Kedatangan Arial

1109 Kata
Pemuda itu terlihat menekan tombol otomatis dan memutar kursinya menghadap kearah Bima, Astri juga Jina. Kursi milik Luis pun ikut berputar dan sebuah meja mulai muncul dari bawah sana. “Baiklah ini saatnya aku memperkenalkan diriku. Namaku Arial, aku adalah seorang pelajar yang mempelajari tentang ilmu geografi kemanusiaan. Rio dan aku adalah teman saat masa sekolah dasar, jadi aku tahu rencana yang akan kalian jalankan.” Bima masih terlihat was-was dengan pemuda ini, begitupun dengan Luis yang duduk disampingnya. “Tenanglah, aku satu suara dengan kalian. Aku akan membantu kalian menyelamatkan Bumi dan tentu saja kita, tapi masalah yang kita miliki saat ini adalah Rio.” Arial menatap keempatnya dengan serius, Astri mengerutkan sebelah alisnya ketika mengetahui Arial akan membantu mereka. “Apa yang terjadi padanya? Apa dia benar-benar tertangkap?” tanya Jina dengan cemas, Arial mengangguk dan menunjukkan sebuah foto yang diambilnya dari jarak jauh. “Aku tidak sempat menolongnya, para penjaga itu sudah lebih dulu menembaknya dengan electric gun.” Jina dan Astri terlihat histeris ketika melihat foto Rio yang tergeletak tak berdaya ditengah kerumbunan para penjaga. Bima segera mengambil foto itu dan menjauhkannya dari pengelihatan kedua perempuan tersebut. “Jadi apa yang harus kita lakukan? Apa kau mempunyai ide?” tanya Bima melirik pada Arial, lelaki itu bersandar pada kursi miliknya dan menatap Bima dengan santai. “Kita jemput dia, dan bebaskan dia!” “Bagaimana caranya? Kau tahu?” Astri berkata penuh harap pada pemuda itu, ia mencondongkan badannya kedepan. Sebuah peta elektronik Arial keluarkan dari tasnya dan terlihat sebuah lokasi yang ditandai dengan panah merah berkedip disana. “Karena aku tahu keberadaannya.” Keempatnya menatap Arial yang tersenyum seolah memberikan angin segar ditengah padang gersang pada mereka.   Gelap yang kini Rio tangkap dari pengelihatannya setelah terserang sengatan rendah dari electric gun yang tadi ditembakkan oleh salah satu penjaga, saat ini dirasakan sebuah benda menutupi kedua matanya dan besi yang mengunci pergerakan kedua tangannya dibelakang, ia yakin bahwa kini ia sedang berada dalam ruang intropeksi. Ruang dimana semua tahanan atau pelaku kejahatan ditanyai dengan berbagai macam pertanyaan. “Rio, itukah namamu?” tanya sebuah suara yang dapat ia dengar, kepalanya menengok kearah kiri dan kanan memastikan posisi seorang yang bertanya tersebut. “Aku bukan penjahat!” bukan sebuah jawaban yang diharapkan yang keluar dari mulut pemuda ini. “Lalu siapa kau?” tanya orang itu kembali seraya menahan tawanya, mendapat jawaban demikian. “Aku hanya ingin menyelamatkan Dunia!” jawabnya dengan tegas, orang tersebut memajukan wajahnya pada pemuda yang diikat dihadapannya itu. “Membuat Alarm palsu, merusak pagar pembatas, memukul anggota kedisiplinan, melakukan penyadapan cctv ilegal, memecahkan kaca Aula, kabur dari sekolah dan melanggar aturan sekolah? Apa kau pikir kau bisa menyelamatkan Dunia dengan segala pelanggaran itu?” inilah yang Rio katakan sebelumnya, semua pelanggaran yang menjadikan mereka seorang penjahat. “Kau tidak mengerti!” ucap Rio dengan geram, lelaki berbadan besar itu kembali menegakkan badannya dan menghela nafas sedikit lelah. “Suruh saja seluruh temanmu menyerahkan diri, maka hukuman kalian akan lebih ringan.” Lelaki itu berjalan meninggalkan Rio. “Mereka tidak akan membiarkanmu!” teriak Rio membuat lelaki tersebut diam ditempatnya dan kembali berbalik menatapnya. “Apa maksudmu?” tanya lelaki itu kemudian, “Dunia akan berakhir dan mereka tidak akan membiarkanmu ataupun semua orang mengetahuinya.” Rio berucap dengan nada yang sedikit pelan. “Siapa mereka? Dari mana kau tahu akan hal itu? Apakah kau seorang peramal? Haha, jangan bercanda nak! Kau sedang berhadapan dengan seorang polisi disini, dan kami serius!” ucap lelaki itu dengan tegas. Rio menegakkan badannya yang duduk diatas kursi tersebut, “Sekolah Alam dan seluruh lulusannya! Aku bukan peramal, tetapi aku tahu karena aku adalah seseorang yang mempelajari ilmu Alam. Dan aku serius akan hal ini!” jawaban itu sukses membuat polisi tersebut diam. “Jika kau masih tidak percaya, izinkan aku mengajukan beberapa pertanyaan! Kapan terakhir kali kau melihat pepohonan? Kapan terakhir kali kau melihat Spesies kupu-kupu? Kapan terakhir kali kau meminum air dari tanah? Dan satu hal lagi! Kapan terakhir kali kau merasakan buah-buahan?” lelaki itu mematung mendapat bertubi-tubi pertanyaan dari Rio, pasalnya ia belum pernah merasakan sama sekali seluruh hal yang Rio tanyakan padanya. Pohon? Dimana ia melihat pohon kini? Hanya beberapa poster dan pohon sintetis yang ia lihat. Kupu-kupu? Serangga yang telah punah itu tentu saja belum pernah ia lihat kecuali gambar dan fosilnya dimuseum. Air tanah? Tanah kini sudah rusak dan tentu saja air yang terkandung didalamnya pun berbahaya. Buah-buahan? Tentu saja sulit sekali untuk mendapatkannya karena pohon kini sudah jarang ditemui. “Jika Bumi ini dalam keadaan baik, tidak mungkin seluruh hal yang kusebutkan tadi tidak ada. Aku hanya membutuhkan kepercayaan dan dukungan untuk menyelamatkan Bumi ini, Bumi kita yang sudah rapuh.” Rio terdiam setelah mengatakan hal yang ia harap dapat membantunya. Lelaki itu mengangguk kecil dan menekan tombol merah yang menempel didinding, seketika tangan dan mata Rio terbebas dari benda yang menguncinya. Perlahan Rio membuka kedua matanya, menatap lelaki berseragam polisi yang tersenyum padanya. “Aku akan membantumu!”   Astri, serta ketiga temannya mengikuti seluruh rencana yang telah dijelaskan oleh Arial. Hanya pemuda itu yang kini harus mereka percayai agar dapat membebaskan Rio. “Bagaimana persiapanmu Astri?” tanya Bima yang menghampirinya, Astri melirik dan memperlihatkan seluruh benda yang berada didalam tas merah yang akan ia bawa. Sebuah tali, pisau lipat, dan beberapa peralatan lainnya. “Kssstt... Bagaimana keadaan kalian semua?” talkie box yang disimpan diatas meja tiba-tiba saja berbunyi, suara Rio terdengar ditelinga kelimanya. Bima yang paling dekat posisinya dengan talkie box itu segera saja mengambilnya. “Rio?! Apa kau baik-baik saja?” tanya Bima pada talkie box yang menghubungkan mereka dengan Rio, Arial terlihat berdiri dan menghampiri Bima. “Aku baik-baik saja, beritahu aku keberadaan kalian. Kita akan bertemu dan aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian.” Bima melirik pada Arial seolah meminta persetujuan dari pemuda tersebut, Arial mengambil talkie box yang tengah digenggam oleh Bima. “Apa kau bersama seorang polisi?” tebak Arial. Astri, Jina, Bima dan Luis hanya menatap pada raut wajah Arial yang berubah. “Arial? Kau sudah bersama dengan teman-temanku?” Rio terdengar terkejut mendengar suara Arial yang bertanya padanya, ada rasa syukur dalam hatinya mengetahui hal tersebut. “Jawablah pertanyaanku tadi, Rio. Apakah orang yang akan kau kenalkan pada kami adalah seorang polisi?” Arial kembali bertanya, Astri berdiri dari posisinya dan menghampiri Bima seraya memegang pundak pemuda itu ketika ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan nada bicara Arial. “Ya, aku bersama dengan seorang polisi yang akan membantu kita.” Jawaban Rio sukses membuat raut wajah Arial menjadi kesal sepenuhnya, dan itu dapat terlihat oleh keempat orang yang berada dalam kamar hotel tersebut. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN