Namaku Bunga
Namaku Bunga. Tiga puluh tahun. Sudah satu tahun aku tinggal di komplek ini bersama suamiku, Heri, yang juga berusia tiga puluh tahun. Kami pasangan baru menikah dua tahun, namun kami belum diberi momongan.
Suamiku bekerja di perusahaan IT, gaji lumayan. Orangnya juga lumayan—nggak jelek-jelek amat, cukup untuk kulihat setiap pagi tanpa merasa perlu berpaling. Tapi yang kurang dari dia adalah permainan seksnya kurang menggairahkan.
Aku sudah bilang berkali-kali, dengan cara halus maupun terang-terangan.
"Sayang, coba lebih lama sedikit," bisikku suatu malam.
Dia hanya mengangguk, lalu melakukannya dengan cara yang sama seperti semalam, dan semalam sebelumnya, dan semua malam sejak kami menikah. Seperti menjalankan rutinitas, seperti memencet tombol di komputernya.
Aku mencintainya. Tapi...
Mungkin itu sebabnya mataku sering tertambat ke rumah seberang.
----
Rumah depan kami adalah rumah Andini. Dua puluh sembilan tahun. Secara wajah dan body, aku lebih cantik—aku tahu itu. Cermin tak pernah berbohong. Namun nasibnya ia mempunyai seorang suami pengusaha di bidang properti, bernama Galang, tiga puluh tahun, seumuran kami.
Galang sangat tampan, tinggi, dan atletis.
Jika disandingkan, sebenarnya aku lebih cocok jadi istri suaminya.
Mereka sudah menikah tiga tahun ini, dan sudah tinggal di kompleks ini juga selama tiga tahun yang lalu. Kini setelah menanti hampir tiga tahun, Andini sedang hamil tiga bulan sekarang. Perutnya mulai terlihat sedikit membuncit, dan dia selalu tersenyum manis setiap kali memegang perutnya.
Aku tersenyum padanya setiap berpapasan. Tapi mataku—mataku selalu mencari Galang di belakangnya.
----
Galang.
Dulu ia atlet basket. Tingginya 194 cm. Bahunya bidang, pinggulnya ramping, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna dari tahun-tahun latihan dan pertandingan. Sekarang ia pengusaha properti, tapi tubuhnya masih seperti atlet. Mungkin lebih hot.
Dari seberang, sering aku mengagumi tubuhnya yang hot itu ketika ia telanjang d**a.
Pagi-pagi, saat menyiram tanaman. Sore hari, saat berlari kecil keliling kompleks. Kadang hanya berdiri di teras, minum kopi, dengan kaus yang ia singkap ke atas karena cuaca panas.
Aku punya pemandangan sempurna dari jendela kamarku.
Aku tidak sengaja—pasti tidak sengaja—selalu ada di sana saat itu.
----
"Bunga!"
Suara Andini membuatku tersentak. Cepat-cepat aku berpura-pura mengelap jendela yang sudah kinclong.
"Iya, Din?"
"Mas Galang bawain durian, lho. Banyak banget. Ini buat kamu ya."
Galang berdiri di belakangnya. Senyumnya lebar, matanya ramah. Dia mengenakan kaus putih tipis yang melekat di dadanya. Aku bisa melihat bentuk otot dadanya dengan jelas, dan lengan panjang berotot yang memegang plastik berisi durian.
Wangi durian tiba-tiba terasa sangat... mengganggu.
"Makasih banyak, Galang, Andini." Aku tersenyum, memastikan suaraku tetap normal. Tidak bergetar.
"Sama-sama. Mumpung lagi musim." Suaranya berat, dalam. Seperti bass yang bergetar sampai ke ulu hatiku.
Aku menerima durian itu. Tangan kami hampir bersentuhan. Aku menarik tanganku lebih cepat dari yang seharusnya.
Malam itu, Heri pulang larut.
Aku berbaring di kamar, seprai dingin menyentuh kulitku. Jendela masih terbuka sedikit, tirai berkibar pelan ditiup angin. Dari celah itu, aku bisa melihat rumah seberang.
Lampu kamar mereka masih menyala. Aku bisa melihat siluet. Galang. Tinggi, besar. Bergerak di dalam kamar.
Aku memejamkan mata.
Dan aku mulai membayangkan.
---
Seandainya ia jadi suamiku.
Seandainya setiap malam aku tidur di samping tubuh setinggi 194 cm itu. Seandainya tangan besar itu memelukku dari belakang, bukan hanya diam di sampingku. Seandainya setiap kali aku ingin, dia bisa... lebih.
Aku membayangkan rasanya.
Rasanya bercinta olehnya.
Bayangan itu datang begitu saja. Galang di atasku, tubuh atletisnya membayangi seluruh tubuhku. Dadaku tertekan dadanya yang keras. Lengannya di samping kepalaku, menopang berat badannya—karena dia sangat besar, tapi sangat lembut saat menyentuhku.
Aku bisa merasakan beratnya. Hangatnya.
Aku membayangkan dia mencium leherku, napasnya berat di telingaku. Suaranya yang berat berbisik, "Kamu mau, Bunga?"
Aku mengangguk dalam bayangan.
Dan dia masuk. Besar. Penuh. Mengisi semua ruang yang selama ini kosong.
Dalam bayanganku, aku mengerang. Bukan erangan kecil yang bisa kutahan, tapi erangan panjang yang keluar dari lubuk paling dalam. Tanganku meraih punggungnya yang lebar, merasakan otot-ototnya bergerak di bawah telapak tanganku saat dia mulai bergerak.
Gerakannya ritmis, kuat, tapi tidak kasar. Dia tahu apa yang dia lakukan. Dia tahu bagaimana membuatku—
"Bunga?"
Suara Heri membuatku tersentak. Mataku terbuka lebar.
Dia berdiri di pintu kamar, masih dengan baju kantor yang sedikit kusut. "Lama di kantor tadi, rapat dadakan. Kok belum tidur?"
"Belum ngantuk."
Dia mengangguk, lalu masuk ke kamar mandi. Aku dengar air mengalir.
Aku menoleh ke jendela. Lampu rumah seberang sudah mati.
Tapi bayangan Galang masih hidup di dalam kepalaku. Dan di antara kakiku, masih ada sensasi basah yang tak bisa kusangkal.
Aku memejamkan mata lagi, tapi kali ini aku tidak berani membayangkan apa-apa. Hanya menunggu Heri selesai mandi, menunggu dia tidur di sampingku, menunggu pagi datang.
Pagi saat aku bisa melihat Galang lagi dari balik jendela.