Bab 14

1110 Kata
Say, kenapa?" tanya Eve berhati-hati sekali. Sejak kemarin Carla tak mau bicara apapun. Ia hanya terus menangis. Eve terlihat khawatir, ia bingung apa yang sedang terjadi pada temannya itu."Aku hubungin Jason aja kalau gitu, ya." Eve hendak melangkah mengambil ponselnya. Tapi, Carla dengan cepat mencegah Eve. "Jangan pernah hubungi dia lagi untuk aku, Eve." Eve tersenyum penuh arti."Nah, sudah kuduga ini pasti gara-gara itu anak. Kenapa...kenapa? Perasaan kalian baik-baik aja kemaren." "Udah,Eve... Jangan dibahas. Aku enggak mau denger nama dia lagi." Carla menyembunyikan wajahnya ke dalam bantal. Eve menggeleng-gelengkan kepalanya."Yeay suka sama Jason?" Spontan Carla mengangkat kepalanya. Menatap Eve tak suka."Enggak!" Eve terkekeh."Kok aku menangkap jawaban 'iya', ya." Carla kembali menenggelamkan wajahnya ke bantal. Ia tak menjawab pertanyaan Eve yang seolah-olah menuduh dirinya. Benarkah ia menyukai Jason. "Heh! Mendingan cerita sama aku. Enggak usah ditutup-tutupin, ya. Eke temen yey, kan?" Carla mengusap air matanya."Eve... Aku enggak tau mau cerita darimana. Aku bingung." Carla menangis lagi. "Ya udah cerita pelan-pelan aja. Terserah mau darimana." "Eve... Aku pernah culik Jason." "Hah? Culik gimana?" Eve menatap Carla serius. Lantas ia naik ke tempat tidur, tak sabar mendengarkan lanjutan ceritanya. "Jadi semua berawal ... Ketika Revan selingkuh sama seorang cewek. Aku stress, Eve, aku shock. Aku enggak nyangka Revan bakalan ngelakuin itu sama aku." Eve mengusap pundak Carla, masih tetap sabar menunggu kelanjutannya."Terus?" Tatapan Carla terlihat kosong, tapi ia tetap melanjutkan ceritanya."Sejak kehilangan Oma, Revan adalah satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku. Dialah segalanya. Tapi, ternyata dia ninggalin aku. Aku hancur, putus asa, hidupku terasa sunyi. Aku ingin memiliki teman. Atau mungkin seorang anak." "Kamu harus nikah dulu, baru punya anak, ya," kata Eve sambil terus mengusap punggung Carla. "Aku berencana mencari lelaki untuk menghamiliku." Ucapan Carla spontan membuat Eve berteriak. "Apa! Kamu gila, ya, Clay. Masih banyak laki-laki yang mau nikah sama kamu. Kok malah nyari laki-laki cuma buat hamilin kamu aja." Eve memegang dadanya karena begitu kaget. "Karena aku enggak mau disakitin lagi, Eve," jawab Carla spontan. Eve terkejut mendengar jawaban Carla yang sedikit berteriak."Oke...Oke lanjutin ceritanya." "Terus, enggak sengaja aku ketemu sama Jason... Waktu dia melayani aku di kafe. Aku lihat tubuhnya bagus, wajahnya tampan, dan sempurna. Sepertinya bagus jika aku memiliki anak darinya. Aku ingin dihamili dia. Tapi , aku bingung bagaimana caranya." Carla menghentikan ucapannya saat Eve berekspresi ngeri. "Clay, aku beneran... Shock." "Aku lanjutin ya. Jadi, setelah itu... Aku ikutin dia. Sampai aku lihat dia ke bandara, aku suruh beberapa pengawal ku buat culik dia, Eve dan bawa ke rumah." "Waktu itu, kalian belum saling kenal, kan, ya?" Potong Eve. Carla mengangguk."Iya. Aku pikir dia itu pelayan Kafe, Eve. Aku pikir dia orang miskin, orang tak punya apa-apa. Aku maksa dia buat nurutin kemauanku." "Dia mau?" Carla menggeleng lagi, kali ini dengan sedikit senyuman kecut."Enggak. Dia nolak aku, Eve. Tapi, aku memaksanya. Aku perkosa dia, Eve." Eve memekik dengan napas tertahan. Matanya membulat tak percaya. Lalu ia tertawa terpingkal-pingkal. Carla menjadi sebal melihat respon dari Eve. Apalagi sekarang Eve tak mau berhenti tertawa. "Eve!" Wajah Carla terlihat datar. Eve terdiam sebentar, menatap Carla lalu tertawa lagi sambil memegangi perut sampai matanya berair. "Evelyn! Kenapa, sih." Carla melempar Eve dengan bantal kecil. "Yey perkosa Jason?" Evelyn kembali tertawa setelah mengucapkan pertanyaan itu. Carla memanyunkan bibirnya."Iya. Aku perkosa Jason, aku borgol tangannya. Tapi... Abis itu aku lepas, sih, terus kita lakuin sama-sama." Eve akhirnya berhenti tertawa, ia berusaha menetralkan kondisinya agar tidak tertawa lagi."Ngapain, sih, perkosa Jason...diajak juga dia mau." "Kan aku enggak tau kalau Jason itu adiknya James, Eve. Mana aku sekap dia beberapa hari di rumahku. Aku paksa dia nuruti kemauan aku. Terus pas aku tau dia adiknya James...Aku malu banget, Eve!" Carla menangis lagi. Tapi kali ini tangisannya membuat Eve ingin tertawa lagi. "Clay, sumpah...kalau eke jadi yey, enggak tau muka eke mau ditaruh dimana pas ketemu Jason. Mending eke gantung diri di pohon toge." Eve terkekeh. "Kamu, ih, Eve... Aku malu banget. Mana setelah itu...Jason godain aku terus. Aku pernah bilang dia miskin, cuma pelayan Kafe, enggak bisa nyetir karena mobil aja enggak punya." Eve kembali tertawa."Ya ampun, Clay...Kamu lucu banget jadi orang. Pantesan kamu nangis sampe begini. Malu...banget, sih, eke kalau jadi yey." "Terus di club aku paksa dia jadi pacar bohongan aku, Eve. Aku jahat banget, nggak, sih." Carla menutup wajahnya dengan bantal. Ia terlihat stress lagi. Eve menggeleng-gelengkan kepalanya."Jadi, mau yey gimana? Kamu udah minta maaf, kan, sama Jason?" Carla mengangguk."Iya. Udah. Tapi, aku ngerasa sikap manis Jason itu kayak cuma buat balas dendam sama aku, Eve. Aku takut dia permainkan aku." "Lah, kamu sendiri udah permainkan perasaannya, Clay." "Maksudnya?" Carla menatap Eve bingung. "Itu...Kamu culik, kamu sekap, kamu perkosa, kamu paksa nuruti semua keinginan kamu, kamu rendahin dia tanpa kamu tau siapa dia sebenarnya. Itu enggak etis, say," kata Eve sambil menepuk paha Carla. "Aku khilaf, Eve." Wajah Carla kembali terlihat sedih bercampur khawatir. Eve mengangguk-angguk sambil mengusap punggung Carla lagi."Jadi, ini yang bikin kamu nangis ,ya." "Bukan cuma itu. Kemarin Jason sikapnya kan manis banget waktu di butik. Pas kita makan di kafenya, dia malah pelukan sama cewek lain. Di depan aku." Eve menyipitkan matanya. Wajahnya berubah menjadi serius karena sedang berpikir."Cewek mana yang dipeluk Jason. Apa mungkin itu Yessi, ya." Aura wajah Carla langsung berubah mendengar nama wanita yang paling tidak ingin ia dengar."Jangan sebut nama perempuan itu. Aku benci." "Benci karena dia mantannya Jason?" Selidik Eve. Carla menggeleng sambil memejamkan matanya."Karena dia udah ngerebut Revan, Eve." Lagi-lagi Eve terlihat kaget. Ia pun mengusap dadanya perlahan."Astaga...sempit banget, ya dunia ini. Yessi itu mantan karyawan di Rila. Makanya dia bisa kenal Jason. Eh, enggak tau diri tuh anak malah selingkuh." "Ya ampun, Eve, kamu bikin aku tambah stress aja." Carla memegangi kepala dengan kedua tangannya. Mengacak-acak rambutnya sendiri. "Loh memang bener, say. Yessi karyawan aku dulu." Eve dan Carla sama-sama terdiam. "Jadi, sekarang status kamu sama Jason itu pacar beneran apa pacar bohongan?" Carla menggeleng."enggak tau. Terakhir kali, ya... Pacar bohongan." "Tapi, yey cemburu ya pas liat Jason dipeluk sama cewek lain?" "Bukan cemburu, Eve. Cuma aku ngerasa Jason itu lagi balas dendam sama aku." "Oh, tenang aja. Eke kenal Jason...dia enggak suka yang begituan kok. Maksudnya...dia bukan tipe orang yang suka balas dendam. Meskipun rada nyebelin, dia itu aslinya penyayang." "Oh, gitu ya. Oke. Aku lega sekarang." "Ya udah, jalani hidup kayak biasa. Jason juga pasti udah lupain itu kok." Carla mengangguk lega. "Tapi, sebaiknya kamu temui Jason sekali lagi. Untuk memastikan kalian baik-baik aja. Hubungan kalian baik. Terus klarifikasi, kalian masih mau lanjut pacaran bohongan atau beneran." "Jason bakalan mau ketemu sama aku enggak, ya." "Pasti mau. Atau nanti aku suruh ke butik.  Kalau enggak, ya... Kita datengin ke kafenya." "Iya, Eve. Makasih ya." Carla memeluk Eve dengan erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN