Jina Dan Arial berhasil keluar dari gedung Adv tower dengan melakukan penyamaran seperti yang Astri katakan. Mereka segera masuk kedalam mobil hitam milik Arial yang ia simpan di area parkir luar gedung. Mereka segera belari ketika sampai di tempat mereka berkumpul. Arial segera menghampiri Luis dan mengecek bagaimana keadaan sebenarnya yang terjadi pada Rio juga Bima.
“Aku sudah tidak kuat Rio. Aku sudah mencobanya, ini terlalu berat untukku.” Jina menutup mulutnya dan menangis mendengar pengakuan Bima. Mata Arial menyipit, ia segera pergi dan mengambil kunci mobil miliknya untuk kembali pergi menjemput keduanya.
“Aku akan menjemput mereka!” ucapnya tanpa banyak berdiam diri, Luis hanya melirik kepergian Arial dari tempat itu dan kembali menatap layar komputer yang hanya memperlihatkan beberapa titik-titik yang berkedip.
“Bima, Rio! Arial akan menjemput kalian, bertahanlah! Terutama kau Bima, bertahanlah.” Luis berucap untuk menenangkan keduanya dan mengatakan bahwa bantuan akan datang, Astri berdiri dari tempatnya untuk menenangkan Jina yang masih menangis. Luis melihat kearah komputer yang menunjukkan bahwa pihak keamanan sudah mendekati keduanya, membuat nafasnya tercekat. Luis mulai ketakutan, dan berkeringat. Ia ragu untuk memberitahu Rio dan Bima, tetapi ia harus tetap melakukan pelaporan itu agar mereka segera berlari dari sana.
“Rio… Pihak keamanan mendekat, mereka berada di lantai bawah.” Astri dan Jina bersamaan menengok ke arah komputer yang tengah Luis pegang. Mereka berdiri dan menghampiri Luis, merasa khawatir dengan kedua teman mereka disana.
“Bima apa yang kau lakukan?!” Luis, Astri, Jina dan Arial yang berada di jalan, hanya dapat mendengar apa yang Rio katakan karena komputer tidak menunjukkan sebuah cctv melainkan hanya lokasi dimana Bima dan Rio berada.
“Rio, apa yang terjadi?” Luis bertanya pada Rio karena mereka hanya mendengar suara ribut dari senjata yang di persiapkan oleh salah satu dari mereka atau keduanya.
“Cepatlah pergi Rio, mereka sudah dekat! Biarkan aku yang menghadang mereka.” Kembali terdengar permintaan Bima agar Rio meninggalkannya dan membiarkannya menghadang para keamanan.
“Jangan Rio! Jangan tinggalkan dia!” Jina berteriak dengan kencang, meminta agar Rio tetap bersama dengan Bima. Rio dan Bima mendengar dengan jelas permintaan Jina tersebut.
“Benar, Arial sudah berada di dekat kalian! Ayolah Bima.” Kali ini Astri membantu Jina agar meyakinkan keduanya.
“Biar ku tanyakan ini padamu Luis… Yang manakah yang lebih dekat dengan kami saat ini? Arial atau pihak Keamanan?” Luis terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Bima. Tentu saja ia mengetahui bahwa pihak keamananlah yang lebih dekat dengan keduanya, namun jika ia menjawab itu sama saja membiarkan Bima menyerah dan menyuruh agar Rio meninggalkannya.
“Bima!” Rio berteriak membentak lelaki itu, dan saat itu juga bentakkan Rio dibalas dengan bentakan dari Bima.
“Rio! Kita sudah tidak memiliki banyak pilihan, cepatlah pergi atau perjuangan kita selama ini akan sia-sia.” Rio terdiam begitu ucapannya terdahului oleh Bima, dan mulai mempertimbangan apa yang Bima ucapkan padanya.
“Maafkan aku, Bima.” Ucapan tersebut membuat Luis, Jina, Astri dan Arial terkejut dengan keputusan Rio. Entah apa yang lelaki itu ucapkan sehingga ia tega meninggalkan Bima. Apakah keadaannya begitu buruk?
Rio berbalik dan segera berlari kearah lorong yang berlawanan arah dengan para keamanan, meninggalkan Bima persis seperti apa yang dia minta. “Rio!” Mendengar panggilan itu, ia segera berbalik menatap pada Bima yang berdiri di tengah lorong dengan tubuh membelakanginya. Bima menoleh menatap Rio dengan senyumannya yang khas miliknya.
“Selesaikan tujuan kita, dan jagalah mereka!” ucapan Bima tersebut seolah menjadi pesan terakhirnya untuk Rio. Rio mengangguk mengiyakan apa permintaan Bima dan kembali berlari dengan cepat menjauhi tempat itu. Bima melirik kearah tangan kanannya yang menggenggam sebuah tabung merah bergaris dengan timer yang terus menghitung mundur, kemudian ia menaruh tabung itu ke dalam saku jaketnya dan mengambil electric gun yang ada di hadapannya.
“Jangan bergerak!” Seorang dari pihak keamanan yang datang dengan beberapa keamanan lainnya berteriak dengan tegas dan kencang, Bima menatap tajam pada mereka yang seenaknya menodongkan senjata padanya.
“Seharusnya kalian sadar, bahwa aku bukanlah lawan kalian! Tapi… Jika keadaan sudah seperti ini, maka tidak ada gunanya kami kembali.” Bima mengencangkan genggamannya pada electric gun tersebut dan menembak seorang keamanan dengan volt yang lumayan tinggi sehingga orang tersebut jatuh pingsan di tempatnya.
Ketika berlari menuruni tangga, Rio mendengar dengan jelas suara tembakan senjata api dari pihak keamanan yang terlepas berulang kali. Hal itu membuat perasaannya terpukul dengan sangat keras mengingat Bima lah yang menjadi sasaran utama dari timah panas nan menyakitkan tersebut. Tapi langkah kaki Rio tidak berhenti, ia terus melanjutkan sampai ia berhasil menuruni tangga terakhir, dan saat itu juga ia mendengar suara ledakkan yang sangat keras. Sebuah bom meledak dengan daya ledak tinggi, tepat di tempat dimana Bima dan para keamanan berada. Rio seketika menghentikan larinya dan menatap penuh keterkejutan kearah lantai tersebut.
“Bima!” Terdengar suara isakan dan jeritan penuh pilu di telinga Rio melalui mikro earphonenya. Ledakan tersebut memicu kericuhan penghuni apartemen, orang-orang berlarian keluar, menabrak tubuh Rio yang masih membatu di tempat. Rio merasakan tangannya bergetar dan kakinya tak sanggup lagi untuk berdiri hingga pada akhirnya Rio terjatuh dengan tatapan yang tidak lepas dari hal yang ia lihat sebelumnya. Tempat dimana ia meninggalkan Bima.
Mulutnya bergerak menggucapkan nama Bima, tanpa suara. Rio berdiri dan bertekad untuk kembali melangkah ke tempat dimana Bima ditinggalkan. Namun Arial yang telah datang ditempat kejadian segera menariknya untuk meninggalkan tempat tersebut, agar pihak keamanan tidak menangkapnya.
Luis meremas rambutnya dengan kuat, bahkan ia memukul berulang kali komputernya dengan tangan kosong seraya berteriak teriak. Sementara Astri menangis berpelukan dengan Jina, saling menguatkan diri dengan terhadapa apa yang baru saja terjadi. Ledakan itu benar-benar terdengar dengan sangat keras, entah apa yang di pikirkan Bima sehingga ia berani melakukan hal itu dan meninggalkan mereka.
“Tidak mungkin Bima!” Jina berteriak dengan suara paraunya, dan kembali menangis hingga tubuhnya melemas dan terjatuh ke atas lantai. Luis segera berdiri meskipun ia masih dengan keadaan yang shock, tetapi dia harus memperhatikan kedua teman wanitanya ini. Luis mengangkat Jina yang pingsan ke atas sofa, dan kembali duduk di kursi yang lain. Astri masih menangis menemani Jina, duduk di sampingnya seraya mencoba menyadarkan temannya itu.
Kelimanya kini hanya terdiam, saling tenggelam dengan pikiran masing-masing. Ini masih beberapa jam setelah kejadian yang memilukan itu, dna mereka belum siap untuk membahas apapun. Hal tersebut masih berlanjut hingga 3 hari kemudian, Jina terus mengurung dirinya di dalam kamar dan keluar hanya untuk mengambil air minum. Tubuh Jina terlihat sangat kurus, dia kehilangan berat badan secara drastis, tidak berbeda denga Rio dan Luis. Kedua lelaki itu juga terlihat tidak pernah memasukan apapun kedalam tubuh mereka, Astri khawatir jika ini terus berlanjut semua pengorbanan mereka akan berhenti begitu saja.
To Be Continued