Luna berdiri di samping mobilnya, memandangi gedung tinggi menjulang di depannya. Ia telah tiba di Kelapa Gading dan memarkirkan mobilnya di depan gedung itu. Netranya yang hitam pekat melirik arloji yang melekat di tangan kanannya. Sekarang sudah hampir jam tiga sore. Luna menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskannya dengan kuat. Menghempaskan rasa sesak yang menjalar di rongga dadanya. Dengan yakin, Luna mengurai langkahnya. Memasuki gedung megah di depannya dan berjalan masuk di antara tubuh-tubuh manusia yang saling berdesakan. Hilir mudik dan keluar masuk tempat itu, yang semakin ramai menjelang akhir tahun. Mungkin adalah keputusan yang salah saat ia menutup cafe dan meliburkan semua pegawainya disaat seperti ini. Karena disaat seperti inilah, pengunjung cafe mereka akan m

