Bara dan Aluna benar-benar terpanah satu sama lain saat ini, sampai dengan tiba-tiba Citra berteriak pada satpam yang memeganginya untuk melepaskan dirinya.
Bara yang tersadar dari sihir cinta segera melepaskan tangannya dari pinggang Aluna. Gadis berambut panjang itu segera merapikan baju dan entah kenapa ia terlihat salah tingkah karena tatapan mata tadi dengan anak buah kepercayaan sang ayah.
"Ada apa ini?" Bara segera merubah raut wajahnya menjadi tegas dan berwibawa.
Seorang pegawai meraih dokumen di lantai dan menyerahkan pada Bara yang kini justru terlihat menatap tajam pada Aluna dan Citra. Kedua gadis labil yang terus-menerus membuat ulah dalam hidupnya.
"Ini, nih, masak kita mau diusir sama satpam," ucap Citra sambil memasang wajah jutek pada pegawai informasi.
Bara meraih dokumen itu dan segera berkata, "Kalian berdua ikut saya!"
Aluna dan Citra seketika memandang satu sama lain, tetapi akhirnya mengikuti langkah kaki Bara yang kini masuk ke sebuah ruangan.
Laki-laki berdasi hitam senada dengan warna jas yang ia kenakan itu segera melempar dokumen di atas meja, melipat tangan di d**a dan memandang tajam kepada kedua perempuan yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah sok polos seakan-akan tak melakukan kesalahan.
"Apa yang kalian berdua lakukan? Apa kalian selalu membuat keributan di mana pun kalian berada?" tanya Bara dengan mengeraskan rahang kokohnya.
Sikap Bara saat ini benar-benar seperti seorang kakak laki-laki yang harus mengurus dan menghadapi kenakalan remaja kedua adik perempuannya. Bara benar-benar dibuat frustrasi oleh anak bos dan sahabatnya.
"Pegawai itu saja yang seenaknya pada kami!" Aluna melipat tangan di d**a, ia terlihat kesal.
Sementara Citra segera melangkah untuk mendekat pada Bara, tetapi laki-laki itu justru segera menyuruh gadis dengan rok mini ketat itu untuk berhenti mendekatinya.
"Apa kalian pikir kantor ini adalah tempat untuk main-main? Kami di sini bekerja untuk menyambung hidup, tapi kalian seolah-olah menganggap kantor ini adalah wahana permainan untuk bersenang-senang!" Bara melipat tangan di d**a menyandarkan pinggang di pinggiran meja kerjanya.
"Aku ke sini untuk menemui kamu," jawab Citra lirih.
Aluna yang mendengar itu segera menoleh ke arah sahabatnya, ia benar-benar tak percaya dengan pengakuan dari Citra. Apakah gadis itu benar-benar sudah kehilangan akal.
Sementara Bara justru menatap Citra penuh keheranan, laki-laki itu memang hanya menganggap Citra sebagai sahabat dari Aluna tidak lebih. Kalaupun selama ini Bara bersikap ramah bukan berarti karena ia menyukai Citra, tetapi ia menganggap gadis imut itu sebagai perempuan yang hatinya harus dijaga.
"Menemuiku? Kenapa?" Bara makin bingung.
"Aku suka kamu, sangat-sangat menyukaimu," jawab Citra dengan jujur dan bergetar karena malu serta takut.
Namun, di luar dugaan Bara justru tak merespon perkataan Citra yang setengah mati gadis itu ungkapkan.
"Lalu?" Bara menatap Citra datar.
"Kamu paham gak, sih, aku suka kamu dan aku mau jadi pacar kamu!" teriak Citra.
"Kenapa kamu mau jadi pacarku? Aku benar-benar tak mengerti kenapa tiba-tiba kamu menyatakan perasaan seperti ini," ucap Bara yang sama sekali tak memiliki rasa kepekaan sebagai laki-laki dewasa.
Citra menatap Bara tak percaya, tetapi ia menunggu jawaban dari laki-laki itu tentang pernyataan perasaan yang telah ia akui saat ini.
Bara sebenarnya canggung akan situasi saat ini, hal itu membuatnya memilih untuk mengomentari penampilan Citra.
"Apa kamu sedang berakting saat ini? Bahkan, penampilan kamu terlihat jauh dewasa dari usiamu. Kamu terlihat seperti tante-tante, sungguh aneh," gumam Bara tanpa perasaan.
Mendengar ucapan Bara seketika wajah Citra memerah karena malu. Matanya bahkan terlihat berkaca-kaca saat ini karena ia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan. Akan tetapi, dibilang seperti tante-tante tentu saja lebih sangat-sangat menyakitkan bagi Citra.
"Kamu jahat, Bara!" seru Citra sambil menangis.
Gadis berambut sebahu itu segera meninggalkan ruang kerja Bara, hatinya saat ini benar-benar tengah hancur.
"Gak bisa ya, kamu menghargai perasaan orang lain yang menyukai kamu!" seru Aluna pada Bara.
"Jangan drama deh, aku lagi banyak kerjaan," jawab Bara cuek.
"Setidaknya kamu hargai penampilan Citra, bukannya menghina dia seperti itu."
Bara yang tengah berdiri di samping meja, segera melangkah mendekat pada Aluna membuat gadis itu seketika terdiam. Wajah Bara benar-benar begitu dekat dengan wajahnya saat ini.
"Kenapa Citra harus berpenampilan seperti tante-tante?" Bara menatap kedua mata indah Aluna.
Mendapatkan tatapan tajam dari laki-laki tampan itu tentu saja membuat Aluna menelan ludahnya sendiri tanpa sadar.
"Karena, dia menyukaimu."
Bara mengangguk-angguk. "Tapi sayangnya aku sudah menyukai gadis lain."
Ucapan Bara ini benar-benar tulus dari dalam hatinya, ia memang menyukai orang lain saat ini dan gadis itu tentu saja Aluna.
"Ya, aku tahu!" jawab cepat Aluna.
Mata Bara menatap penuh selidik, apakah Aluna bisa membaca isi kepalanya saat ini. Bagaimana bisa ia tahu bahwa Bara menyukai dirinya.
"Siapa?" Bara masih menatap mata Aluna.
Aluna dengan cepat mendorong d**a bidang milik Bara, ia lalu berkata, "Yang kamu sukai wanita yang lebih tua darimu bukan, seorang ibu-ibu."
Mendengar jawaban Aluna mata Bara membulat sempurna dengan seketika karena terkejut, jika tidak sedang bersikap dingin mungkin Bara akan tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari anak bosnya itu.
Bara segera memundurkan tubuhnya dari Aluna, ia segera berkata, "Wah, daebak!" Bara menepuk-nepuk tangannya. "Bagaimana kamu bisa tahu aku menyukai wanita yang lebih tua dariku?"
Mendengar jawaban dari Bara membuat Aluna kesal. "Urus saja tante-tante itu. Bye!"
Bara hanya bisa terpaku melihat kemarahan di wajah Aluna, gadis itu bahkan keluar begitu saja dari ruang kerja Bara.
Bara menunduk sambil mengacak rambutnya, ia terlihat menghela napas berat lalu duduk di kursinya yang besar dan nyaman itu.
Bara-Bara apa yang kamu pikirkan, hah? Konyol sekali bagaimana mungkin gadis itu akan menjadi milikmu, ingatlah misi apa yang sedang kamu jalani saat ini.
Sementara itu Aluna sudah keluar dari lift dan segera berlari keluar gedung. Namun, ternyata mobil Citra sudah tak ada di sana. Gadis itu benar-benar tengah mengkhawatirkan sahabatnya saat ini.
Aluna segera meraih ponsel dan mencoba menghubungi nomor hape Citra, tetapi sepertinya sang sahabat telah dengan sengaja mematikan alat komunikasi jarak jauh itu saat ini.
Bukan Aluna namanya jika ia tak memiliki akal lain, ia segera meminta anak buah ayahnya untuk mencari keberadaan Citra saat ini, setelah Itu ia pergi dengan taxi yang ia telah pesan sebelumnya.
Ponsel Aluna berdering, gadis itu segera meraih benda pipih dari dalam tas dan melihat nomor sang penelepon. Ayah, tulisan nama yang tertera di layar ponsel itu.
Aluna yakin Maureen pasti sudah mengadu pada suaminya atas ulahnya tadi di rumah. Gadis putih berambut panjang itu mengabaikan panggilan dari sang ayah.
Namun, karena ayahnya terus-menerus menelepon sampai puluhan kali akhirnya Aluna menerima panggilan masuk itu, ia khawatir ada hal yang penting.
Baru juga Aluna menempelkan ponselnya di telinga sang ayah sudah menjerit keras. "Di mana kamu, pulang sekarang juga!"