Selesai mandi aku bergegas berpakaian namun kulihat diranjang rendi sudah bangun dan kurasa saat ini rendi sedang mengambil minum didapur. Saat aku ingin berpakaian kulihat ponsel rendi tidak ada dinakas samping ranjang,lalu kuintip dari pintu rendi sedang mengotak atik ponselnya seperti sedang mengetik sebuah pesan. kulihat raut wajah rendi yang terlihat cemas. Dan seketika fikiranku tertuju pada privat number tadi yang kulihat saat rendi masih tertidur pulas. Aku menjadi semakin penasaran siapa pemilik privat number tersebut yang bisa membuat seorang rendi yang terlihat selalu cool menjadi begitu sangat cemas sekali. Lalu rendi akan menuju ke kamar dengan secepat kilat aku lari berjinjit untuk berpura pura sedang berpakaian agar rendi tidak curiga kalau aku sedang mengintipnya dari dalam.
Saat aku ingin mengenakan braku tiba tiba ada sepasang tangan jahil yang meraba puncak dadaku sambil menciumi leherku dan berkata "sayaaaaaaaangg ngapain kamu pakai bra kita mau lanjut lagi diranjang sayang bisik rendi ditelingaku". seketika itupun aku menolak mentah mentah permintaaan rendi dengan beralasan kalau harus segera membereskan souvenir yang sudah kami beli. Supaya siap agar meringankan persiapan pernikahan kami dalihku pada rendi. Dengan kecewa rendi berkata "baiklah sayang, nanti aktivitas ranjangnya kita lakukan lagi tapi durasinya sama rondenya aku mau lama ya yank kata rendi padaku". lalu ku jawab "iya". Lalu rendi pun meletakkan ponselnya dinakas dan pergi ke kamar mandi. Setelah rendi masuk kedalam kamar mandi cepat cepat kulihat ponselnya, kuperiksa log panggilan yang kulihat tadi dan mataku terbelalak lebar karena pivat number yang tadi kulihat sudah terhapus. aku bertanya tanya dalam hatiku sebenarnya siapa pemilik privat number itu dan seberapa pentingnya sipemilik bagi rendi??? sebuah pertanyaan besar yang belum kutemukan jawabannya. lalu kubuka perpesanan diponsel rendi tidak ada juga pesan yang mencurigakan, sungguh diriku dibuat bingung dan merasa jadi orang terbodoh didunia. Tak terasa air mataku jatuh karena aku merasa marah, kesal, kecewa, penasaran pokoknya rasanya campur aduk jadi satu. Dadaku terasa sesak saat sekali karena amarahku tidak bisa meluap keluar. Aku terkulai dilantai merasakan lemas seluruh tubuhku serasa tidak memiliki tulang. Rasanya hatiku hancur, aku merasa ada sebuah pengkhianatan sungguh aku tidak bisa berfikir lagi apa yang harus kulakukan. Dengan tubuh yang masih polos tanpa sehelai benangpun aku terduduk dilantai air mataku tumpah , dadaku terasa sesak dan aku menangis tertahan tanpa mengeluarkan suara agar rendi tidak mendengar tangisanku. Aku sekarang harus apa dan bagaimana harus bersikap didepan rendi??? karena seketika aku merasa kesal dan jijik kalau berada didekat rendi. Karena privat number itu sekarang aku sangat membenci rendi.