bab 2

1476 Kata
        Cinta itu tidak selalu melekat pada kebersamaan, tapi melekat pada doa-doa yang disebutkan dalam senyap.                Dikota kembang seorang gadis berkhimar sedang berjalan beriringan dengan sahabatnya memasuki Masjid Nuruh Huda disalah satu daerah kota Bandung itu, senyuman yang manis bahkan matanya yang sipit membuat siapa saja akan terpesona pada kecantikan wanita itu. Tapi siapa sangka wanita itu hanya memperlihatkan wajahnya kepada keluarganya saja, bahkan wanita itu selalu memakai niqob kemanapun dia pergi.           Ahlaknya, tutur bahasanya, kedua orang tuanya pasti akan bangga pada anak bungsu kesayangannya itu. Siti Khadijah kelahiran bandung saat ini sudah memasuki fase dewasa, kecerdasannya membuat dirinya bisa diterima menjadi guru disalah satu pesantren di kota Bandung.           “Khadijah, sepertinya kamu saat ini bahagia sekali? Bahkan beberapa waktu lalu saat Maryam menikah dengan ustadz Noer kamu sampai terpukul sekali karena lelaki yang selalu kamu sebut namanya malah menikahi sahabat kita.” Sulis yang sedari tadi memperhatikan Khadijah yang sangat bahagia tidak seperti biasanya, bahkan perempuan itu sangat tahu betapa rapuhnya Khadijah saat tahu yang dikhitbah Noer adalah sahabatnya sendiri.           “Sulis, aku sudah ikhlas jika ustadz Noer lebih memilih Maryam, karena memang sahabat kita itu pantas mendapatkan pasangan yang sholeh seperti ustadz Noer kok. Sabar dan ikhlas itu adalah kunci utama untuk kita melangkah maju kedepannya, mungkin kemarin aku gagal mendapatkan lelaki sempurna seperti ustadz Noer. Tapi ada saatnya aku akan mendapatkannya dengan cara sabar, karena skenario Allah pasti akan indah pada waktunya kok.”           Khadijah berjalan terlebih dulu setelah melepaskan sepatunya, sementara Sulis dan Fatma hanya menggelengkan kepalanya melihat ketegaran Khadijah. Selama ini perempuan itu hanya tinggal bersama neneknya tetapi baru saja seratus hari yang lalu beliau meninggalkan Khadijah dan keluarga besarnya. Mereka berdua akhirnya menyusul Khadijah memasuki aula masjid itu untuk mengikuti kajian pagi ini yang dibawakan oleh ustadz Yusuf.           Sepanjang acara mereka bertiga hanya menyimak kajian yang dibawakan oleh ustadz Yusuf, Khadijah melihat ponselnya dan mengecek email masuk dari para ikhwan yang mengirimkan cv. Taarufnya. Tak berselang lama kajianpun akhirnya diakhiri dengan ucapan basmallah, saat Khadijah akan berdiri ustadzah Nabila dan ustadz Yusuf memanggil gadis itu.           “Khadijah ternyata kamu datang dikajian minggu ini? Saya kira kamu akan berhalangan hadir.” Ustadzah Nabila menghampiri Khadijah dan memegang tangannya.           “Tentu saya tidak akan meninggalkan kajian ini, sesibuk apapun kita harus tetap bisa meluangkan waktu untuk belajar agama lebih dalam lagi.” Khadijah menjeda ucapannya.           Rasulullah SAW bersabda: Utlubul 'ilmi minal mahdi ilal lahdi Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat.           “Bukankah itu yang dikatakan oleh Ustadz Yusuf barusan, dan yah Ustadzah barusan saya cek email ternyata sudah banyak ikhwan yang mengirimkan cv. Taarufnya, tetapi saya masih dilema dalam menyeleksi mereka.” Khadijah menundukkan pandangannya.           “Coba kamu laksanakan shalat istikharah dan meminta petunjuk pada Allah, siapa yang terbaik diantara mereka yang mengirimkan cv itu pada kamu!” perintah Ustadzah Nabila.           “Baiklah nanti malam saya akan coba, oh iya Ustadzah saya permisi dulu ingin ke toilet sebentar, Assalammu’alaikum.” Khadijah langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Ustadzah Nabila, sedangkan Sulis dan Fatma sudah lebih dulu keluar dari masjid itu. *****           Seorang lelaki sedang merapihkan tasnya dan berjalan menuju Ustadz Yusuf untuk membahas mengenai Ta’aruf, sebenarnya lelaki itu sudah paham akan beberapa hal tentang Ta’aruf tetapi masih ada dalam hati kecilnya keraguan akan hati kecilnya itu. Baru saja beberapa waktu lalu ditinggal menikah oleh Maryam, lelaki itu sudah mengikhlaskan untuk kebahagiaan wanita yang dia cintai itu.           “Ustadz saya sebenarnya sudah tahu mengenai syarat ta’aruf agar sesuai syari’at islam, dengan meluruskan niat untuk menyempurnakan agama dengan menikah karena Allah ta’ala bukan karena keterpaksaan, menjaga kesucian saat melaksanakan ta’aruf, berlaku jujur dan tidak ada yag ditutup-tutupi, menerima atau menolak dengan cara yang baik, dan terakhir adalah harus ada mahram yang mendampingi. Tetapi yang masih yang mengganjal dalam diri saya adalah berapa lama proses ta’aruf sebenarnya?”           “Dalam proses ta’aruf yang sesuai dengan syariat islam adalah dengan cara mendatangi rumahnya untuk mengenal penghuni rumah dan tujuan perkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh.” Ustadz Yusuf menjeda kalimatnya.           Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!” [2]           Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (III/334, 360), Abu Dawud (no. 2082) dan al-Hakim (II/165), dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.           “Apakah diri kamu sudah siap untuk menjalani proses ta’aruf ini, yang pertama harus kamu tau Rayhan mengenai persiapan ta’aruf.” Ustadz Yusuf mulai menjelaskan tahap persiapan pada lelaki di hadapannya itu, sementara Rayhan hanya mendengarkan seluruh arahan dari Ustadz itu. 1.                              Persiapan Diri Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu."(Muttafaq Alaihi)                       Kesiapan ilmu, mental, psikologis, finansial, dll. wajib dipenuhi sebelum berikhtiar ta'aruf. Cukup banyak konselor pernikahan yang memberikan pencerahan seputar persiapan diri ini sehingga tidak perlu saya sampaikan panjang lebar, silakan mengambil referensi dari apa yang telah mereka sampaikan. Anda juga bisa mengikuti kajian dan seminar pranikah, ataupun kursus pranikah yang diadakan beberapa lembaga Islam untuk persiapan diri ini. 2.                              Pengkondisian Orang Tua Pengkondisian ke orang tua terkadang dilupakan sebagian rekan dalam ikhtiar ta'arufnya, padahal faktor orang tua bisa menjadi salah satu penyebab lamanya proses ta’aruf karena orang tua belum terkondisikan. Banyak yang berproses ta'aruf terlebih dulu, baru setelah bertemu dengan yang cocok mereka baru menyampaikan bahwa sudah punya calon ke orang tua mereka. Bisa jadi hal ini akan membuat 'kaget' orang tua, dan akhirnya proses ta'aruf pun tidak berlanjut. Idealnya pengkondisian orang tua harus dijalani dulu, baru setelah orang tua terkondisikan proses ta’aruf bisa dimulai. Orang tua yang sudah terkondisikan bagi seorang wanita adalah wali yang siap menikahkan apabila sudah ada yang cocok, tidak perlu menunggu lama-lama, bagi seorang ikhwan dalam bentuk restu menikah dalam waktu dekat. Meskipun orang tua merestui untuk menikah tapi menikahnya baru boleh sekian tahun lagi berarti masih belum terkondisikan. Kondisikan dan mintalah restu ke orang tua sebelum berikhtiar ta'aruf, insya Allah akan dimudahkan proses ikhtiarnya. 3.        Membuat Biodata/CV Ta'aruf Dengan alasan kemudahan proses, metode tukar menukar biodata biasa saya gunakan dalam mengawali mediasi proses ta'aruf. Biodata dalam bentuk softcopy akan lebih mudah diproses karena bisa saling ditukarkan lewat email, dan membutuhkan waktu yang lebih singkat bila dibandingkan dengan tukar menukar biodata dalam bentuk hardcopy. 4.        Mencari Perantara/Pendamping                        Dari Jabir Bin Samurah Radhyallahu'anhu, dari Rasulullah bersabda : "Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, karena syaitan akan menjadi ketiganya" (Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi). Aktivitas berduaan/khalwat antara non mahram rawan sekali akan bisikan setan. Tidak hanya dalam bentuk "khalwat real/nyata", tetapi juga dalam bentuk "khalwat virtual/maya" lewat media sosial ataupun media komunikasi lainnya. Karena itu, proses ta'aruf perlu didampingi oleh pihak ketiga yang akan 'mengawal' selama berjalannya proses sekaligus menjembatani komunikasi pihak-pihak yang berta’aruf agar proses bisa lebih terjaga. Selain itu, perantara/pendamping ini dapat berfungsi juga sebagai 'informan' dalam tahap 'observasi pra-ta’aruf' di tahap persiapan selanjutnya. 5.        Observasi Pra-ta'aruf berfungsi untuk menggali sebanyak-banyaknya informasi mengenai sosok yang sekiranya cocok dengan kriteria yang anda dan orang tua anda harapkan. Perhatikan lingkungan sekitar, baik itu lingkungan rumah, lingkungan kantor, lingkungan organisasi yang diikuti, atau bisa juga lewat media sosial yang anda gemari. Cari ‘target’ yang anda nilai masuk kriteria yang anda sepakati dengan orang tua, yang tentunya faktor agama jadi prioritas nomer satu.           “Masih ada beberapa tahapan lagi untuk pelaksanaan ta’aruf, kamu pasti sudah pernah mendengar yang pernah saya jelaskan sebelumnya. Dan kamu pasti ingat juga anjuran di hadits ini.” Lelaki dihadapan Ustadz Yusuf hanya dapat mengangguk.            Rasulullah saw bersabda : "Rahasiakan pinangan, umumkanlah pernikahan (Hadits Riwayat Ath Thabrani).           “Saya sudah paham sekarang ustadz, dan saya sudah siap untuk menjalani proses ta’aruf ini.”           Ustadz Yusuf hanya tersenyum dan merangkul Rayhan, kedua lelaki itu berbincang dengan hangat membahas masalah Ta’aruf . seorang wanita berjalan dibalik pilar pembatas antara Akhwat dan Ikhwan, entah kenapa kakinya enggan melangkah lagi saat mendengar suara lelaki yang bersama Ustadz Yusuf itu. Hatinya berdegup dengan kencang, Khadijah sekilas melihat siapa lelaki itu dan berlari kecil menuju kamar mandi.           ”Oh Allah, kenapa hati ini berdegup dengan cepat seperti ini. Siapa lelaki itu yang bersama Ustadz dan kenapa mata itu seperti lelaki yang aku lihat saat malam itu, Allah maafkan aku sudah zinah mata dengan melihat mata lelaki itu.” Khadijah membasuh mukanya dan merampalkan Istighfar. Perempuan itu berjalan keluar toilet dan meninggalkan aula masjid, matanya mencari dimana kedua sahabatnya itu berada pandangannya tertuju pada arah taman disekitar masjid itu.           Rayhan meminta izin untuk pamit terlebih dahulu pada Ustadz Yusuf setelah perbincangan itu usai, lelaki itu merapihkan berkas-berkasnya dan mengambil laptop tak lupa ranselnya. Langkah kakinya meninggalkan aula masjid menuju tempat batas suci, lelaki itu duduk di tangga lalu melepaskan kacamatanya dan menaruh laptopnya disebelah kanannya sambil memakai sepatunya.           Seorang wanita berniqob berlari dan tak sengaja menendang kacamata lelaki itu hingga terjatuh dan pecah, Rayhan yang mendengar suara terjatuhpun melihat kearah tangga dimana kacamatanya retak dan terinjak oleh gadis di hadapannya.08-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN