Pagi ini, tak seperti biasa mendadak Jason tak memiliki semangat untuk beraktivitas. Entah kenapa ucapan-ucapan Viola sangat mengganggu pikirannya. Baru kali ini ada yang menyatakan perasaan padanya dengan begitu serius dan terlihat total. Bahkan ia bisa melihat ketulusan di mata gadis itu. Hal itu membuat ia tak tega jika harus merusak milik Viola meskipun semalam ia begitu menginginkannya. Pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Jason melirik dan berteriak."Masuk!"
Pintu terbuka, Nining, asisten rumah tangga di rumah ini muncul."Maaf, Pak. Ada tamu untuk Bapak."
Jason melirik jam dinding di kamarnya. Masih pukul sembilan."Sepagi ini? Siapa, Mbak?"
Nining menggeleng."Saya tidak tanya siapa, Pak. Tapi, dia lagi ngobrol sama Ibu Riri di bawah."
Jason menggeliat malas. Kemudian bangkit dari tidurnya."Suruh tunggu, ya, Mbak. Saya cuci muka sama sikat gigi dulu."
Nining mengangguk."Baik, Pak."
Jason sikat gigi dan cuci muka dengan cepat. Kemudian ia mematut dirinya di depan kaca. Setelah merasa keren, ia bergegas turun, masih dengan mengenakan kaos oblong dan celana pendek selutut. Langkah Jason melambat saat melihat Riri sedang bicara dengan seorang wanita.
"Nah...itu Jason," tunjuk Riri.
Wanita yang dimaksud tadi itu menoleh dan melempar senyum."Hai, Kak."
Jason tersenyum tipis."Hai. Pagi-pagi udah nyampe sini aja, Vio."
"Iya. Kalian ngobrol, ya. Vio...saya tinggal dulu, soalnya mau istirahat." Riri bangkit susah payah karena terhalang perutnya yang besar. Dengan sigap Jason membantu Riri bangkit.
"Vio, sebentar ya.. aku antar Riri ke kamarnya dulu. Enggak lama kok."
Vio mengangguk dengan takjub. Tak membutuhkan waktu lama untuk menunggu, Jason sudah muncul kembali.
"Kamu sudah ke sini, ini masih pagi. Ada perlu?"
Vio menggeleng sambil tersenyum. Ia nekad datang ke sini karena rindu dengan lelaki itu. Semalam ia nekad memaksa Jason memberi tahu dimana rumahnya.
"Kakak enggak ke kafe?"
"Baru bangun, sih. Lagi capek banget enggak tau kenapa. Kamu enggak kuliah?"
Viola menggeleng."Enggak ada kuliah, Kak. Aku lagi skripsi. Sebentar lagi sidang meja hijau."
Jason mengangguk-angguk."Ya sudah.. jadi apa rencana kegiatan kamu hari ini?"
"Enggak ada...palingan juga memantapkan diri untuk sidang. Aku ke sini, untuk menjemput semangatku, Kak. Aku pengen lihat kakak secara langsung, biar aku semangat. Karena saat ini kakak lah penyemangatku." Viola tersenyum tulus.
"Orangtua pasti penyemangat terbesar, ya?"
"Iya, pasti, Kak. Tapi mereka sudah meninggal. Jadi, kakak sosok nyata yang bikin aku semangat."
Jason tersenyum tipis. Menatap gadis itu dengan iba."Iya, kamu semangat, ya, Vio. Kamu pasti bisa lewatin ini semua."
Viola mengangguk "Ya sudah, Kak. Vio pamit, ya, Kak. Sekarang Vio sudah semangat lagi." Viola berdiri hendak pulang.
"Vio!" Panggil Jason.
Viola membalikkan badannya. Sekarang, Jason sudah berdiri tepat di hadapannya. Tanpa diduga, Jason memeluk Viola dan memberikan kecupan di kepalanya. Kaki Viola mendadak lemas, rasa haru memenuhi kepalanya. Ia membalas pelukan Jason. Menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.
"Kamu pulang, belajar yang rajin. Semoga sukses!" bisik Jason.
Viola melepas pelukan Jason."Makasih, Kak. Aku pulang "
"Hati-hati, ya." Jason melambaikan tangannya.
Sekitar pukul sepuluh, Jason tiba di kafe. Di sana sudah ada beberapa orang yang berkunjung.
"Pagi, Pak,"sapa Randy.
Jason tersenyum."Iya, Pagi. Sudah banyak yang berkunjung, ya."
"Iya, Pak. Lumayan. Ada beberapa juga yang meeting kayaknya. Oh, ya, Pak. Ada yang nungguin tuh."
Jason mengerutkan keningnya."Siapa?"
Randy menunjuk ke sudut ruangan. Seorang wanita berambut panjang, mengenakan kemeja putih dan jeans bewarna Navy."Itu, Pak."
Jason menoleh."Oh...Oke. Makasih, Ran. Bikinin saya Americano satu ya sama cake yang biasa."
Randy mengangguk."Iya, Pak."
Jason menghampiri Carla yang sudah menunggunya di sudut ruangan. Wajahnya terlihat gelisah."Carla...."
Carla tersentak, ia mendongak dan menatap pria di hadapannya. Sekarang ia baru menyadari bahwa Jason memang bukanlah orang biasa seperti yang ia pikirkan selama ini."Eh, Hai, Jes."
Jason mengambil posisi duduk di depan Carla. Ia melipat tangannya di meja, menatap Carla dengan serius."Kamu nungguin aku?"
Carla mengangguk ragu."Iya."
"Oke. Ada apa? Kemarin kamu kabur gitu aja. Aku kejar, udah ngilang. Aku ke rumah kamu juga enggak ada. Kamu kemana?"
Carla merasa tersentuh mendengar Jason mengejar dan mencari dirinya. Tapi, ia memang langsung menghilang tanpa jejak. Kemudian akhirnya ia numpang tidur di apartemen Eve."Aku minta maaf atas kelakuanku ya g main kabur aja kemarin, Jes."
"Bukan masalah, Clay. Aku takut aja ada kelakuanku yang nyakitin kamu tanpa kusadari."
"Enggak. Mungkin moodku lagi enggak baik aja."
Pembicaraan mereka terjeda.Seorang pramusaji menghampiri meja mereka, membawa pesanan Jason saja karena Carla sudah memesan terlebih dahulu.
"Jes, aku ke sini mau klarifikasi semuanya sekaligus minta maaf atas penculikan yang aku lakukan ke kamu."
Jason tertawa sambil mengaduk kopinya."Aku sudah lupakan itu, Clay. Aku bisa paham posisi kamu."
"Makasih, Jes. Maaf juga waktu itu sudah maksa kamu ngaku-ngaku jadi pacar aku."
Jason mengendikkan bahunya."itu juga bukan masalah. Walau hanya pura-pura, aku senang melakukannya."
"Tapi, Jes...aku pengen klarifikasi kalau semua itu cuma pura-pura. Untuk bikin Revan cemburu."
"Kamu masih sayang sama Revan?"
Carla mengangguk."Bahkan aku masih pengen dia kembali sama aku, Jes."
"sepertinya kamu sudah berhasil membuatnya berpaling, Clay. Karena nyatanya Yessi juga datang lagi padaku. Itu artinya, ia sudah tak memiliki hubungan yang baik dengan Revan."
"Beneran? Tapi, Revan belum ada hubungin aku."
Jason mengangkat kedua bahunya."Hmm...jadi intinya aku tak perlu menjadi kekasih pura-puramu lagi, kan? Kita putus begitu?"
"Iya." Carla mengangguk semangat.
"Oke, Clay." Di dalam hati Jason terbersit sedikit kekecewaan. Sebenarnya dia memiliki harapan untuk bisa bersama Carla. Wanita itu terlihat matang, meskipun terkadang menyebalkan.
"Tapi, kita tetap berteman, kan, Jes. Kamu mau Maafin aku atas semua kelakuan aku kemarin?"
Jason mengangguk saja karena ia baru saja menyuapkan sepotong Chesees cake ke mulutnya.
"Artinya... Iya?"
"Iya, Clay. Aku sudah lupakan itu semua."
Di saat bersamaan ponsel Carla berbunyi. Nama Revan muncul di layar. Carla memekik kegirangan."Jes, dia nelp aku.”
Carla menempelkan telapak tangannya ke d**a sambil mengangkat telpon."Halo?"
"...."
"Iya, Van. Iya enggak apa-apa."
"...."
"Iya. Dimana?"
"...."
"Oke. Kita ketemu di sana. Daah."
Carla memutuskan sambungan. Kemudian memegang kedua tangan Jason."Revan ngajak ketemu aku, Jes."
"Bagus dong. Selamat, semoga hubungan kalian membaik, ya."
Carla mengangguk."Aku harus siap-siap. Aku pergi dulu, ya."
"Oke hati-hati." Jason kembali menyuapkan chesee cake ke mulutnya. Suapan kali ini terasa hambar dan menyakitkan.
Jason harus bisa menerima kenyataan bahwa perkenalan singkatnya dengan Carla bukanlah suatu perkenalan yang akan berakhir dengan suatu hubungan spesial. Mungkin ia terlalu cepat menyimpulkan jika Carla akan berlabuh ke hatinya. Masih terlalu pagi untuk menyangka Carla memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun, Jason harus bersikap realistis. Hidup tak berjalan sesuai dengan keinginan bukan berarti hidupnya telah berakhir. Ia masih harus terus berjalan ke depan. Akan ada hal-hal baru yang lebih indah menanti.