"Kamu baik - baik aja kan, Lun?" Diandra memalingkan wajahnya, menatap ke arah Luna yang sedang fokus menyetir mobil. "Ya," sahutnya singkat. Luna sama sekali tidak menoleh pada Diandra. "Maaf soal yang tadi." Diandra menghela nafasnya berat. Ia membenarkan duduknya dan menatap lurus ke depan. Ke arah jalanan di depan mereka yang dipenuhi berbagai jenis kendaraan dan juga orang - orang yang hilir mudik, yang meramaikan jalan ibukota. "Aku tidak apa-apa, kenapa harus meminta maaf? Sudahlah, jangan merasa bersalah seperti itu. Kitabini sahabat, dan sahabat itu tidak menyimpan kemarahan di dalam hatinya." Luna meninju lengan Diandra pelan. Setelah itu kembali menatap lurus ke depan. Diandra mengulas senyum tipis di bibirnya, meski pun hatinya belum merasa tenang. Bukan karena percakapan

