“Silahkan masuk, Nyonya Maira,” ucap Rei ketika membukakan pintu untuk wanita yang menghampiri mobil milik papa mertuanya. Setelah menunggu selama 4 jam di kampus, akhirnya Rei bisa melanjutkan pekerjaannya sebagai supir dari mantan adik seniornya di sekolah. Rei memandang Maira dari kaca spion belakang tanpa sepengetahuannya. Begitu Maira merasa menoleh, pria itu pun membuang pandangannya. “Kita ke kafe ya, Nyonya?” tanya Rei. “Kak, jangan panggil aku dengan sebutan itu. Di sini kan hanya ada kita berdua. Papa dan mama mertuaku tidak ada. Jadi, panggil nama aja.” “Haha, aku hanya berlaku seperti seorang pekerja profesional,” sahut Rei. Maira tersenyum. “Cukup namaku aja.” “Oke, Mai!” Rei membalas senyumnya. “Mai, kafe itu milik siapa?” tanyanya lagi karena pertanyaan dia tadi belum

