“Mau dihukum apa, hmmm?” Suara baritonnya membuat aku semakin terkesiap. “Oh, boleh milih, ya? Bentar-bentar!” Aku berusaha bersikap tenang dan melepaskan tangannya yang melingkar ke pinggang sambil berpikir. Aku pura-pura santai. Hanya saja, tetap saja rasa gugup lebih menang. “Siapa yang bilang boleh milih, hmmm?” Nada bicaranya penuh penekanan. Kurasa efek semalam tidur di luar jadi sensian. “Ehmmm … itu, anu, Bang.” Bingung mau ngomong apa. Bukan karena apa-apa tapi jarak yang habis ini membuat otakku malah gak bisa kerja. Aroma maskulin yang menguar, sentuhan tangan ini dan letupan-letupan seperti sengatan listrik yang mengalir, membuat aku benar-benar sulit berpikir. “Anu?” Alis tebalnya saling bertaut sambil mengulangi kata itu dan itu, justru makin membuatnya terlihat mengge

