Adv Tower

2046 Kata
“Apa masuk kedalam sana tidak memakai sandi dan kunci?” Astri bertanya ketika Rio tidak membahas apapun tentang keamanan akses masuk ke gedung iklan bergengsi itu. Rio tersenyum samar dan menggelengkan kepalanya. “Mereka menggunakan akses yang lebih canggih, yaitu memakai Id Card dalam bentuk chip yang di tanam di bawah kulit jari mereka.” Saat menjelaskan hal tersebut, Rio menganngkat jari telunjuk kanannya sebagai contoh pada mereka semua. “Jadi mereka menggunakan sidik jari?” Bima menebak kali ini, Rio menatap pada lelaki itu dan menggeleng. Dia berjalan menuju kursi tempat dimana barang-barangnya tersimpan. “Kau tahu kan Bima, pengamanan dengan sidik jari, mata dan bentuk wajah memiliki banyak sekali kelemahan?” Bima mengangguk mengingat beberapa hal yang sudah ia pelajari tentang keamanan dan akses. Mereka memperhatikan Rio yang membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah chip kecil yang tipis. Rio berbalik memperlihatkan Chip itu pada semua teman-temannya seraya kembali menjelaskan, “Mereka menanamkan ini di tanganmu, dengan aliran darahmu sebagai tenaga untuk mengaktifkannya. Jadi ketika kau mati, maka ini tidak akan berfungsi lagi. Itulah teknologi keamanan yang mereka gunakan, sehingga meskipun kita membunuh seorang karyawan di sana untuk mendapatkan akses, kita tetap tidak dapat masuk kedalam gedung. Karena akses itu akan mati ketika pemilik akses meninggal.” Jina mengerenyit ngeri ketika Rio menjelaskan fungsi dari chip tersebut. Bima mengusap wajahnya, tidak percaya dengan tingkat keamanan tercanggih yang baru ia ketahui dari Rio. “Lalu apakah kita akan menanamkan chip itu di jari kita?” Arial buka suara, menebak apa yang akan Rio lakukan pada mereka agar mereka mendapatkan akses. Rio menggeleng, tentu saja dia tidak akan senekat itu mengoprasi jari teman-temannya tanpa bantuan dokter spesialis, dia kembali menunjukkan sebuah alat yang sudah terbalut rapi dengan kain berwarna putih tulang membuat teman-temannya merasa penasaran. “Kita menggunakan ini.” Rio mengeluarkan benda itu dari kainnya membuat mereka terkejut. “Alat yang sudah ku rancang bersama Bima dan Luis ini bernama AccessFADt.” Luis berdiri dari tempatnya dan membagikan sebuah alat berbentuk jari telunjuk pada mereka semua, itu adalah alat yang dibuat oleh Luis dan Rio beberapa waktu yang lalu. Semua alat berbentuk jari yang mempunyai chip dengan fungsi yang sama dengan chip yang dimiliki keamanan Adv Tower. “Saat kalian sudah memasuki ruang control, kalian akan menemukan computer utama yang mengatur semua periklanan. Sambungkan ini kepada computer utama itu!” Luis kembali memberikan sebuah flashdisk kecil kepada masing-masing dari mereka. “Siapa yang akan masuk dan siapa yang tidak?” Tanya Astri, mereka menatap pada Luis dan Rio yang menjadi ketua dalam rencana ini. Keduanya saling menatap sebelum menjelaskan rencana mereka selanjutnya secara lebih rinci. Astri berjalan dengan langkah yang penuh percaya diri di tengah kota, layaknya seorang model wanita dengan fashion yang amat tinggi, ia menggunakan pakaian elektronik yang memperlihatkan dirinya menggunakan mantel tebal terbuat dari musang bertengger dilehernya, meski terlihat nyata namun itu tetaplah pakaian elektronik. Pakaian yang sebenarnya hanya menipu mata, dapat terlihat namun tidak dapat dirasakan. Karena pada kenyataannya Astri hanya menggunakan sebuah kaos putih dan celana jeans sematakaki. Tidak lupa kacamata hitam yang ia kenakan membuat penampilannya sebagai pembisnis muda dan kaya raya semakin sempurna. Style nya menarik banyak perhatian dari pengunjung Adv Tower lainnya, tidak terkecuali penjaga disana. “Permisi nona, bisakah aku melihat tanda pengenalmu?” Tanya seorang penjaga yang bertugas memeriksa pengunjung yang akan masuk kedalam Adv Tower. Astri mengangguk dan mengambil kartu identitasnya yang telah di palsukan oleh Luis juga Rio, ia memberikan kartu identitas itu pada penjaga tersebut. “Anda datang jauh sekali nona, apa yang membawamu kemari?” Penjaga itu tersenyum saat bertanya pada Astri, wanita itu memang memiliki paras yang cantik sehingga tidak aneh jika banyak lelaki yang tertarik padanya. Astri tersenyum membalas senyuman tersebut dan menjawab pertanyaan itu persis seperti apa yang diajarkan oleh Luis sebelumnya. “Kudengar jika kalian ingin menjadi seorang pengusaha besar, kalian harus mempelajari bagaimana cara berpromosi yang baik. Jadi aku datang kemari untuk semua itu.” Jawab Astri, penjaga itu mengangguk setuju dan mempersilahkannya untuk masuk. Dengan nafas lega, Astri berjalan memasuki perusahaan raksasa megah tersebut, ia melihat begitu banyak pembisnis ataupun calon pembisnis yang hadir untuk mengiklankan produknya. Mereka kebanyakan adalah orang penting yang memiliki uang yang tidak sedikit. “Fokus terhadap tugasmu Astri.” Suata dibalik mikro earphone yang terpasang di telinga kanannya cukup membuat Astri terkejut. Namun kemudian ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sebuah pintu staff. Dan akhirnya matanya berhenti pada sebuah pintu yang ada di samping tangga, bertuliskan only staff. “Gothca! Itu liftnya.” Astri berucap, ia segera menekan tombol yang ada di ujung atas kacamata miliknya, sebenarnya dalam kacamata itu terdapat fitur kamera yang dapat mengabadikan setiap hal yang diinginkan penggunanya dan juga dapat mengirimkan foto tersebut langsung melalui email. Tidak ada orang yang tahu, karena Astri hanya terlihat seperti membenarkan kacamata hitam miliknya saja. Kacamata yang dikhususkan untuk mata-mata tersebut tidak mudah di dapatkan, hanya orang-orang yang memiliki izin yang bisa mendapatkannya. Berterimakasihlah pada Arial yang memang memilikinya untuk kebutuhan studi. “Bagus! Tunggulah, Bima dan Rio akan segera kesana.” Luis yang ada di balik suara tersebut berucap dan menginformasikan bahwa kedua lelaki itu akan segera datang, Astri mengangguk kecil dan mulai berbaur dengan pengunjung yang ada. Ia melihat beberapa hal yang menurutnya penting, dimulai dari pembangunan pabrik baru dan penjualan lahan hutan yang ada di daerah sungai Mont. Didalam mobil, dua lelaki tengah menatap jalan dengan serius. “Bersiap untuk menjadi umpan Rio?” tanya Luis pada Rio yang saat ini mengendarai mobil bersama dengan Bima di sampingnya. Keduanya memakai kaos penutup kepala, persis seperti dua orang perampok. Mereka saling bertatapan sesaat dan mengangguk. “Kurasa kami akan selalu menjadi umpan.” Bima yang duduk di samping Rio menjawab pertanyaan tersebut, ia mengeluarkan sebuah shoot gun dari dalam tas dan menggenggamnya. Sedangkan lelaki yang ada di sampingnya hanya terkekeh pelan. “Mungkin sudah menjadi takdir kalian.” Terdengar ucapan Jina yang ikut menimpali Bima melalui earphone tersebut. Membuat mereka tertawa bersama kecuali Astri yang hanya mampu tersenyum di tengah kerumunan orang dalam gedung itu. Rio menginjak gasnya dengan kencang saat mereka hampir sampai, “Berpegangan!” ia berteriak pada Bima yang mengikuti ucapannya dan terus melajukan mobilnya dengan kencang kearah penjaga. Klakson terus Rio bunyikan agar semua orang menyingkir dari jalannya, yang menyebabkan mereka berlari ketakutan terutama kedua penjaga itu ketika mereka menyadari mereka akan tertabrak. Saat sebelum mobil itu akan menabrak pintu masuk Adv Tower Rio membanting stirnya ke arah lain sehingga tidak mengenai gedung itu, hal itu tentu saja membuat keributan baik di luar maupun di dalam. Banyak dari para pengunjung berbondong-bondong keluar untuk melihat apa yang terjadi, sebenarnya rasa keingin tahuan manusia selalu mengundang mereka kedalam hal yang membahayakan. Tetapi, Rio dan Bima tidak se membahayakan itu. Mereka hanya ingin memancing rasa keingin tahuan orang-orang agar Arial dan Jina dapat leluasa masuk kedalam gedung Adv Tower. “Jadi, ketika orang-orang termasuk para pengunjung tertarik dengan kejadian di luar. Arial dan Jina dapat menyelinap memasuki ruang staff.” Itu ucapan Luis saat mereka menyusun rencana beberapa jam sebelumnya. Dan kini, Arial dan Jina telah berhasil masuk lift. Arial menekan lantai enam dan sepuluh, keduanya sempat terkejut ketika beberapa staff ikut naik kedalam lift tersebut. Namun tak ada yang mencurigai mereka. Benar apa yang dikatakan Luis sebelumnya, mustahil para staff mengenali siapa mereka, karena jumlah karyawan Adv Tower yang sangat banyak. Jadi mereka tidak akan saling mengenal kecuali dengan atasan dan rekan kerja satu ruangan saja. Saat lift berhenti di lantai enam, dan pintu terbuka, seketika para staff yang sebelumnya berbincang tiba-tiba terdiam dan saling menatap. Menunggu siapa yang akan keluar di lantai ini. Arial berbisik pada Jina dari jarak yang sangat dekat, “Keluarlah, biar aku yang menangani para staff ini.” Jina mengangguk dan berjalan keluar seraya melepaskan tangan Arial yang sudah ia genggam sejak para staff itu masuk. Sebuah elusan punggung sempat Arial lakukan pada Jina untuk membuatnya tenang karena ia tahu jika wanita itu pasti akan sangat gugup ketika menjalankan misi seorang diri. Salah satu staff berdehem, dan menatap Arial ketika lift kembali tertutup. Hal itu tidak membuat Arial terganggu, ia tetap terdiam sampai beberapa staff keluar dan hanya menyisakan satu staff bersamanya. “Tadi itu kekasihmu?” tanya orang itu, Arial mengangguk sebagai jawaban yang paling logis. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa Jina hanyalah temannya yang mempunyai satu misi dengannya sehingga ia harus menenangkan wanita itu. “Sangat cantik, tidak kusangka kau akan mendapatkan seseorang dari devisi lain. Oh, sebelumnya boleh kita berkenalan?” Orang itu kembali bertanya pada Arial, dengan santai Arial menjabat tangan yang sebelumnya terjulur lebih awal padanya itu. “Romi, International news devision.” Ucap orang itu seraya memperkenalkan bagian dari pekerjaannya, ‘Sial dia bawahanku’ pikir Arial ketika ia sadar bahwa ia bertemu dengan staff yang berada di bawah devisinya. “Edward, Vision nation control.” Dengan santai Arial mengenalkan dirinya sebagai staff kontrol, maka dapat ia lihat wajah orang yang menjabatnya kini terlihat tegang. “Hahaha, tidak perlu tegang sepertin itu. Santai saja!” Arial menepuk pundak orang itu yang wajahnya mulai memucat karena mengira Arial adalah atasannya. Arial sangat pandai menyembunyikan ekpresinya di balik ekspresi santainya. Rio dan Bima turun dari mobil mereka, menghadap kearah sekerumunan orang yang mulai takut ketika Bima memberikan Electric gun pada Rio. Senjata berukuran lumayan besar yang seharusnya hanya pihak militerlah yang dapat memilikinya. Bima menatap seseorang bertopi merah, berdiri dengan tangan yang bergetar. Sepertinya ia memanggil bantuan dari pihak keamanan dengan ponsel yang digenggamnya, kemudian Bima menatap Rio dan mengangguk. Rio mengarahkan senjatanya ke arah orang tersebut dan melepaskan satu tembakkan dengan volt rendah sehingga ponsel itu dilepar dengan sengaja oleh orangyang tersetrum tersebut. Seluruh masyarakat berteriak histeris melihat orang itu terjatuh ke atas tanah dengan tubuh yang bergetar, kedua penjaga Adv Tower mengeluarkan senjata mereka dan menodongkan kearah keduanya. “Jangan bergerak!” teriak salah satu penjaga itu dengan keras, Rio tersenyum di balik topengnya. ‘Rencana kita berhasil!’ pikirnya. “Pihak keamanan kota sedang bergerak menuju kalian!” Luis memberikan kabar di balik earphone yang terpasang di telinga keduanya, Bima mengeluarkan sebuah flash light granat dan mengangkatnya keatas sehingga mereka mulai berlarian karena takut mengira granat tersebut adalah bom. “Hh… Aku merasa kini aku adalah seorang teroris.” Rio bergumam yang hanya dapat di dengar oleh Bima dan Luis. Bima melirik dengan ujung matanya pada lelaki itu, dan menjawab. “Anggaplah ini sebuah permainan Rio, kita harus menjauhkan masyarakat dari wilayah ini kan? Lagi pula pihak keamanan akan kesulitan jika semua orang sedang panik.” Bima menanggapi ucapan Rio dengan santai, membuat Rio mengangguk dan kembali mengangkat Electric gun yang masih di pegangnya setelah mendengar ucapan itu. Rio tersentak ketika mendengar suara tembakan dari arah jauh, dan tak lama ia mendengar Bima yang ada disampingnya meringis. “Bima!” Luis pun terdengar berteriak di balik earphone, sontak Rio berbalik untuk melihat keadaan temannya. Dan saat itu juga Bima tersungkur keatas tanag dengan bahu yang berbismbah darah. “Sniper?! Rio, Bima! Mereka menggunakan senjata jarak jauh!” suara Luis terdengar begitu panik di balik earphone ketika ia menyadari bahwa pihak keamanan menggunakan tembakan jarak jauh. * Chip Access Adv Tower adalah id access tercanggih yang pernah ada. Mikro chip ini di tanam di dalam kulit manusia dan aktif dengan menggunakan aliran darah. Sehingga akan sangat sulit untuk mendapatkan access masuk menggunakan chip tersebut. Chip itu di tanam oleh dokter ahli bedah yang tidak sembarangan, karena satu saja kesalahan dalam penanamannya maka chip tersebut tidak akan berjalan dengan semestinya. * AccessFADt adalah alat yang di buat oleh Bima, Rio dan Luis. Alat yang menyerupai jari manusia itu adalah alat penyadap Access masuk kedalam gedung Adv Tower, pengerjaan alat ini memakan waktu cukup lama dan perhitungan yang sangat rumit bagi ketiga lelaki itu. Namun dengan ketekunan, kepintaran dan kerjasama mereka. Mereka dapat berhasil merampungkan alat ini dengan sempurna. * Mikro earphone adalah earphone kecil yang terhubung dengan Talkie Box yang dibawa oleh mereka. Earphone ini tidak terlihat karena berukuran sangat kecil. Mikro earphone yang hanya terdapat beberapa buah ini di rancang oleh Luis untuk kebutuhan mereka dalam menjalankan misi penyelamatan bumi. * Flash light granat adalah granat yang hanya mengeluarkan sinar tanpa mengeluarkan sebuah ledakan dan asap. Flash light granat berbentuk mirip seperti granat itu terkadang membuat orang-orang berpikir bahwa itu adalah granat peledak. To Be Continued 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN