Bab 11

1483 Kata
Abdullah Ibnu Mas'ud Radhiallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu."           Rayhan dari keluarganya baru sampai kediamannya sehabis melaksanakan shalat magrib di masjid komplek terdekat, Ummi Nazwa langsung memasuki dapur untuk membuatkan coklat panas kesukaan putra dan suaminya itu. Rehan mengajak putra semata wayangnya memasuki ruang kerja untuk membahas beberapa masalah perusahaan dibandung.           Ummi Nazwa membawa nampan berisi minuman dan cemilan untuk keluarga kecilnya itu, senyuman wanita paruh baya itu terukir saat melihat wajah bahagia putranya itu. Rayhan meraih nampan itu lalu menyimpannya di meja yang tersedia, Ummi Nazwa duduk disamping suaminya yang sedang menceritakan masalah bisnis yang tengah melanda diperusahaan miliknya itu.           “Kenapa perusahaan pusat disini malah menjadi penurunan bi, pasti ini ada permainan salah satu staf kita yang memanipulasi dokumen pengeluaran kantor.”           “Cobalah kamu selidiki perusahaan pusat disini, biar Abi yang mengelola perusahaan di Pekanbaru!” perintah Abi Rehan pada putranya itu membuat Rayhan membulatkan matanya.           “Tidak bi, kedatangan Rayhan ke kota ini bukan untuk mengelola perusahaan pusat. Tetapi ada niat baik yang ingin Rayhan sampaikan pada kalian berdua, Bismillahirrahmanirrahim malam ahad minggu ini Rayhan akan mengkhitbah Siti Khadijah.”           “Maasyaa Allah,nak, Ummi senang sekali mendengarnya. Tapi apakah kamu sudah benar-benar mencintai wanita itu karena Allah atau obsesi kamu saja seperti pada Maryam.”           “Insya Allah, Rayhan mencintai wanita itu karena Allah ridhoi putramu ini, Ummi,” Rayhan meraih tangan kanan Ummi Nazwa dan mencium punggung tangannya.           “Ummi dan Abi pasti akan meridhoi keputusanmu nak, jadi apakah kami harus kerumah calonmu itu kapan?” tanya Ummi Nazwa antusias.           “Kita akan ke pekanbaru hari Kamis Ummi, dan tenang saja semua persiapannya sudah Rayhan siapkan di sana. Jangan khawatir untuk tiket pesawat dan penginapan karena,” Rayhan menjeda kalimatnya “Putramu ini sudah menyediakan tiket pesawat dan hotel bintang lima untuk kalian berdua,” Rayhan memberikan tiket itu pada Ummi dan Abinya.           Sementara Abi Rehan memandang wajah putranya dengan serius, lelaki itu takut jika putranya tidak mencintai calon istrinya itu dengan tulus. Memorinya kembali mengingat betapa putra kesayangannya itu mencintai Maryam adik dari Edi Zulkarnain, bahkan lamaran putranya itu ditolak begitu saja. Apakah benar Rayhan sudah melupakan Maryam atau belum hanya putranya yang tau, tetapi Abi Rehan berharap jika putranya itu tidak mempermainkan perasaan wanita.           Bunyi notifikasi dari ponsel Rayhan akhirnya membuat lelaki itu dengan cepat melihat siapa yang mengirim pesan padanya, senyuman itu terukir begitu saja saat pesan masuk dari akhwat yang akan dilamarnya. Khadijah Assalammu’alaikum mas Rayhan, Mohon maaf sebelumnya mengganggu waktunya, kakak saya ingin mengenal mas Rayhan dan keluarga. Apakah bisa untuk malam ahad ini datang ke kediaman kami. 19.15 Rayhan Wa’alaikumussalam Khadijah, Insya Allah malam ahad kami sekeluarga akan bersilaturrahmi ke rumahmu, bilang pada kakakmu untuk menunggu saya membawa niat baik melamarmu malam ahad nanti. 19.17 Khadijah Maasyaa Allah mas, Akan Khadijah sampaikan pada kakak dan paman niat baik mas Rayhan untuk melamar Khadijah. 19.20   Rayhan Baiklah, jaga diri kamu baik-baik dan sampai jumpa malam ahad. 19.22 ****           Malam yang ditunggu-tunggu oleh Khadijah akhirnya pun tiba, malam ini akan menjadi sejarah yang akan perempuan itu kenang. Dimana seorang ikhwan yang mengajaknya ta’aruf malam ini akan melamar Khadijah bersama keluarganya, senyuman manis perempuan itu terukir dari balik niqob.           Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Khadijah, perempuan itu langsung menaruh ponselnya dan berlari menuju arah pintu untuk membukanya. Seorang pria berpakaian batik tengah tersenyum dengan membawa setangkai bunga mawar merah, siapa lagi jika bukan Khalil kakak kandung dari Khadijah.           Khadijah tersenyum melihat kakaknya lalu memeluk tubuh Khalil dengan erat, lelaki itu membalas pelukan adiknya dengan mata yang berkaca-kaca. Malam ini lelaki itu akan menyaksikan jika adik kecilnya itu akan melangkah menaiki satu anak tangga untuk menuju halal.           “Syukron,Kak, karena sudah mencari khadijah dan menjemput adikmu ini dari rumah paman Dicky, Khadijah sayang sekali sama kakak andai jika Abi dan Ummi masih ada mungkin ini adalah momen paling bahagia bagi mereka,” lirih Khadijah.           “Stt, sudah jangan sedih lagian juga ini hanya pertemuan kedua belah pihak. Apakah kamu yakin ingin menerima lamaran lelaki itu Khadijah?” tanya Khalil sambil mengusap pipi adiknya dari balik niqob.           “Kakak akan menemukan jawabannya saat keluarga Mas Rayhan datang.”           “Sudah, sudah, sebaiknya Khalil segera turun kebawah karena satpam mengatakan jika keluarga nak Rayhan sudah sampai,” ucap Paman Dicky saat melihat kedua keponakannya tengah berdiri di depan kamar Khadijah.           Khalil mencium puncuk kepala adiknya lalu berjalan duluan bersama paman Dicky sementara bibi Diana berjalan dibelakang mereka berdua sambil merangkul Khadijah, Paman Sadam dan bibi Sabrina sudah lebih dulu menyambut kedatangan keluarga dari Rayhan.           Rayhan duduk bersama kedua orang tuanya dengan membawa beberapa hadiah untuk diberikan pada gadis yang akan dikhitbahnya itu, jangan tanyakan apakah Rayhan sudah mencintai Khadijah. Hanya hati kecil lelaki itu yang tau, raut wajah Abi Rehan memancarkan aura yang tidak bisa dibaca saat melihat gerak-gerik putra semata wayangnya itu.           Pernikahan  bukanlah permainan, Pernikaan adalah salah satu ibadah yang paling utama dalam pergaulan masyarakatagama islam dan masyarakat.  Pernikahan juga merupakan ibadah paling lama seumur hidup, bukan saja merupakan satu jalan  untuk membangun rumah tangga dan melanjutkan keturunan. Pernikahan juga dipandang  sebagai jalan untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah dan memperluas serta memperkuat tali silaturahmi diantara dua insan manusia.           Ummi Nazwa yang melihat suaminya sedikit tegang mencoba mencairkan suasana hatinya dengan menggenggam erat tangan kekar suaminya itu, Rayhan tengah berbincang-bincang bersama Paman Sadam dan bibi Sabrina melontarkan beberapa pertanyaan pada calon suami dari keponakannya itu. Khalil yang sudah menuruni anak tangga bersama paman Dicky akhirnya ikut berkumpul dengan tamu yang sudah hadir.           “Ayo silahkan di cicipi jamuannya,” ucap Niken sambil memberikan jamuannya.           “Syukron, nak, oh iya dimana calon wanita yang akan kamu pinang Rayhan?” tanya Ummi Nazwa sambil meraih cangkir yang dihadapannya.           Derap langkah terdengar, semua orang melirik ke arah Khadijah dan Bibi Diana disana. Kedua wanita berbeda usia itu sangat terlihat cantik, bahkan aura bahagia bisa Khalil lihat dari kedua mata hazel milik adik kesayangannya itu. Saat Khadijah melangkahkan kakinya menuju Khalil, Niken yang membawa nampan berisi coklat hangat sengaja menabrak Khadijah dan membuat pakaian dari saudaranya itu terkena tumpahan coklat hangat.           Ummi Nazwa sangat panik saat melihat tangan Khadijah terkena siraman coklat panas itu, perempuan paruh baya itu langsung menghampiri Khadijah lalu membantu membersihkan pakaiannya dengan tisu basah yang selalu dia bawa, sementara Niken tersenyum sinis melihat pakaian bahkan tangan sepupunya itu yang kena imbasnya. Khalil langsung menarik tangan Niken untuk menjauhi perempuan itu dari adik kesayangannya.           “Belum puas rupanya kamu, Niken!”           “Oh, iya kau benar sekali Kakak Khalil yang terhormat, karena dendam Niken belum terbayar sepenuhnya jika belum melihat Khadijah menderita.”           “Buang pikiran jahat kamu Niken, Khadijah itu adalah adik kandung saya. Tidak sewajarnya kamu berprilaku seperti itu, apalagi ini adalah malam pertemuan dari kedua belah pihak yang akan meminang Khadijah!” bentak Khalil pada saudaranya itu.           “Lihat saja nanti Khadijah akan menderita lahir dan batin.” Niken tersenyum sinis dan memukul pundak Khalil dengan sedikit keras sebelum meninggalkan lelaki itu.           Khalil menelpon anak buahnya untuk terus memantau gerak-gerik Niken, sementara dirinya dan Riko akan terus memantau Rayhan. Mana mungkin Khalil akan tinggal diam jika sudah menyangkut tentang Khadijah adik kesayangannya itu. Lelaki itu kembali duduk bersama keluarga yang lain.           “Afwan, tadi Niken tidak sengaja jadinya Khadijah yang kena tumpahan coklat hangat itu. Oh iya saya mempunyai beberapa pertanyaan untuk Rayhan?”           “Afwan, jika saya mempunyai jawabannya akan dijawab.”           “Apakah kamu mencintai adik saya karena Allah, atau hanya karena obsesimu untuk mendapatkan kerjasama dengan perusahaan kami?” tutur Khalil membuat Rayhan mengeraskan rahangnya karena tersindir atas pertanyaannya itu, lelaki itu menarik nafas lalu mengontrol emosinya.           “Kakak, kok malah menanyakan seperti itu?” tanya Khadijah.           “Sudah kamu diam saja dek, karena kakak tidak mau kamu menjadi alat lelaki seperti dia hanya untuk mendapatkan kontrak kerjasama dengan perusahaan kita. Kamu itu adik kakak satu-satunya, wajar saja kalau kakak lebih selektif mencari calon pasangan untukmu.”           “Saya mencintai Khadijah karena Allah, bukan karena untuk mendapatkan kerjasama dengan perusahaan anda bapak Khalil. Kedatangan saya kesini untuk meminang Khadijah menjadi istri saya dan menjadikannya ibu bagi anak-anak saya kelak.”           Khadijah menundukkan pandangannya, Ummi Sabrina dan bibi Diana memegang kedua tangan keponakannya itu. Khalil menganggukan kepalanya, lalu menatap kedua bola mata adik kesayangannya itu. dari tatapan Khadijah memancarkan harapan agar kakaknya meridhoi pilihan hatinya itu, Paman Sadam dan Paman Dicky akhirnya meraih kedua tangan Khalil dan berbicara enam mata di ruang kerja alm. Kakaknya itu, paman Dicky menceritakan betapa antusiasnya Khadijah saat memberitahukan jika ada lelaki yang ingin mengajaknya ta’aruf itu. hati kecil Khalil akhirnya mencair karena ucapan kedua pamannya itu, ketiga lelaki itu melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.           Khadijah menerima lamaran dari Rayhan, mau tidak mau akhirnya Khalil menerima lelaki itu sebagai calon adik iparnya. Ummi Sabrina dan Ummi Nazwa membawa Khadijah ke kamar tamu lalu di ikuti Rayhan, sudah saatnya lelaki itu melihat wajah cantiknya calon istrinya itu.           Tak lupa mereka berempat kembali ke ruang tamu dan Ummi Nazwa mulai menyematkan cincin di jari manis calon menantunya itu, Ummi Sabrina pun melakukan hal yang sama menyematkan cincin di jari manis Rayhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN