BAB 14

1428 Kata
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (Q.s. Ali ‘Imran ; 133-134)”             Ummi Nazwa mendekati suaminya lalu meminta izin untuk melihat Khadijah dirumah kediaman Alm. Adam, setelah mendapatkan izin dari suaminya. Perempuan paruh baya itu berjalan menuju mobilnya dimana supir pribadinya sudah berdiri di samping mobil silver.             Sepanjang perjalanan menuju kediaman Khadijah, perempuan paruh baya itu sudah menyiapkan perhiasan dan beberapa hadiah untuk calon menantu kesayangannya itu. Tidak membutuhkan waktu lama mobil itu sudah terparkir dihalaman depan, langkah kakinya menyusuri karpet merah dan dikiri-kanan terdapat dekorasi bunga-bunga yang sangat segar. Ummi Nazwa sangat kagum dengan dekorasi yang sudah menyulap rumah mewah itu, senyumnya mengembang saat melihat pelaminan khas minang. Seorang gadis dengan baju adat dan tak lupa niqobnya menghampiri Ummi Nazwa.             “Assalammualaikum, Bibi, pasti mau melihat calon menantunya yah?” tanya Niken dengan senyuman yang dipaksakannya.             “Wa’alaikumussalam,Nak, iya Bibi ingin melihat Khadijah. Apakah kamu bisa antarkan dimana letak kamarnya?” tanya Ummi Nazwa.             “Baiklah bibi, Niken juga baru saja akan ke kamar Khadijah untuk menemaninya.” Akhirnya keduanya melangkahkan kakinya menuju kamar dimana tempat Khadijah sedang dimakeup.             Sesampainya di depan kamar Khadijah, Niken mengetuk pintu kamar itu tak lama seorang perias membukakannya dan mempersilahkan masuk. Khadijah tampak cantik dengan balutan kebaya syar’i berwarna putih dan tak lupa niqob yang perempuan itu pakai.             “MasyaAllah, calon menantu Ummi cantik sekali hari ini. Rayhan pasti akan terpesona saat melihatmu nanti, Nak.”             “Ummi, jangan memuji Khadijah seperti itu, Ummi juga tidak kalah cantiknya hari ini.” Khadijah berdiri langsung memeluk Ummi Nazwa dengan mata berkaca-kaca.             “Ummi, sangat bahagia akhirnya Rayhan bisa mendapatkan istri yang baik akhlak dan prilakunya seperti dirimu,Nak.”             “Sudah, Ummi, jangan buat Khadijah jadi terbawa suasana hari ini. Semoga saja Mas Rayhan bisa mengucapkan ijab qobul dan tidak gerogi,” ucap Khadijah dengan pipi merona saat menekankan kata Mas.             “Ternyata menantu Ummi ini sudah sangat perhatian sama calon suaminya, tenang saja disana ada Abi yang menemaninya walaupun tadi mukanya sedikit pucat karena grogi. Eh, iya, muka kamu kok jadi merona gitu, Nak,” goda Ummi Nazwa sambil tertawa, sementara Niken tersenyum sinis pada Khadijah.             “U,,,ummi sudahlah.” Khadijah langsung membalikkan tubuhnya lalu menatap monitor dimana akan dilangsungkannya akad nikah sebentar lagi.             Ditempat lain Noer datang bersama Maryam dan keluarga besar dari alm. Abi Yusuf, mereka sekeluarga sengaja datang ke pekanbaru karena undangan khusus yang diberikan oleh Rayhan. Kak Edi yang baru saja kembali setelah mengantarkan Rayhan untuk mengambil wudhu dan sholat dhuha terlebih dahulu, lelaki itu memberikan wejangan pada Rayhan semoga kelak dirinya menjadi suami yang bisa melindungi dan menyayangi keluarga kecilnya. Rayhan duduk di depan penghulu tak lupa dengan Khalil yang berada di belakang lelaki itu, lalu paman Dicky duduk disebelah kanan sebagai saksi dari pihak mempelai wanita. tangan mulai bergetar bibir mulai mengucap tasbih, tahmid dan takbir saat penghulu mulai datang. Kak Yedo mulai membuka acara untuk akad nikah pada pagi hari ini, dengan mengucap Basmallah acara akad dimulai. Rayhan mengambil Al-Qur’an dan membuka Juz 27 surah Ar-Rahman.             Ayat demi ayat surah Ar-Rahman terucap dari bibir lelaki yang di hadapan Paman Sadam dan Khalil, semua para tamu bahkan keluarga terhipnotis dengan lantunan kalam Allah itu. Penghulu, Khalil, dan para saksi mulai merampalkan Basmallah untuk kelancaran akad hari ini, Paman Sadam menggenggam tangan lelaki yang akan menjadi pendamping hidup keponakannya itu.             “Bismillahirrahmannirrahim Saudara Rayhan Farhan bin Bapak Rehan Farhan saya nikahkan dan kawinkan keponakan saya yang bernama Siti Khadijah Binti Alm. Bapak Adam As-Shabri kepada engkau, dengan maskawin berupa  Surah Ar-Rahman dan seperangkat alat solat di bayar Tunai,” ucap Paman Sadam saat tangannya sedikit di naikkan. Rayhan mengucap Basmallah sebelum mengucapkan ijab qabul.             “Saya terima nikah dan kawinnya Siti Khadijah Binti Alm. Bapak Adam As-Shabri dengan mas kawin tersebut di bayar Tunai,” dengan satu tarikan nafas Rayhan dapat menyelesaikan akad nikahnya. “bagaimana saksi SAH,” tanya penghulu             “SAH”             “SAH”  para saksi mengucapkan Sah.             Setelah pengucapan akad nikah penghulupun mengucapkan untaian do’a dan di Aamiinkan oleh seluruh anggota keluarga dan para tamu yang hadir di acara akad nikah, Rayhan merampalkan hamdalah saat proses ijab qabulnya berjalan dengan lancar. Berbeda dikediaman alm. Adam dalam kamar seorang wanita sedang menangis sendu saat Ummi Nazwa yang secara langsung melihat video call dari suaminya ketika Rayhan mengucapkan akad atas nama Khadijah. Bibi Diana pun terharu saat mendengar tangis pilu kedua wanita di depannya, beliau merasa sangat bahagia walaupun Khadijah bukan putri kandungnya tetapi berkat beliau lah yang merawatnya sejak kecil. Tetapi kasih sayang dan rasa cinta yang dia berikan kepada gadis itu tetap sama, Ummi Nazwa mengajak Khadijah untuk ke masjid dimana tempat akad berlangsung karena akan segera menandatangani buku nikah. “Ayo, Nak, sudah saatnya kamu bertemu dengan suamimu, dia pasti sudah menunggumu diaula khusus untuk keluarga disana,” ucap Ummi Nazwa membantu Khadijah untuk keluar dari kamarnya. “Eh, Bibi, bagaimana jika Khadijah bersama Niken saja di mobil yang sudah dipersiapkan oleh keluarga kami. Kan tidak enak juga jika mertua yang menjemput menantu bukan suaminya,” elak Niken mencari cara agar Khadijah mengikutinya. “Benar, Ummi, ucapan Niken lebih baik Khadijah menunggu supir keluarga kami saja. Tenang saja Ummi, mobil kami akan mengikuti mobil Ummi dibelakangnya.” “Baiklah, Nak, jika itu mau kamu. Tapi hati-hati yah, karena hati kecil Ummi merasakan sangat khawatir padamu jika tidak ikut bersama kami.”  Sedangkan Khadijah menggenggam tangan Ummi Khadijah untuk meyakinkannya. “Ayo Khadijah!” “Ummi, masuk dulu ke dalam mobil nanti Khadijah menyusul.” Ummi Nazwa memasuki mobil keluarganya dengan hati yang sangat tidak ikhlas melihat Khadijah memasuki mobil keluarga besarnya. Khadijah memasuki mobil itu bersama Niken, tetapi tatapannya merasa ragu saat melihat supir itu. Bukannya Riko yang diperintahkan oleh Khalil untuk menjemputnya, tapi ini kenapa bukan dia lalu dimana mobil yang sudah susah payah dihias itu untuk menjemputnya. Banyak sekali pertanyaan yang memenuhi otak Khadijah, tetapi perempuan itu mencoba untuk beristighfar agar tidak bersuudzon pada sepupunya itu.             Sementara dimasjid setelah terlaksananya akad Khalil memeluk adik iparnya itu, terlepas sudah tanggung jawab dia untuk menjaga adik kesayangannya itu. Sekarang tanggung jawab Khadijah berpindah pada pundak Rayhan yang saat ini bergelar sebagai suaminya, Noer, Kak Yedo dan Kak Edi menghampiri suami Khadijah dan memeluknya bergantian.             “Barakallah yah Rayhan, akhirnya kamu bisa mendapatkan jodoh juga. Sudah tidak mengharapkan cintanya Maryam lagi, semoga saja niat kamu untuk menikahi Khadijah diridhoi Allah, Aamiin,” ucap Kak Yedo sambil bersalaman.             “Syukron jiddan Kak Yedo, terima kasih sudah mau datang dan menjadi pembawa acara di pernikahan saya. Dan saya tunggu penampilannya bersama para nasheed,” ucap Rayhan dengan senyuman.             “Barakallah yah, jagain Khadijah dan jangan buat dia meneteskan air matanya. Jika itu sampai terjadi jangan harap Khadijah akan tetap bersama kamu lagi!” ucap Khalil dengan sedikit ada penekanan disetiap ucapannya.             “Hehehehe, In Sha Allah engga bakalan buat Khadijah menangis bahkan terluka sedikit pun, Rayhan akan membahagiakan Khadijah dan menafkahi lahir dan batin,” ucap Rayhan akhirnya mereka bertiga berpelukan.             “Sudah-sudah itu kesian loh sama penghulunya karena terlalu lama menunggu mempelai wanitanya, dan untuk kamu Rayhan. Saat ini bisa menjemput Khadijah di ruang yang sudah tersedia, ada pintu yang sudah kami dekor yah, karena anak buah saya sudah dalam perjalanan kesini untuk membawa Khadijah dari rumah,” ucap Khalil sambil menunjuk arah ruangan khusus yang dekorasi dengan banyak sekali bunga-bunga.                                                                                                           Khalil menelpon Riko apakah dia sudah menjemput Khadijah apa belum, sementara sudah lima belas menit sejak selesainya akad anak buahnya itu belum satupun mengabarinya. Khalil melacak mobil yang dikendarai Riko masih berada di rumahnya, tetapi kenapa lama sekali untuk menjemput Khadijah kesini. Riko mengirim pesan bahwa Khadijah sudah tidak ada di rumah itu.             “Astagfirullah, Dimana saat ini kamu, dek.” Khalil mengacak-ngacak rambutnya frustasi saat mendapatkan kabar jika Khadijah tidak ada dirumah itu.             “Khalil, kamu kenapa nak? Apa yang membuatmu seperti ini?” pertanyaan bertubi-tubi dari Ummah Sabrina.             “Khadijah tidak ada dirumah Ummah, Riko bilang rumah sudah kosong dan anak buahku saat ini sedang mencari dimana keberadaan Khadijah,” lirih Khalil.             “A, apaa!” setelah mendengar ucapan keponakannya itu, tubuh Ummah Sabrina limbung dan pandangannya mulai gelap. Sadam yang melihat istrinya jatuh pingsan akhirnya dengan cekatan menggendong Ummi Sabrina dan membawa ke ruangan khusus.             Rayhan yang mendengar ucapan Khalil bersama Ummah Sabrina memutuskan untuk menghubungi mata-matanya, lelaki itu mengarahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Khadijah. Walau bagaimanapun Khadijah sudah menjadi tanggung jawabnya saat ini setelah akad berlangsung, Ummi Nazwa datang bersama Bibi Diana lalu menghampiri keluarganya masing-masing.             Rayhan menanyakan pada Umminya kenapa Khadijah tidak diajak bersamanya saja, tetapi Ummi Nazwa mengatakan jika supir keluarganya dan Niken sudah dalam perjalanan menuju tempat ini. Khalil yang mendengarnya langsung mengepalkan kedua tangannya, Niken harus diberikan pelajaran yang setimpal saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN