“Rio.” Astri menghampiri lelaki yang kini duduk di depan jendela yang ada di dalam kamarnya. Lelaki itu melirik dan mengangguk, mengizinkan Astri untuk masuk kedalam kamarnya. Setelah itu, ia kembali menatap kearah jendela.
“Aku tahu kita belum bisa menerima semua ini. Tapi, Rio… kita membutuhkanmu, kita harus tetap melakukan apa yang kita rencanakan sebelumnya.” Astri duduk di samping lelaki itu, dan mengusap punggung tangannya yang tersimpan di atas paha. Rio melirik dan menatap pada Astri dengan tatapan yang menandakan bahwa ia sudah lelah dan menyerah.
“Aku tidak memperhitungkan ini, Astri. Aku tidak menyangka jika rencanaku dan Luis akan berdampak pada Bima… seharusnya kita tidak melakukan semua ini.” Rio membuang wajahnya dan menarik tangannya yang di genggam Astri. Wanita itu terdiam untuk waktu yang sangat lama, ia berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini, ketika ketua mereka pun sudah menyerah maka apa yang harus dia lakukan?
“Kalau begitu, datanglah ke meja makan malam ini, jika kau ingin menyerah maka kau harus memberitahu pada yang lain.” Hanya itu yang Astri ucapkan, ia segera keluar dan menutup pintu tersebut. Meninggalkan Rio dengan semua pikirannya, dan menemui Arial yang menyiapkan beberapa gelas s**u. Itulah yang selama tiga hari ini Arial lakukan, ia membuatkan mereka segelas s**u dan mengirimkan ke kamar mereka layaknya seorang pengantar s**u. Tidak peduli jika s**u itu diminum atau menjadi basi keesokan harinya.
“Arial.” Astri memanggil lelaki itu. Arial mendongak dan kembali melanjutkan kegiatannya seraya menjawab panggilan tersebut.
“Ada apa Astri?” Tanyanya, Astri yang sudah berada di lantai bawah segera menghampiri Arial dan menghentikan kegiatan membuat s**u tersebut dengan menggenggam lengan Arial.
“Aku membutuhkan bantuanmu.”
Saat ini mereka semua terdiam di meja makan, seperti apa yang Astri pinta. Meski begitu, mereka tetap terdiam tidak berbicara satu katapun. Begitu pula dengan Rio yang sepertinya enggan untuk membuka suara. Lama untuk menunggu, akhirnya Arial berdiri dari tempatnya membuat keempat orang lainnya menatap padanya.
“Maaf, tapi aku tahu kita harus melakukan sesuatu saat ini. Memang kematian Bima sudah membuat kita semua shock dan sedih. Namun yang perlu kita semua ingat, jangan sia-sia kan apa yang telah kita perjuangkan sehingga Bima rela menyerahkan nyawanya. Saat ini, hal yang terpenting adalah apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Akankah kita kembali ke rencana awal kita? Ataukah kita menggunakan rencana baru? Atau… kita akan menyerah dan membiarkan in semua menjadi kenangan?” Arial membuka suaranya ketika dirasa sudah cukup untuk mereka terus berdiam dan atas permintaan Astri sebelumnya yang memintanya agar membantu gadis itu untuk menyadarkan seluruh temannya terutama Rio.
“Tidak! Kita akan tetap mencoba rencana awal kita.” Rio berdiri dari tempatnya, membuat Astri terkejut. Ia pikir Rio akan mengatakan hal yang sebelumnya mereka bicarakan di dalam kamar, ia pikir Rio akan mengatakan bahwa dirinya akan menyerah dan membuat mereka menyerah. Tetapi ia melihat hal yang sebaliknya, ia melihat Rio berjalan kearah komputer, dan mulai mengetik beberapa code kedalamnya.
Rio menengok menatap wanita yang masih memperhatikannya, “Lihatlah berita hari ini, Astri!” Rio memberikan perintah pada temannya tersebut, Astri segera berdiri dan menyalakan televisi yang ada di ruangan tersebut persis seperti apa yang Rio minta. Luis yang sebelumnya hanya diam dan duduk, saat ini menghampiri Rio dan membantunya disana.
“Sebuah penyerangan yang terjadi membuat panik seluruh pengunjung Adv tower beberapa hari yang lalu, satu orang dikabarkan tewas yaitu pelaku penyerangan dan sepuluh orang dari pihak keamanan mengalami luka-luka. Tidak diketahui apa motiv dari para pelaku penyerang…” Mereka menonton berita tersebut, namun berbeda dengan Rio dan Luis yang sibuk memasukan kode-kode kedalam komputer.
Ketika Rio menekan tombol enter pada komputernya, seketika saluran televisi tersebut mengeluarkan sebuah suara nyaring untuk sekian detik dan mulai menampilkan sebuah video yang memperlihatkan beberapa hal. Semua hal yang ada dalam video itu adalah penjelasan mengenai keadaan Bumi saat ini. Astri menengok cepat kearah Rio, Lelaki yang ditatapnya itu hanya mengangguk samar padanya. Kembali, Astri mengalihkan pandangannya pada televisi yang masih menayangkan betapa mengerikan bumi mereka saat ini.
“Ayo kita pergi!” Rio berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju kamar, mengambil sebuah tas yang sudah ia kemasi dan kembali menghampiri keempatnya. Mereka semua menatap Rio dengan heran. Namun tidak ada yang mengatakan tidak padanya, mereka semua segera beranjak dan masuk kedalam kamar untuk mengemasi barang mereka. Astri masih di tempatnya, menghampiri Rio dan bertanya pada pemuda itu.
“Kita akan pergi sekarang?” Rio mengangguk sebagai jawabannya, tidak lupa dengan sebuah senyuman yang Rio tunjukkan untuk Astri. Membuat wanita itu memeluknya kemudian berlari ke arah kamar untuk mengemasi barangnya seperti yang lain. Mereka pergi meniggalkan Bima untuk menghindari pelacakan pemerintah akibat data yang tersebar secara ilegal tersebut.
“Mereka menamakan diri mereka We Are Earth, para pengunjuk rasa ini kian bertambah setiap harinya di seluruh penjuru. Mulai dari…”
“Hal ini disebabkan oleh penayangan video ilegal yang terjadi beberapa minggu yang lalu dan ini merupakan…”
“Lima belas perusahaan memutuskan kontrak dengan pemerintah dalam hal pertambangan dan menghentikan kegiatan penambangan menyebabkan…”
“Gerakan penanaman 1000 pohon yang diselenggarakan akan…”
“Menurut kami ini adalah suatu fenomena dimana kesadaran masyarakat akan bumi…”
Astri berdiri di depan televisi yang hampir seluruh chanelnya menayangkan berita tentang dampak yang berhasil mereka munculkan dari video yang telah di putar beberapa minggu yang lalu. Ya, sudah lebih dari 2 minggu sejak mereka menayangkan video tersebut dan reaksi masyarakat cukup membuat kelimanya senang.
“Astri, ayo! Kita harus segera menemui ketua penggerak W.A.E” Astri segera mematikan televisi dan berjalan menyusul Jina, Arial, Luis dan Rio. Ketua W.A.E telah mengetahui siapa Astri dan teman-temannya, maka ia mengundang kelimanya untuk berbicara dan memotivasi para anggota W.A.E serta seluruh masyarakat yang mulai peduli dan sadar akan bahaya yang mengancam dunia.
“Ayo berdo’a bersama.” Rio mengajak mereka untuk berkumpul membuat sebuah lingkaran. Ia mulai memanjatkan do’a yang sudah mereka lakukan selama dua minggu kebelakang ini. Mereka merasa bahwa do’a adalah hal yang harus mereka lakukan untuk menghormati kepergian Bima.
“Bima… lihatlah hasil dari keberanianmu, kau berhasil melindungi kami bahkan dunia seperti harapanmu.
Tuhan… hanya ini yang dapat kami lakukan, selanjutnya kami serahkan padaMu.
Bumi… jangan menangis, karena kami akan selalu bersamamu.”
Rio terdiam setelah ia selesai memanjatkan do’anya dan mengizinkan mereka untuk masuk kedalam mobil. Ketika ia hendak menjalankan mobil, ia berbalik menatap teman-temannya yang berada di belakang dan disampingnya. “Mungkin saat ini, saat dimana kita mulai ditatap oleh banyak orang. Kita akan menjadi orang penting bagi mereka, tetapi… Jangan pernah lupakan apa tujuan kita sebenarnya, karena mungkin saja di masa yang akan datang, kita akan kembali seperti kita yang selalu berlari.”
To Be Continued