Tok... tok... tok.
Tak sampai lima belas menit, pintu unit Luna kembali diketuk dari luar. Luna sudah menduga jika hal ini akan terjadi. Kali ini dia akan membela dirinya, jika orang itu berusaha untuk menyalahkannya.
Hingga pintu unitnya kembali diketuk lagi, untuk kesekian kalinya. Dengan raut wajah malas, Luna bangkit dan melangkah untuk membuka unitnya. Suara kerukan itu masih tidak berhenti juga, membuat Luna merasa terganggu karenanya.
Tanpa melepaskan kunci pengaman pada pintu, Luna mulai menarik daun pintunya, yang hanya bisa terbuka sedikit saja. Menampilkan hanya separuh bagian wajahnya di balik pintu, Luna menatap dingin si pelaku pembuat kebisingan di depan unitnya.
"Ada apa?" Luna memicingkan matanya, berpura - pura marah namun sebenarnya gadis itu tengah menahan tawanya.
"Aku mau tanya, apakah kamu ada menerima paket? Aku pikir, petugas itu mengirim paket pada alamat yang salah." Dia coba menjelaskan.
Luna berdehem pelan.
"Hmm... paket apa yang kamu maksud? Aku tidak ada menerima paket apapun." Luna berusaha membuat raut wajahnya sedatar mungkin. Hal itu agar lelaki di depannya itu tak mencurigai dirinya.
"Kamu jangan bohong!" Ujarnya tak percaya.
"Pliss... aku sudah sangat lapar sekarang. Tadi aku memesan makan siang dari sebuah restoran. Dan mereka mengirimnya ke unit yang salah. Padahal aku sudah menunggunya lebih dari satu jam." Wajahnya berubah memelas, membuat Luna merasa bersalah sekarang.
"Ooh... kalau begitu, aku harus minta maaf padamu. Karena aku sudah memakan habis makanan itu." Luna meringis sambil menggigit bibir bawahnya.
Di luar, lelaki itu tampak melotot. Sepertinya dia sedang berusaha mencerna setiap kata yang lolos dari mulut Luna. Dan itu membuatnya menghela nafasnya kuat. Antara percaya dan tidak, tapi perempuan di depannya itu telah membuatnya menelan rasa kecewa.
"Tapi kamu tenang aja! Kamu tinggal memesannya lagi dan aku akan membayar untuk itu. Berapa harga yang harus aku bayar? Katakan saja! Aku akan bertanggung jawab." Luna berusaha memperbaiki kesalahannya.
Bukannya semakin membaik, kalimat yang Luna lontarkan malah semakin membuat pria itu melotot kesal padanya.
"Apa kamu pikir aku ini kekurangan uang? Aku tidak butuh uangmu! Aku lapar dan aku butuh makananku sekarang!" Lelaki itu membentaknya, membuat jantung Luna seakan melompat dari tempatnya.
Dengan cepat Luna menutup kembali pintu apartemennya dan berdiri di balik pintu. Dia sangat takut. Lelaki itu mendelik sangar padanya, seakan ingin memangsanya.
"Hei...! Sebaiknya kamu keluar sekarang! Kamu harus tanggung jawab!" teriaknya dari luar apartemen Luna.
Tak ada sahutan, Luna bahkan tak berani bergerak dari tempatnya berdiri. Ia seperti kehilangan kekuatan pada kedua kakinya, sehingga tidak mampu untuk bergerak. Tubuhnya terlihat gemetar ketakutan. Perasaannya sudah campur aduk antara takut, malu, juga menyesal.
"Maaf..." teriak Luna beberapa saat kemudian.
Hening.
Tak ada sahutan atau teriakan dari lelaki asing itu. Luna bahkan tak ingat siapa namanya. Karena saat mereka berkenalan tempo hari, Luna terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan juga rasa curiga pada lelaki itu.
***
Luna tampak mondar - mandir di depan unit apartemen miliknya. Raut wajahnya tampak cemas dengan sedikit keraguan tersirat di matanya.
Sesekali wajahnya memandang ke arah ujung lorong apartemen yang berlawanan arah dengan tempatnya berdiri saat ini. Matanya tampak memicing, kala ia berusaha menajamkan penglihatannya.
Entah sudah berapa lama gadis itu berada disana. Bisa dipastikan jika dia sudah sejak tadi melalukan gerakan jalan di tempat seperti saat ini. Luna mulai tampak tidak sabar saat sosok yang tengah dinantinya tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Kemana pria itu pergi?" gumam Luna kesal.
Ia mulai bergerak maju mendekat ke arah lift dan berdiri di tempat itu sambil memperhatikan nomor yang tertera pada pintu tiap unit apartemen. Hingga tanpa sengaja, Luna bertabrakan dengan salah satu penghuni yang baru saja keluar dati unit apartemennya.
"Maaf..." ucap Luna sambil menunduk malu.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan disini?"
Luna seketika mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang terdengar familiar di telinganya.
"H-hai..." ucap Luna cengar - cengir dengan senyum yang dikulum malu-malu.
"Kamu lagi ngapain disini? Bukannya unit kamu ada di sebelah sana?" Lelaki itu menatap curiga pada gerak - gerik Luna.
"Nih, buat kamu!" Luna menyodorkan tempat bekal makanan ke tangan lelaki muda di depannya.
"Ini apaan?" tanyanya bingung, keningnya terlihat berkerut.
"Sebagai permintaan maaf dari aku. Tolong kamu terima, ya. Aku sendiri loh, yang nyiapin semuanya. Mudah - mudahan kamu suka."
"By the way, nama ku Luna. Dan kamu? Maaf aku lupa nama kamu."
"Raka."
"Okey, Raka. Semoga kamu suka, ya."
Selepas mengatakan hal itu, Luna kembali melangkah menuju unitnya sendiri dengan senyum mengembang di wajahnya.
Meninggalkan lelaki muda di belakangnya yang masih terlihat shock dengan perubahan Luna yang tiba - tiba baik kepadanya. Meskipun selalu saja ada udang di balik batu. Hingga akhirnya Luna menghilang di balik pintu apartemennya.
Sementara itu, Raka yang sejak awal berniat untuk keluar makan malam, membatalkan niatnya itu dan memilih masuk ke dalam unitnya sendiri. Dengan senyum tersungging di bibirnya, Raka mulai membuka kotak bekal yang Luna berikan.
"Waw... spageti. Apa ini enak? Jangan - jangan, perempuan itu memberikan sesuatu di dalamnya! Uuh... awas saja jika itu benar. Bisa aku pastikan kalau hidupnya tidak akan bisa tenang." Dia bersumpah pada diri sendiri.
Dengan ragu, Raka menyuapkan makanan itu masuk ke dalam mulutnya. Dan mulai mengunyah secara perlahan dan berakhir dengan sebuah senyuman yang dikulum. Bila dilihat dari ekspresinya, makanan itu pasti enak.
Raka kembali menyuapi mulutnya dengan makanan itu. Kali ini gerakannya semakin cepat. Hingga makanan itu ludes tanpa bersisa.
"Kamu beruntung Luna, makanan ini enak." Raka berkata lagi, seakan pada dirinya sendiri.
Luna!
Satu kata yang menyadarkan Raka, bahwa gadis itu baru saja menyebutkan namanya. Sebuah kemajuan dari usahanya untuk berkenalan dengan gadis itu.
Dalam hati Raka merasa bersyukur, pada tragedi salah kirim paket siang tadi. Jika tidak, ia mungkin tidak akan pernah tahu nama gadis itu.
***
Luna meloloskan satu persatu pakaiannya ke lantai. Lalu melangkah masuk ke dalam bathup dan mulai menenggelamkan dirinya dalam buih sabun yang terasa lembut di kulitnya dan begitu wangi.
Sore ini ingin dihabiskannya untuk memanjakan dirinya sendiri. Diiringi oleh alunan musik lembut dari ponsel pintarnya, semakin membuat Luna terbuai umtuk memejamkan matanya sesaat.
Hingga hampiir setengah jam, Luna kembali tersadar dan membuka matanya. Saat alunan lembut musik di ponselnya berganti oleh dering yang terdengar begitu nyaring di telinga. Membuat Luna mengumpat kesal dengan segala macam sumpah serapah uang keluar dari mulutnya.
"Ya ampun... tidak bisakah mereka membiarkan aku tenang sebentar saja? Aku sudah terlalu lelah dan pusing hari ini. Bahkan untuk menikmati mandiku pun hampir tidak bisa ku lakukan." Luna meluapkan kekesalannya.
Luna keluar dari bathup dan mulai membersihkan dirinya dari buih sabun. Ia terpaksa meneruskan mandinya di bawah guyuran shower. Lalubkeluar dari sana hanya dengan mengenakan jubah mandi.
Luna meraih ponselnya. Memeriksa beberapa notif pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab dari orangtuanya, yang terpampang jelas di layar ponselnya. Dan mulai menghela nafas lemah.
"Ada apa dengan orang-orang ini? Berapa kali harus aku katakan, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku aendiri!" celoteh Luna kesal.
Baru saja ia mengatakan hal itu, ponselnya kembali berdering. Di layarnya tertulis My Lovely Dad. Dengan cepat Luna menjawab panggilan itu.
"Halo.. " Luna memulai obrolannya.
"Hai sayang, gimana kabarmu?" Suara seorang pria terdengar tegas dan lembut di telinganya, membuat Luna tersenyum kecil.
"Kabar ku baik, Pa."
"Apakah kamu sudah menerima kiriman dari Papa?" Pria itu bertanya lagi. Luna mengerutkan keningnya.
"Kiriman? Maksudnya, uang itu? Ya, aku sudah menerimanya. Terima kasih, Pa." Luna menyahut lemah.
"Bukan, bukan itu."
"Lalu apa? Aku belum menerima apapun hari ini." Jawab Luna. Hanya ada paket makanan salah kirim tadi siang, batin Luna.
"Papa mengirimkan sesuatu padamu. Baru tadi pagi Papa mengirimnya. Mungkin besok atau lusa, paket itu akan sampai disana."
"Ooh..." Luna tertawa kecil.
"Ada apa? Kenapa kamu malah tertawa?" Pria itu bertanya bingung.
"Tidak apa-apa. By the way, paket apa yang Papa kirimkan untuk ku?"
"Itu rahasia." Pria itu tertawa. "Yang pasti, ukurannya tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Papa yakin kamu pasti suka."
Luna mendesah pelan. Kenapa Papanya jadi begitu suka bermain rahasia dengannya.
"Baiklah. Aku akan memberi kabar jika sudah menerimanya nanti. Makasih, Pa."
"Baiklah. Jaga dirimu, sayang. Belajarlah dengan baik dan jaga kesehatanmu. Papa tidak bisa selalu melindungimu sekarang, karena kamu begitu jauh."
Raut wajah Luna berubah mendung. Ia begitu terharu saat mendengar kata-kata itu dari superheronya.
"Jaga kesehatan Papa. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Love you, Pa."