“Pergilah!” Bima memerintah Rio ketika bunyi sirine keamanan sudah terdengar di telinga mereka berdua. Namun Rio menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dan membopong tubuh Bima, membantunya masuk kedalam mobil. Dengan berlari kecil, Rio masuk ke arah pintu kursi kemudi dan segera menjalankan mobilnya dengan cepat. Sebuah tembakan berhasil mengenai kaca belakang mobil yang mereka kendarai, namun kaca anti peluru itu belum pecah dan hanya terlihat retakan-retakan.
“Sial!” Rio berteriak sambil terus meihat kearah depan dan spion samping kanannya. Ia harus memastikan jalan yang ia lalui aman dan pihak keamanan pemerintah masih jauh dari mereka.
Jina segera berjalan menuju ruang control dari penyebaran Hologram newspaper, hatinya sedikit tidak tenang karena rasa takut. Ia membuka pintu ruangan yang berada di ujung lorong dengan perlahan, dan melihat berpuluh-puluh atau mungkin ratusan layar yang selalu terpasang disana. ‘Jadi seperti inilah ruang control dari hologram newspaper? Tetapi dimana layar utamanya?’ Jina melirik ke arah kiri dan kanan mencari dimana letak komputer yang menjadi pengatur utama dari layar-layar di dalam ruangan itu.
“Ujung kanan Jina!” Jina mendengar Luis yang memberiahu dimana letak komputer yang ia tuju. Jina mengangguk paham dan melirik arah komputer yang ada di ujung kanan sana. Jina segera memasangkan sebuah flashdisk yang Luis berikan pada komputer itu, layar tersebut untuk beberapa detik menampilkan warna biru muda namun kembali seperti semula detik kemudian.
“Selesai!” Jina segera berdiri dan berjalan meninggalkan komputer utama itu, kemudian membuka pintu yang dimana sebelumnya ia masuk. Namun ketika pintu terbuka, ia melihat seorang lelaki berdiri dengan secangkir kopi di tangannya yang sukses membuatnya terkejut.
“Apa yang kau lakukan disini nona?” Tanya lelaki itu yang terlihat heran dengan kehadiran Jina di dalam ruangan miliknya.
“Ah… Itu, aku akan mengambil beberapa file.” Jina menjawab dengan gugup dan menatap pada lelaki yang kini menatapnya dengan curiga. Hanya mereka berdua yang berada di dalam ruangan ini, dan itu membuat wanita ini menjadi semakin ketakutan. Jina melirik jas milik lelaki itu, tertera sebuah tulisan Manager Control HN (Hologram newspaper) yang sukses membuatnya membelalakan mata.
“Dalam ruangan ini hanya ada tiga orang saja yang bekerja, dan aku tidak ingat ada wanita dalam posisi ini.” Lelaki yang berpostur tubuh besar itu mencengkram tangan Jina dengan keras dan menyimpan kopi miliknya ke atas meja. Tak habis akal, Jina segera mengeluarkan botol kecil dari sakunya dan menyemprotkan sebuah cairan tepat kemata lekaki tersebut. Kemudian ia segera mengnetakkan genggaman tangan itu dan berlari dengan cepat ke luar dari ruangan tersebut.
“Bima!” Ditengah pelariannya, Jina mendengar teriakan panik dari Luis dari mikro earphone, dan itu tentu membuat rasa paniknya bertambah dua kali lipat.
“Luis?! Apa yang terjadi? Luis!” masih dengan pelariannya, Jina mencoba menghubungi Luis yang tidak kunjung memberinya jawaban. Ia berbelok ke arah kanan dan kiri untuk menghindari siapapun yang mengejarnya dan menekan tombol yang ada di gelangnya, tombol itu berfungsi sebagai pengalihan komunikasi earphone yang ia gunakannya.
“Jina?” Suara Arial yang kini masuk pada sambungannya dan itu membuat Jina setidaknya merasa lega. Ia menghela nafasnya dan langkah kakinya mulai memelan, tetapi masih terbilang cepat.
“Arial, dimana posisimu? Penyamaranku terbongkar, aku sedang berlari menghindari orang-orang yang mungkin saja mengejarku! Luis tidak membalas panggilan dariku, apa yang terjadi? Apa hal buruk terjadi?” Jina berucap dan bertanya dengan cepat, juga tidak ada jeda disana sehingga Arial tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang Jina katakan padanya.
“Jina… Calm Down! Calm Down! Dimana posisimu sekarang?” Dengan tenang, Arial berusaha membuat Jina tenang, karena ia tahu wanita itu saat ini pasti sedang merasa sangat panik. Jina yang mendengar ucapan Arial tentu saja terbawa tenang, ia kini lebih memelankan langkahnya dan menarik napas sedalam-dalamnya sebelum kemudian menghembuskannya secara perlahan.
“Aku di lantai empat, di depan ruang meeting HN.” Jina berucap dengan suara yang pelan, ia berusaha menahan tangis dan paniknya secara bersamaan. Namun Arial dapat mengetahui hal itu dari suaranya yang sedikit parau.
“Ok, aku akan segera kesana. Sekarang, apakah ada ruang tempat penyimpanan file disana? Yang paling dekat denganmu.” Jina menengok ke arah kiri dan kanan, dan mendapati sebuah ruangan arsip bekas tempat penyimpanan file lama yang terlihat tidak terpakai. Jina menelan ludahnya sebelum ia menjelaskan pada Arial.
“Ada, dari lift ada sebuah pintu di sebelah kiri. Itu adalah gudang penyimpanan arsip.” Jina menjelaskan dan memberi patokan tempat pada Arial agar lelaki itu lebih menudah menemukan tempatnya.
“Bagus, masuklah dan bersembunyi disana, sampai aku datang menjemputmu. Mengerti?” Jina meng-iya-kan perintah Arial dan masuk kedalam ruangan yang sudah tidak terpakai itu dengan tergesa-gesa. Ia masuk dan mengunci pintu tersebut, lalu bersembunyi di balik sebuah rak yang sudah terpenuhi bongkahan-bongkahan data yang berbentuk tabung besi.
“Luis! Bagaimana keadaan mereka?” Astri datang dengan tergesa-gesa dan duduk di samping Luis yang masih menatap layar pengintai miliknya. Setelah tugasnya tadi selesai, Astri segera menaiki mobil dan menghampiri Luis untuk membantunya. Luis tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Astri tadi, ia tetap fokus pada layar yang menunjukkan pergerakan mobil milik Rio dan mobil milik para pihak keamanan.
“Lurus dan jangan berbelok Rio!” Luis memberikan perintah pada Rio, dan Astri mau tidak mau meninggalkan Luis beserta tugasnya. Lalu beralih pada beberapa layar komputer yang memperlihatkan cctv milik Adv tower. Setidaknya ia harus membantu Luis untuk menangani Jina dan Arial. Astri melirik satu persatu layar itu, matanya menyipit ketika tidak mendapati Jina dimanapun, ia hanya mendapati Arial yang memasuki lift dengan tergesa-gesa. Astri segera memasang earphonenya dan menghubungi Arial yang satu-satunya dapat ia lihat.
“Arial, dimana Jina?” tanyanya pada Arial, tetapi sayang lift itu dipenuhi oleh karyawan, sehingga tidak mungkin Arial menjawab pertanyaan dari Astri, yang nantinya akan membuat heran seisi lift tersebut. Astri yang mulai merasa panik, segera mengecek kembali keberadaan Jina, satu per satu cctv milik Adv tower ia pantau. Rasa penasarannya menyeruak ketika melihat beberapa penjaga dan satu orang karyawan tengah berbincang secara serius di lantai HN, dan terlihat seperti ada masalah yang benar-benar harus mereka tangani. Terlihat dari cara karyawan itu menjelaskan apa yang terjadi kepada para penjaga, Astri tidak ambil pusing ia mengambil earphone disana kemudian membesarkan volume komputer itu.
“Jadi penyusup itu adalah seorang wanita yang kira-kira tingginya 168cm berambut pirang, memakai alas kaki berwarna pink dan kacamata berframe putih?” salah satu penjaga bertanya pada lelaki itu, Astri terkejut mendengarnya. Karena yang ia tahu, Jina menggunakan sepatu pink dan kacamata putih. Dan sengan tergesa-gesa, Astri kembali menghubungi Arial, dan kembali mencari keberadaan Jina melalui seluruh cctv itu.
“Jina! Dimana kau?!” Astri bergumam pada dirinya sendiri seraya dengan cepat membolak-balikkan semua saluran cctv secara berulang kali.
“Astri! Aku dan Jina berada di ruang arsip tanpa cctv.” Setelah sambungannya terhubung dengan Arial, lelaki itu segera melapor padanya. Setidaknya hal itu berhasil membuat Astri berbapas lega. Ia melirik ke arah Luis untuk menanyakan hal selanjutnya, tetapi melihat Luis yang masih sibuk membantu kedua temannya, maka Astri merasa ia harus melakukan sesuatu agar Arial dan Jina dapat keluar dari sana tanpa bertanya pada Luis.
“Arial, cepatlah keluar melalui tangga darurat! Tetapi sebelum itu, usahakan agar Jina mengganti pakaiannya terlebih dahulu.” Astri memberikan sebuah arahan dan usulan pada Arial, hanya terdengar decakan mulut Arial di telinga Astri. Dan terdengar suara-suara barangan dan resleting yang tertutup yang mampu Astri dengar.
Berkali-kali tembakkan di arahkan ke mobil yang Rio kendarai. Satu peluru dari seluruh tembakan itu berhasil memecahkan kaca spion kiri miliknya. Sehingga Rio mengendarai mobilnya dengan tidak beraturan, dan terus berbelok ke kanan dan kiri untuk menghindari semua peluru-peluru itu. Bima tetap meringis kesakitan disampingnya dan beberapa kali ia sempat berusaha mengeluarkan senjata mereka untuk melawan pihak keamanan pemerintah yang mengejar mereka. Seperti sekarang ini, Bima mengambil sebuah bom asap dari dalam tas Rio dan melemparnya keluar jendela sehingga memperlambat para keamanan yang mengejar. Kemudian Bima kembali bersandar dengan penuh kesakitan di kursinya, membuat Rio yang fokus menyetir merasa sedikit khawatir.
“Rio! Didepan kalian sudah ada mobil milik mereka, hentikan mobilmu sekarang dan berlarilah!” Mendengar informasi yang Luis katakan, sontak Rio menginjak remnya untuk menghentikan mobil mereka dan keluar dari kursinya, berlari ke arah pintu Bima untuk membopongnya, serta membawa beberapa senjata milik mereka yang ada didalam tasnya. Rio berusaha secepat mungkin untuk pergi dari sana dan bersembunyi, bersama Bima yang terus memegangi bahunya dengan kuat agar darahnya tidak keluar terlalu banyak. Wajah lelaki tinggi itu sudah mulai memucat, dan Rio mengetahui perubahan warna pada wajah itu.
“Luis! Apa tidak ada jalan yang harus ku pilih?” Rio bertanya, entah mengapa kakinya menuntunnya melangkah kedalam sebuah apartemen padat. Rio mendudukkan Bima di salah satu balkon lantai apartemen itu, napasnya terengah-engah. Ia merasa lelah ketika harus membawa senjata dan membantu temannya berjalan. Rio kembali berdiri dan mengecek keadaan sekitar, tidak ada tanda-tanda dari pihak keamanan disana. Maka ia kembali menghampiri Bima untuk mengajaknya pergi dari sana.
“Ayo Bima, kita harus keluar dari sini dan menemui Luis!” Rio berjongkok dan mendekati Bima yang masih bersandar di tembok dengan nafas yang terengah-engah. Sebuah gelengan kepala Bima dapat Rio lihat secara jelas, menandakan penolakan dari lelaki tinggi itu.
“Rio, kurasa aku tidak bisa.” Rio terkejut mendengar Bima yang berucap seperti itu padanya, dan sebenarnya bukan hanya Rio saja yang terkejut melainkan Luis, Astri, Arial dan Jina yang mendengar ucapan Bima dari jauh pun ikut terkejut. Karena mikro earphone yang mereka pasang masih terhubung satu sama lain, maka apapun yang mereka katakan akan terdengar di telinga yang lainnya.
“Apa yang kau katakan Bima? Ayo! Ini bukan saatnya untuk kau bercanda padaku!” Rio mengelak, ia berdiri dan menarik lengan Bima yang masih terduduk. Namun saat itu ia terdiam ketika merasakan lengan Bima yang ia genggam sudah terasa dingin, ia menatap kearah Bima dengan wajah terkejutnya.
* Hologram newspaper adalah Devisi periklanan dan pemberitaan di Adv Tower yang menyebarkan berita serta iklan dalam bentuk hologram yang banyak di minati oleh masyarakat juga perusahaan.
To Be Continued