Bucin Akut

1229 Kata
Aluna keluar dari kamar mandi, ia mendapati Bara tengah membelakanginya. Laki-laki berkarisma itu sedang memanggang roti saat ini, aroma roti panggang yang membuat perut gadis cantik itu tiba-tiba saja berbunyi sehingga mengganggu Indra pendengaran Bara. "Duduklah," pinta Bara tanpa menoleh. Aluna tersenyum dan segera menuju ke arah meja, ia menarik kursi dan segera mendaratkan pantatnya di sana. "Katakan padaku siapa yang mengantarmu ke sini?" tanya Bara sembari mengolesi selai kacang coklat di roti panggang itu. "Aku tak ingat apa pun," jawabnya dengan cepat walau Aluna sadar saat ini ia tengah berdusta. "Benarkah? Namun, baiklah anggap saja seperti itu, tetapi apakah kamu tak bosan dengan kehidupanmu?" Bara mendorong piring berisi roti panggang ke arah Aluna dengan menggunakan jarinya. "Kenapa aku harus bosan?" Aluna menatap roti itu dan segera menggigitnya tanpa ampun. Suara kunyahan Aluna membuat Bara menggeleng, ia sendiri sebenarnya lebih sering meruntuk dalam hati mengapa ia justru jatuh cinta pada gadis seaneh Aluna, atau karena sifatnya yang unik. Entahlah Bara pun tak memiliki alasan mengapa bisa jatuh cinta pada anak bosnya sendiri. "Berhentilah pergi untuk minum-minum, kamu pikir itu baik untuk kesehatan!" tegas Bara lagi. "Jangan mulai sok mengatur urusanku lagi, kamu hanyalah tangan kanan ayahku, paham?!" Setelah menelan kunyahan terakhir, gadis itu segera meraih gelas berisi jus dari tangan Bara dan meminumnya begitu saja seakan-akan itu adalah minuman miliknya. Bara hanya menarik sudut bibirnya tipis dan menatap wajah Aluna yang terlihat begitu menyukai jus buah buatannya. "Jika sudah selesai cepatlah pergi atau kamu ingin aku antar ke rumah?" tawar Bara. "Kamu mengusirku?" tanya Aluna kesal. "Aku harus pergi saat ini, apakah aku harus meninggalkan seorang gadis di apartemenku?" "Aku bukan gadis sembarangan, aku ini anak bosmu!" Aluna bangkit dari tempat duduk dan menatap tajam wajah Bara. "Baiklah sesuka hatimu saja, tetapi aku harus pergi saat ini." Aluna melipat tangan di d**a, ia menyipitkan matanya hingga keningnya berkerut dan kedua alis gadis itu saling bertemu. "Kamu pikir aku gak mau pergi dari sini!" "Terserah saja!" Bara malas menanggapi. "Aku tak akan pernah menginjakkan kakiku di sini lagi, paham!" tegas Aluna lalu meraih ponsel dan meletakan ke dalam tas kecilnya. "Ya, lakukan saja sesuai apa yang kamu katakan itu," ucap Bara sembari menyandarkan punggungnya di dinding dan melipat kedua tangan. Aluna segera merapikan kemeja putih yang ia kenakan, memakai tasnya dan melangkah menuju pintu. "Aku tak akan pernah menginjakkan kaki ke sini lagi!" serunya sambil memicingkan mata. "Apakah kamu lupa, kamu juga mengatakan hal seperti ini Minggu lalu, Minggu lalunya dan juga Minggu lalunya lagi." Bara menatap Aluna sambil tersenyum miring. "Aku gak ingat!" Aluna segera membalikkan tubuh membuka pintu dan pergi meninggalkan Bara yang hanya bisa menggeleng melihat sikap gadis itu. Bara tersenyum sendiri setelah kepergian Aluna, ia merasa bahwa dirinya sering tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri ketika berada di dekat gadis itu sehingga ia selalu bersikap dingin pada Aluna. Walau sebenarnya, ia begitu menyukai waktu-waktu bersama anak bosnya yang unik itu. Aluna kini menuruni anak tangga, ia memang lebih suka menggunakan tangga daripada lift hitung-hitung olahraga. Sesekali gadis itu melirik jam di pergelangan tangannya, walau ia tak harus bekerja dan tak memiliki jadwal kegiatan apa pun selain nongkrong dan hura-hura, tetapi ia juga ingin tahu pukul berapa saat ini. Tiba di basement, sebuah mobil pink cantik tiba-tiba saja masuk dan mendekat ke arahnya. Suara klakson yang tiba-tiba berbunyi nyaring tentu saja membuat gadis cantik berambut panjang itu begitu terkejut. Mobil berhenti tepat di samping Aluna, kaca itu turun dengan seketika, kini sang pemilik pun tersenyum sembari memamerkan deretan giginya yang putih saat melihat Aluna. "Masuklah!" pintanya pada Aluna. "Apa kamu datang untuk menjemputku?" Aluna terlihat bingung. "Menurutmu, lagi pula kekasihku megatakan bahwa aku harus menjemputmu, jadi aku menuruti apa perkataannya." Seketika itu Citra meringis menahan sakit saat Aluna mengetok kepalanya menggunakan kepalan tangan. "Sakit tauk, Una!" serunya kesal pada Aluna yang seringkali ia panggil Una itu. "Makanya sadar! Lagian, kekasih yang mana yang kamu maksud, Citra. Bara?" tanya Aluna dengan menatap wajah sahabatnya itu. Citra sahabat Aluna sejak SMA itu mengangguk-angguk. Gadis cantik dengan rambut sebahu, bergigi gingsul dan memiliki berat badan ideal itu juga salah satu anak dari perusahaan ternama. "Tentu saja Bara dan hanya Bara seorang," ucapnya penuh dengan penghayatan. "Dih, bucin akut!" Citra yang melihat Bara baru keluar dari pintu tangga darurat pun segera keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, membuat Aluna yang masih berdiri di samping mobil pun hampir terjatuh karena dorongan pintu dari Citra. "Busyet deh, pelan-pelan kalik, buru-buru amat," gerutu Aluna kesal. Sementara Citra kini sudah berdiri di hadapan Bara sambil tersenyum manis. "Selamat pagi, pacar," sapanya. Bara yang terkejut dengan kehadiran Citra mengangkat kedua alisnya sembari tersenyum paksa. "Pagi." "Aku sudah datang ke sini seperti apa yang kamu mau kan, aku akan bawa sahabatku itu sekarang," ujar Citra. Aluna yang mendengar hal itu segera menuju ke arah mereka dan menarik tangan Citra. "Jadi kamu ke sini karena perintah, Bara!" Citra mengangguk. "Iya, lagian semalam kamu itu kan, meng–" Seketika kalimat Citra terputus karena Aluna segera membungkam mulut sahabatnya itu. "Aku semalam tidak meminta Citra mengantarkan aku ke sini, aku saja tak tahu bagaimana aku bisa berada di depan apartemenmu," potong Aluna cepat. "I don't care, cukup kamu tak membuat ulah hari ini, aku sudah sangat berterimakasih," ujar Bara lalu melangkah meninggalkan kedua gadis itu. Citra segera menarik tangan Aluna kasar dan berkata, "Apaan sih, aku kan, belum selesai bicara sama ayank aku." "Dih, ayank apaan? Sadar Citra, laki-laki kayak dia itu gak selevel sama kita, lagipula dia itu menyebalkan, dingin, cuek dan mengerikan," timpal Aluna dengan mata yang berkilat-kilat. "Apaan sih, lo, jelek-jelekin Bara segitunya. Buat aku dia itu laki-laki baik, penuh tanggungjawab dan juga tampan luar biasa," lanjut Citra yang menatap punggung Bara yang kini masuk ke mobil. Mobil hitam itu telah meninggalkan area parkir, membuat Aluna menarik paksa tangan Citra untuk segera pergi juga. "Mau kuantar ke mana?" tanya Citra saat mereka telah berada di dalam mobil. "Pulang," jawab Aluna enteng. "What?" Citra terkejut akan perkataan Aluna. "Tumben amat." "Aku ingin buat ulah di rumah saja hari ini, Maureen akan jadi sasaran yang menyenangkan, lagi pula ayahku lagi dinas ke Jepang," jelas Aluna. Citra hanya bisa menggeleng-geleng mendengar keinginan sahabat karibnya itu. Mobil pink itu kini telah melaju memecah jalan raya untuk menuju ke rumah orang tua Aluna tentunya, tetapi tiba-tiba saja mereka harus terjebak macet saat ini. Aluna melihat fokus ke luar kaca saat melihat seorang pria tengah berdiri di tepi jalan, ia terlihat tengah berbicara dengan wanita paruh baya. "Apakah Bara mengencani wanita yang lebih tua darinya, pantesan saja seberapa gigih Citra mendekati, ia sama sekali tak tertarik, seleranya tante-tante," gumam Aluna sembari menggaruk pelipisnya dengan telunjuk. "Apaan sih?" Kali ini Citra mulai penasaran karena Aluna terus memperhatikan keluar kaca. "Bukan apa-apa," ujar Aluna takut jika sahabatnya itu akan patah hati. "Eh, itu, kan, Bara, sedang apa dia di sana?" tanya Citra sambil mendorong kepala Aluna yang sempat menghalanginya. "Sepertinya itu teman kencan Bara, lihat kan, dia bawa bunga," ujar Aluna seketika membuat Citra semakin menggebu untuk memiliki Bara. "Oh, jadi Bara lebih suka wanita yang lebih dewasa, baiklah aku paham sekarang," ujar Citra sembari meremas stir mobilnya. "Jadi, kamu akan berhenti mengejar-ngejar laki-laki aneh itu kan?" tanya Aluna. "Tidak," ucap Citra sembari menggeleng. "Aku akan merubah penampilanku agar lebih terlihat dewasa untuk menarik perhatiannya," lanjutnya menggebu. "What?!" Aluna benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini, sahabatnya itu benar-benar luar biasa, bucin akut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN