“Seorang wanita, Allah menjadikannya bukan dari tulang kaki untuk dipakai pijakan. Bukan pula diciptakan dari kepala seorang laki-laki untuk menyombongkan dirinya, tetapi dia diciptakan dari tulang rusuk di bawah tangan untuk dilindungi dan di dekatkan dengan hati untuk selalu dicintai. Karena wanita itu diciptakan untuk dicintai bukan untuk disakiti. #Khalil”
Malam semakin larut, akhirnya keluarga dari pihak Rayhan turut undur diri untuk kembali kepenginapan mereka. Sementara Keluarga Khadijah tengah sibuk membicarakan proses ta’aruf yang dijalani oleh keponakannya itu, Khalil lebih memilih untuk meninggalkan keluarganya itu dan berjalan menuju taman belakang dimana sewaktu kecil adalah tempat yang sama Abi Adam selalu melepas penat disana.
Mata hazel lelaki itu menatap ke langit dengan berkaca-kaca, apakah dirinya harus ikhlas melepas adiknya atau tidak. Walaupun sangat sulit untuk memberikan tanggung jawab Khadijah pada lelaki selain dirinya dan kedua pamannya itu, mungkin emang benar jika tanggung jawab anak perempuan akan beralih yang awalnya dari ayahnya/ kakaknya berpindah pada sang suami yang sah setelah ijab qabul itu terucap.
Tapi dari sorot mata yang Khalil lihat, lelaki itu tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan batin pada adiknya. Mungkin untuk finansial akan terpenuhi semua kebutuhan Khadijah, tetapi mengenai batin apakah lelaki itu bisa menyembuhkan luka masa lalu adiknya itu.
Khadijah yang baru saja ingin memasuki kamarnya melihat kakaknya sedang berdiri tepat di bangku taman yang tersedia, perempuan itu melangkah kakinya mengendap-ngendap kearah kakaknya dan menutupi kedua mata lelaki itu dengan tangan halusnya.
“Khadijah! Kamu mulai jahil lagi yah.”
“Loh, kok kakak bisa tahu sih! Padahalkan Khadijah mengendap-ngendap jalannya!” ketus perempuan itu.
“Apa kamu lupa jika memakai parfum yang pernah alm. Ummi pakai, keharuman dari parfum itu menandakan jika kamu datang dengan tiba-tiba.”
“Yah, gagal deh mau membuat kakak terkejut. Engga asik ah!” Khadijah mulai merajuk dengan mengerutkan bibirnya, Khalil yang gemas lelaki itu langsung mendekap tubuh mungil adiknya itu.
“Jangan pernah kamu mencoba menutupi semua masalah dimasa depan, karena jika kamu menutupi itu semua dengan lambat laun kakak akan tau sendiri dengan cara kakak.”
“Tidak mungkin Khadijah bisa menutupi semua rahasia dari kakakku yang paling ganteng ini, siapa sih yang akan menutupi semua masalahnya pada dirimu kak,” Khadijah bergelayut manja pada tangan kekar Khalil lalu mengajaknya duduk di ayunan yang tersedia.
“Benarkah, lihat saja nanti jika itu terjadi maka kakak akan menghukummu Khadijah!” ketus Khalil sambil mengusap puncuk kepala adiknya itu.
Diruang tamu Paman Sadam dan Paman Dicky tengah membahas tanggal yang pas untuk melaksanakan pernikahan keponakannya itu, sedangkan Ummi Sabrina dan Tante Diana tengah sibuk mempersiapkan untuk catering dan beberapa persiapan lainnya. Niken yang melihat semua sibuk pada pernikahan sepupunya itu hanya bisa tersenyum sinis untuk kembali melaksanakan aksi jahatnya, perempuan itu berjalan memasuki kamar tamu dengan segera menelpon beberapa anak buahnya.
Malam semakin larut, Khalil mengajak adiknya masuk kedalam rumah untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Sementara diruang tamu sudah kosong mungkin paman dan bibinya sudah pada beristirahat, Khalil menggenggam tangan Khadijah dengan melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Khadijah sangat bahagia mempunyai kakak yang amat menyayanginya itu, akankah dirinya akan tetap merasakan kasih sayang dari keluarganya setelah menikah nanti. Akankah Rayhan akan mencintainya sama seperti dia mencintai agamanya dan penciptanya, semua itu hanya Allah yang tahu.
****
Di sepertiga malam, seorang lelaki tengah duduk diatas sajadah dengan bibir Mengucapkan Tasbih, Tahmid, Takbir, matanya berkaca-kaca kala mengingat tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya itu, isakan tangisnya pecah saat dirinya berjalan menuju pigura dimana poto kedua orang tuanya tengah tersenyum ke arah kamera.
Lelaki itu mengusap poto kedua orang tuanya dengan derai air mata, di depan Khadijah lelaki itu sangat tegar dan berusaha untuk menyembuhkan trauma pada adiknya itu tetapi jika lelaki itu sedang sendirian hati kecilnya merasa sangat sakit saat mengingat kepergian kedua orang tuanya itu. Berulang kali mencoba ikhlas tetapi sangat sulit sekali, lelaki itu hanya berharap semoga di masa depan dia dipertemukan oleh separuh dari tulang rusuknya untuk melengkapi satu sama lain.
Khadijah yang baru saja keluar dari kamarnya, dengan langkah kaki yang gontai perempuan itu dengan samar mendengar suara isak tangis dari balik pintu kamar kakaknya. Perempuan itu mengetuk pintu kamar Khalil dengan wajah yang sangat cemas, wajar saja malam-malam begini gimana Khadijah tidak takut jika ada suara menangis.
Khalil yang mendengar ketukan pintu akhirnya buru-buru ke kamar mandi untuk membasuh mukanya agar lebih fresh kembali lalu membukakan pintunya, Khadijah yang sedikit panik karena Khalil membukanya lama akhirnya memeluk tubuh kakaknya itu.
“Hei, kenapa kamu belum tidur dek? Ini sudah malam tidak baik calon wanita yang sudah dilamar tidur larut seperti ini!” perintah Khalil
“Iihh, kakak, tadi Khadijah sudah tidur dan terbangun untuk melaksanakan sholat malam, ehh pas buka pintu kamar ada suara nangis di dalam kamar kakak. Apa jangan-jangan kakak habis nangis yah?” tanya Khadijah.
“Eh, enak aja, mungkin kamu salah dengar dek! Kakak baru beres sholat malam dan baca kalam Allah,kok, sudah mending kamu shalat sana dan sehabis sarapan semuanya akan membahas perihal persiapan pernikahan kalian!”
“siap, kak,” Khadijah memberikan hormat pada Khalil membuat lelaki itu tertawa.
Khadijah memasuki kamarnya kembali untuk melaksanakan sholat malam, pikirannya melayang kemana-mana. Setelah mengambil air wudhu Khadijah memulai untuk shalat malamnya, surah-surah pendek terdengar merdu kala perempuan itu melaksanakan shalat malam. Setelah melaksanakan sholat malam, Khadijah membuka laptopnya lalu mencari email masuk dari Rayhan, tetapi nihil lelaki itu tidak membalas email bahkan pesan yang Khadijah kirimkan.
****
Rayhan sengaja tidak membalas email, dan pesan dari Khadijah. Lelaki itu sengaja memberikan jarak pada calon istrinya itu, hati lelaki itu masih tertulis nama Maryam cinta pertamanya. Tetapi karena perempuan itu sudah menikah bahkan bahagia dengan lelaki pilihannya, apa boleh buat Rayhan hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuk kehidupan mereka.
Ummi Nazwa dan Abi Rehan sengaja menginap di apartement milik putranya itu, karena esok pagi rencananya akan kerumah keluarga Khadijah untuk membahas tanggal pernikahan dan fitting baju yang akan putra putrinya pakai saat akad nanti, senyuman Ummi Nazwa terpancar bahagia ketika putranya baru saja selesai shalat subuh.
“Ray, hari ini temani Ummi ke rumah calon istrimu yah! Karena kita akan fitting baju dan mempersiapkan segala keperluan untuk pernikahan kalian.”
“Afwan, Ummi, hari ini Rayhan ada rapat mendadak jadi tidak bisa untuk menemani Ummi dan Abi,” ucap Rayhan dengan senyuman di wajahnya.
“Biar Abi saja yang menggantikan rapat hari ini,nak. Temani Ummi kamu untuk fitting baju dan persiapan lainnya!” perintah Abi Rehan dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.
“Sial, kenapa ini jadi diluar rencana. Padahal sengaja menghindar dari Khadijah sampai akad tiba, tapi kenapa Abi malah menyuruh untuk menemuinya,” batin Rayhan sambil menatap Abinya.
“Baiklah Ummi, Rayhan akan bersiap-siap dari sekarang.”
Akhirnya Ummi dan Abi Rehan keluar dari kamar putra kesayangannya, Ummi Nazwa menghubungi temannya yang mempunyai butik dan menentukan janji temu tepat pukul sembilan siang nanti. Ummi Nazwa langsung menelpon Khadijah untuk bersiap-siap pagi ini karena akan dijemput oleh dirinya, karena hari ini fitting baju dan menemui WO untuk membahas konsep acara yang akan dilaksanakan nanti.
****
Setelah sarapan semua keluarga tengah membahas konsep acara pernikahan Khadijah dengan Rayhan, langkah kaki Khadijah membuat Khalil menatap kearah sumber suara tersebut. Bibi Diana menarik tangan Khadijah untuk ikut bergabung dengan keluarga lainnya, gadis itu hanya bisa tersenyum dibalik niqobnya.
“Ternyata keponakan kesayangan paman sudah dewasa, dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri dalam waktu sebulan lagi yah. Khalil kamu bisa menghabiskan waktu lebih banyak dari sekarang sebelum adikmu diambil oleh suaminya nanti,” ledek paman Dicky membuat Khalil langsung menghampiri Khadijah dan memeluknya.
“Eits, tidak bisa paman, karena Khadijah akan selalu bersama Khalil walaupun dia sudah menikah tapi tidak akan mungkin untuk melupakan kakaknya yang tertampan ini, benarkan dek.”
“Ish, kakakku yang paling tampan tapi sampai sekarang masih jomblo, tenang aja kok Khadijah akan selalu bersama kakak sampai kapanpun. Tetapi sampai lelaki menggenggam tangan paman Dicky ataupun kakak tepat saat itu juga sudah berpindah tugas kalian untuk menjaga dan merawat Khadijah. Karena tanggung jawab kalian akan tergantikan oleh suami Khadijah nanti,” ucap Khadijah sambil menatap sendu kakaknya.
“Sudah, sudah, kok masih pagi sudah pada baper gini sih. Oh iya tanggal pernikahan sudah di acc oleh pihak nak Rayhan, kata mereka hari ini akan mengajak Khadijah untuk fitting baju dan mencari WO pilihan mereka,” ucap paman Sadam pada semuanya.
“Baiklah paman, Khadijah akan bersiap-siap sekarang.”
“Abi, Bolehkah Niken ikut dengan Khadijah fitting baju? Karena nanti disana pasti Khadijah merasa canggung untuk berbicara pada calon mertuanya.”
“Benar sekali Abi, gimana jika putri kita saja yang menemaninya?” tanya Ummi Sabrina pada sang suami yang tengah sibuk memilih-milih tempat untuk acara akad.
“Afwan,ummi, biarkan Khalil saja yang menemani Khadijah. Karena sudah menjadi tugas kakak untuk menjaga adiknya dari niat busuk seseorang,” tegas Khalil dengan penekanan kakak.
“Baiklah Khalil dan Niken yang akan menemani Khadijah, sebentar lagi calonnya pasti sudah sampai.”
Suara klakson mobil terdengar dari parkiran rumah kediaman As-Shabri, Ummi Nazwa langsung keluar dari mobilnya dengan penuh semangat untuk menjemput calon menantunya itu. Bel rumahpun berbunyi, dengan langkah kaki yang cepat Khalil membukakan pintunya dan mempersilahkan keluarga dari Rayhan memasuki rumahnya.
Setelah mereka semua berbincang dan final tempat akad di masjid Raya Pekanbaru yang tidak jauh dari perumahan Mega Asri tempat tinggal Khalil dan Khadijah, Ummi Nazwa meminta izin pada keluarga Khadijah untuk membawa gadis itu ketempat wo langganannya. Khadijah satu mobil dengan Ummi Nazwa dan Rayhan yang setia mengemudikan mobilnya, sementara Khalil, Niken dan Riko dimobil pribadi keluarga mereka.
Niken mulai menyusun rencanya untuk menggagalkan acara pernikahan itu, dia mengirim pesan pada anak buahnya yang bernama Faisal untuk terus memantau Khadijah dan calon suaminya itu. Dirinya tersenyum saat semua rencananya sudah berjalan dengan mulus tinggal menunggu saja proses pernikahannya nanti.