Raka menghela nafasnya panjang, kemudian ia hembuskan kuat. Berulang kali ia lakukan hingga kemarahannya sedikit mereda. Ia merasa tidak dapat terima saat seluruh keluarganya merendahkan perempuan yang ia cintai. Bukan Luna, tetapi dirinyalah yang pantas untuk disalahkan. Dialah yang lebih dulu mengejar gadis itu, dia juga yang telah membuat gadis itu hamil, bahkan meninggalkannya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Luna saat itu. Dan dia pulalah yang kembali mengejar Luna saat mengetahui keberadaan gadis itu saat ini. Dialah yang pantas untuk disalahkan. "Aarrghh..." Raka membanting stir dengan tangannya berulang kali. Ia tak perduli meskipun telapak tangannya terasa perih dan memerah. "Kenapa sulit sekali membuat mereka mengerti apa yang aku inginkan?" desisnya kesal. "Luna... kamu

