Hari-hari terlewati, Jason dan Carla berteman baik. Namun komunikasi mereka hanya sekedar saja seperti rekan bisnis. Pagi ini, Lagu 'Asalkan kau Bahagia' dari Armada menggema di kafe Jason. Randy hanya bisa tertawa melihat kelakuan owner Kafe di tempat ia bekerja. Tak biasanya Jason menyalakan Lagu 'cengeng' seperti ini.
"Galau, Pak?"
"Sedikit. Tapi...Ya sudah baikan juga, sih. Cuma pengen nyanyi lagu ini aja," balas Jason geli.
Pintu kafe terbuka. Randy dan Jason menoleh.
"Selamat datang," sapa salah satu pramusaji.
"Iya...," Balas Viola bersemangat. Lalu pandangannya tertuju pada Jason di meja barista."Kakak."
Jason menghampiri Viola yang sudah beberapa hari ini menghilang."Hai, sudah lama enggak main ke sini."
"Kak, aku lulus!"
"Lulus apa?"
Viola memanyunkan bibirnya."Lulus sidang, Kak. Dengan nilai A. Kemarin aku sidang tau."
Jason mengusap tengkuknya."Maaf aku enggak tau. Tapi, selamat ya...udah lulus. Jadi selama ini ngilang lagi sibuk ya."
"Iya. Aku mau kasih kejutan sama kakak."
Jason tersenyum, mengusap puncak kepala Viola."Dan aku terkejut. Jadi, kapan wisudanya?"
"Bulan depan. Kakak datang, ya."
"Diusahakan. Oh, ya... Yuk ke atas. Kita rayakan kelulusan kamu." Jason memeluk pundak Viola menuju lantai dua menuju ruangan outdoor.
"Kakak kangen enggak sama aku?" Tanya Viola.
Jason melirik Viola sambil menyunggingkan senyuman."Sedikit. Kamu?"
"Kangen banget."
Jason merentangkan tangannya sebagai kode bahwa ia siap dipeluk oleh Viola. Dengan tersipu malu, Vio perlahan berlabuh di pelukan Jason.
"Kak, gimana dengan pertanyaan aku waktu itu."
"Pertanyaan apa?"
"Kakak mau enggak jadi pacar aku?"
"Iya. Mau."
"Hah?!" Viola menatap Jason tak percaya."Kak, serius, nih."
Jason tertawa."Iya. Kakak mau jadi pacar kamu. Tapi, kalau bisa, kamu serius, ya dalam hubungan ini. soalnya...Kakak juga enggak mau lama-lama pacaran. Kalau bisa menikah saja setelah kamu wisuda."
Viola menangis haru."Makasih, Kak. Aku enggak nyangka kakak mau Nerima aku."
"Iya, sayang." Jason memeluk Viola dengan hangat. Ia harus membuka hatinya untuk Viola. Viola juga gadis yang menarik dan memiliki keunikan tersendiri. Selain itu, Viola juga telah berjuang banyak untuk mendapatkan dirinya.
Mendapat panggilan sayang dari orang yang dicintai, Kebahagiaan Viola tak dapat ia katakan dengan kata-kata. Saat ini ia benar-benar bahagia, sampai menangis haru.
"Ya udah, sekarang kita duduk...terus makan." Jason menarik kursi untuk Viola.
Viola tak menyangka Jason akan memperlakukannya semanis ini. Setelah penolakan Jason di hotel atas tubuhnya, ia pikir Jason memang benci dirinya. Tapi, sekarang ia yakin Jason hanya tak ingin merusak dirinya. Jason menjaga kehormatan dirinya sebagai wanita.
Jason pun semakin yakin bahwa, hatinya sudah berlabuh pada Viola. Meski usia mereka terpaut sebelas tahun bagi Jason yang terpenting adalah Viola bisa menyayangi dan mencintainya dengan tulus. Entah kenapa, sekarang rasa sayangnya semakin bertambah. Gadis itu semakin menggemaskan. Untuk lebih mudah bertemu dan komunikasi dengan kekasihnya itu, Jason memilih untuk menyewa sebuah kamar. Di sebuah kost-kostan ekslusif di kawasan kafenya berada. Ia tak mungkin mengundang Viola ke rumah sementara di sana ada James dan Riri yang baru saja resmi menjadi orangtua. Anak pertama mereka lahir, berjenis kelamin laki-laki. Melihat keponakannya itu membuat Jason tak sabar untuk menikah dan memiliki anak juga.
Hari ini, genap satu bulan Jason tinggal di kost-kostan. Ia juga sudah jarang berurusan dengan kantor karena James sudah fokus dan bisa menghandle semuanya. Hanya saja sesekali sesekali saat ia dibutuhkan, maka ia harus ke kantor. Kehidupan sehari-harinya ia mengelola kafenya itu.
Hari ini Jason menggoyang-goyangkan kakinya karena merasa bosan. Kafe sudah tutup sejam yang lalu. Sekarang ia sudah ada di kamar tercintanya. Suara ketukan pintu terdengar. Jason bangkit dengan semangat. Seorang wanita yang masih mengenakan stelan kerja itu tersenyum dengan wajah yang lelah.
"Sayang...." Jason memeluk Viola."Kamu kayak capek banget. Tadi, aku jemput enggak mau."
Viola masuk, lalu menutup pintu kamar Jason kembali."Iya, kamu juga, kan baru pulang dari kafe. Masa, sih aku suruh kamu jemput lagi."
Jason mengangguk."Iya. Maaf, ya."
Viola merebahkan tubuhnya yang lelah. Bekerja di bank membuatnya harus sering pulang terlambat di akhir pekan.
"Kamu mandi, sana," kata Jason.
Viola mengangguk lalu pergi ke kamar mandi. Ini adalah kali kedua Viola menginap di kost Jason. Selama ini ia masih malu dan takut. Apalagi Naina, kakak tiri Viola selalu cerewet jika Viola pergi keluar atau pun pulang terlambat. Lama kelamaan Viola merasa tidak nyaman. Akhirnya ia mulai memberanikan diri menginap di kost Jason. Jason menunggu Viola sambil menonton tv. Lalu terdengar suara hujan turun dengan deras. Jason mematikan televisi karena percuma, suaranya juga tidak dapat didengar. Suara hujan lebih keras.
"Hujan, ya." Viola keluar dari kamar mandi. Sudah lengkap mengenakan baju tidur tipis bermotif hello Kitty. Rambutnya terlihat basah.
"Iya. Aku matiin tv-nya. Percuma enggak kedengaran suaranya."
Viola mengangguk saja. Ia naik ke atas tempat tidur dengan sedikit canggung."Gimana kafe kamu hari ini?"
"Lumayan rame. Tapi jam sembilan sampe jam sepuluh udah sepi. Mungkin besok baru rame. Weekend. Kamu istirahat ... Capek abis lembur." Jason menepuk sisi tempat tidur yang kosong.
Viola mengangguk. Ia membaringkan tubuhnya yang lelah setelah bekerja seharian. Jason ikut berbaring dan memeluk tubuh Viola dari belakang. Kegiatan seperti ini sering mereka lakukan. Tidur sambil berpelukan. Tak melakukan apapun. Jason bisa mengontrol dirinya dengan baik. Ia benar-benar tak ingin merusak Viola sampai benar-benar sudah sah menjadi isterinya. Pernikahan mereka sudah direncanakan. Tinggal menunggu waktu saja.
"Sayang," panggil Viola.
"Iya?"
Vio membalikkan badannya menghadap Ke Jason. Ia membelai wajah Jason yang tampan dan sempurna. Setiap lekukan wajahnya begitu mempesona."Tadi, aku enggak sengaja liat Film."
"Film apa?"
"Film blue."
Jason tersentak."Kamu nonton dimana? Kan kamu kerja."
"Di hape temen aku. Ceritanya...dia keluar ada urusan sama bos. Terus hapenya ditinggal. Pas istirahat, kan, aku buka hapenya. Eh... Pas aku buka kunci layar, langsung muncul file-file Film itu. Terus aku play."
"Ada berapa Film?" tanya Jason.
"Sepuluh. Aku tonton semua," jawab Viola dengan polosnya.
Jason mengecup kening Viola."Kenapa kamu tonton, sayang. Belum waktunya."
Viola mengigit bibir bawahnya."Aku penasaran, Kak. Apalagi...Aku jadi teringat waktu kita di hotel."
Jason menarik napasnya yang mulai terasa sesak. Membicarakan hal seperti ini di saat hujan deras ditambah lagi ia tak pernah melakukan adegan ranjang membuat nafsunya langsung memburu."Jadi?"
Viola menempelkan bibirnya ke bibir Jason perlahan. Ditahannya beberapa detik. Jason tak tahan dengan perlakuan itu, ia langsung menyambut bibir Viola. Sepertinya baik Vio maupun Jason, keduanya tengah sama-sama menginginkan hal tersebut. Ciuman mereka benar-benar seperti orang kehausan. Bibir Mereka saling memagut mesra, tangan Viola mengusap-usap punggung dan kepala Jason dengan lembut. Sementara tangan Jason mulai menelusup ke dalam baju tidur Viola. Perlahan pakaian mereka lepas satu persatu. Sekarang tersisa celana dalam masing-masing milik Jason dan Viola.
"Sayang, masih ada kesempatan untuk mengatakan berhenti. Katakanlah." Jason tampak mengatur napasnya ya g memburu.
Vio menggeleng."Teruskanlah."
"Vio, aku tidak ingin merusak. Aku bisa berhenti jika kamu menginginkannya."
"Lanjutkan lah."
"Kamu tidak menyesal?"
Viola menggeleng."Tidak akan."
"Baiklah."
Jason mengusap air mata Viola. Vio mulai bisa merasakan nikmatnya meski bercampur perih. Desahan Viola tertahan, semuanya bercampur menjadi satu.