bab 3

1432 Kata
Harta yang paling berharga adalah ketika dipertemukan kembali oleh keluarga yang selama ini kita cari.                Di daerah Pekanbaru seorang pria sedang duduk dikursi kebesarannya, selama ini setelah kepergian kedua orang tuanya. Semenjak umur dua puluh satu tahun lelaki itu sudah menekuni dunia bisnis sambil mengambil kuliah hukum, karena mimpi alm. Ummi Aisyah yang ingin putra semata wayangnya itu menjadi seorang pengacara yang Amanah dan membela rakyat yang kecil.           Oleh sebab itu setelah lulus Sekolah Menengah Atas jurusan IPS lelaki itu memilih untuk menjadi ahli hukum dari pada terjun langsung dalam dunia bisnis, karena surat wasiat yang dibuat ayahnya dengan menyatakan jika putra semata wayangnya dan putri kesayangannya berhak untuk seluruh aset yang dia miliki.           Khalil memeriksa seluruh data pengeluaran dan pemasukan yang diberikan staf keuangan, karena yang lelaki itu tau dari pamannya jika ada seseorang yang memanipulasi pengeluaran yang melambung tinggi. Sudah seminggu ini lelaki itu menyelidiki hal yang mengganjal bersama paman Adam dan orang kepercayaannya, mungkin lelaki itu masih belum mengerti bagaimana mengurus perusahaan induk di Pekanbaru.           Beginikah rasanya, saat Abinya selalu pulang telat malam sampai harus lembur dan tidur dikantor. Karena memikirkan pengeluaran yang sangat melonjak dari pada pemasukan, ponsel Khalil berdering saat mereka bertiga sedang diskusi masalah ini.           “Baiklah paman, akan Khalil cari tahu siapa dalang dari semua ini. Rapat ini kita tunda hingga satu jam mendatang dan untuk kamu Ridho tolong panggil seluruh staf keuangan untuk datang keruangan saya.” Setelah mengucapkan itu Khalil meminta izin untuk keluar ruangannya dan menerima telpon dari anak buahnya yang sedang di Bandung, sedangkan Ridho dan Adam lebih memilih untuk kembali keruangannya masing-masing.           “Selamat siang Riko, apakah kamu sudah menemukan keluarga dari pihak Ummi Aisyah?” pertanyaan itu terlontar dari bibir Khalil, karena sudah tidak sabar selama hampir tujuh tahun ini lelaki itu terus mencari keluarganya yang hilang seperti ditelan bumi. “Selamat siang pak Khalil, saya dan rekan-rekan telah menemukan titik terang mengenai keluarga Alm. Ibu Aisyah. Mereka berada di bandung, saya akan segera mengirimkan data-datanya ke email bapak hari ini.”           “Saya percayakan semuanya padamu Riko, baiklah segera kirimkan detail hasilnya saya akan terbang secepatnya ke bandung kalau perlu hari ini juga.” Setelah mengucapkan itu Khalil menutup telpon dan kembali keruangannya. ----           Rayhan yang sedang memakai sepatunya terkejut saat melihat kacamatanya terjatuh dan pecah begitu saja, pandangannya tertuju pada seseorang yang tengah berdiri di depannya yang hendak berjalan. Dengan nafas berat lelaki itu berdiri dan pandangan keduanya  bertemu beberapa detik, Khadijah yang melihat mata coklat Rayhan sempat terpaku akan keindahan bola mata itu. Rayhan sadar akan kesalahannya karena telah menatap yang bukan mahramnya, dalam Surah An-Nur ayat 30 sudah menjelaskan ;           Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara k*********a. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).           “Astagfirullah.” Ucap Khadijah dalam batinnnya.           “Maaf mba, kalau jalan itu lihat-lihat yah! Karena kecerobohan anda kacamata saya jadi pecah begini.” Rayhan langsung berjongkok dan mengambil kacamatanya yang pecah.           “Afwan, Mas, tadi saya tidak sengaja. Apa boleh kacamatanya saya bawa untuk diperbaiki ditempat optik?” tanya Khadijah dengan nada lembut dan menundukkan pandangannya.           Saat Rayhan ingin memaki wanita itu tiba-tiba ponsel yang berada disaku celananya berdering, dengan helaan nafas yang berat lelaki itu berjalan menjauhi wanita berniqob itu beberapa langkah untuk menerima panggilan itu. Khadijah merasa bersalah pada Rayhan pun akhirnya hanya berani melihat punggung lelaki itu saja, Sulis dan Fatma yang melihat Khadijah berdiripun akhirnya mereka berdua menarik tangannya menjauhi lelaki itu.           Rayhan yang selesai menerima telponpun akhirnya kembali berjalan menuju arah dimana gadis itu tadi berdiri, saat sampai di tempat itu Rayhan melihat sekitarnya tidak menemukan perempuan yang sudah menjatuhkan kacamatanya. Dengan rasa bersalah karena tidak memberikan waktu untuk wanita itu menjelaskan akhirnya Rayhan meninggalkan Masjid itu.           Khalil membaca teliti e-mail yang Riko kirimkan, dia terkejut melihat poto seorang gadis berniqob dan biodatanya tak lupa alamatnya. Lelaki itu tersenyum dan merapihkan semua berkas-berkas kantornya, alangkah senangnya pencariannya selama ini membuahkan hasil yang memuaskan. Tetapi dalam benak lelaki itu apakah wanita itu benar adiknya, tetapi bola matanya mirip mendiang Abinya.           Sadam yang baru saja memasuki ruangan keponakannya itu mengernyitkan dahinya melihat kelakuan aneh keponakannya itu, lelaki itu menghampiri Khalil dan menepuk pundaknya itu.           “Khalil, sejak paman memasuki ruanganmu barusan kenapa kau tersenyum sendiri nak, apakah ada kabar baik dari seseorang?” tanya Sadam pada keponakannya itu.           “Alhamdulillah, Paman, Khalil akan segera bertemu dengan keluarga dari Ummi Aisyah sekarang juga. Dan harus bersiap untuk pergi ke Bandara karena hari ini harus sampai di Bandung.”           “Alhamdulillah, nak, Paman sangat senang mendengarnya. Cepat jemput adikmu dan bawa dia ke rumah mendiang Abimu yang sudah disiapkan untuk kalian.”           “Baiklah Paman, Khalil harus pulang dan bersiap ke Bandara, titip perusahaan ini pada paman yah!”           Sadam hanya mengangguk dan tersenyum, alangkah bahagianya melihat senyuman keponakan kesayangannya itu kembali. Setelah sekian lama lelaki itu tidak pernah sebahagia ini semenjak kepergian kedua orang tuanya itu.           Khalil berpamitan dan keluar dari kantornya sambil bersenandung, lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Pandangannya fokus pada jalanan dan sesekali melihat poto yang sengaja berada di mobilnya, dimana dalam poto itu terlihat Khalil yang berdiri dengan gagah diantara kedua orang tuanya.           ”Abi, Ummi, Khalil akan segera menjemput Khadijah hari ini. Doa kan putra kesayanganmu ini untuk bisa menerima kenyataan yang akan terjadi nantinya, entah dia menerima kedatangan putramu ini atau malah sebaliknya.” Lirih Khalil dengan mata berkaca-kaca.           Di kediaman Paman Sadam, seorang wanita baru saja keluar dari mobilnya setelah dari kampusnya. Siapa lagi kalau bukan anak semata wayang Paman Sadam dan Ummah Sabrina, Niken Anjani. Perempuan itu melihat mobil sepupunya yang memasuki parkiran rumahnya. Niken melirik arloji yang melingkar di tangannya lalu menatap Khalil, dengan penuh pertanyaan dalam benaknya.           “Ada apa yah bang Khalil jam segini sudah pulang.” Perempuan itu bermonolog lalu melangkah kakinya menuju Khalil yang baru saja membuka pintu mobilnya.           “Assalammu’alaikum,Niken, tumben kamu sudah pulang jam segini. Emangnya jam kampus sudah selesai? Jangan bilang kamu kabur yah!” Khalil dan Niken memang sudah biasa bercanda gurau seperti itu, Niken sangat menyayangi Khalil seperti kakak kandungnya sendiri.           ”Apaan suka su’udzon jadi orang, hari ini tuh matkul hanya satu!” Ketus Niken dengan sengaja menghentak-hentakkan kakinya.           “Hehehehe, afwan yaudah ayo kita masuk, Abang harus cepat-cepat packing dan pergi ke Bandara sebelum adzan dzuhur.” Khalil melangkahkan kakinya memasuki rumah kediaman Sadam, sementara Niken hanya terdiam saat mendengar kata-kata Khalil jika dia akan pergi ke bandara.           “Abang! Tunggu!” teriak Niken lalu berlari menyusul Khalil.           Sabrina yang sedang membuat adonan kue di dapur tersentak kaget saat mendengar teriakan Niken, wanita paruh baya itu segera mencuci tangannya dan menghampiri Niken saat di ruang keluarga Khalil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.           “Khalil, kamu sudah pulang, nak?” tanya Sabrina sambil melangkahkan kakinya menuju keponakannya itu.           “Alhamdulillah, sudah Ummah, karena Khalil harus bersiap-siap untuk ke Bandung hari ini juga. Seseorang sudah menunggu kedatangan Khalil disana.”           ”Apakah dia calon istrimu nak?” tanya Sabrina kembali.           ”Begini Ummah, tadi pas rapat mata-mata yang sengaja Khalil suruh mencari keberadaan adikku di lokasi terjatuhnya pesawat. Lalu mereka menyebar mencari keluarga dari Alm. Ummi Aisyah, atas izin Allah akhirnya pencarian selama ini membuahkan hasil. mereka menemukan dimana tempat tinggal keluarga dari mendiang Ummi Aisyah, Ummah.”           Ucap lelaki itu dengan bahagia, mata Sabrina berkaca-kaca saat mendengar kabar dari keponakannya itu. Sementara Niken menatap keduanya tidak suka saat membahas adik Khalil yang hilang itu, dia merasa nantinya lelaki itu akan lebih menyayangi adiknya itu dari pada Niken. Perempuan itu menghentakkan kakinya dan berlari ke kamarnya dengan perasaan takut. Khalil dan Sabrina melihat perubahan sikap Niken, Sabrina hanya mengusap pundak keponakannya itu dan menganggukkan kepalanya.           “Siap-siaplah kamu,nak, karena kau akan menjemput adikmu. Kami akan mempersiapkan semuanya disini untuk menyambut kembalinya kalian nanti.”           “Baik Ummah, kalau begitu Khalil bersiap-siap dulu.” Lelaki itu langsung melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, terdengar suara keributan dari kamar Niken tetapi Khalil malah meneruskan langkahnya menuju kamarnya.           Niken melemparkan semua barang-barang yang berada dihadapannya, dan berbaring memunggungi pintu sambil terisak. Bagaimana tidak sakit, selama ini sepupunya yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri akan meninggalkannya demi menemui adik kandungnya itu. Niken tidak mau membagi kasih sayang yang selama ini Khalil berikan terbagi pada siapapun termasuk pada adik kandungnya sendiri, dia hanya ingin lelaki itu menjadi kakaknya saja.           Rasa sayang selama ini terhadap lelaki itu sangatlah besar, dimana sewaktu kecil mereka berdua menghabiskan waktu berdua satu sama lain. Suka dan duka mereka lalui dengan bersama-sama, apalagi mengingat masa-masa kecil mereka dimana Khalil orang yang selalu melindunginya. Apalagi saat perempuan itu di bully dan di cemooh oleh orang-orang seusianya, Khalil memang sosok lelaki yang sangat menyayangi keluarga dan tidak akan membiarkan siapapun mencelakai orang yang dia sayang. Lelaki itu akan mempertaruhkan semuanya untuk melindungi martabat keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN