Semakin hari semakin tidak ada kejelasan apapun dari rendi. Ia masih tetap bersembunyi disuatu tempat dan aku tidak tahu dimana. Sila begitu iba melihat nasibku yang belum ada kejelasan apapun dari masalahku ini. "Ranti, ortu lo tau masalah lo ini?? "ortu gue belum tahu soal ini sil, dan gue gaka akan kasih tahu soal masalah ini. Gue harus cari tahu akar permasalahannya biar dapet solusi yang terbaik dan bisa mengambil langkah yang benar." Kuambil ponselku dan aku mengirimkan pesan ke nomor rendi yang baru kukatakan didalam pesan tersebut kalau ingin segera bertemu dan membicarakan soal kelanjutan hubunganku dengannya. Dan kupertegas kalau lusa rendi harus bisa menemuiku dan menjelaskan apa maunya rendi terhadap hubungan kami. Dan aku sudah menyiapkan mental untuk hal yang paling terburuk sekalipun keadaan kedepannya.
Sila memegang bahuku guna menguatkanku untuk tetap bisa tegar menghadapi masalahku dan bisa segera menyelesaikannya dan aku bisa kembali seperti semula menjadi seorang ranti yang tidak akan pernah membutuhkan sosok laki laki manapun didunia ini. Karena benar prinsip hidupku yang lama kalau laki laki itu tidak akan pernah ada yang setia menjalani kisah cintanya hanya dengan satu wanita untuk seumur hidupnya dan itulah yang aku benci dari sosok laki laki didunia ini. Dan sila percaya kalau aku mampu untuk memghadapi dan melewatinya karena yang sila tahu kalau seorang ranti itu sangatlah kuat sesuatu hal sulit bisa dipermudah olehku dan selalu bisa bangkit kembali setelah aku terjatuh dilubang yang sangat menakutkan didalam hidup. "Ranti, gue percaya sama lo, kalau lo bisa segera menyelesaikan semuanya dan kembali ceria seperti dulu lagi..ranti hwaiting!!!! dengan gaya centilnya ala ala cewek yang ada di drama korea dan itu yang membuatku terkekek geli melihatnya.
Sudah hampir 4 jam aku menunggu balasan pesan dari rendi. Namun hasilnya nihil dan itu yang membuatku sangat murka rasanya ingin sekali ku berteriak kencang dan mengutuk rendi dengan sumpah serapahku karena ia sudah membuatku kecewa dan hilang kepercayaan. Kedepannya buatku kepercayaanku pada rendi sudah pudar, tidak ada lagi rasa percaya terhadap apapun yang dulakukan oleh rendi. Aku merasa saat ini kalau rendi adalah seorang pecundang yang tidak bisa menghadapi permasalahan namun malah menghindari permasalahan. Aku akan lebih menghargainya kalau rendi bisa jujur padaku dalam hal apapun, bukan malah menutupi semua hal yang harusnya ku ketahui dari awal mula menjalin hubungan yang nantinya akan berakhir di pelaminan. Dua orang yang akan mengarungi rumah tangga harusnya saling jujur dan terbuka satu sama lain dalam hal apapun baik dari masa lalunya hingga masa depan nantinya.Kuberharap rendi segera membaca dan membalas pesanku agar semuanya cepat selesai demi kebaikan bersama.Selang beberapa menit kemudian ponselku berbunyi dan kulihat itu adalah telpon masuk dari rendi, tanpa basa basi kujawab telponnya " hallo, jadi kapan saya bisa bertemu dengan anda ??? dan masalah saya dan anda harus segera diselesaikan dan anda berhutang sebuah penjelasan sebenar sebanrnya dengan saya" dengan nada dingin dan ketus. " Yang, besok kita ketemuan aku jemput kamu dirumah dan aku akan jelasin semuanya, inget yang kita masih banyak yang belum diselesaikan untuk acara pernikahan kita. Dan waktu kita sudah semakin sempit jadi besok masalah akan selesai semuanya dan kita akan segera memulai hidup baru. Kamu harus selalu percaya sama aku sayang, buatku kamu adalah segalanya. Aku tutup telponnya ya sayang aku rindu sama kamu ranti". Dan sambungan telpon pun terputus, entah mengapa mendengar kata kata rendi yang dia ucapkan membuatku semakin merasa takut. Entah apa yang kurasakan saat ini begitu membingungkan untukku. Yang kutakutkan adalah ucapan manis diawal yang akan membuatku merasakan sakit dan kecewa berpanjangan kedepannya. Hanya itu yang sangat ku takutkan .