“Hati-hati! Mungkin saja ada sampah yang mereka lemparkan dari lantai atas.” Astri mencoba memperingatkan Rio akan bahaya yang mungkin saja terjadi. Seraya menatap seluruh teman-temannya, Jina yang berada di samping Astri terlihat menggelengkan kepalanya.
“Yang aku takutkan adalah alat penghancur yang mungkin saja ada di dalam sana.” Jina menatap pada Astri dengan wajah ketakutan ketika mengucapkan hal tersebut, dan tentu saja membuat Astri ketakutan.
“Tapi bukankah ini terlalu tinggi Bima?” kali ini Luis yang mulai protes pada Bima, mengingat posisi mereka kini berada di lantai 18 dan mereka akan meluncur ke bawah menggunakan jalan ini, Luis takut jika nanti jalur ini memiliki belokan yang tajam yang nantinya akan melukai mereka. Bima terlihat menghela napasnya mendengar seluruh protesan tersebut.
“Dengar! Aku tidak mungkin membunuh kalian termasuk diriku sendiri, aku sudah melihat jalurnya yang kurasa aman. Maka dari itu cepatlah masuk melalui saluran ini atau tidak, kita akan tertangkap!” Bima berucap penuh penekanan kali ini, ia berpikir tidak ada waktu yang tersisa hanya untuk memperdebatkan jalur yang akan mereka lewati.
“Kalau begitu, biarkan aku dulu yang masuk.” Arial memutuskan untuk masuk kedalam saluran yang turun ke bawah tersebut terlebih dahulu agar yang lainnya dapat mengikuti, tidak lama Astri dan Jina di persilahkan masuk terlebih dahulu. Setelah mereka, Rio yang disusul oleh Bima dan di akhiri oleh Luis. Benar saja apa yang di katakan oleh Bima, turunan yang di buat untuk saluran itu tidaklah terlalu curam sehingga aman untuk mereka lalui. Mungkin para arsitek yang membangun gedung ini sengaja tidak membuatnya terlalu curam karena untuk mencegah adanya sampah yang menyangkut di jalur pembuangan.
Terjatuh di atas tumpukkan sampah adalah hal yang baru bagi Astri maupun yang lain. Bima dan Luis yang baru saja sampai segera berdiri dan melihat pemandangan sekitar. Mereka benar-benar dapat melihat sisi kelam dari kota tersebut, bau yang sangat menyengat menyambut mereka dengan baik. Air yang tergenang berwarna hitam pekat, nyamuk dan lalat hidup dan berkembang biak dengan baik di sana. Menjijikan… Itulah kata yang sangat tepat untuk menggambarkan hal yang sedang mereka lihat.
“Ayo cepat bergerak!” teriak Bima menyadarkan seluruh temannya yang masih tertegun dengan apa yang mereka lihat, dia sadar akan pihak militer yang terus mendekati lokasi mereka. Akhirnya mereka berhasil masuk kedalam mobil yang mereka pesan melalui akun milik salah satu pejalan kaki asing disana, mereka berdalih mereka kehilangan handphone dan memohon bantuan orang asing itu. Meskipun mereka mendapatkan tatapan aneh karena rambut yang berantakan, baju yang kotor ,dan bau yang menyengat dari tubuh mereka.
“Bagaimana selanjutnya? Apa kita harus meniggalkan Kota Co?” tanya Luis pada Bima yang duduk di sampingnya, Arial dan Rio duduk di bangku tengah. Sementara dua wanita cantik dalam tim ini duduk di bangku paling belakang, keduanya terlihat memejamkan mata kelelahan.
Astri membuka matanya yang beberapa saat yang lalu tertutup, ia menatap ke arah luar tetapi telinganya tetap mendengarkan apa yang di bicarakan oleh teman laki-lakinya itu, mungkin saja semua hal yang ia lakukan ini tidak akan membuahkan hasil dan rasa keraguan kembali datang menyelimuti hatinya. Tetapi, saat ia melihat kearah langit yang berwarna merah bergaris hitam Astri kembali mengukuhkan niatnya.
‘Ini hanyalah awal.’ Itulah yang Astri ucapkan pada dirinya sendiri untuk meneguhkan niatnya.
“Untuk sementara waktu aku akan membawa kalian ke tempat yang aman, disana kita akan memikirkan rencana ini lebih matang.” Bima berucap pada kelimanya ketika mereka kebingungan mencari tempat perlindungan yang aman.
“Jadi maksudmu rencana kita belum matang?” Luis merasa keberatan dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh bima pada mereka, karena ia merasa bahwa mereka bahkan belum mencoba rencana itu dan Bima mengatakannya seola-olah bahwa rencana ini masih rencana mentah.
“Bukan maksudku seperti itu Luis, hanya saja dengan keadaan saat ini… Seluruh rencana matang kita kembali menjadi rencana yang mentah dan penuh resiko. Aku tidak ingin resiko yang kita ambil ini menjadi sia-sia.” Jelas Bima yang tetap tenang menjawab menghadapi Luis yang terkenal kritis.
Selama perjalanan Astri dan Jina hanya saling berpegangan tangan untuk berdoa bersama-sama, sebagai seorang wanita yang terjun kedalam masalah serius seperti ini pastilah mereka merasakan sesuatu yang berat dan tertekan dalam hati maupun pikiran mereka. Dimana posisi mereka saat ini adalah ,‘Tidak akan tahu bagaimana langkah dan takdir mereka selanjutnya.’
Mobil yang di kendarai oleh Bima berhenti setelah Rio menunjukkan arah yang akan mereka tuju. Sebuah rumah yang tidak terlalu kecil namun tidak terlalu besar itu terlihat sedikit kotor dan berdebu. Mereka semua turun dan memperhatikan bangunan yang besar itu dari jarak dekat.
“Dimana ini?” Jina bertanya seraya memperhatikan sekitar maupun kondisi rumah tersebut, entah siapa yang akan menjawabnya namun ia tetap membutuhkan sebuah penjelasan mengenai kepemilikan rumah besar yang akan mereka singgahi ini.
“Rumah yang dahulunya akan menjadi rumahku.” Bima yang melangkah kearah pintu masuk menjawab pertanyaan tersebut, kelimanya terdiam dan ikut masuk ketika Bima membukakan pintu dan mempersilakan mereka. Megah dan mewah itulah kesan yang mereka rasakan begitu menginjakkan kaki disana.
“Kau mempunyai rencana untuk tinggal di dekat Ibukota?” Astri menatap pada Bima dengan tatapan tidak percaya, Bima mengangguk dan menyalakan listrik dengan sidik jarinya. Tidak lama, listrik di rumah itupun menyala.
“Maaf, disini tidak tersedia makanan.” Bima berucap, karena ia rasa mereka pasti sedang kelaparan dan ingin makan sesuatu.
“Tidak apa Bima, kau tidak tahu kapan sebenarnya kau akan mengisi rumah in bukan? Lagipula sebelumnya kita tidak pernah merencanakan akan kemari.” Rio menyimpan tas miliknya di atas meja dan menatap kelima temannya.
Mereka memutuskan untuk membersihkan diri mereka dan beristirahat beberapa saat sebelum kembali berkumpul di ruang tengah dengan beberapa makanan yang sudah mereka beli sebelumnya melalui pemesanana online.
“Bagaimana sekarang?” Astri yang pertama bertanya tentang langkah apa yang selanjutnya akan mereka ambil, karena sedari tadi mereka hanya diam dan fokus pada makanan dan gelas minuman mereka.
“Besok kita akan buat sebuah keputusan, untuk saat ini lebih baik kalian beristira…”
“Apakah kalian tidak berpikir selama ini kita hanya berlari dan kembali berlari?” Jina memotong ucapan Rio yang akan menyuruh mereka untuk beristirahat, ia terlihat lelah dengan apa yang mereka lakukan belakangan ini. Menurutnya tidak ada kemajuan apapun dari hal yang mereka lakukan maupun rencanakan, militer dan pemerintah terlalu kuat menutupi kesalahan yang telah diperbuat dan seolah-olah memutar balikan fakta menjadikan mereka sebagai seorang tersangka yang melarikan diri.
“Kita memang sedang berlari Jina, bukankah kita sudah memiliki sebuah tujuan sehingga kita berlari?” Bima menjawab pertanyaan itu membantu Rio yang terdiam karenanya, Jina berdiri dari duduknya dengan tegap dan meluapkan seluruh emosi yang selama ini di pendamnya.
“Kita tidak akan pernah sampai pada tujuan kita, jika kita terus berlari Bima!” Jina mulai sedikit menaikan nada bicaranya, itu yang biasa dilakukan wanita ketika sedang meluapkan emosi mereka. Dan untungnya para lelaki disana tahu betul mengenai hal itu, jadi tidak ada satupun dari mereka yang ikut terpancing emosi.
“Kau salah, justru dengan berlari kita dapat dengan cepat sampai pada tujuan. Bukankah seperti itu kebenarannya?” Arial kini membuka suaranya namun dengan pembawaan yang lunak sehingga membuat Jina terdiam ketika ia tidak tahu harus berkata apa.
“Kau tidak mengerti!” Jina menangis tertunduk dengan tangan yang menutupi wajahnya, ia merasa tertekan dengan semua hal yang telah mereka lalui. Ayahnya adalah seorang polisi, dan itu pasti sangat mempengaruhi dirinya sekarang.
“Aku mengerti dan sangat mengerti Jina, bukan hanya kau yang ingin cepat sampai pada tujuan kita. Tetapi kitapun menginginkan hal yang sama, namun kita tidak bisa memaksakan kondisi yang seperti ini. Dengan berlari menghindari mereka bukan berarti kita menyerah pada tujuan kita, melainkan kita mencari jalan lain agar semua yang kita korbankan tidak sia-sia.” Rio berdiri dan menghampiri gadis itu mengelus pelan bahunya berusaha membuat Jina tenang.
Setelah perdebatan yang cukup menguras air mata para wanita itu, keenamnya ini tengah disibukan dengan hal yang ingin mereka kerjakan sendiri. Rio dan Luis kembali mengecek seluruh keamanan di wilayah mereka menggunakan peralatan canggih yang selalu di bawa olehnya, Luis dan Bima. Sementara Bima dan Arial tenggelam dalam percakapan yang hanya dimengerti oleh keduanya tanpa di ketahui kedua orang wanita disana. Jina dan Astri duduk menatap keluar jendela dengan cup tea yang mereka beli beberapa waktu yang lalu, cukup repot untuk keluar menggunakan masker dan hoodie tebal. Jadi mereka memutuskan untuk membelinya secara online, untunglah pemesanan online tidak membutuhkan kartu pengenal. Cukup nama penerima, alamat dan uang maka mereka sudah dapat melakukan pemesanan. Pada akhirnya tidak ada satupun dari mereka yang beristirahat di atas kasur ataupun sekedar rebahan.
“Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu Jina, tapi ketahuilah… Rio dan yang lain tidak akan membuat kita gagal, karena mereka mencintai Bumi ini, Bumi yang kita pijaki.” Astri kembali menenangkan gadis itu, dengan percakapan diantara wanita mereka pasti bisa melalui ini bersama.
“Aku hanya takut, Astri… Kita sudah berjalan sejauh ini, namun belum ada apapun yang kita dapat.” Keduanya kembali masuk kedalam percakapan yang sensitive.
Keesokan harinya mereka berkumpul persis seperti apa yang Rio katakan, mereka akan membahas rencana mereka dengan sangat matang kali ini. “Jadi bagaimana Rio?” Arial bertanya ketika mereka mengadakan diskusi bersama, Rio membawa laptopnya dan menampilkan layar hologram besar agar dapat mereka lihat secara bersamaan.
“Kita akan berjalan menuju Adv Tower. Itu adalah target kita.” Rio menunjukkan sebuah peta menuju gedung periklanan dengan layar tersebut, gedung periklanan terbesar yang ada. Mereka terdiam menyimak penjelasan yang Rio ucapkan.
“Di lantai satu ada sekitar 2 penjaga yang biasa berjaga dan mengecek para pengunjung. Di lantai tiga sampai lantai sembilan, berisi puluhan tempat penyebaran iklan dalam bentuk Hologram newspaper, dimulai dari Todaynews, Co News, Earthnews, Nation Newspaper, dan Emergency News, tetapi ruang control ada di lantai enam. Di lantai sepuluh tempat di mana penyebaran iklan melalui Vision nation ruang control ada di sebelah barat dari pintu lift. Kita harus membagi tugas untuk menyebarkan semuanya dalam seluruh periklanan, termasuk International news and Advertising.” Rio memperlihatkan beberapa ruangan yang harus mereka masuki, dan beberapa titik merah yang menandakan keberadaan penjaga.
* Adv Tower adalah kantor periklanan seluruh iklan dan berita diseluruh negeri. Setiap iklan dan berita akan melalui tes kelayakan dimana jika iklan itu tidak layak dan melanggar undang-undang pemerintah maka iklan tersebut tidak akan ditayangkan begitu pula sebaliknya berita yang akan ditayangkan harus seizin dengan pemerintah. Jika berita itu memperlihatkan sisi buruk pemerintah maka berita itu tidak akan di tayangkan. Maklum Adv Tower adalah perusahaan iklan dan berita utama milik pemerintah.
To Be Continued