Bab 9. Jalan - Jalan

1615 Kata
Luna menggeliat di balik selimut saat silau cahaya matahari yang mulai meninggi, menerpa wajahnya yang masuk melalui jendela kamar. Tak ada kegiatan apapun hari ini karena ini adalah akhir pekan. Yang terlintas di pikirannya adalah, mau kemana hari ini? Karena pasti sangat membosankan seharian di apartemen tanpa melakukan apapun. Luna melangkah menuju dapur. Membuka kulkas, berniat mengambil sebotol air mineral dari dalam dan meneguknya hingga sisa separuh. Kemudian duduk di sana. Memandangi sebuah kotak berukuran sedang yang terletak di atas meja makan. Paket itu baru diterima olehnya kemarin siang. Seperti yang dikatakan oleh papanya, bila paket itu tidaklah besar dan juga tidak terlalu kecil. Tapi bagi Luna, paket ini lumayan besar dan juga lumayan berat. Bahkan petugas pengantar paket harus membawanya menggunakan troli. Entahlah, ia sempat berpikir jika papanya hanya ingin bercanda dengannya. Perlahan Luna merobek paketnya mengunakan pisau. Dengan sangat hati - hati agar isi paketnya jangan sampai rusak. Dan... Jeng jeng jeng... Luna tertawa terbahak - bahak melihat isi paketnya. "What? Sembako? Apa-apan sih, Papa." Luna tertawa lagi hingga tanpa sadar air matanya jatuh menetes. Ia terharu, seakan pikirannya dan pikiran papanya tersambung oleh satu ikatan. Sehingga apa yang ada dibenak putrinya, bisa diketahui jelas olehnya. Jari - jemari Luna mulai merogoh satu demi satu barang yang ada di dalam box. Dan menatanya di atas meja makan. Semuanya adalah bahan makanan yang sangat disukai oleh Luna. Bayangkan saja! Ada beras, sambal yang dikemas botol, kue kering, hingga ikan kering. Juga beberapa makanan lainnya yang memang tidak akan ada dijual di negara tempat Luna berada saat ini. Orangtua itu berpikir jika putrinya tidak akan bisa hidup tanpa semua makanan itu. Membuat gadis itu begitu terharu. "I love you, Dad." Luna berbisik lirih. Tangan Luna menyeka kedua sudut matanya yang tampak basah. Lalu bangkit, menyimpan semua barang - barang itu ke tempatnya. Dan mulai menyiapkan bahan makanan itu satu demi satu untuk dirinya sendiri. Menghabiskan akhir pekan dengan memasak makanan kesukaan? Why not? "Mungkin sedikit berbagi dengan teman baru sepertinya tidak masalah." Luna menarik kedua sudut bibirnya ke atas, menampilkan senyum bahagianya. Dengan semburat merah jambu di kedua pipinya. *** Duduk bersantai di balkon kamarnya, sambil menikmati cahaya matahari siang yang diselimuti oleh udara dingin. Luna melayangkan matanya, memandang keindahan kota London dari lantai enam apartemen tempatnya berada. Sesaat ia teringat pada negara asalnya dan juga kota tempat tinggalnya. Sangat berbeda jauh. London adalah tempat yang sangat ramai, persis seperti Jakarta. Tetapi disini tidak sesumpek, sehangat dan semacet di Jakarta. Entahlah! Selalu saja ada yang terlihat berbeda. Tok... tok... tok. Sayup - sayup terdengar seseorang mengetuk pintu unit apartemen Luna. Dengan malas Luna bangkit dari rebahannya, dengan mulut yang sedang mengunyah makanan yang memenuhi rongga mulutnya. "Hai..." suara Raka terdengar begitu semangat tatkala Luna membuka separuh pintu depan unitnya. Senyumnya mengembang sempurna, menampilkan deretan gigi - gigi putih yang tersusun rapi. "Hmm..." sahut Luna malas. "Ada apa?" "Apa kamu sedang sibuk?" tanya Raka. Luna menggeleng. "Tidak." "Apakah aku boleh masuk?" Luna mengernyitkan dahinya. "Tidak." "Kenapa tidak boleh? Aku hanya ingin mengobrol denganmu." Raka mengerjap - kerjapkan matanya. Berharap Luna berubah pikiran. "Karena kamu pria! Pria dilarang masuk disini. Anda Paham?" sahut Luna tanpa basa - basi. Raka diam sejenak. Lebih tepatnya, seperti tengah memikirkan sesuatu. "Baiklah. Kalau aku tidak boleh masuk, setidaknya... kamu bisa keluar kan?" ujar Raka. Raka memainkan alisnya naik - turun sambil tersenyum manis, dengan cekungan kecil di kedua pipinya yang membuatnya terlihat semakin manis. Luna mencebikkan bibirnya. "Apaan sih? Emangnya mau ngapain di luar?" tanya Luna mulai menggerutu kesal. "Aku mau ajak kamu jalan - jalan, mumpung lagi week end. Emangnya kamu gak bosan, apa... ngeram mulu dalam kamar? Fi luat itu banyak yang bagus - bagus. Sekalian aku mau kenalin kota ini sama kamu. Kanu kan.pendatang baru." Raka menjelaskan panjang lebar. Luna memicingkan matanya, menatap tajam ke mata Raka tanpa kedip. "Udah deh, percaya sama aku. Aku ini orang baik - baik. Ini juga aku lakuin sebagai ucapan terima kasih, karena kamu udah baik banget mau berbagi makanan ke aku. By the way... makanan buatan kamu enak loh." Raka berkata tulus, dengan senyum yang masih bertahan di bibirnya. "Mm, gimana ya?" Luna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia ingin sekali menerima ajakan pria itu, tapi... "Udah jangan banyak mikir! Entar malah keburu sore. Ayo!" Ajak Raka. "Tapi... aku belum mandi." "Ya udah, buruan mandi! Aku tungguin deh. Tapi nunggunya di dalam aja, boleh kan?" "Huuh... dasar otak mesu*m! Gak boleh! Kanu tunggu disini aja." Luna menutup kembali pintunya dengan sedikit hentakan. Membuat Raka mengelus dadanya karena terkejut. Pria itu berdiri mondar - mandir di depan unit apartemen Luna seperti orang bego. Kemudian ia duduk sebentar di lantai sambil memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosan. Lalu kembali berdiri dan bersandar pada dinding sambil melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, sambil menghela nafas panjang. Sementara itu di dalam kamar apartemennya, Luna tengah bersiap - siap. Gadis itu tampak membolak - balik pakaian di dalam lemarinya. Entah mengapa tiba - tiba ia merasa semua pakaiannya jadi tidak layak pakai. Apapun yang Luna pilih, selalu salah dan terlihat jelek. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengenakan celana denim warna hitam dan blouse lengan pendek warna coklat, serta coat dengan warna senada untuk menghangatkan tubuhnya. Luna melengkapi dirinya dengan riasan wajah yang tipis. Tak lupa menyemprotkan parfum beraroma vanila di leher dan juga lengannya. Lalu dengan cepat ia menyambar tasnya dan mengenakan sepatunya. "Aku siap! Maaf sudah menunggu lama?" ucap Luna pada Raka yang tengah duduk melantai di depan pintunya. Raka berdiri dan menepuk - nepuk bokongnya. "Tidak apa-apa. Aku rela kok, buat menunggu wanita cantik seperti kamu," goda Raka seraya mengedipkan matanya sambil tertawa. "Huuh... dasar cowok genit." Sahut Luna sambil memukul lengan Raka dengan telapak tangannya. "Kalau ngomong gitu lagi, mending gak usah pergi, deh." Ancam Luna padanya. "Eits, jangan dong! Aku dah bela - belain nungguin kamu depan pintu, udah kayak gembel begini." Raka pura - pura ngambek, wajahnya sengaja dibuat cemberut. *** Luna berjalan mengiringi langkah Raka di sampingnya menuju area parkir. Raka tersenyum tipis saat melihat raut wajah bingung milik Luna. "Kita akan berkeliling dengan mobilku. Aku akan bawa kamu jalan - jalan keliling kota ini. Tinggal katakan saja kemana kamu ingin pergi, aku akan mengantar kamu kesana." Luna merasa wajahnya menghangat saat mendengar tawaran Raka padanya. Padahal mereka belum lama kenal, tapi Luna merasa seperti udah kenal lama. Pembawaan Raka yang ramah dan juga lucu, membuat Luna merasa nyaman dan mudah percaya pada pria itu. "Baiklah. Kamu sendiri yang katakan itu, karena aku tidak pernah memaksa kamu untuk melakukannya." Luna coba mengingatkan. "Iya. Ayo naik!" Raka membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Luna. Sementara dia sendiri masuk dari pintu yang satunya dan duduk di kursi kemudi. Luna menatap penuh ke arah Raka sambil tersenyum simpul saat pria itu mulai melajukan mobilnya perlahan menuju jalan raya. Namun dengan cepat ia alihkan wajahnya memandang ke luar melalui jendela samping, saat Raka menoleh padanya. Raka yang sadar sedang dipandangi, hanya bisa tersenyum diam - diam. Dia tidak ingin jika gadis itu berubah pikiran dan minta untuk diantar pulang. Padahal, untuk membawa gadis itu keluar dari tempat persembunyiannya itu, bukanlah hal yang mudah. "Kita akan kemana?" tanya Luna. Memecah keheningan diantara mereka. "Kamu mau kemana? Biar aku antar." Tawar Raka pada gadis itu. Luna mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Katakan aja, kemana kita akan pergi. Karena kamu yang lebih mengenal tempat ini dibanding aku." "Mm... bagaimana kalau kita ke Tower Bridge?" tanya Raka meminta persetujuan. "Terserah kamu aja." Luna menjawab sambil tersenyum manis. Membuat sesuatu yang ada di dalam tubuh Raka terasa berdentum keras. Serasa menghentak - hentak dadanya, mengakibatkan dirinya kesulitan untuk bernafas untuk beberapa saat. Sesekali pria itu mencuri pandang ke arah Luna lewat ujung matanya. Melihat gadis itu bertopang dagu di tepi jendela mobil yang terbuka lebar, sambil melayangkan tangannya merasakan terpaan angin di kulit wajahnya. Membuat Raka semakin gemas padanya. Luna semakin terpana saat mobil mereka perlahan mulai melintas di atas Tower Bridge. Kemegahan jembatan itu membuatnya terpesona. Hingga akhirnya mobil itu berhenti tepat di ujung jembatan. Luna mengajak Raka untuk berpose dengannya membelakangi jembatan megah itu, pada saat ia membelah naik ketika sebuah kapal lewat di bawahnya. "Aoa kamu suka?" tanya Raka basa - basi. Sebenarnya dia sudah tau jawabannya jika melihat reaksi dan raut wajah bahagia Luna saat ini. Namun dengan cepat Luna menganggukkan kepalanya sambil mengurai senyumnya. "Kapan - kapan aku akan membawamu saat malam hari." "Hah? Kenapa harus malam?" Luna mengkerutkan kening. "Karena tempat ini jauh lebih indah pada malam hari. Kamu mungkin pernah melihat ulasannya, tapi melihatnya secara langsung akan jauh lebih menakjubkan." Tatapan mereka kini saling beradu. Namun sejauh ini, tak ada getaran apapun di balik tatapan itu, karena Luna hanya menganggapnya teman. Tak ada yang spesial karena dia hanya merasa senang dibawa berkeliling seperti saat ini. Namun, tak ada yang berani menjamin apa yang sedang dipikirkan oleh Raka. "Apa kamu masih ingin berkeliling?" tawar Raka padanya saat mereka berjalan kembali ke dalam mobil. "Kemana?" tanya Luna penasaran. Hatinya merasa sangat girang. Belum tentu dia akan bisa jalan - jalan gratis seperti ini. Dan tentu saja, tidak akan ada kata lain kali. Karena dia pasti akan menyesalinya jika menolak tawaran itu sekarang. Hanya saja, mulutnya terlalu malu untuk berkata 'tentu saja'. "Apa kamu suka wahana kincir raksasa?" tanya Raka saat mulai melajukan mobilnya kembali. "Apa? Wahana kincir?" ulang Luna. "Iya. Kenapa? Apa kamu takut?" selidik Raka. Matanya melirik ke arah Luna. "Ya, sebenarnya aku tidak begitu suka ketinggian." "Tapi kamu tinggal di lantai enam. Dan menurutku itu cukup tinggi juga." "Itu terpaksa. Karena aku butuh tempat tinggal." "Ya, dan keterpaksaanmu itu membawamu berkenalan denganku, si pria baik hati." Raka mengedipkan matanya membuat Luna terkekeh geli melihat ulah pria di sampingnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN