“Tunggulah aku untuk datang meminangmu wahai kau calon ibu dari anak-anakku.. #rayhan”
Dua bulan sudah berlalu, Rayhan selama ini memang sering komunikasi dengan perempuan yang bernama khadijah itu, setelah pertemuannya di tempat kajian beberapa waktu lalu. Bahkan lelaki itu mantap untuk menjalani proses ta’aruf bersama perempuan itu.
Setelah pertemuan dengan beberapa direksi hari ini, lelaki itu akan bersiap kembali ke bandung untuk menemui kedua orang tuanya. Rasa rindu melanda hatinya ketika mengingat wajah Umminya, Rayhan tipikal orang yang sangat mencintai dan menyayangi keluarga. Dia rela untuk meninggalkan pekerjaannya demi melihat sendiri kesehatan kedua orang tuanya.
Islah memasuki ruangan Rayhan dengan membawa dokumen dan tiket pesawat keberangkatan menuju kota Bandung, sekretarisnya itu mengatakan jika minggu depan ada pertemuan dengan Niken Anjani putri dari Sadam. Dia membaca dokumen tersebut mengenai perjanjian kerjasama dengan perusahaan miliknya.
****
Ditempat lain Khadijah dan Khalil sudah dua bulan lebih menempati rumah kediaman kedua orang tuanya, bersama beberapa asisten rumah tangga yang selalu membantu Khadijah untuk membersihkan rumah. Setelah shalat subuh Khadijah selalu membantu mbok Minah untuk menyiapkan sarapan pagi, Khalil yang baru saja beres mandi dan siap-siap untuk meeting pagi akhirnya memutuskan untuk turun dari kamarnya lebih awal.
Khadijah yang melihat kakaknya menuruni anak tangga berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil s**u dan beberapa selai, Khalil duduk di meja makan lalu membaca email masuk yang dikirimkan oleh Riko sekretaris pribadinya itu. Lelaki itu sengaja setiap malam menonaktifkan ponselnya dan fokus untuk menghabiskan malam bersama adik kesayangannya, baru paginya dia akan mengaktifkan kembali ponselnya. Khadijah yang merasa di acuhkan oleh kakaknya, mempunyai ide jahil untuk mencampurkan garam pada teh hangatnya.
“Silahkan di minum teh hangatnya kak, jangan main ponsel dulu ini di meja makan bukan di ruang keluarga.”
Dengan senyuman khasnya, Khalil menaruh kembali ponsel di saku jasnya lalu memakan setumpuk roti tawar yang diolesi selai kacang dan keju parut kesukaannya, Khadijah menatap kakaknya lalu tersenyum jahil saat Khalil akan meminum teh hangat buatannya itu.
“Terimakasih Khadijah yang manja, sudah membuatkan teh hangat dan roti kesukaan kakak.” Khalil langsung meminumnya dan mimik wajah lelaki itu berubah saat merasakan asin pada lidah pengecapnya, sementara Khadijah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Khalil.
“Muka kakak, lucu sekali rasanya Khadijah pengen videoin pas kakak minum teh hangat itu.” Gelak tawa memenuhi ruang makan keluarga alm. Adam.
“Sudah mulai jahil yah kamu, awas saja malam tidak akan kakak antar untuk membeli bahan makanan.”
“Ummi! Kak Khalil jahat,” lirih Khadijah dengan mata berkaca-kaca, sementara Khalil tersenyum dan memeluk tubuh mungil adiknya itu.
“Maafin kakak yah, tadi hanya bercanda kok. Oh iya nanti sore kamu siap-siap biar Riko yang menjemputmu untuk ke kantor kakak yah!” perintah Khalil sambil mengusap airmata yang menetes di pipi adiknya itu.
“Baiklah Kak, apakah nanti malam ada acara?” tanya Khadijah dengan ragu dan menundukkan pandangannya.
Khalil mengambil secangkir teh hangat yang sudah dibuatkan mbok Minah lalu menghirup aroma mint itu dengan nikmat, “Malam ini kakak tidak ada acara, kenapa kamu menanyakan itu dek?”
“Ada yang ingin Khadijah bicarakan kak, tapi sebaiknya pas makan malam saja yah!”
“Kenapa tidak sekarang saja? coba ceritakan sama kakak apakah ada masalah dirumah atau dibutik milik Ummi?” pertanyaan yang bertubi-tubi Khalil berikan pada Khadijah lalu tangan kanannya menepuk kursi disampingnya.
Khadijah duduk di sebelah Khalil lalu memberikan ponselnya untuk ditunjukkan email masuk dan Cv. Ta’aruf dari seorang ikhwan, Khalil membaca setiap kata yang tertulis di email itu. Dia menaruh kembali ponsel Khadijah lalu merapihkan jasnya untuk segera berangkat ke kantor.
“Kak, kenapa hanya diam saja!” lirih Khadijah dengan mata sudah berkaca-kaca.
“Suruh lelaki itu menemui kakak, malam ahad!”
Khadijah yang merasakan perbedaan disetiap ucapan Khalil setelah memberitahu jika ada seorang laki-laki yang akan datang kerumahnya, Khalil mengambil tas kantornya lalu meninggalkan adiknya itu dengan rasa yang berkecambuk. Khadijah mengikuti langkah kaki Khalil ke pekarangan rumahnya dengan muka yang sendu, sebelum memasuki mobilnya Khalil mencium kening adiknya lalu tersenyum. Mang Daus membukakan pintu penumpang dan mempersilahkan majikannya untuk masuk, Khalil memasuki mobilnya lalu melambaikan tangannya saat mobil itu keluar dari pekarangan rumahnya.
Sementara Khadijah setelah melihat mobil kakaknya sudah menghilang dari pandangannya, perempuan itu memasuki rumah dengan muka yang kusut langkah kakinya lunglai. Dirinya mengambil ponsel yang sengaja di simpan diatas meja makan lalu menghubungi paman Dicky untuk mengatakan jika seorang ikhwan mengajaknya ta’aruf.
Khalil tidak fokus untuk bekerja hari ini, apalagi setelah rapat dengan beberapa direksi untuk pembukaan cabang baru di yogyakarta dirinya hanya melamun saja memikirkan ucapan Khadijah. Akankah dirinya harus melepaskan Khadijah untuk melangkah menuju bahtera rumah tangga, walaupun mereka baru kembali bertemu tapi Khalil belum puas untuk memberikan kebahagiaan pada Khadijah seperti mendiang kedua orang tuanya berikan.
***
Pesawat yang Rayhan tumpangi baru saja sampai di Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara, senyuman lelaki itu terukir saat melihat kedua orang tuanya sudah menunggu di ruang tunggu. Ummi Nazwa merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Rayhan, lelaki itu langsung melepaskan tas gendong dan kopernya lalu memeluk Umminya.
Ummi Nazwa bahagia sekali saat putra semata wayangnya mengabarkan jika dirinya akan ke kota Kembang itu, senyuman Abi Rehan terukir saat anaknya mengatakan semua perusahaan aman terkendali dan dirinya memenangkan tender besar di pekanbaru.
“Akhirnya putra Ummi kembali lagi yah,Bi,” ucap Ummi Nazwa sambil mengusap pipi Rayhan.
“Benar sekali Ummi, mungkin putra kita merindukan tanah kelahirannya walaupun sebelumnya Rayhan pergi ke Pekanbaru untuk melupakan sosok wanita dimasa lalunya.”
“Rayhan kembali karena ada yang perlu dibicarakan Ummi,Abi, sebaiknya kita bicarakan dirumah saja yah. Rasanya badan putra kalian ini sangat lelah sekali.”
Ummi Nazwa akhirnya menyetujui ucapan putranya itu, dirinya berjalan duluan bersama putra semata wayangnya sedangkan Abi Rehan berjalan dibelakang mereka membawa koper Rayhan. Sepanjang perjalanan Rayhan memejamkan matanya dan memikirkan bagaimana cara menyampaikan niat baik pada kedua orang tuanya, kepulangannya kali ini ke kota kembang membawa niat baik untuk membahas mengenai Khitbah dengan seorang akhwat yang sudah memikat hatinya.
Senjapun tiba, Khadijah sudah siap dengan gamis berwarna hitam dengan kerudung yang senada. Dia memoles wajahnya dengan bedak yang tipis tak lupa memakai Niqobnya, kedua matanya terlihat sendu saat mengingat kejadian tadi pagi. Suara klakson berbunyi Khadijah berjalan keluar kamarnya dengan memakai tas selempang dan sepatu kets kesayangannya, saat membuka knop pintu rumah pandangannya beradu dengan Riko sahabat dari kakaknya itu.
Riko merasa canggung dan menundukkan pandangannya, lelaki itu mempersilahkan Khadijah berjalan duluan untuk memasuki mobil sedan hitam yang dibawanya, setelah Riko memasuki mobil itu dan duduk di belakang kemudi atmosfer kecanggungan sangat terasa di dalam mobil. Khadijah menatap jalanan sore hari sambil menggenggam erat kedua tangannya, dirinya sangat takut jika Khalil tidak menyetujui keputusannya untuk ta’aruf dengan ikhwan itu.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil sedan hitam milik Riko telah sampai di parkiran khusus petinggi perusahaan, lelaki itu membukakan pintu penumpang dan mengikuti langkah kaki Khadijah menuju ruangan Khalil. Khalil yang tengah memejamkan matanya terganggu saat tangan halus memegang pundaknya itu, senyuman Khadijah terukir saat melihat kakaknya sangat kelelahan bekerja.
“Afwan, dek, tadi kakak kelelahan setelah makan siang dan kembali rapat dengan Riko,” ucap Khalil sambil meneguk coklat panas yang tersedia di depannya.
“Tidak masalah kak, apakah Khadijah perlu membantu kakak bekerja diperusahaan Abi?” tanya Khadijah sambil mengambil beberapa berkas yang berceceran di meja kakaknya.
“Tidak perlu, kamu cukup untuk menjaga butik milik Ummi saja. Dan lagi pula kakak tidak mengijinkan kamu untuk terjun kedunia bisnis perkantoran seperti ini, lebih baik kamu fokus saja dengan butik dan kesehatan kamu lebih utama. Karena kakak tidak mau kamu sakit karena kelelahan bekerja!”
“Tapi ucapan kakak juga harus berlaku juga dong, masa cuman Khadijah saja yang tidak boleh kelelahan. Nanti kalau kakak sakit terus yang mengerjakan tugas dikantor Abi siapa? Lalu jika Khadijah sudah menikah yang merawat kakak ataupun mengingatkan kakak untuk menjaga pola makan siapa?” khadijah memberikan pertanyaan beruntun pada Khalil.
“Satu-satu dek kalau bertanya, pertama jika kakak sakit tentunya kamu yang akan menjaga selama sakit. Lalu jika tugas kantor Riko bisa mengirim email bahkan masih bisa di heandle oleh dirinya, pertanyaan kedua jika kamu sudah menikah maka kakak akan kesepian kembali dan bisa jadi nanti kamu akan tetap tinggal dipekanbaru selama belum menemukan tulang rusuk,” Khadijah membola saat mendengar penuturan Khalil.
“Apaan sih kak, bukankah seorang wanita yang sudah halal itu harus ikut dengan suaminya. Kenapa kakak malah melarang Khadijah untuk tetap tinggal disini, sementara suami Khadijah nanti meminta untuk ikut dengan dirinya.”
“Ternyata adiknya kakak sekarang sudah dewasa yah, sudah mulai membahas calon suaminya nih. Memang siapa sih calon Ikhwan yang akan melamarmu, dan sudah sejauh mana hubungan kalian selama ini?”
“Ikhwan itu asli orang bandung, dia bernama Rayhan Farhan dan sebentar biar Khadijah cek Cv. Ta’arufnya terlebih dahulu,” Khadijah memeriksa ponselnya mencari cv. Ta’aruf Ikhwan tersebut di emailnya.
“Sudah ketemu?” tanya Khalil pada adiknya, Khadijah menunjukkan cv ikhwan itu sementara Khalil bola matanya membulat melihat siapa ikhwan yang berta’aruf dengan adiknya itu.
“Kenapa kak, apa ada yang salah?”
“Tidak, sepertinya wajah lelaki itu sangat mirip dengan kolega diperusahaan cabang kita yang sudah diambil alih oleh Niken. Oh iya kalau begitu kabari dia, malam ahad ini suruh kerumah kita biar kakak yang akan menghubungi paman Dicky dan bibi Diana!”
“Afwan,kak, sebenarnya paman dan bibi sudah tau untuk masalah ta’aruf ini. Karena sudah sekitar dua bulan yang lalu bahkan sewaktu Khadijah masih dibandung sudah menjalani proses Ta’aruf ini, Dan mereka akan ke pekanbaru besok lusa,” lirih Khadijah.
“Astagfirullah, jadi cuman kakak saja yang belum tau masalah ini. Yasudah biar kakak yang akan menghubungi paman Sadam dan Ummi Sabrina saja.” Setelah mengucapkan itu tiba-tiba pintu ruangan Khalil terbuka, Riko memasuki ruangan atasannya itu untuk memberikan berkas-berkas yang harus ditanda-tangani oleh Khalil sementara diselipan beberapa dokumen itu memang sudah tersedia biodata dan latar belakang dari pria yang sudah menjalin Ta’aruf dengan adiknya itu. Khalil sengaja disaat adiknya lengah dengan sengajanya lelaki itu mencari tau siapa lelaki itu, sangat mudah untuk Khalil mencari tau siapa dia.
Sementara Khadijah lebih memilih duduk dan memainkan ponsel di sofa yang tersedia sambil menunggu selesainya tugas kakaknya itu, matahari pun akhirnya mulai terbenam dan adzan magribpun mulai berkumandang. Khadijah berdiri dan memasuki kamar pribadi Khalil yang tersedia di dalam ruangannya untuk melaksanakan sholat magrib, Khalil yang mendengar kumandang adzan magrib langsung menyusul Khadijah untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah.
keduanya memiliki prinsip untuk meningglkan hal penting untuk melaksanakan sholat yang utama karena amalan yang paling afdhol adalah sholat tepat waktu seperti dalam hadis HR. Abu Daud no. 426.
Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Shalat di awal waktunya.” (HR. Abu Daud no. 426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Banyak yang akan kalian jika melakukan Shalat di Awal Waktu, karena Shalat di awal waktu merupakan salah satu bentuk upaya seorang muslim untuk memelihara hubungannya dengan Allah swt. Ia tidak hanya memerhatikan pelaksanaan shalat sesuai tata caranya, akan tetapi telah memprioritaskan Allah di atas segalanya terutama meninggalkan hal penting demi menyapa Rabb-Nya.
Allah pun akan senantiasa untuk mengasihi hamba-Nya yang berlaku seperti ini dengan menjanjikannya memperoleh keutamaan shalat di awal waktu yang meliputi :
1. Masuk Surga
Abu Daud dari Abu Qatadah bin Rib’iy mengabarkan kepadanya, Rasulullah SAW bersabda,
“Allah Ta’ala telah berfirman: sesungguhnya Aku mewajibkan umatmu shalat lima waktu, dan Aku berjanji bahwa barangsiapa yang menjaga waktu-waktunya pasti Aku akan memasukkannya kedalam surga, dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka dia tidak akan mendapatkan apa yang aku janjikan.”
2. Mendapat Pengampunan Dosa
“Sesungguhnya hamba yang muslim, jika menunaikan shalat dengan ikhlas karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini dari pohonnya.” (HR. Ahmad)
3. Memperoleh Pahala Besar
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW,
“…Seandainya orang-orang mengetahui pahala azan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi.
Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan shalat pada awal waktu, nisaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya…”
Merujuk hadits ini, Rasulullah SAW telah menerangkan seseorang yang mengerjakan shalat di awal waktu akan memperoleh pahala yang berbeda, yakni memperoleh salah satu pahala yang sangat besar dalam Islam.
4. Dicintai Allah
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya, berbakti kepada orang tua, dan jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain empat keutamaan shalat di awal waktu menurut hadits tersebut, Utsman bin Affan r.a menjelaskan sembilan keutamaan atau kemuliaan lain yang akan diperoleh seorang muslim yang shalat di awal waktu.
“Barangsiapa selalu mengerjakan shalat lima waktu tepat pada waktu utamanya, maka Allah akan memuliakannya dengan sembilan macam kemulian, yaitu dicintai Allah, badannya selalu sehat, keberadaannya selalu dijaga malaikat, rumahnya diberkahi, wajahnya menampakkan jati diri orang shalih, hatinya dilunakkan Allah, dimudahkan saat menyebrang As-Shirath seperti kilat, akan diselamatkan Allah dari api neraka,
dan Allah menempatkannya di surga kelak bertetangga dengan orang-orang yang tidak ada rasa takut bagi mereka dan tidak pula bersedih hati.”
oleh sebab itu Khalil maupun Khadijah sejak kecil sudah diajarkan untuk melaksanakan sholat tepat waktu oleh kedua orang tuanya, betapa bahagianya kedua orang tua mereka setelah didikan keduanya berhasil menjadikan putra dan putrinya menjadi sholeh dan sholeha seperti saat ini.