Bab 13

1486 Kata
"Jes!" Panggil James sedikit keras. Jason menoleh pelan."Kenapa? Pake teriak segala." "Handphone kamu tuh," tunjuk James. Jason terkekeh. Pikirannya yang melayang-layang sampai membuatnya tak mendengar kalau ponselnya berbunyi. "Halo?" "Kak Jason," sapa suara ceria dari sana. Jason mengernyitkan dahinya dengan bingung."Iya. Siapa?" "Vio, Kak," jawabnya dengan sedikit kesal karena Jason tak menyimpan kontaknya. "Oh, Iya,Vio. Kenapa?" "Kakak sibuk enggak?" Tanya Vio sambil senyum-senyum sendiri. Jason merebahkan tubuhnya di sofa."Enggak terlalu, sih, kenapa?" "Kak, kita jalan ,yuk," ajak Viola bersemangat. Jason melirik jam dinding yang sudah menunjukkan. Pukul delapan malam."Kemana?" "Kemana aja, Kak, yang penting aku pengen ngobrol sama kakak," balas Viola lagi. Jason berpikir sejenak. Haruskah ia menerima tawaran dari wanita yang masih berstatus mahasiswa itu. Sangat sayang jika ditolak, Viola itu seksi."Ehmm... Boleh,deh, Vio." Vio memekik kegirangan di sana."Beneran, Kak? Ya udah kita ketemu dimana?" Jason menaikkan sebelah alisnya. Viola tidak memintanya menjemput, melainkan bertemu di tempat."Kemana,ya? Kamu aja yang nentuin tempatnya ya. Nanti kakak ke sana. Kamu kirimkan alamatnya." Viola mengangguk-angguk di tempatnya berdiri sekarang."Iya, Kak. Sebentar aku sms alamatnya." "Iya, Vio. Aku siap-siap dulu, ya. Kamu sabar di situ," ucap Jason sebelum menutup telponnya. Vio langsung melompat-lompat kegirangan. Impiannya untuk date dengan Jason kini akan terwujudkan. Ia pun segera mengirimkan alamat dimana mereka akan bertemu pada Jason. Kemudian, ia bersiap-siap untuk menemui pangerannya itu. "Loh, mau kemana, Jes? Tadi janjian sama siapa?" Selidik James. "Sama cewek, lah." Jason terkekeh sambil bangkit dari posisinya. "Carla?" Tebak Riri. "Kan tadi aku sebut namanya, Viola. Aku mau jalan sama Viola bukan Carla," jelas Jason. James mengarahkan wajah Riri ke arah wajahnya."Enggak usah kesal sama Jason sambil melihat wajahnya terus." "Kenapa?" "Nanti anak kita mirip dia. Aku enggak mau." James terkekeh. "Sial!" Umpat Jason sambil melangkahkan kakinya ke lantai dua. Sementara James hanya bis tertawa keras mendengar umpatan dari adiknya. Usai mandi dan berpakaian rapi, Jason langsung menuju tempat yang ditetapkan Viola menjadi tempat pertemuan mereka. Di perjalanan, Jason mendadak bingung dengan apa yang ia lakukan sekarang. Ia bingung kenapa harus menerima ajakan seorang mahasiswa. Usia mereka pastinya terpaut lumayan jauh. Jason menjadi ragu, apakah nanti pembicaraan mereka akan menjadi menyenangkan atau membosankan. Jason memarkirkan mobilnya, dan ketika keluar dari mobil ia tersentak kaget. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang tengah berdiri di hadapannya. "Hai, Kak," sapanya riang. Jason mengusap dadanya."Aku kaget, Vio." "Maaf," balasnya dengan senyuman menggemaskan. Jason memperhatikan Vio dari atas sampai ke bawah. Biasanya ia melihat penampilan Viola seperti gadis seusianya. Tapi, sekarang gadis ini menjelma menjadi gadis yang sangat dewasa. "Kamu cantik, Viola," puji Jason sambil meneguk salivanya. "Terima kasih, Kak. Masuk, yuk." Viola memeluk lengan Jason dan merapatkan tubuh mereka. Jantung Jason mendadak berdegup lebih kencang. Di dalam hati ia merutuk, kenapa ia harus merasa deg-degan dengan gadis kecil ini. Ia terus melangkah mengikuti kemana Viola membawanya pergi. Ia bahkan tak tau untuk apa Viola membawanya ke sini. Sebuah hotel. Pikiran Jason melayang-layang, mungkinkah gadis seusia Viola akan menggodanya lalu mengajaknya tidur. Pikiran Jason terus bekerja, sementara kakinya terus berjalan menelusuri lorong-lorong kamar. Keyakinan Jason semakin kuat. Setelah ini akan terjadi sesuatu yang diinginkan. Ia pun semakin yakin saat Viola berhenti di depan sebuah kamar. Jason hanya bisa mematung saat Vio membuka pintu kamar itu."Eh, Vio...Vio, kita mau ngapain?" Vio melemparkan senyum pada Jason."Kita ngobrol di dalam, Kak." Jason menggaruk-garuk kepalanya."Tapi, kenapa harus di dalam?" Vio tak menjawab ucapan Jason, ia menarik Jason agar masuk ke dalam. Jason terlempar sampai ke tempat tidur. Ia sangat terkejut, ternyata badan sekecil Vio punya tenaga yang cukup kuat. "Vio!" Viola mengunci pintu, ia memandang Jason yang tengah meringis."Maaf, Kak. Habisnya kalau enggak gini aku susah banget ketemu sama kakak. Kakak ngilang terus, sih." Jason berusaha tersenyum, lalu ia memerhatikan sekeliling."Kamu uang darimana kok bisa sewa kamar hotel mewah begini?" "Uang tabungan," jawab Vio. Jason menaikkan kedua alisnya bingung."Kan bisa kamu pakai buat kuliah kamu aja,Vio. Sayang loh uangnya." "Ya udah, kakak yang bayarin." Vio duduk di sebelah Jason. Jason mendelik."Ini namanya jebakan, Vio." Kemudian ia tertawa."Kita mau ngapain di sini?" Viola yang tadi duduk di sisi tempat tidur pun naik ke atas tempat tidur. Jason hanya bisa menatapnya dengan bingung. "Sini, Kak." Jason melepas sepatunya, lalu ikut naik ke tempat tidur."Vio, sebenarnya ada apa? Kok kamu jadi aneh gini?" "Aku tuh mau ketemu sama kakak. Mau ngomong sesuatu," kata Viola. "Apa itu?" Tanya Jason. "Kak, aku suka sama Kakak. Kakak mau enggak pacaran sama aku?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Viola membuat Jason terbelalak tak percaya. Seorang wanita menyatakan perasaan padanya."I...ini bukan jebakan, kan, ya? Atau ada kamera di sekitar sini." Jason melihat sekeliling ruangan. Vio meraih pundak Jason."Kak, enggak ada kamera seperti yang kakak bilang. Ini nyata. Aku beneran sayang sama kakak. Aku serius." Jason terdiam menatap Viola. Ia bingung harus bereaksi apa. Selama ini memang banyak wanita yang menyatakan perasaan padanya, tapi bukanlah 'wanita yang masih berstatus mahasiswa. Biasanya wanita yang berada dalam lingkaran kehidupannya adalah wanita seusianya atau wanita-wanita yang jauh lebih tua darinya. Dan itu pun memang berasal dari kalangan khusus saja."Vio, ini... Bercanda enggak, sih. Kamu tau enggak usia saya berapa?" Viola menggeleng."Aku enggak tau. Yang aku tau, aku sayang sama kakak." "Usia kamu berapa?" tanya Jason. "Dua puluh satu," jawab Viola santai. Jason mendesah panjang."Viola, perlu kamu ketahui usia saya sudah tiga puluh dua." "Tapi, kakak kelihatan masih dua puluh lima tahun, loh," balas Viola cepat. "Bukan itu intinya, Vio... Kalau kita pacaran, aku takut aja kamu enggak bisa Nerima segala karakter aku yang memang sudah berumur," jelas Jason. "Maksudnya berumur itu sudah tua?" Viola mempertegas. Jason mengangguk."Ya, begitulah kira-kira." "Kak, aku enggak peduli kakak usia berapa..., Aku tuh sayang sama kakak." Viola menatap Jason penuh harap. Jason mengembuskan napas berat. Sebenarnya saat ini ia sedang bingung, status dia di sini sebagai pria yang memiliki pasangan atau pria yang masih sendiri. Ia menganggap hubungannya dengan Carla hanya sebatas pura-pura saja. "Vio, aku... Enggak bisa jawab. Kita baru bertemu beberapa kali, kan. Jadi, aku belum bisa putuskan mau menerima atau tidak. Maaf." Viola mengangguk mengerti."Iya, Kak. Aku bisa paham. Tapi, aku mau nungguin kakak sampai cinta sama aku." Jason tersenyum, ia meraih tangan Viola dan menggenggamnya."Terima kasih, Vio atas semuanya." Jantung Viola berdegup kencang. Dengan nekat ia mencium bibir Jason, lalu melumatnya lembut. Mendapat perlakuan yang mengejutkan, Jason sempat terdiam beberapa saat, tapi lama-kelamaan ia justru membalas ciuman Viola. Ciuman lembut itu kelamaan semakin menuntut. Jason menekan tubuh Viola hingga terbaring di tempat tidur. Tangannya mengusap paha mulus Viola dan menyingkap dressnya. Jason menghentikan ciumannya, menatap wajah Viola yang merona. Tangannya masih saja berada di dalam dress, lalu ia mengangkatnya ke atas secara keseluruhan. Jason memandang tubuh Viola dengan takjub. Viola membuang pandangannya karena malu ditatap seperti itu oleh Jason.Jason membuka kemejanya, melemparkannya asal. Lalu ia kembali melumat bibir Viola. Tangan kasarnya terus meraba setiap inchi tubuh Viola dengan lembut. Viola hanya bisa mengigit bibirnya saat Jason menyentuh permukaan kulit dadanya secara langsung. Tangan Jason menelusup ke bagian punggung, melepas kaitan penutup dadanya itu dan melemparkannya begitu saja. "Sangat indah," puji Jason sambil memandang takjub. Viola tak menjawab, ia hanya bisa memalingkan wajahnya. Tubuhnya langsung melengkung saat Jason menenggelamkan wajahnya di antara gundukan daging kenyal itu. Viola memejamkan mata, mengigit bibir bawahnya, desahannya tertahan saat Jason mulai menghisap, menjilat dan melumat dadanya. Ia hanya bisa menerima dengan pasrah, sesekali mengusap punggung kekar Jason. Satu tangan Jason tiba-tiba turun ke bawah, menyentuh bagian paling intim milik Viola. Tubuh Viola semakin melengkung ke atas seakan itu adalah sebuah permohonan. Jason membuka celananya sampai benar-benar terlepas. Setelah itu ia melepaskan satu-satunya penutup di tubuh Viola yang tersisa. Miliknya yang menegang sudah siap untuk menyerang Viola. Viola benar-benar deg-degan saat Jason mulai mengarahkan miliknya. Viola berteriak saat Jason menyatukan diri Jason menoleh dengan kaget."Kamu masih virgin?" Viola mengangguk lemah. Jason mengurungkan niatnya, ia langsung turun dari tempat tidur dan memakai celananya kembali. "Kak, kenapa tidak jadi," cegah Viola. Gerakan Jason terhenti."Aku bukan perusak, Viola. Aku tak akan memasukinya jika milikmu masih terjaga dengan baik. Kamu harus menjaganya pula." Viola menunduk sedih."Tapi, aku sangat menginginkannya, Kak." Jason mengusap kepala Viola."Nanti kamu juga akan merasakannya, Vio. Saat ini milik mau masih terjaga dengan baik. Kamu harus pertahankan itu, ya." Viola mengangguk lemah, perlahan ia memunguti pakaiannya satu persatu. Ada sedikit rasa kekecewaan di dalam hatinya. Ia sangat ingin melakukan itu bersama Jason, lelaki yang saat ini sangat ia cintai. "Viola," panggil Jason saat Viola sudah selesai berpakaian. "Iya, Kak," jawab Viola sedih. Jason meraih tubuh Viola, lalu memeluknya."Jangan sedih begitu. Kamu tidak bersalah di sini. Tapi, aku benar-benar tidak bisa melakukannya dengan kamu." "Sekalipun aku bersedia?" Sambung Viola cepat. Jason mengangguk."Iya. Yang masih terjaga, biarlah begitu. Jangan dirusak. Nanti ada waktunya, ya. Sekarang ... Kita pergi aja ke tempat lain. Kamu sudah makan?" Viola menggeleng. Jason tersenyum."Ya udah, kita makan aja, ya. Abis itu aku anterin kamu pulang. Hotelnya biar aku aja yang bayar." Usai merapikan diri mereka masing-masing, Jason membawa Viola pergi. Viola hanya bisa menerima apa yang terjadi meskipun tak sesuai dengan harapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN