Khalil yang melihat adiknya berkeringat dingin dan mukanya pucat pasi, Riko memberikan sebotol air minum dan minyak angin untuk adik dari sahabatnya itu. Khalil yang tampak khawatir dengan keadaan Khadijah akhirnya mengusap-ngusap kedua tangannya agar merasa hangat dan lebih tenang.
Riko membawa koper milik sahabatnya itu dan menuju boarding bandara, sementara Khalil dan Khadijah setelah check in langsung memasuki pesawat. Khadijah duduk disebelah Khalil sambil memejamkan matanya, lelaki itu senantiasa mengusap kepala adiknya yang masih trauma akan kecelakaan pesawat yang pernah dialami hingga merenggut nyawa kedua orang tuanya.
“Eh, akhirnya tidur juga itu Khadijah?” tanya Riko pada sahabatnya setelah memasukkan kopernya ke bagasi kabin.
“Biarin aja sih! Orang Khadijah masih trauma sama perjalanan jauh seperti ini.”
“Iya, iya, udah ah mending ikut tidur juga lah. Cape tau bawa 3 koper sekaligus, kalian enak jalan duluan dan masuk pesawat duluan,” keluh Riko lalu memejamkan matanya.
Tak lama kemudian akhirnya pesawat yang mereka tumpangi lepas landas menuju tempat tujuan yang mereka tuju, Sadam dan Sabrina yang sebelumnya sudah dikabarkan oleh Khalil jika mereka sudah berada di dalam pesawat akhirnya menyuruh supir untuk menjemput kedua keponakannya itu.
Di ruang makan sudah banyak menu makanan yang tersedia, dari masakan Khas Riau terdari bolu kemojo, es air mata pengantin dan masih banyak lagi. Niken yang akan berangkat ke kampus akhirnya menghentikan langkahnya ketika melihat kedua orang tuanya sibuk untuk menyambut kedatangan Khalil dan adiknya itu. Niken yang merasa iri lebih memilih untuk melemparkan tasnya di ruang keluarga dan duduk di sofa yang tersedia.
“Eh, Ummi kira kamu sudah berangkat ke kampus, nak?” tanya Ummi Sabrina pada putri kesayangannya.
“Bahkan Ummi,Abi, lebih menyibukkan diri untuk menyambut kedatangan kak Khalil dan adiknya itu, sampai melupakan putri kalian.” Niken menyilangkan kedua tangannya lalu menatap sinis kedua orang tuanya.
“Kok anak Abi jadi marah seperti ini sih, satu jam lagi mereka akan sampai loh. Sudahlah Niken, kamu itu sudah menjadi wanita dewasa dan jangan manja lagi pada kakak kamu Khalil!”
Ingin sekali Niken membantah perkataan kedua orang tuanya, tetapi dia masih punya batasan-batasan untuk tidak menyakiti hati kedua orang tuanya itu. Niken hanya bisa menghela napasnya, Allah berfirman dalam surah Al-Ahqaaf :15-17 yang artinya :
“Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya yang telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa “Ya Tuhanku berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku termasuk orang muslim.” (Al-Ahqaaf :15)
Ditempat lain Rayhan sedang memeriksa dokumen mengenai keuangan pengeluaran bulan ini, Islah mengetuk pintu ruangan Rayhan dan mengatakan jika perusahaan cabang milik Alm. Adam sudah berpindah tangan dengan atas nama Niken. Hal itu membuat dirinya tersenyum sinis, persaingan di dunia bisnis memanglah tidak mudah. Apalagi harus memenangkan tender besar yang harus merogoh kocek tidaklah sedikit hingga harus menggadaikan seluruh aset dan saham yang dia punya, lelaki itu menyuruh Islah untuk mencari tau siapa Niken dan memintanya untuk mengadakan rapat dengan orang tersebut.
Khalil, Khadijah dan Riko baru saja sampai bandara dan dijemput langsung oleh supir suruhan Sabrina, disepanjang jalan Khadijah hanya menatap jalanan sambil mengucapkan lafaz Allah. Khalil tersenyum melihat adiknya yang senantiasa mengingat sang penciptanya, tak butuh waktu lama akhirnya mobil yang ditumpangi ketiganya sampai di kediaman keluarga Sadam.
Khadijah turun dari mobil itu lalu tersenyum di balik niqobnya betapa indahnya rumah pamannya itu, Khalil menggenggam tangan adiknya dan membawanya masuk. Sabrina yang mendengar salam dari keponakannya akhirnya membukakan pintu utama dan melihat Khalil bersama perempuan bercadar, senyuman Sabrina dan tatapannya yang sendu seakan tidak percaya bahwa keponakan kesayangannya itu masih hidup.
“Khadijah, kamu kembali sayang,” ucap Sabrina lalu merentangkan kedua tangannya, Khalil menganggukkan kepalanya memberi izin Khadijah untuk memeluk Ummahnya itu. Khadijah mengikuti perintah Khalil untuk membalas pelukan Sabrina.
“Ini Ummah Sabrina, dek, dia yang merawat kakak selama ini. Dan semenjak Ummi meninggal, kakak sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Ummah seperti halnya Niken. Oh iya Ummah, dimana Niken?” tanya Khalil sambil mencari kesekeliling ruang tamu.
“Niken disini kakak!” teriak Niken dari ruang keluarga dengan berlari dan langsung memeluk Khalil, sementara pandangannya menatap Khadijah dengan sinis, Khalil membalas pelukan Niken dan tersenyum. Niken memutar bola matanya malas lalu tersenyum licik saat membayangkan cara menjauhkan Khalil dari Khadijah, sementara Khadijah hanya menundukkan pandangannya saat tatapan keduanya bertemu.
“Sudah,sudah, kalian bertiga pasti masih cape. Khalil ajak adikmu ke kamar di sebelah kamar kamu yah, dan untuk Riko ada kamar tamu yang sudah paman sediakan!” perintah Sadam dengan senyuman.
“Selamat menunggu kabar buruk hari ini Kak Khalil,” lirih Niken yang hanya bisa terdengar oleh dirinya saja.
Khalil membawa Khadijah menuju lantai atas dimana kamarnya berada, Khadijah tersenyum saat Khalil membukakan kamar bernuansa biru dengan beberapa ornamen yang membuat Khadijah sangat nyaman. Apalagi tepat di meja rias dan poto alm. Kedua orang tua mereka, ini seperti kamar impian yang alm. Umminya katakan dimana dia ingin melihat Khadijah tumbuh dewasa dan mendekor kamar putra dan putrinya dengan nuansa biru. Khadijah akhirnya meneteskan airmatanya, mengingat kebersamaannya dengan Ummi Aisyah.
“Kamu kenapa, dek?” tanya Khalil lalu membawa Khadijah duduk di sofa dekat tempat tidurnya.
“Khadijah merindukan Ummi kak, beliau pernah bilang jika anak-anak Ummi sudah dewasa. Ingin sekali dia mendekor kamar kita seperti ini,” lirih Khadijah.
Khalil memeluk adiknya, dirinya harus kuat untuk menjalani hidup kedepannya. Sabrina yang membawa nampan berisi makanan dan buah-buahan untuk keponakannya merasa bangga memiliki sosok Khalil yang selalu melindungi keluarganya bahkan memberikan kasih sayang dengan tulus terhadap putri kesayangannya. Ponsel Khalil berdering, lelaki itu melepaskan pelukannya lalu meminta izin pada Khadijah untuk kembali pergi ke perusahaan karena ada meeting mendadak dengan beberapa direksi.
Sabrina memasuki kamar keponakannya dan menaruh nampan itu di atas nakas, Khalil berpamitan pada Ummahnya untuk ke kantor sekarang. Khadijah mengusap pipinya dan tersenyum di balik niqobnya, Sabrina duduk di sebelah Keponakannya dan mengusap puncuk kepalanya.
“Pantas saja Kak Adam dan Kak Aisyah, sangat bahagia mempunyai kedua malaikat seperti kalian. Ternyata kalian berdua adalah anugerah terindah untuk keluarga besar kami, Ummah sangat yakin pada Khalil untuk menjaga kamu sampai kelak ada seorang pria yang akan meminangmu.” Sabrina tersenyum dan memberikan sepiring makanan buatannya, Khadijah tersenyum lalu meminta Sabrina untuk menyuapinya.
Khalil dan Riko kembali ke perusahaan untuk breafing staff, lelaki itu mendapatkan kabar dari sekretarisnya bahwa perusahaan cabang sudah berpindah alih tanpa sepengetahuannya. Khalil merasa ada yang sudah mempermainkan dirinya, mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai pada tempat tujuan. Lelaki itu merapihkan jasnya dan memasuki ruang rapat dengan tatapan yang tidak biasa, Khalil memeriksa semua dokumen yang diberikan oleh anak buahnya.
Lelaki itu mengepalkan tangannya saat melihat nama yang tertera di dokumen itu, jadi selama lelaki itu tidak berada di pekanbaru. Sepupunya sendiri yang dengan enaknya mengambil kesempatan untuk mendapatkan perusahaan cabang miliknya, Khalil meminta Riko untuk menyelidiki siapa anak buah Niken yang dengan sengaja membantunya untuk mendapatkan perusahaan cabang itu, Riko menyarankan Khalil untuk keluar dari rumah Sadam agar putrinya itu tidak berbuat macam-macam pada Khadijah.
Karena yang selama ini Riko tau, Niken terobsesi oleh harta dan salah mengartikan kasih sayang dari Khalil. Khalil hanya bisa menghela napasnya dan menyetujui ide dari Riko untuk keluar dari rumah itu, setelah selesai breafing staf. Riko mengantarkan Khalil ke rumah alm. Adam yang tidak jauh dari perusahaannya itu, Khalil memasuki rumah itu dan melihat sekeliling ornamen milik alm. Abinya.
Khadijah merogoh saku gamisnya lalu membuka e-mail dari salah satu ikhwan yang sudah dia pilih untuk menjalani proses ta’arufnya kali ini, mungkin saat Khalil pulang nanti akan dibicarakan masalah niatnya untuk melanjutkan proses ta’aruf bersama ikhwan ini. Dering ponsel berbunyi, Khadijah langsung melihat siapa yang menelponnya lalu mengangkatnya. Dahi gadis itu berkerut saat Khalil mengatakan jika salah satu anak buah Riko akan menjemputnya untuk tinggal di kediaman milik Alm. Abi adam.
Khadijah menghela napas dan bersiap-siap untuk menunggu anak buah Riko, tak lama kemudian asisten rumah tangga Sabrina mengatakan jika suruhan Riko menunggu dibawah untuk menjemput dirinya. Khadijah di jemput oleh suruhan anak buah Riko untuk menuju rumah milik alm. Abi Adam, sepanjang perjalanan Khadijah tersenyum sambil memegang buku Fatimah kesayangannya. Sesampainya di rumah milik Abi Adam, Khadijah terkejut saat melihat beberapa balon terbang dengan banner bertulisan Welcome Khadijah. Perempuan itu tak kuasa menahan harunya dan langsung memeluk Khalil yang sedang memegang bucket bunga dan coklat di tangannya.
Khadijah merasa bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya, bahkan kejutan yang dia dapat dalam waktu kurang dari satu bulan ini. Khalil tersenyum bisa membuat adik kesayangannya itu merasakan kebahagiaan yang tak ternilai hari ini, walaupun dirinya harus mencari cara untuk merebut kembali perusahaan cabang miliknya, Khalil tidak ingin Khadijah mengetahui tentang masalah perusahaan yang tengah menimpa keluarganya saat ini.