Bab 17

1014 Kata
Siang ini Jason dan Viola pergi jalan-jalan sekaligus makan siang. Mereka tampak begitu serasi. Jason dengan pakaian santainya memeluk tubuh mungil Viola sambil berjalan. Viola merasa nyaman berada di tubuh tinggi Jason. Seakan Jason adalah 'rumah' tempat ia tinggal. Pergumulan panas semalam seakan menjadi pupuk untuk cinta di antara mereka. Rasa sayang Jason pada wanita itu semakin besar. Rasa ingin terus ebrsama dan ingin memiliki selamanya kian bertambah. Ia berjanji akan melindungi Viola samapai kapan pun. Semoga saja mereka memang berjodoh. Sambil terus memeluk Viola, Jason mengedarkan pandangannya. Ia berhenti tiba-tiba.”Aku mau beli sesuatu deh di situ," tunjuk Jason pada sebuah outlet pakaian pria. "Ya udah, yuk." Viola mengangguk. Mereka berjalan menuju outlet tersebut, tapi kemudian ada seseorang yang menarik tubuh Viola hingga terpisah dari pelukan Jason. Mata Viola membulat saat menatap wanita di hadapannya tengah memasang wajah marah. "Kakak?"Viola terperangah, ternyata Naina bisa mengetahui keberadaannya di sini. Mungkin, ia sudah menjadi penguntit,. "Sini kamu!" Naina menarik Viola dengan kasar. "Siapa ini? Ini yang bikin kamu enggak pulang?" Viola berushaa menepis tangan Naina."Kakak, apa-apaan, sih? Ini pacar aku, Kak." Viola marah pada Naina atas kelakuannya. Sikapnya itu sudah memeprmalukan dirinya di depan Jason. Naina menatap Viola dengan sinis."Pacar? Kamu tahu enggak dia siapa?" Viola berusaha tenang meskipun Naina bersikap kasar."Dia Jason Morinho, Kak. Iya... Kakak kenal?" "Kamu tahu? Aku pernah pacaran sama kakaknya. Dan dia mencampakkan aku begitu aja, Vio. Sebentar lagi kamu juga akan dicampakkan sama dia." Naina terlihat emosi sambil menatap Jason dan Viola bergantian. "Ehm... Begini, urusan kamu sama James, tidak ada urusannya dengan saya. Saya juga tidak tau kalau kalian pernah pacaran. Apapun urusan kamu sama kakak saya di masa lalu, itu adalah urusan kalian. Sekarang, saya dan Viola menjalin hubungan. Kami sudah merencanakan pernikahan," jelas Jason dengan sabar. "Saya tidak percaya. Kamu sama kakak kamu sama saja. Sudah meniduri saya, lalu dicampakkan begitu saja!" Naina kembali berkata keras. Viola meneteskan air mata, ia memegang lengan Naina."Kakak! Dia serius sama aku, Kak. Kami bahkan sudah membuat gaun pernikahan. Kakak jangan seperti itu." "Kamu enggak tau terima kasih, ya, Vio. Kakak ngasih tau yang baik-baik. Ini buat masa depan kamu. Karena kakak sudah ngalamin hal seperti ini dulu." Naina berusaha membuat Viola mengerti. Namun, sayangnya Viola tidak mau mengerti, sebab, baginya Jason adalah lelaki sempurna, lelaki baik yang tidak akan mungkin melakukan itu. Ia tidak mungkin salah memilih laki-laki. "Kakak! Kakak salah, Jason ini...." Ucapan Viola terpotong saat Naina melayangkan tamparan ke pipi kiri Viola. Jason terkejut, ia langsung memeluk Viola."Seharusnya kamu tidak perlu melakukan itu. Saya rasa kamu hanya perlu memahami semuanya. Viola ini adik kamu,”tatapnya marah pada Naina. “Seharusnya kamu yang tidak boleh membawa Adikku ke dalam kehidupanmu! Seharusnya kalian sadar, bahwa kalian itu adalah orang-orang yang tak punya hati.” Naina menatap Jason sinis, matanya memerah seakan ingin menyerang Jason atau Viola lagi. Air mata Viola menetes, menahan sakit di pipi dan juga di hati. Ia tenggelam dalam pelukan Jason. Naina mendorong bahu Viola."Enggak usah nangis kamu, karena belain laki-laki ini. Tamparan kakak belum ada apa-apa sakitnya dibandingkan perlakuan Jason nanti pada kamu." "Saya tidak seperti itu, Naina!" ucap Jason. "Kita lihat aja nanti, Tuan Jason Morinho. Dan di saat itu, aku tak akan pernah menerimaku lagi, Viola. Toh, kamu juga adik tiri aku." Naina menunjukkan wajah arogansinya lalu pergi meninggalkan Jason dan Viola. "Sayang, kamu... Gimana? Sakit?" Tanya Jason sambil membawa Viola keluar dari sana Karen orang-orang sudah mulai berkerumun menonton mereka. Di dalam mobil, Viola terisak."Kakakku jahat." Jason mengangguk."Jangan kamu pikirin dulu. Mungkin dia lagi emosi." "Memangnya apa yang dikatakan Kak Naina itu benar, Kak? Kakak akan ninggalin aku nanti?" Viola menatap Jason sedih. Jason memeluk Viola kembali."Sayang, aku tidak tau akan berjodoh dengan siapa. Tapi, saat ini... Aku sama kamu. Kita sudah merencanakan pernikahan, kan. Sudah rancang gaun pengantin sama Eve." Viola menghapus air matanya, mengangguk-angguk."Iya, Kak. Tapi, aku takut... Itu benar-benar terjadi. Semua bisa saja terjadi. Aku takut!” "Kita berdoa aja, ya. Semoga semuanya lancar. Masalah kakak kamu, nanti perlahan dia juga akan mengerti," kata Jason. Viola mengangguk lemah."Iya. Semoga saja. Jujur... Aku takut, Kak." "Ya sudah, kita pergi saja dari sini. Kita makan di kafe aja." Jason melepaskan pelukannya, mengusap air mata Viola."Sudah tenang?" Viola mengangguk."Iya sudah. Kita pergi aja." Jason mengangguk, ia pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Mereka berdua makan di kafe milik Jason, setelah itu kembali ke Kost Jason untuk beristirahat. Viola lebih banyak bersedih akibat kejadian tadi. Selain itu juga ia khawatir jika Jason akan meninggalkannya. Ia takut apa yang dikatakan Oleh Naina itu benar. Tapi, sebagai pasangan Jason, ia tak ingin berprasangka buruk. Ia harus percaya pada Jason. Jason begitu sayang padanya. Jason juga sudah membawanya ke rumah mengenalkannya pada kedua orangtua Jason, serta kakaknya, James dan Riri. Ia juga beberapa kali menginap di rumah Orangtua Jason, bermain-main bersama Jonathan. Anak pertama James dan Riri. Harusnya ia tiak memiiliki kekhawatiran apa pun terhadap kekasihnya. Viola menatap Jason yang tengah terlelap. Napasnya terlihat teratur. Wajahnya yang memiliki rahang tegas yang ditumbuhi bulu tipis membuatnya terlihat sangat tampan. Ia tersenyum, merasa beruntung menjadi kekasih Jason. Bahkan sekarang menjadi salah satu bagian yang penting dari hidup lelaki itu. Tanpa ia sadari, kini ia sudah berlabuh ke pelukan Jason. Jason tersentak. Matanya nya mengerjap, melihat Viola bersandar manja di atas tubuhnya. "Kenapa, sayang?" Viola mendongak."Enggak. Aku  mau Peluk aja." Jason tersenyum, ia pun memiringkan tubuhnya menghadap ke Viola, kemudian merengkuh tubuh kekasihnya itu."Aku Peluk, nih." Viola menghirup aroma tubuh Jason begitu dalam."Besok aku udah kerja lagi." "Setiap hari aku juga kerja, sayang. Sabar, ya. Nanti kalau sudah menikah kamu enggak usah kerja. Urus aku aja," ucap Jason sambil mengecup kening Viola. "Iya, sayang." Viola mengecup bibir Jason sekilas. Jason mengernyitkan keningnya."Kamu... Bangunin singa tidur." Vio tertawa."Kamu ini ... Apaan sih." Jason menangkup wajah Viola, menatapnya dengan mesra. Perlahan menempelkan bibir mereka."Semakin lama...Kamu semakin manis." "Kakak godain aku, ya." Viola mencubit perut Jason pelan. "Kamu...gemesin banget." Jason melumat bibir Viola. Mereka kembali bercinta setelah kemarin Jason menembus milik Viola. Hari ini ia kembali ingin menembusnya. Pertahanannya runtuh, ia melanggar ucapannya sendiri untuk tidak menyentuh Viola sebelum menikah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN