Begitu Yahmar sampai ke rumahnya, ia melihat beberapa mobil mewah para pejabat telah menghiasi tempat parkir tamu Kenegaraan. Ia berjalan masuk ke dalam istana kenegaraan dari pintu samping, dan segera masuk kedalam kamarnya, mengunci rapat pintu tersebut dan menyalakan mode kedap suara sehingga para tamu tidak mendengar apa yang akan ia tonton dan ia pun tidak terganggu dengan ributnya para tamu dari sang Ayah.
Yahmar memasukan Chip yang James berikan padanya kedalam laptop canggih miliknya. Menunggu data tersebut terbuka sepenuhnya, seraya mendengarkan beberapa musik yang ia sukai.
Yahmar terkejut ketika seluruh data tersebut terbuka, disana terdapat ratusan video yang berbeda yang di rekam melalui camera profesional maupun kamera dari smartphone. Yahmar melihat lima video teratas, maka ia segera memutarnya.
“Selamat datang di orasi bumi kami… Aku mengapresiasikan kepada kalian semua yang…” Yahmar menonton video yang berdurasi setengah jam tersebut, dan di beberapa detik pertama ia sadar bahwa orang yang kini berbicara itu adalah Ikhsan lelaki yang berhubungan dengan Nasa yang James ingatkan padanya.
“Kita sambut orang-orang yang telah membuat kita semua tersadar…” Yahmar menekan tombol pause dan segera memasang earphone miliknya, menyambungkan itu pada laptop canggih miliknya. Yahmar merasa bahwa itu adalah hal penting yang harus ia ketahui.
Yahmar telah menonton seluruh video yang teratas yang membuatnya penasaran. Ia terdiam dan tidak bisa berfikir apapun setelah menontonnya. Tenyata selama ini hal yang ia dengar tentang organisasi We Are Earth (W.A.E) dari sang Ayah adalah sebuah kesalahan besar! Ia tidak dapat mempercayai bahwa sang Ayah melarang keras keberadaan organisasi ini, padahal organisasi ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mereka merubah dunia.
Yahmar sudah merasa bahwa dirinya tidak boleh diam saja, ia segera memanggil James lewat sambungan telephone. Berdiri dari posisi duduknya, melihat ke arah jendela dan kembali berjalan ke arah meja belajar miliknya. James tidak kunjung mengangkat panggilan itu, membuatnya mendecak untuk sesaat. Mematikan panggilan tersebut dan memanggilnya kembali.
“Bagaimana? Kau sudah menontonnya, Yahmar?” James seketika menanyakan padanya perihal video tersebut ketika panggilan keduanya berhasil tersambungkan. Yahmar mendecak, dan duduk di kursinya untuk kembali melihat data-dat video yang James berikan padanya.
“Ya, Aku sudah melihat lima video teratas!” Yahmar menjawab pertanyaan tersebut dengan serius, kemudian dia melihat-lihat video lainnya sambil menunggu reaksi dari James.
“Aku memang sengaja memisahkannya untukmu, Yahmar.” Yahmar dapat mendengar suara kekehan pelan dari James yang berada di balik sambungan telphone itu. Yahmar mengangguk menyetujui keputusan yang James buat untuk dirinya. Sebab, jika James tidak melakukan hal tersebut maka Yahamar tidak mungkin akan memutuskan keputusannya secepat ini.
“Thanks…” Ucap Yahmar,
“Jadi bagaimana, Yahmar? Apakah kau sudah dapat memutuskan pilihanmu? Apakah kita akan bergabung dengan mereka, atau tidak?” James kembali bertanya, kini ia menanyakan keputusan yang sebenarnya akan Yahmar berikan padanya.
Untuk beberapa saat, Yahmar terdiam untuk memikirkan hal ini lebih matang lagi. Meskipun ia sudah mendapatkan jawabannya, tetapi setidaknya ada menit-menit terakhir di mana ia kembali memikirkan hal ini. Karena jika ia tidak memikirkannya di menit terakhir, ia merasa bahwa dirinya akan merasa menyesal nanti. Tetapi jika ia telah memikirkan ini di saat terakhir, meskipun mereka gagal nantinya, ia tidak akan merasa menyesal karena ia telah memikirkan ini dan berani mengambil kosekuensinya di menit-menit terakhir sebelum keputusannya terucap.
“Kurasa kau benar, James. Kita harus bergabung dengan mereka!” Yahmar akhirnya memberikan keputusan yang ia ambil dan yang ia rasa keputusan terbaik. James terdengar tertawa pelan di balik panggilan itu, dan Yahmar tidak yakin apa yang sebenarnya James tertawakan.
“Lagi pula, aku tidak mau jika kita harus menunggu lebih lama lagi. Aku ingin berjuang bersama mereka, James. Jadi aku akan memilih untuk bergabung dengan We Are Earth, bagaimana dengan dirimu? Apakah kau akan bergabung?” Kini setelah menjelaskan alasannya memutuskan untuk bergabung, Yahmar berbalik bertanya pada James. Apakah lelaki itu juga akan bergabung atau hanya memberikannya sebuah referensi organisasi?
“Tentu saja, Yahmar. Karena aku juga menginginkan Bumi yang ku pijaki ini aman.” Yahmar mendengar pernyataan yang James ucapkan tersebut mengandung beribu makna. Ya… James benar dengan hal itu, Bumi yang mereka pijaki harus aman, karena mereka juga menginginkan orang terkasih mereka merasa aman.
“Kalau begitu, sampai jumpa di pertemuan besok. Kita akan membicarakan ini dengan anggota lainnya.” James berucap, dan memutuskan sambungan yang mereka lakukan. Setelah sambungan tersebut tertutup, Yahmar melemparkan smartphonenya ke atas kasur dan merebahkan dirinya dengan sangat lelah.
Tok… Tok… Tok… Di saat Yahmar baru saja akan memejamkan matanya, pintu kamarnya terketuk tiga kali menandakan ada seseorang di balik pintu tersebut. Yahmar menonaktifkan mode kedap suara yang sebelumnya menyala dan mendengar suara sang Ibu memanggilnya.
“Yahmar!” Yahmar bangkit dari posisinya mendengar suara sang Ayah yang ternyata ada di balik pintu kamarnya itu. ia segera menutup layar laptop miliknya dan berjalan ke arah pintu untuk membukakannya untuk sang Ayah.
“Ada apa Ayah?” Tanyanya setelah membuka pintu tersebut. Kini ia berdiri tepat di hadapan sang Ayah yang menatapnya. Tatapan itu adalah tatapan yang tidak pernah Yahmar terima dari sang Ayah, tatapan penuh kemarahan hingga mata putihnya sedikit berwarna merah.
“Bicara denganku di ruang keluarga!” Presiden Nabda segera berbalik meninggalkan sang anak yang kebingungan. Ada perasaan tidak enak mengenai hal yang akan terjadi ini. Tetapi Yahmar hanya bisa berdo’a dan berusaha memikirkan hal yang positif tentang apa yang akan terjadi.
Yahmar segera menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju ruang keluarga, persis seperti apa yang Ayahnya perintahkan. Ia melirik pada sang Ibu yang terduduk di atas sofa dengan wajah menunduk dan tangan yang menutupi mulutnya.
Ia mulai mencurigai bahwa sang Ayah mengetahui kegiatannya di kampus selama ini. “Apa yang akan Ayah bi…”
Plak! Sebuah tamparan yang sangat keras, Yahmar rasakan mendarat di pipi kirinya. Sang Ibu yang terkejut, bangkit dari kursinya untuk melerai anak dan suaminya tersebut. Namun sang Ayah yang tahu segera membentaknya agar kembali duduk di tempat itu.
“Duduk dan diamlah! Ini adalah urusanku dengan Yahmar!” Bentaknya, sang Ibu tidak dapat berkutik dan kembali duduk ke sofa itu dengan air mata yang telah mengalir di pipinya. Yahmar yang terkejut dengan tamparan itu hanya terdiam memegangi pipinya, kemudian menatap pada sang Ayah yang menatapnya dengan tatapan menyalang.
“Berani-beraninya kau membangun komunitas seperti itu, Yahmar Nabda!” Presiden itu berteriak dengan sangat keras, membuat para asisten rumah tangga dan security juga mendengar hal tersebut.
“Apa aku salah Ayah? Aku hanya membangunnya dan menjalankannya untuk kebaikan kita semua, dan aku tidak merugikan siapapun.” Yahmar menjawab, dan membela dirinya. Tentu ia akan membela dirinya, ia akan berusaha untuk menyadarkan sang Ayah yang sepertinya telah salah menilai komunitasnya.
“Katakan sekali lagi? Kau bilang kalian apa?!” Presiden Nabda yang memang telah terbawa emosi ketika mengetahui sang anak adalah ketua dari RTEHT (Return the Earth to Heaven) yang di kabarkan telah melakukan beberapa perubahan positif di wilayah kampusnya. Tetapi satu hal yang tidak bisa ia percayai, ketika ia mendengar bahwa RTEHT akan bergabung dengan pihak yang paling ia benci saat ini, yaitu W.A.E (We Are Earth). Ia mengetahui semua itu melalui agen International SPY yang ia bayar untuk memantau keseharian anaknya dan memberikan laporan bulanan padanya. Dan tepat pada hari ini, seluruh laporan itu datang, membuatnya harus segera menegur sang anak.
“Aku tidak merugikan siapapun! Kumohon Ayah, lihatlah dengan hatimu apa yang sebenarnya kami lakukan. Semua yang kami lakukan adalah hal yang dapat menyelamatkan kita, Bumi ini sudah terlalu rapuh untuk menanggung beban yang kita ciptakan untuknya, Ayah. Kumohon izinkan aku bersama organisasi W.A.E untuk mewujud…” Plak! Satu tamparan kembali Yahmar rasakan di pipi kirinya, ketika ia memohon pada sang Ayah untuk mengerti dan mencoba menerima apa yang sedang terjadi dengan Bumi mereka. Yahmar menatap pada sang Ayah dengan tajam dan mendengarkan seluruh ucapan sang Ayah yang membuat emosinya memuncak.
“Sadarlah Yahmar!Otakmu telah tercuci oleh mereka! Mereka mempengaruhimu, mereka ingin menggulingkan pemerintahanku dan menguasai negara! Itu adalah tujuan yang terselubung dan mengakui bahwa mereka melakukan ini demi dunia! Orang-orang penyebar video itu adalah teroris! Mereka melakukannya saat pengangkatan jabatanku?! Apa kau tidak melihat kenyataan itu, Yahmar!” Yahmar tidak terima atas seluruh perkataan yang Ayahnya ucapkan padanya. Dia tidak pernah mengalami brainwash, dan ia sadar bahwa dirinya sendirilah yang ingin melakukan ini tanpa paksaan dari pihak manapun. Sementara sang Ayah, yang ada dalam pikirannya hanya tentang jabatan yang ia duduki dan negara yang ia kuasai ini. Itu adalah hal yang membuat Yahamar merasa muak.
Yahmar ingin sekali membalas ucapan sang Ayah yang kali itu tengah emosi, tetapi ia mencoba kembali untuk mengajak Ayahnya agar sedikit saja membuka mata dan hatinya kepada W.A.E dan kepada kenyataan bahwa Bumi ini membutuhkan pertolongan mereka. Karena seberapa besarpun masalah yang membuat mereka bertengkar, mereka tetaplah Ayah dan anak.
“Dad, Please! Give me a chance, beri aku dan mereka kesempatan untuk menunjukkan pada kalian bahwa kami bisa menyelamatkan Bumi ini. Ayah lihatlah betapa merahnya langit ini, aku hanya ingin mengembalikannya menjadi biru.” Yahmar memohon, ia menunjuk ke arah luar jendela yang memperlihatkan warna langit yang berwarna merah.
“Aku akan membuat siapapun berhenti untuk membicarakan Bumi lagi! Kalian hanya anak kecil yang tidak tahu apapun! Mulai besok aku akan mengajukan gugatan untuk membubarkan organisasi W.A.E tersebut. Dan kau, Yahmar Nabda! Kembalilah mencari ilmu, jangan pernah mengurusi urusan yang bukan milikmu!” Presiden Nabda menunjuk pada sang anak kembudian berbalik untuk meninggalkan ruangan tersebut. Tetapi belum sempat tangannya menyentuh knot pintu, Presiden Nabda terdiam ketika ia mendengar ucapan dari sang anak.
“Aku adalah Yahmar! Dan aku bukanlah anak dari seorang pejabat tertinggi ‘Presiden Nabda’ yang haus akan kekuasaan juga uang!” Baik Sang Ayah, maupun Sang Ibu. Kini keduanya menatap pada Yahmar yang berteriak seraya meremas kepalan tangannya di kedua sampingnya.
“Apa yang kau katakan, Yahmar!” Teriakan dari sang Ayah terdengar lebih kencang dari sebelumnya, sang ibu sudah berdiri dari duduknya. Menatap Yahmar dan sang Suami secara bergantian, dengan tangan yang ia simpan di depan d**a untuk mendoakan agar hal ini cepat berlalu.
“Aku akan menunjukkan padamu siapa yang benar disini! Apakah kau yang benar mengatakan aku yang telah terhasut oleh W.A.E, ataukah Ayah yang telah terhasut oleh keserakahan jabatan dan harta!” Yahmar berteriak, dan segera pergi meninggalkan ruangan itu. Mengabaikan sang Ayah yang meneriaki namanya dengan kencang yang telah di tahan oleh sang Ibu agar tidak mengejarnya.
To be continued