Yahmar masuk kedalam kamar, mengambil tas miliknya dan memasukan seluruh barang yang ia perlukan untuk pergi dari rumah ini. Ia tidak bisa untuk terus menuruti apa perintah yang diberikan oleh sang Ayah padanya. Dia benar-benar akan menunjukkan bahwa sang Ayahlah yang telah salah menilai W.A.E dan RTEHT.
Yahmar berjalan keluar dari rumahnya dengan sebuah tas yang sudah ia isi. Sang Ibu mengejarnya dan mencegar agar ia tidak melakukan hal tersebut, tetapi Yahmar tidak bisa… Ia tidak bisa membiarkan Bumi hancur dan tidak bisa membiarkan Ayahnya terus tenggelam dalam kehausan akan jabatan dan uang dalam dunia politik. Ia ingin mengubah itu semua, maka ia putuskan untuk pergi.
“Percayalah padaku Ma… Aku akan kembali setelah menyadarkan Ayah. Aku menyayangi kalian.” Itulah kata-kata terakhir yang Yahmar ucapkan pada sang Ibu sebelum akhirnya taxi yang ia pesan telah sampai di hadapan mereka.
Selama perjalanan, Yahmar terdiam. Dia tidak mungkin pergi ke rumah Sofian untuk memintanya menampung dirinya karena Ayah dan Ibunya akan mengetahui hal itu. Maka Yahmar segera memanggil James dengan smartphone miliknya.
“Halo, Yahmar. Ada apa?” tanya James yang menerima panggilan itu, Yahmar yang memang menyetir sendiri mobil tersebut tidak banyak berbicara dan segera meminta alamat rumah James.
“Kirimkan alamatmu!” dan setelah mengatakan hal tersebut Yahmar mematikan sambungan telephonenya, kemudian menunggu sampai James mengirimkan alamat dan diam memasukan alamat itu pada aplikasi taxi ini. Di tengah perjalanan, Yahmar menghentikan untuk sejenak mobil yang ia kendarai dan menunduk memukul-mukul gagang stir mobil tersebut dengan keras.
Berulang kali Yahmar mencoba untuk mengatur nafasnya dan mencoba untuk menenangkan diri. Sampai akhirnya ia merasa bahwa ia telah sedikit tenang, Yahmar mematikan handphone miliknya dan mengendarai mobil taxi itu menuju rumah sang adik tiri yang tinggal di luar kota bersama ibunya.
Rebbeca Nabda, itu adalah namanya. Dia adalah seorang anak perempuan dari istri kedua yang telah di ceraikan oleh presiden Nabda sebelum ia mencalonkan diri menjadi presiden. Yahmar memang tidak terlalu dekat dengan ibu tirinya, tetapi ia lumayan dekat dengan sang adik yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Sang adik yang kini mengambil ilmu keperawatan di kampus tempatnya belajar itu memiliki umur yang tida terpaut jauh darinya. Sekitar tiga tahun.
Yahmar membuang smartphone miliknya keluar jendela mobil yang ia kendarai. Karena ia curga jika sang Ayah akan kembali melacak keberadaannya dan mencari tahu apa yang ia lakukan. setelah sebelumnya ia telah memastikan menghafal nomor milik James dan Sofian.
Saat Yahmar sampai di kediaman Rebbeca dan Ibunya, ia segera mengganti bajunya terlebih dahulu dan menggunakan topi serta masker untuk menutupi wajahnya. Tok… Tok… Tok… Yahmar mengetuk pagar rumah itu, menunggu sang pemilik membukakan pintu untuknya.
“Sebentar!” Teriak seorang gadis dari dalam rumah itu, Yahmar bersandar pada tembok menunggunya. Yahmar tersenyum di balik masker yang ia gunakan ketika ia melihat sang adik yang berlari keluar untuk membukakan pintu untuknya.
“Siapa? Kak Yah…”
“Ssshhh…” Yahmar menghentikan ucapan sang adik ketika ia hampir saja menyebutkan namanya. Membuat sang adik mengerejabkan matanya, untuk menangkap apa yang di maksud oleh sang kakak. Keduanya cukup lama untuk terdiam di depan pagar itu, sampai dimana sang adik tersadar jika mereka masih berdiri di sana, dan mempersilahkannya masuk.
“Ada apa kakak kemari?” Rebbeca menanyakan hal tersebut, tentu saja ia bertanya karena Yahmar sudah sangat lama tidak mengunjungi mereka walaupun ia sering mengirimkan pesan dan uang kepada Rebbeca.
Yahmar menghela nafasnya dan menundukkan kepala, ia tidak berani menatap Rebbeca yang pasti akan mengomelinya karena masalah ini. “Aku bertengkar dengan Ayah, dan kabur dari rumah.” Yahmar menjelaskan secara perlahan permasalahan yang ia alami kepada sang adik, ia tidak melihat Ibunya disini karena mungkin beliau sibuk bekerja untuk membiayai Rebbeca, karena setelah bercerai dengan Ayahnya. Mereka sama sekali tidak pernah meminta uang sepeserpun dari sang Ayah, begitu pula dengan sang Ayah yang menganggap bahwa ia hanya memiliki satu anak dan satu istri tanpa pernah menikah lagi. Yahmar cukup marah ketika mengetahui hal itu, maka ia selalu mengirimkan uang yang Ayahnya berikan padanya untuk Rebbeca dan sang ibu. Setidaknya untuk membantu kehidupan mereka yang jauh dari kata mewah.
“Kakak tidak bercanda kan?” Rebbeca menatap pada Yahmar dengan terkejut, ia terkejut ketika mendengar penjelasan bahwa saat ini kakaknya tengah kabur dari rumah. Dan datang ke rumahnya, apa hal yang membuat mereka bertengkar? Itu yang menjadi pertanyaan inti di kepalanya.
“Bisakah aku meminjam smartphone milikmu? Aku akan mengabari temanku dan menjemputku kemari.” Yahmar tidak menjawab pertanyaan sang Adik, dia lebih memilih untuk memijam ponselnya untuk memberitahukan pada James dan pergi dari rumah ini. Ia tidak mau membuat Adik dan ibu tirinya merasa kesusahan karenanya.
“Tidak, jelaskan dulu padaku, kak Yahmar… Apa sebenarnya permasalah yang terjadi antara Ayah dengan kakak?” Rebbeca menginginkan penjelasa, setidaknya ia harus mengetahu apa alasan sang kakak memilih untuk kabru dari rumah. Yahmar mengela nafasnya dengan panjang, kemudian ia menatap sang adik yang terlihat sangat serius dengan pembicaraan ini.
“Aku memutuskan untuk bergabung dengan organisasi W.A.E. Rebbeca! Kau tahu organisasi itu kan?” Rebbeca terdiam, tentu saja ia sangat mengetahui tentang organisasi tersebut. Hampir seluruh teman di kampusnya membicarakan organisasi tersebut, dan hampir setiap ia melihat berita, organisasi itu selalu di sebut dan menjadi pembahasan hangat. Ia tidak percaya bahwa Yahmar akan masuk kedalam organisasi yang sangat di tentang oleh presiden tersebut, oleh ayah mereka.
“Dan kakak akan tetap ikut kedalam organisasi itu, meski kakak tahu jika pemerintah sangat menentang keberadaan mereka?” Yahmar mengangguk, mengiyakan pertanyaan sang adik. Rebbeca berdiri dari duduknya, dan berjalan mondar mandir sebelum akhirnya mengambil sebuah minuman untuk sang kakak. Yahmar mengetahui bahwa kini sang adik sedang gelisah dan khawatir itu terlihat jelas dari caranya menyibukkan diri.
“Aku akan baik-baik saja, Rebbeca. Percayalah padaku, aku akan membawa perubahan yang baik untuk kalian semua.” Yahmar berusaha menenangkan sang adik, yang kini menangis ketika mendengar ucapannya tersebut. Yahmar bangkit dari kursinya untuk memeluk sang adik yang semakin menangis,
“Tidak dengan seperti ini… Aku takut jika kalian akan berhadapan dengan pihak militer negara dan harus berperang dengan mereka.” Yahmar tahu kosekuensi itu sangat mungkin terjadi, tetapi untuk saat ini ia tidak melihat itu akan terjadi di waktu dekat. Jadi Yahmar akan mempersiapkan diri jika memang nantinya mereka akan berhadapan dengan pihak militer dan semacamnya.
“Kumohon dukunglah keputusanku, aku akan menjemputmu dan Ibu jika waktunya sudah tepat. Rebbeca…Lihatlah Kakak!” Yahmar melepaskan pelukannya dan meminta agar sang adik menatapnya, dan saat sang adik menuruti permintaan itu. Yahmar tersenyum dengan sangat lebar, menenangkan sang adik yang akhirnya terdiam dari tangisannya.
“Aku hanya meminta beberapa bantuan darimu, dan aku akan terus menghubungimu untuk memberitahukan kondisi ku.” Yahmar berucap, sang adik mengangguk menyetujui hal tersebut dan memberikan smartphone miliknya untuk Yahmar gunakan.
“Gunakan ID card milikku jika kakak membutuhkannya!” Yahmar yang sibuk dengan smartphone milik Rebbeca, mengadah menatap pada sang adik yang sudah berdiri di hadapannya dan menyodorkan ID card miliknya pada sang kakak.
“Bagaimana mungkin aku menggunakan ID card milikmu jika kau…”
“Aku mempunyai ID card asliku, itu hanya ID card yang diberikan kampus. Kakak bisa menggunakannya untuk memesan taxi dan jasa lainnya.” Yahmar terdiam ketika Rebbeca segera menjelaskan bahwa dirinya masih memiliki ID card yang asli dan menyuruh sang kakak menggunakan ID card miliknya agar dia tidak menggunakan ID card miliknya sendiri yang pasti akan di lacak oleh sang Ayah.
Yahmar tersenyum, berdiri dari duduknya dan mengusap surai rambut milik sang adik yang tidak terlalu panjang itu.
“Tunggulah disini sampai Ibu pulang.” Rebbeca memberikan saran padanya, tetapi Yahmar menolak karena itu dapat membuat sang Ibu tiri terkejut. Ia tidak ingin membebaninya, maka ia hanya segera memesan taxi untuk pergi ke rumah James atau Sofian.
“Aku akan menghubungimu kembali. Jagalah dirimu dan Ibu, Rebbeca.” Yahmar berpamitan ketika taxi yang di pesannya telah datang. Rebbeca mengangguk, memeluk sang Kakak untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya Yahmar masuk ke dalam mobil yang telah ia pesan.
“Aku akan menunggu itu.” Itulah ucapan yang Rebbeca ucapkan ketika Yahmar menjalankan mobilnya pergi dari tempat tersebut.
To be continued