“Kau bersama seorang polisi? Apakah dia dapat kita percaya? Rio bukankah kau harus pintar-pintar dalam mempercayai seseorang?” Bima menyipitkan matanya, mendengar pertanyaan Arial yang diiringi dengan sedikit nada emosi. Bima yakin bahwa Arial pernah mengalami insiden tidak baik bersama dengan para polisi, sehingga sangat terlihat kebenciannya pada perangkat negara yang satu itu.
“Jangan berburuk sangka Arial, dia berada di pihak kita, dan aku yakin itu.” Rio menjawab pertanyaan itu dengan tenang, mencoba meyakinkan Arial yang kini menghela nafasnya.
“Apa jaminannya?” Arial kembali bertanya, dan membuat Rio yang berada jauh dari mereka terdiam untuk beberapa saat. Luis menatap pada Jina yang terlihat tidak nyaman dengan argumen tersebut, mengingat profesi yang dimiliki oleh Ayahnya.
“Jaminan? Apakah kita memmerlukan sebuah jaminan? Dengan aku menghubungi kalian saja, bukankah itu sudah menjadi suatu bukti bahwa orang yang kini bersamaku adalah orang baik? Dan aku percaya padanya.” Kali ini Rio menjawab dengan nada yang mulai meninggi, semakin lama ia juga akan terbawa emosi jika Arial terus menanyakan dan menuntut bukti agar orang itu bisa di percaya.
“Kau dapatkan dari mana rasa keyakinanmu itu Rio? Bisa saja dia berpura-pura baik padamu, dan pada akhirnya kita semua yang tertangkap!” Luis berjalan menghampiri pemuda itu, dan menepuk bahunya untuk menghetikan seluruh percakapan yang ia rasa mulai keterlaluan untuk Jina dengar.
“Kami percaya pada Rio.” Ucapan Luis mampu membuat Arial menatapnya dengan tajam meskipun Luis terlihat sangat santai menghadapi pemuda tersebut. Talkie box yang berada di tangan Arial itu, ia berikan pada Luis dan berjalan ke arah tasnya yang tersimpan di atas kasur.
“Jika seperti itu, aku tidak akan ikut bersama kalian! Berjuanglah tanpa ku, karena aku tidak dapat dengan mudahnya percaya begitu saja pada seorang polisi.” Arial bergegas merapikan seluruh barangnya, keempat orang yang berada dalam ruangan itu hanya diam mematung memperhatikan orang asing yang baru mereka temui tadi meskipun orang asing itu adalah teman dekat Rio.
“Arial?!” Suara Rio yang keluar dari Talkie box itu terdengar sangat kaget karena semua ucapan teman semasa kecilnya tersebut. Namun Arial tidak memperdulikannya dan berjalan keluar, Bima segera menghampiri pemuda yang sudah berjalan membuka pintu kamar.
“Tunggu!” Bima mengejar Arial yang keluar dari kamar, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada mereka. Astri melihat Jina maupun Luis yang hanya terdiam saling menatap, ia segera mengambil talkie box yang berada digenggaman Luis.
“Rio, Bagaimana sekarang?” Astri menunggu jawaban dari Rio yang sepertinya juga tengah berpikir disana. Jina memilih untuk duduk di samping lemari desk dan Luis yang bersandar pada bingkai jendela kamar tersebut, keduanya menunggu respon dari Rio.
“Beritahu aku dimana kalian saat ini?” Astri menatap Jina dan Luis yang juga menatap kearahnya dengan serius. Hatinya bimbang, bagaimana jika prasangka buruk yang dikatakan Arial tadi benar-benar terjadi? Bagaimana jika polisi yang kini bersama dengan Rio hanya ingin menipu mereka? Dan pada akhirnya mereka tertangkap.
Astri mulai sedikit panik, ia tidak bisa memutuskan hal itu sendiri. Ia segera memberikan Talkie box itu pada Bima yang baru saja kembali masuk kedalam kamar. “Lebih baik kau saja yang memutuskannya Bima!” ucapnya pada pemuda itu, kemudian ia berjalan menghampiri Jina untuk bergabung bersamanya. Bima mengangguk, ia menghampiri Luis seraya memberitahukan Rio dimana lokasi mereka saat ini.
“Aku khawatir!” Astri membuka suaranya dan menatap Bima, Luis serta Jina ketika Talkie Box yang menghubungkan mereka dengan Rio sudah dimatika. Sekarang mereka berempat tengah menunggu kedaatangan Rio yang mengatakan bahwa ia akan segera datang.
“Apa yang membuatmu khawatir Astri? Kita sudah mempercayai Rio bukan?” Jina menggenggam tangan Astri yang berada disampingnya, meskipun sebenarnya ia juga merasakan rasa yang sama dengan Astri.
“Tapi dapatkah seorang polisi dengan mudahnya membebaskan tahanan? Memang aku sangat mempercayai Rio, namun ada sedikit keraguan yang ku rasakan sekarang. Mungkin saja prasangka Arial benar dan...”
“Dan mungkin juga prasangkanya salah!” Bima memotong perkataan Astri begitu saja, sehingga wanita itu terdiam dan menatapnya. Bima sedikit pusing dengan apa yang sedang mereka alami saat ini, ia memutuskan untuk mempercayai Rio dan tidak ingin mendengar sebuah komentar yang bisa meragukan keputusannya sekarang, sebelum Rio datang dan membuktikan.
“Astri, kau adalah orang yang paling optimis diantara kami! Aku mengetahui siapa dirimu, dan keraguanmu itu muncul hanya di saat kau panik. Jangan ragu! Bukankah kau yang berkata seperti itu pada Jina?” Astri menundukkan wajahnya ketika Bima menasehatinya dengan sedikit keras. Ada perasaan tenang yang Astri rasakan saat ini, mungkin karena perkataan Bima. Dan benar, ia merasa dirinya sedang dilanda kepanikan saat ini.
“Ayo, kita harus bersiap menemui Rio!” Bima tersenyum dan menarik lengan Astri, mengajaknya untuk membereskan kembali barang-barang yang belum rapi sehingga membuatnya setenang mungkin juga melupakan masalah yang baru saja terjadi karena bagaimanapun mereka harus terus menjalankan tujuan ini.
“Temanmu?” polisi yang kini duduk di kursi kemudi bertanya pada Rio, setelah mendengar beberapa percakapan dari talkie box yang dipegang Rio barusan. Rio mengangguk, dan menunduk ketika polisi tersebut mentapnya.
“Benar, maafkan aku. Kau dapat mendengar semua perbincangan kami tadi. Dan perkataan temanku yang menuduhmu.” Rio merasa tidak enak saat Arial dengan jelasnya mengatakan bahwa polisi tidak dapat dipercaya, karena perkataan seperti itu pasti menyakitkan untuk seseorang yang berprofesi sebagai polisi maupun orang yang memiliki keluarga seorang anggota polisi.
“Tidak apa-apa, mungkin temanmu mempunyai pengalaman buruk dengan para polisi. Aku dapat menerimanya karena dia benar, saat dia mengatakan bahwa kita harus ‘Pintar-pintar dalam mempercayai seseorang’!” Polisi tersebut memberikan seulas senyuman pada Rio saat mengatakannya, dan hal itu sukses membuat Rio sedikit curiga.
“Aku juga merasa dia benar.” Lagi, polisi tersebut mengatakan hal yang membuat Rio semakin curiga dan mengerenyitkan dahinya. Rio menatap pada polisi itu dengan tatapan selidik, sementara lelaki berseragam hitam itu menengok dan meraih senjata yang tersedia di pintu mobilnya dengan cepat. Namun ia kalah cepat dengan Rio, pemuda itu sudah lebih dulu meraih electric gun yang tersimpan di kursi belakang mereka dan menembakkannya. Mobil tersebut menjadi hilang kendali ketika lelaki yang duduk di kursi kemudi tidak sadarkan diri akibat sengatan listrik. Rio segera menekan tombol otomatis yang ada dan menghentikan mobil tersebut ke bahu jalan.
Rio membuka safety beltnya dan mengambil Talkie box yang disimpan di desk mobil. Ia menyambar beberapa alat milik polisi itu, sebuah Electric gun, shoot gun, handcuffs, dan kotak peluru. “Katakan saja sekarang aku benar-benar menjadi seorang kriminal dengan mencuri barang yang dimiliki seorang polisi!” gumamnya seraya menulis sebuah memo yang ia letakkan di kaca kemudi.
“Hhh... hh...” Rio berjalan cepat dengan hati yang tidak tenang, kini ia bersembunyi di sebuah jalan sempit kota itu. Tidak banyak yang memperdulikannya, hanya beberapa orang yang sesekali meliriknya karena merasa aneh.
“Ayolah! Ayolah!” Rio berulang kali mencoba untuk menghubungi teman-temannya, ia yakin mereka akan tertangkap.
“Rio!” suara bass seorang pemuda terdengar panik dari Talkie box itu.
“Bima?! Apakah...”
“Dimana kau? Mengapa mereka membawa banyak sekali polisi?!” Rio merasa telah menjadi ketua yang gagal saat ini, ia terdiam berfikir bagaimana nasib teman-temannya.
“A-Apa kalian tertangkap?” Rio mengatur sedikit nafasnya agar tidak terdengar seperti orang yang putus asa di telinga Bima.
To be continued