Maira menarik nafas sebelum menemui mamanya yang datang ke kafe. Wanita itu terlihat sedang mengatur beberapa karyawan. “Ma,” sapanya. “Ma?” jawabnya merasa tidak menerima dipanggil dengan sebutan itu. “Ibu datang sama siapa?” tanya Maira. “Sendiri. Aku mau bicara padamu,” jawabnya. “Iya, Bu, kita ke ruangan kerja Mas Kanz aja.” Maira mempersilakan Syifa naik, Omen menghampiri Maira dan menanyakan makanan atau minuman yang mau dibawakan. Maira berbisik, minta teh lemon kayu manis dan cemilan paling mahal untuk disuguhkan. Omen paham dan segera memesankannya. Maira membukakan pintu, Syifa masuk kemudian berjalan ke arah sofa. Duduk di ruangan kerja anaknya. “Kau kenapa tidak aku lihat di bawah tadi?” tanya Syifa. “Saya baru selesai menghubungi Mas Kanz, Bu.” “Oh, gitu. Aku ke sini

