BAB 28 - MENYENANGKAN

2264 Kata
               Saira mengangguk dan tersenyum saat Gibran menyuruhnya untuk tidak memikirkan dirinya dan fokus pada ujian terakhir. Ia berlari ke kelasnya untuk mengejar waktu agar tidak tertinggal ujian. Saira merasa, dirinya yang berlari dengan laju yang amat cepat bahkan tidak bisa mengalahkan jantungnya yang saat ini berdegup kencang. Ia sudah tau jawaban pertanyaan Gibran. Tidak perlu dipikirkan ulang.                 Selesai ujian, Saira langsung bergegas keluar dari ruang ujian sembari membuka telepon genggamnya. Belum ada notifikasi apapun. Namun ia tidak sabar ingin mendapat notifikasi dari Gibran, currently her boyfriend? Belum, tunggu dulu. Saira bahkan belum memiliki kesempatan untuk menjawab.                 Sibuk pada telepon genggamnya, membuat Saira tanpa sadar melewati ruang ujian Bian dan Aliyyah. Ia berjalan begitu saja turun melewati tangga dan sampailah ia di persimpangan. Ternyata di sana sudah ada Gibran yang menunggunya dengan wajah santai dan senyuman. Persis seperti dulu, sebelum semua hal aneh yang belakangan terjadi secara mendadak. Penjelasan Gibbran, rumor yang beredar, dan semuanya yang membuat Saira lelah hati dan pikiran.                 “Nungguin gue?” tanya Gibran.                 Saira menyembunyikan senyumnya dan memasang wajah congkak yang disengaja. She’s playing hard to get.                 “Kak Gibs nungguin Saira?” tanya Saira. Ia membalikkan keadaan.                 “Nungguin dari tadi. Tapi Saira lama banget. Gak fokus ya ngerjain ujiannya? Mikirin yang lain?”                 Saira tertawa mendengar pertanyaan Gibran.                 “Ke kantin yuk!” ajak Gibran.                 “Males ah, rame. Banyak orang ngegosip,” jawab Saira jujur. Saira sendiri merasa bahwa ia trauma dengan kantin. Entah berapa kali ia mendengar orang berbisik-bisik saat ia lewat. Meskipun area lain di sekolah tidak ada bedanya, namun kantinlah tempat terburuk. Karena di kantin semua siswa bebas tanpa pengawasan yang berarti. Hanya ada cctv, jadi jika tidak terjadi k*******n, maka semua baik-baik saja.                 “Terus kemana? Taman anak aksel?”                 “Kejauhan. Gimana kalau ke perpus aja?” sebenarnya dari awal Saira ingin ke perpustakaan. Namun, ia sungkan mengutarakannya terus terang.                 “Ayo.” Gibran melangkah menuju perpustakaan dan menyeimbangkan langkahnya dengan gadis di sebelahnya.                 Saira dengan senang hati berjalan bersama Gibran. Ia tidak perlu lagi merisaukan perkataan orang dan hal remeh temeh lainnya. Ia cukup bahagia Gibran membelanya saat di kantin tadi, dan mengatakan pada orang bernama Alex—yang kemudian Saira sadari adalah mantan anggota tim basket yang melakukan k*******n—bahwa ia adalah pacaranya. Membayangkannya membuat Saira senyum-senyum sendiri.                 “Jadi?” tanya Gibran saat mereka sudah sampai di perpustakaan sekolah. Saira dan Gibran kini sedang duduk di Area 3 perpustakaan, area untuk meeting dengan meja berukuran sedang yang dikelilingi beberapa bangku.                 “Jadi apa? Ulangin dong pertanyaannya, Saira lupa,” jawab Saira usil. Ia ingin Gibran mengulang pertanyaan apakah Saira mau menjadi pacarnya.                 Mendengar sikap usil Saira, Gibran tertawa. “Sebenernya gue males banget ulang-ulang pertanyaan, tapi karena gue gabisa kalo gak dapet jawabannya, jadi… Saira mau gak jadi pacar gue?”                 Keadaan di perpustakaan sama sekali tidak ramai. Beberapa anak hanya berlalu lalang untuk mengambil buku—atau mengembalikannya—atau berada di Area 2 untuk tidur-tiduran atau duduk santai sembari bersandar pada bantal besar di sana. Sehingga, pembicaraan Gibran dan Saira tidak akan ada yang dengar.                 Saira mengangguk, “Iya,” sahur Saira pelan.                 “Sairaaa, pertanyaan gue udah diulang dua kali loh. Masa Saira cuma bilang iya, itu pun pelan banget,” kata Gibran menuntut. Baru kali ini Saira mendengar Gibran berbicara dengan menuntut.                 “Terus mau dijawab apa?”                 “Gak tau. Pingin dengar Saira ngomong aja. Abis kangen,” jawab Gibran sambil terus memandang Saira.                 “Ih Kak, jangan ngeliatin kayak gitu. Saira risih!”                 “Abis Saira lucu.”                 Saira tersipu mendengar pujian Gibran. Namun, Saira langsung ingat bahwa hari ini dia sudah ada janji untuk pulang cepat karena bunda ke luar kota, dan tidak ada yang masak untuk makan siang. Saira bahkan bersyukur karena Bian menolak untuk diajak bermain selepas ujian terakhir.                 “Kak, Saira janji mau pulang cepet. Soalnya bunda ke luar kota, jadi gak ada yang masak. Saira pulang ya?”                 “Pulang sama siapa?” tanya Gibran.                 “Naik ojek,” jawab Saira sambil tersenyum.                 “Sabar, nanti aku nabung buat beli motor lagi biar bisa anter jemput kamu,” kata Gibran tiba-tiba, membuat Saira merasa tak enak hati.                 “Apa sih Kak Gibs, orang Saira suka naik ojek.”                 “Gasuka dianter jemput sama aku?”                 “Aku?” entah mengapa Saira merasa lucu mendengarnya.                 “Iya sih. Saya juga geli sendiri,” Gibran menyetujui.                 Saira tertawa membayangkan betapa Gibran susah payah mengganti dirinya menjadi aku.                 “Kayak biasa aja, oke? Saya isn’t bad.”                 Saira kemudian keluar dari perpustakan dengan Gibran di sebelahnya. Mereka mengobrol dalam perjalanan dan tertawa bersama. Di luar perpustakaan, mereka berpapasan dengan Bian yang datang membawa setumpuk buku.                 “Kok kalian bisa…” Bian bingung dengan pemandangan yang dilihatnya. Ia pasti belum mendengar apapun terkait kejadian di kantin tadi.                 “Bian, gue bantu ya?” tanya Gibran yang langsung menghampiri dan memindahkan beberapa buku ke tangannya.                 “Thanks, Bang. Berat banget,” kata Bian berterima kasih.                 “Pantes lo pinter, Bi. Pas ujian aja bacaan lo sebanyak itu,” kata Saira mengomentari.                 “Thanks, Sar,” jawab Bian.                 “Ih, congkak,” kata Saira mengendus karena jawaban Bian. Kemudian ia memanggil Gibran hendak pamit karena harus pulang duluan,“Kak Gibs.”                 “Apa, sayang?” sahut Gibran.                 “Wait, lo berdua…” wajah Bian penuh tanda tanya menuntut penjelasan.                 “Udah, nanti Saira cerita ke lo. Buruan, pegel nih,” Gibran memburu untuk segera mengembalikan buku-buku karena tangannya mulai kebas.                 “Saira pulang duluan ya Kak Gibs. Bye Bian!”                 “Hati-hati, sayang!” Tampaknya Gibran ingin membuat Bian jengkel.                 “Huekkk!” sahut Bian menampakkan eskpresi seperti mau muntah.                 “Iri bilang, dong.” Gibran mencadai adik kelasnya.                   Saira hanya tertawa kemudian melambai pada Bian dan Gibran. Lantas ia berjalan cepat menuju gerbang dan menemukan sebuah motor dan pengendara yang memakai jaket ojek online sudah menunggunya.                 Sampai di rumah Saira hanya mendapati Fatih yang baru sampai dan hendak ke Masjid untuk sholat Zuhur. Kakak laki-lakinya itu tampak baru saja selesai mandi dengan rambut yang masih basah.                 “Masjid dulu, ya,” Fatih pamit. Namun kemdian ia berbalik saat sudah sampai di depan itu. “Sar.”                 “Apa Mas?” tanya Saira sambil melepas tasnya dan hendak mencuci tangan.                 “Masak dong. Mas laper.”                 “Iya. Nanti ya setelah Saira selesai bersih-bersih.”                 “Oke.”                 Saira segera membersihkan dirinya, sholat, dan mulai memasak makanan paling sederhana yang bisa dibuatnya. Ia mengingat bahwa bunda selalu memiliki stok bumbu curry jepang instan. Maka, Saira hanya tinggal memotong wortel, kentang, dan bunci. Serta mengiris daging sapi tipis-tipis dan dimasukkannya ke dalam bumbu curry yang sedang dilumerkan dengan air. Dalam waktu setengah jam, curry instan itu jadi, bersamaan dengan Fatih yang pulang dari Masjid.                 “Kok tumben lama banget Mas di Masjid?”                 “Sengaja. Takut pas pulang Saira belum selesai masak,” jawab Fatih lemas.                 “Mas Fatih belum makan dari pagi?” tanya Saira, ia menyadari bahwa tadi pagi ia juga membeli corndog di kantin karena belum sarapan, kemudian peristiwa dengan anak kelas dua menyebalkan bernama Alex terjadi.                 “Belum,” jawab Fatih memelas. Ia meletakkan sajadah dan sarung yang dibawanya, kemudian bergegas mengambil piring dan menyantap masakan Saira.                 Karena tugasnya sudah selesai, Saira segera masuk ke dalam kamar dan memeriksa apakah hari ini ia akan mendapat notifikasi pertama dari pacar pertamanya. Dan benar saja, ia menemukan pesan Gibran di sana. Pesan yang baru saja masuk beberapa menit yang lalu.                 “Ih, pas banget. Pasti jodoh!” kata Saira asal. Gibran: saira Gibran: udh sampai rumah? Saira: udh, baru selesa masak Gibran: masak apa? Saira: curry Saira: kpn2 saira masakin ya Gibran: jgn, nnt ngerepotin Gibran: saya cm bs kasih roti goreng Saira: saira suka kok roti goreng Gibran: saya juga suka roti goreng Gibran: jgn2 kita jodoh             Saira tertawa. Betapa menyenangkannya percakapan ini, meskipun isinya tidak penting sama sekali. Begini ya rasanya punya pacar. Saira: hahaha Gibran: saira skrg lg apa? Saira: lg tiduran Saira: capek, abis masak Gibran: yaudah, istirahat gih Saira: kak gibs lg apa? Gibran: lg nunggu couch Gibran: katanya ada meeting sama pak arnon             Saira bingung mau membalas apa, tapi rasanya ia tidak ingin mengakhiri pembicaraan mereka. Saira: trs? Gibran: trs apa? Saira: gapapa Gibran: haha saira knp?             Bahkan Saira kebingungan dan tidak tau haru menjawab apa. Ia kemudian tertidur setelah lama berpikir tanpa sempat membalas pesan Gibran. ***             Sejak Gibran mengajak Saira pacaran, mereka tidak sama sekali ragu untuk berjalan bersama di area sekolah, menghabiskan jam istirahat bersama—jika Gibran tidak sibuk membantu ibunya berjualan—atau sekedar saling melambaikan tangan saat berpapasan.             Terkadang Saira menunggu Gibran latihan basket seperti dulu, dan membawakan Gibran masakannya meski Gibran melarangnya, namun tetap habis karena akhrinya Gibran akan tetap memakannya.             Saira sudah menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya, Aliyyah dan Bian. Bian lebih berisik dari Aliyyah mengenai dia dan Gibran, ia tidak pernah absen meledek Saira dan Gibran sampai membuat Saira menyesal menceritakan semuanya pada Bian. Sementara Aliyyah tidak banyak berkomentar dan tidak juga melarang Saira. Ia hanya mendukung pilihan Saira.             Rumor di sekolah sempat ramai di minggu pertama sejak kejadian itu. Namun, khalayak ramai percaya bahwa Gibran dan Saira sudah jadian jauh sebelum kejadian itu, dan menganggap rumor pahit soal Gibran dan Saira hanya berita burung yang dibesar-besarkan. Mereka kini berbalik menyalahkan Alex dan berita tentang Alex yang pernah melakukan k*******n di latihan basket sehingga dikeluarkan, mencuat kembali. Banyak yang beranggapan bahwa berita bohong mengenai Saira dan Gibran didalangi oleh Alex.             Gibran dan Saira sendiri tidak ambil pusing. Mereka hanya menikmati waktu mereka berdua, untuk saling mengenal lebih baik dari sebelumnya.             Sebentar lagi waktu liburan akan tiba. Setelah Ujian Akhir Semester Genap berakhir, mereka memiliki waktu satu minggu yang digunakan anak-anak untuk datang ke sekolah untuk bersantai—kecuali kelas akselerasi—meskipun tidak ada kegiatan belajar mengajar.             Gibran mengajak Saira untuk bertemu di sekolah hari ini karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Gibran sibuk menjadi panitia pertandingan basket antar kelas yang diadakan pada hari senggang sebelum pembagian rapor.             “Gimana basket? Pertandingan terakhir kapan, Kak?”             “Besok final. Saira nonton gak?” tanya Gibran sembari mengambil kripik keju yang ia ambil dari stand ibunya.             “Kamu main?”             “Enggak. Saya cuma boleh jadi panitia.”             “Kenapa?”             Gibran mengangkat bahu, lalu berkata, “Terlalu jago kali.”             Saira menyipitkan matanya. “Congkak!”             “Hahaha bercanda. Anyways…” Gibran memelankan suaranya. Saira tau sesuatu yang penting akan Gibran ceritakan. “I got a side job.”             “Hah?” mata Saira membelalak. Ia kemudian bertanya, “Kerjaan apa?”             “Jadi, bude saya itu punya TK. Nah, saya ditawarin jadi guru olahraga dan guru bahasa Inggris. Jadi, saya terima jadi guru olahraganya. Gibran bercerita dengan excited.             “Wow. Guru olahraga? Terus kenapa gak guru bahasa Inggris?”             “Soalnya kalo guru bahasa Inggris, harus bisa ngajar di hari biasa. Kan saya sekolah.”             “Kalo guru olahraga hari Minggu?”             “Nope. Hari Sabtu, sayang. Masa anak TK masuk sekolah di hari Minggu.”             “Yah……” sahut Saira sedih.             “Kenapa?”             “Saira mau minta temenin beli kado buat Mas Salman.”             “Mas Salman ulang tahun?”             Saira menggeleng.             “Terus?”             “Mas Salman kan udah wisuda, nah Saira belum ngasih kado.”             Gibran mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia juga menyipitkan matanya.             “Apa?” tanya Saira saat menyadari ada yang tidak beres.             “Saira ngajak saya nge-date?” tanya Gibran dengan wajah usil yang menyebalkan.             Saira terkejut dengan perkataan Gibran. Bagaimana Gibran bisa menebak dengan benar? Ia ingin mengajak Gibran jalan-jalan namun tidak tau bagaimana caranya. Jadi, ia jadikan wisuda Salman sebagai alasan.             “Gausah deh. Saira ngajak Bian aja,” jawab Saira ketus. Ia merajuk.             “Kenapa Bian? Kenapa gak Aliyyah?” tanya Gibran dengan mengerutkan dahinya.             “Ya gapapa, pingin sama Bian aja,” jawab Saira. Ia tau sebenarnya Gibran tidak suka jika Saira terlalu dekat dengan Bian. Bagaimana pun Bian adalah laki-laki. Men and women can’t be just friends.             “Gaboleh!” kata Gibran galak.             “Kenapa?”             “Gaboleh!” Gibran mengulangi kata-katanya dengan sama galaknya.             “Bian itu temen Saira,” kata Saira membela diri.             “Dulu kan kita juga temen,” kata Gibran.             “Masa sih?”             “Iya. Saira udah suka sama saya dari awal kenal ya?” Gibran bertanya dengan serius tanpa senyum.             Saira merengut. Ia tidak menjawab, dan membuang mukanya sambil memandang berkeliling. Dilihatnya Amanda sedang membeli sesuatu di salah satu stand yang menjual mie ayam dan aneka daging sapi dan seafood. Tiba-tiba Saira mengingat sesuatu.             “Kamu boleh temenan sama Kak Amanda,” kata Saira berbisik pada Gibran sambil mengisyaratkan keberadaan Amanda.             “Ih kamu apaan sih,” kata Gibran sambil tertawa. Ia mungkin tau bahwa Saira hanya mencari-cari alasan. Saira menyadari ia kalah telak. Ia diam saja.             “Jadi gak minta ditemenin nyari kado?” Gibran kembali ke topik pembicaraan awal.             “Jadi! Tapi ini bukan date,” kata Saira dengan malu.             Wajah Gibran berubah serius. “How about we call it a date? Saya yang ajak, bukan Saira.”             Kini ekspresi Saira berangsur ramah, ia tersenyum. Tidak lagi ketus. “Saira pikir-pikir dulu, ya,” ujarnya jual mahal.             “Ih!” Gibran tertawa dan menggetik dahi Saira seperti gundu dengan cepat.             “Aduh!”             “Saira naik Trans Jakarta gapapa?” tiba-tiba wajah Gibran serius.             “Gak apa-apa,” Saira menjawab sama seriusnya sambil menggelengkan kepala.             “Besok saya jemput. Let’s have a date as couple.” *** “Iya, sayang” – Gibran
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN