Menuju Ibu Kota

1506 Kata
“Tentu tidak! Kami berhasil kabur beberapa saat sebelum polisi-polisi itu sampai ke hotel, dan kini kami bersembunyi di sebuah bar.” Bima menjelaskan keadaan dan keberadaan mereka, Rio merasa lega karena tidak ada dari mereka yang tertangkap pihak kepolisian Negara. Ini semua salahnya yang percaya begitu saja pada pihak keamanan yang jelas-jelas mereka sudah menganggapnya sebagai buronan. “Kita harus segera bertemu Rio! Kita tidak bisa terus seperti ini! Kita harus melakukan semuanya bersama-sama!” Rio sangat mengenali suara gadis yang kini meminta mereka untuk berkumpul, siapa lagi jika bukan Astri. Wanita itu memang sangat benyak merasakan kekhawatiran dalam dirinya, terutama setelah kejadian seperti ini. “Aku mengerti, tenanglah Astri!” Rio menenangkan gadis itu, seraya berpikir dimana tempat yang pas untuk mereka bertemu tanpa diketahui oleh pihak kepolisian dan keamanan. Saat ia sedang berpikir untuk mempertimbangkan sebuah studio yang akan ia jadikan tempat berkumpul, sebuah sambungan lain tiba-tiba masuk kedalam sinyalnya. “Posisiku kini berada di stasiun kota, aku sudah membeli tiket untuk kita semua! Segeralah temui aku disini sebelum pukul 4 sore, karena kita akan berangkat pukul 4.30 menuju Kota Co.” Rio terdiam mendengar suara Arial yang menyuruh mereka untuk segera berkumpul di stasiun kota. Rasa terkejut menyelubungi mereka semua, sekaligus juga dengan rasa syukur. “Arial?!” Rio memanggil sahabat kecilnya tersebut, namun terlihat di layar sinyal Talkie box sambungan dua atau lebih tepatnya sambungan Arial tadi telah terputus. Menandakan bahwa lelaki itu masih emosi padanya dan tidak ingin membahas apapun di sambungan tersebut. “Bagaimana Rio? Apakah kita harus menemuinya?” Suara Bima menyadarkannya dan menanyakan keputusan apa yang akan di ambil oleh Rio.   Arial duduk di sebuah kursi panjang di Stasiun kereta kota itu. Berulang kali ia melihat jamnya, menunggu kelima orang yang sebelumnya ia hubungi dengan talkie box. Hatinya sedikit gusar, takut-takut bila tidak ada dari kelimanya yang datang dan setuju dengan idenya. Ia terlalu egois untuk kembali menghubungi kelimanya dengan talkie box, dan lebim memilih untuk menunggu hingga akhirnya kini jam telah menunjukkan pukul 4 sore lewat 5 menit. Sudah terlalu terlambat untuk masuk kedalam kereta jika ia harus menunggu sepuluh menit lagi. “Sepertinya aku memang sudah ditakdirkan untuk melakukan semuanya sendiri, hahaha!” dalam tawanya tersirat jelas rasa kecewa yang Arial rasakan, ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju peron di mana tempat keretanya akan berangkat. “Arial?!” Arial mendengar sebuah suara seseorang yang memanggilnya dengan keras, Arial menengok kearah dimana Bima, Astri, Luis dan Jina berlari menghampirinya dan berhenti dihadapanya dengan terengah-engah. Seulas senyum ia perlihatkan pada keempat orang ituu. Namun, kekecewaan juga menghampirinya ketika tidak menemukan sosok teman kecilnya Rio diantara mereka. Mungkin Rio mempunyai ide lain yang tidak ingin ia katakan, atau Rio justru menyuruh keempatnya untuk menemani Arial sementara Rio memilih untuk berpisah. “Kalian datang?” Arial bertanya pada keempat orang yang bernafas terengah-engah dihadapannya. Astri mengangguk dan membenarkan ikatan rambutnya yang panjang. Luis terlihat meregangkan otot-ototnya, saat Bima menurunkan tas yang dibawanya. “Tentu saja!” Jina yang sudah berdiri dengan tegap, tersenyum padanya. Tidak terlihat salah satu di antara mereka yang marah ataupun memasang wajah tak suka padanya saat ini, hal itu cukup membuatnya bersyukur karena merasa termaafkan. “Kalian tidak marah padaku?” tanyanya kembali menatap ke arah Bima dan Luis, terlihat sebuah gelengan kepala dari Luis yang menandakan bahwa mereka tidak marah padanya. Kemudian sebuah suara yang sangat ia kenali berucap dari belakang tubuhnya, “Untuk apa kami marah padamu? Karena pada kenyataannya kaulah yang benar diantara kami!” Arial merasakan seseorang telah menepuk pundaknya dan menjawab pertanyaan itu. Ia berbalik ke arah belakang dan melihat Rio yang tersenyum dengan penuh. “Rio!” Bukan Arial yang berteriak, tetapi kedua gadis yang ada bersama merekalah pelakunya. Kedua gadis itu kompak memeluk pemuda berambut hitam tersebut, dan sedikit kekehan keluar dari mulut nya. “Apa kau terluka?” Jina bertanya setelah ia melepaskan pelukan mereka, ditatapnya seluruh tubuh Rio untuk memastikan bahwa tidak ada luka yang dialami lelaki itu. “Tidak!” Rio menjawab pertanyaan Jina itu seraya membentangkan tangannya, agar gadis itu dapat meihat bahwa ia tidak mengalami luka di tubuhnya. “Apa kau baik-baik saja?” kemudian Astri bertanya padanya, Rio berhenti bergerak dan menurunkan kedua tangannya seraya menampakan wajah yang sedih pada mereka semua. “Tidak juga!” Rio menjawab pertanyaan keduanya, diiringi senyuman canggung yang berhasil membuat mereka semua terkekeh pelan. “Kau membuat kami panik!” Bima berjalan menghampiri, menyambut tangan Rio dan menabrakan kedua bahu kanan mereka, begitu juga dengan Luis yang segera menyambutnya dengan cara yang sama. Setelahnya, Rio terdiam menatap Arial yang juga diam ditempatnya tanpa sambutan apapun padanya, wajah Arial kini terlihat sedikit mengeras saat melihat Rio. Tetapi, sedetik kemudian raut wajah itu kembali seperti biasa dan ia ikut menyambut Rio dengan senyuman. “Ku kira kau marah padaku!” Rio terkejut saat Arial menjabat tangannya dan melakukan hal yang sama seperti Bima dan Luis padanya. Arial terkekeh, dan menjawab apa yang sebenarnya ia rasakan pada Rio beberapa saat yang lalu. “Sedikit!” ucapnya menyunggingkan sebuah senyuman jahil. Mereka segera masuk ke dalam kereta karena jam keberangkatan sudah tiba. Didalam kereta tersebut, keenamnya duduk dalam satu ruangan privasi. Beberapa barang elektronik tersimpan diatas meja, dan masing-masing dari mereka kini disibukan dengan gadget yang mereka pegang. “Jadi kita akan melakukan cara ke tiga, jika cara pertama dan kedua gagal?” Luis menatap Arial yang mengangguk-angguk tidak jelas. Sebelumnya Arial mengatakan bahwa kedua cara yang di awal sangat beresiko untuk mereka yang saat ini berstatus sebagai orang yang di cari. “Karena aku merasa cara pertama dan kedua akan sia-sia.” Arial mejawab dengan jujur tanpa menatap lawan bicaranya. Astri melirik pemuda itu dengan kesal, meskipun mereka mengikuti idenya untuk bertemu di kereta, bukan berarti mereka harus mengikuti apa yang dikatakan oleh Arial. Itu yang Astri pikirkan saat ini. “Kita tidak akan tahu bagaimana akhirnya, jika kita tidak mencoba!” Astri berucap dengan nada sedikit ketus, Arial tersenyum dan menatap gadis itu. Ia tahu bahwa ucapannya tadi bisa saja menyakiti hari siapapun yang memberikan rencana seperti itu, dan dengan melihat kemarahan Astri padanya, Arial mengetahui bahwa salah satu di antara taktik mereka itu adalah milik Astri. “We will try, baby. But, if this way has failed. We must have the third ways!” Astri terdiam begitu Arial menjawab ucapannya dengan santai. Di satu  sisi juga, Astri sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. “Benar apa yang Arial pikirkan. Jika kita hanya berbicara pada pemimpin negara, apa yang dapat ia perbuat? Jika kita berbicara kepada seluruh perusahaan, apa mereka akan menerima? Kita harus menyadarkan semuanya! Karena jika hanya satu orang atau sebuah kelompok saja, itu tidak akan berpengaruh. Tetapi jika sebagian besar dari masyarakat sadar, mungkin saja semuanya dapat berubah!” Rio setuju dengan apa yang di ucapkan oleh teman masa kecilnya itu dan menatap kelimanya dengan harapan penuh, ia berharap mereka semua setuju pada rencana Arial, dan semuanya dapat berjalan sesuai dengan apa yang mereka rencanakan.                         *Electric Gun adalah senjata yang tidak mematikan yang hanya akan mengeluarkan listrik untuk menyetrum targetnya. Electric gun memiliki daya volt yang bermacam-macam dari rendah hingga tertinggi. Senjata ini menjadi sangat digemari untuk mereka-mereka yang ingin melindungi diri termasuk senjata yang digunakan untuk menangkap buronan. *Talkie Box adalah alat komunikasi yang terlihat seperti remote tipis lengkap dengan headset, talkie box memiliki banyak kelebihan diantaranya tidak dapat di lacak oleh siapapun kecuali sang pemilik yang menggunakan sistem yang sudah di sediakan oleh perusahaan talkie box sendiri. Setiap talkie box mempunyai kode yang tidak dapat di lacak sehingga sangat sulit untuk masuk kedalam sambungan talkie box tanpa mengetahui kodenya. Talkie box tidak memiliki maksimal sambungan, talkie box dapat menyambungan puluhan hingga ratusan sambungan jika di perlukan. *Tong penghancur sampah adalah tong sampah yang berbentuk seperti sebuah tong, namun semua sampah yang di masukan akan langsung di hancurkan dan dihisap kedalam tanah yang sudah terpasang pipa-pipa pembuangan yang akan mengirimkan sampah langsung ketempat pembuangan sampah akhir. *Sistem deteksi adalah sebuah sistem yang mendeteksi kartu identitas setiap orang yang akan memasuki wilayah tertentu. Biasanya sistem deteksi akan menyala berwarna merah ketika orang yang melewatinya adalah seorang penjahat yang sedang di incar pihak kepolisian, semua nama-nama orang yang dicari akan tertera di sebuah layar besar yang terpasang di atas sistem deteksi. Tidak ada yang tidak bisa melewati sistem deteksi tanpa melewati pintunya, karena seluruh bagian wilayah yang menjadi perbatasan telah dipagari oleh sebuah tembok raksasa yang mengakibatkan semua orang mau tidak mau harus melewati pintu sistem deteksi tersebut. *Pakaian elektronik adalah pakaian ilusi yang tidak dapat dirasakan oleh penggunanya, pakaian yang hanya dapat dilihat ini adalah pakaian yang amat di sukai oleh banyak orang karena mereka tidak perlu repot-repot untuk mengganti atau mencuci baju. Mereka hanya perlu mendesain bagaimana baju yang ingin mereka pakai, dan aplikasikan itu pada tubuh mereka melalui smartphone atau laptop yang telah di sambungkan dengan chip pakaian elektronik itu. Maka dalam sekejap mereka akan terlihat menggunakan baju yang mereka desain, namun sebenarnya mereka hanya menggunakan baju dalam ataupun tidak menggunakan sehelai baju pun, itu terserah pada pemakainya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN