"Sandra!" teriak Aluna begitu keras sehingga menampakkan urat-urat di lehernya.
Seorang wanita dengan pakaian seragam hitam terburu-buru menuju ke arah sumber suara, ia segera menundukkan badan saat melihat Aluna berdiri di ambang pintu utama, wanita itu lalu mendekat dan bertanya, "Nona sudah pulang?"
"Emang yang kamu lihat ini apa? Jelas-jelas aku udah pulang pakai tanya lagi," jawab Aluna ketus.
"Maaf, Nona," lirih Sandra pengasuh Aluna.
Aluna mengabaikan pengasuhnya dan segera melangkah dengan penuh percaya diri, ia melemparkan tas ke atas sofa lalu berjalan untuk menuju tangga, tetapi langkahnya terhenti saat seorang wanita berdiri di atas berseru, "Eh, tuan putri pulang juga!"
Aluna yang malas melihat Maureen segera tersenyum kecut saat disapa seperti itu.
"Kelayapan kemana aja sampai dua malam gak pulang?" Maureen menarik sudut bibirnya.
"Sandra, kamu dengar ada suara gak?" tanya Aluna pada pengasuhnya.
Sandra hanya mengangguk.
"Tapi kok, gak ada manusianya. Jangan-jangan jin iprit lagi," ujar Aluna lalu terkekeh.
Pengasuh itu hanya bisa menahan senyumnya saat ini mendengar ucapan Aluna.
"Benar-benar ya, anak ini. Begitu pulang malah bikin naik darah. Mendingan kamu kelayapan aja sana!" serunya lalu membalik badan hendak pergi.
Namun, bukan Aluna namanya jika ia tak bisa membuat Maureen semakin tersiksa di rumah ini. Gadis berambut panjang itu segera melangkah menuju meja di mana vas kristal kesayangan Maureen berada, dengan sengaja ia menyenggol vas itu hingga jatuh ke lantai.
"Aluna!" Maureen berteriak saat melihat vas itu hancur berkeping-keping.
"Ups, sorry," ucap Aluna tanpa ada rasa bersalah wajahnya benar-benar terlihat tanpa dosa.
"Jangan buat aku kehabisan kesabaran menghadapimu, aku akan adukan ini pada ayahmu mengerti kamu!" Tunjuknya ke wajah Aluna.
Aluna justru terlihat cuek, gadis itu segera menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya, saat tiba di hadapan Maureen dengan sengaja ia menyenggol pundak ibu sambungnya dan hampir saja terjatuh.
"Kamu itu benar-benar anak gak tahu sopan santun, ya!" hardik Maureen.
Namun, Aluna benar-benar tak peduli ia terus saja naik. Bagi gadis itu selama Maureen cuma mengatainya itu tidaklah berarti, tapi jika istri kedua ayahnya itu mengatakan hal tentang almarhumah ibunya maka Aluna siap untuk bertempur dengan wanita itu.
"Sandra bersihkan itu!" perintah Maureen.
"Sandra siapkan air hangat saya mau mandi!" titah Aluna tak mau kalah.
Sandra yang hendak memunguti pecahan vas kristal itu menjadi bingung, ia segera berdiri dan menatap kedua perempuan yang kini tengah melihat tajam ke arahnya.
"Sandra bersihkan aku bilang!"
"Sandra, kamu itu pengasuhku, kamu dibayar untuk mengurusi semua keperluan aku, bukan untuk membersihkan rumah ini, cepat ke kamar dan siapkan air hangat untuk aku mandi." Aluna segera melangkah pergi menuju kamarnya setelah mengatakan hal itu.
Maureen benar-benar dibuat kesal oleh ulah anak suaminya itu. Kedua tangannya mengepal karena gemas. "Lihat saja nanti, akan aku adukan sikapmu itu pada ayahmu."
Sandra segera naik ke lantai dua, ia menyusul Aluna yang saat ini sudah berada di kamar dan menatap dirinya sendiri di depan cermin. Luna melihat kemeja putih yang saat ini ia kenakan.
Kemeja milik Bara yang sedikit kebesaran untuknya, tetapi jika Aluna mau jujur sebenarnya ia merasa nyaman jika berada di samping laki-laki itu. Selama dua tahun ini Bara memang menjaganya dengan baik.
"Non, air hangatnya sudah siap," ucap Sandra yang baru keluar dari kamar mandi.
Aluna membalikkan badan, menatap Sandra yang usianya lebih tua lima tahun darinya.
"Ambilkan handuk," pinta Aluna.
Sandra segera menuju lemari lima pintu itu, meraih handuk putih yang begitu lembut dan empuk. Ia segera memberikannya pada Aluna.
Gadis berusia 22 tahun itu, segera menuju ke kamar mandi setelah menerima handuk dari Sandra, tentu saja di saat Aluna sedang mandi pengasuh itu menyiapkan pakaian Aluna dari baju dalaman hingga luar.
Dua puluh menit kemudian Aluna keluar dari kamar mandi, ia merasa segar saat ini. Melihat pakaiannya sudah siap di atas tempat tidur gadis itu segera memakainya setelah ia mengenakan body lotion.
"Non, saya siapkan makan siang sekarang?" tanya Sandra.
"Gak usah, aku akan makan ke bawah sendiri. Oh, ya, Sandra baju-baju yang ada di sana itu ambil saja buatmu," ucap Aluna.
Sandra melihat tumpukan baju di pojok lemari, pakaian itu benar-benar masih terlihat baru apalagi Aluna memang lebih suka baju satu kali pakai, paling lama itu hanya tiga kali pakai.
"Kenapa bengong, kamu gak suka?"
Sandra buru-buru menggeleng. "Terimakasih banyak Nona Aluna, saya suka sekali."
"Ya, udah buruan diambil, aku mau makan siang sekarang," ujar Aluna yang telah selesai merapikan rambut dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Aluna berjalan ke luar ruangan, saat ini ia benar-benar terlihat bak putri radja. Bagaimana tidak ia sudah cantik, tajir, kulitnya cerah dan mulus mungkin kalau nyamuk nempel bisa terpeleset.
Tiba di ruang makan Aluna segera membalikkan piring yang tertutup, meletakkan tiga sendok nasi merah dan beberapa sayuran yang ia pilih.
Aluna memang benar-benar menjaga berat badannya karena baginya hal itu penting selain karena ia takut kegemukan, ia juga takut jika obesitas akan menimbulkan banyak penyakit nantinya.
Baru juga Aluna akan memasukkan sendok makan ke mulutnya suara cempreng Citra terdengar. Gadis berambut panjang itu segera menoleh ke arah pintu ruang makan, benar saja sahabatnya itu sudah berdiri di ambang pintu dapur sambil mengedip-ngedipkan mata.
"Citra?" Aluna terkejut dengan penampilan sahabatnya saat ini.
"Yes, it's me, why?" Citra tersenyum penuh percaya diri.
"Ada apa denganmu, sih? Habis masuk ke salon mana sih, kamu?" Aluna segera berdiri dari kursi dan mendekat ke arah sahabatnya itu.
"Kenapa sih, Una? Kalau iri itu ngomong aja," ucapnya sambil menyolek dagu Luna.
"Dih, ngapain aku iri sama dandanan kamu, kayak tante-tante tahu kamu!"
"Enak aja kalau ngomong, kalau aku kayak gini Bara pasti langsung falling in love sama aku." Citra memutar-mutar tubuhnya.
Aluna dengan cepat menahan tubuh Citra agar berhenti berputar, kedua tangan gadis itu menahan pundak sahabatnya dan berkata, "Ini pasti karena kamu lihat wanita yang bersama Bara, kan?"
Citra mengangguk-angguk.
"Duh, kamu ini ada-ada saja tahu!"
Namun Citra tak memedulikan ucapan sahabatnya itu, ia justru menarik tangan Aluna untuk ikut dengannya.
"Eh, kita mau ke mana? Aku mau makan tahu!" seru Aluna yang tak Citra pedulikan.
Perempuan dengan makeup lebih dewasa dari usianya saat ini itu pun segera memaksa Aluna untuk masuk ke mobilnya.
"Cit, mau ngapain sih, kamu?"
"Udah, ikut aja kenapa sih, ntar aku traktir makan," ucap Citra yang kini menginjak gas dan mobil pink itu pun meninggalkan halaman rumah Aluna.
Mobil milik Citra itu kini telah berhenti di depan perusahaan, tentu saja perusahaan di mana Bara berada saat ini.
"Lah, ngapain kita malah ke sini?" Aluna bingung karena saat ini ia berada di perusahaan sang ayah.
Citra menoleh ke samping dan menatap Aluna. "Temani aku ketemu Bara."
"Apa? Ogah ah," tolak Aluna.
"Please," ucap Citra memohon.
Walau dengan kesal Aluna akhirnya turun juga dari mobil setelah mengingatkan citra akan traktiran makannya nanti.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" ucap wanita yang berada di bagian informasi itu pada Citra.
"Ayank aku, ada?" tanya Citra begitu saja.
Perempuan dengan rambut yang tertata rapi itu terlihat bingung.
Aluna segera mengetok kepala Citra dan tersenyum ke arah pegawai ayahnya itu. Karena ini kali pertama gadis itu menginjakkan kakinya di perusahaan sang ayah.
"Maksudnya Pak Bara, apa dia ada?" tanya Aluna.
"Oh, Pak Bara, saat ini Pak Bara sedang ada rapat jika berkenan silahkan untuk membuat janji dulu," ucap wanita itu ramah.
"Ngapain pakek janji segala, Mba gak tahu ya, kami ini siapa?" Citra ketus seketika.
Pegawai itu menggeleng-geleng karena bingung.
"Saya kekasih Bara dan temanku ini adalah anak pemilik perusahaan ini," ucap Citra dengan yakin.
Mendengar pengakuan Citra pegawai itu justru tertawa, mana mungkin Bara memiliki pacar tante-tante seperti itu.
"Satpam, tolong tangani mereka," ucap wanita itu pada satpam yang tengah berjaga di pintu masuk.
"Eh, apa-apaan nih, Mba. Enak aja panggil-panggil satpam."
"Dih, udah aku bilang juga!" gerutu Aluna kesal.
Satpam itu menarik-narik tangan Citra, tetapi Citra benar-benar melawan sehingga Aluna yang berdiri di sampingnya tak sengaja tersenggol dan kehilangan keseimbangan. Di saat itu Bara baru saja keluar dari pintu lift dan melihat keributan yang terjadi.
Laki-laki itu segera membuang dokumen di tangannya, ia berlari ke arah anak bosnya. Mengulurkan tangan untuk menahan tubuh Aluna agar gadis itu tak terjatuh. Seketika mata indah mereka kini saling beradu satu sama lain, pemandangan yang benar-benar terlihat begitu manis.