapi saat ini ia justru melihat Aluna celingukan di halaman. "Bukankah kamu mau pergi? Kenapa masih di sini?" tanya Bara bingung. "Taksi belum datang," jawab gadis berambut panjang itu jutek. "Baiklah, aku antar," ucap Bara. Aluna berbalik menatap laki-laki yang lebih tinggi darinya dan berkata, "Tumben." "Ya, karena hari ini aku lagi ingin berbuat baik." Seketika Aluna menaikan bibir atasnya mendengar ucapan Bara "Jadi mau apa enggak?" tanya Bara lagi. Aluna mengangguk. Gadis itu lalu membuka pintu mobil Bara bagian belakang, tetapi Bara dengan cepat mendorong pintu itu dengan tangan satu. "Kamu pikir aku sopir, duduk di depan!" perintahnya. Aluna hanya memasang wajah kesal, ia lalu segera membuka pintu depan dan masuk begitu saja. "Pelan-pelan nutup pintunya, kamu pikir kamu banyak uang untuk memperbaikinya jika rusak." Dengkus Bara setelah duduk di samping Aluna. Aluna segera menoleh menatap Bara. "Kamu pikir aku gak punya uang?" Bara yang kini fokus menyetir tak sama sekali menoleh ke arah Aluna. Ia hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan anak bosnya itu. "Ya!" teriak Aluna. "Kamu pikir ini apa?" Aluna menunjukkan kartu kredit yang saat ini ia pegang. "Itu hasil dari ayahmu. Kamu sama sekali tak memiliki uang jika ayahmu tak memberikannya bukan?" Perkataan Bara membuat Aluna semakin kesal, tapi ia tak marah karena itulah kenyataannya. Aluna memilih menatap ke luar kaca jendela mobil setelah memasukan kartu kredit itu ke dalam tasnya kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN