BAB 29 - DATING AS COUPLE

2280 Kata
            Gibran tidak mengingkari janjinya untuk berada di depan rumah Saira pada hari Minggu pukul 10 pagi. Ia mengenakan baju biasa dan jaket jeans yang belum pernah Saira lihat sebelumnya. Sementara Saira mengenakan baggy jeans dan kaus putih polos.             “On time banget?” tanya Saira heran saat membukakan pintu untuk Gibran dan menyuruhnya masuk.             “Ada siapa di rumah?”             “Bunda tadi pergi pengajian. Mas Salman sama Mas Fatih belum turun setelah sarapan tadi,” jawab Saira.             “Langsung berangkat?”             Saira mengangguk. Ia dan Salman berjalan menuju halte TransJakarta terdekat dan menaiki Bis pertama yang datang. Saat masuk, Gibran segera menyuruh Saira untuk duduk di area khusus wanita. Sementara dirinya berada di area umum sambil memperhatikan Saira dari belakang. Saira sesekali menoleh pada Gibran dan tidak satu kali pun Gibran sedang tidak memandangnya. Saira tersenyum setiap kali mata mereka bertemu. Begitu juga dengan Gibran.             Saira dan Gibran turun dari jembatan penyeberangan dan berjalan menuju sebuah toko baju yang menjual pakaian khusus pria. Saira melihat beberapa jaket yang ia rasa cocok untuk kakak pertamanya, kemudian tidak perlu waktu lama untuk ia menentukan pilihan. Ia memilih sebuah jaket kanvas warna hijau army dengan sebuah kantung di bagian dalam. Jaket itu memiliki beberapa kancing warna senada di bagian depan dan juga di ujung lengannya.             “Bagus gak?” Saira bertanya pada Gibran.             Gibran mengangguk, “Bagus. Pilihan kamu bagus.”             “Tapi aku kayak pernah lihat deh jaket ini. Dimana ya?”             “Hah? Jaket kayak gini kan banyak, sayang.”             Saira berpikir. Siapakah orang yang memakai jaket kanvas dengan warna army? Jaket ini terlihat dekat sekali dengan dia.             “Polisi di film-film juga mostly pakai ini,” kata Gibran bercanda.             Namun langsung membuat Saira sadar. Jaket ini adalah jaket yang digunakan si anak berwajah familiar saat ia pertama kali bertemu dengannya. Si anak itu kehilangan kunci motor dan Saira membantu mencarinya. Kemudian, si anak berwajah familiar itu juag mengenakannya saat ia mengantar Saira pulang untuk sekalian bertemu dengan Salman.             “Saira pilih yang lain aja, deh,” Saira mengurungkan niatnya untuk membeli jaket kanvas ini. Kenyataan bahwa ini mengingatkannya pada anak berwajah familiar itu tidak membuatnya suka. Entah mengapa Saira selalu merasa saat hubungannya dengan Gibran tidak baik, anak itu selalu muncul. Atau perasaan gue aja? Cuma karena dianter pulang pas lagi diem-dieman sama Gibran? Tanya Saira dalam hati.             “Kenapa tiba-tiba?” tanya Gibran. Ia mengerutkan dahi.             Saira tidak menjawab dan langsung beralih pada sebuah jaket jeans yang sangat mirip dengan yang sedang dipakai Gibran.             “Ini bagus?” tanya Saira.             “Bagus. Persis kayak yang saya pakai,” jawab Gibran jujur.             “Oke, Saira mau yang ini.”             Saira meminta penjaga toko untuk mengambilkannya jaket serupa dengan ukuran yang cocok untuk Salman. Semalam Saira sudah melihat-lihat tumpukan cucian di rumahnya dan memeriksa ukuran baju apa yang paling banyak Salman pakai untuk jaket. Terlebih, Saira tau bahwa toko yang saat ini ia datangi adalah toko yang Salman pernah beli beberapa produk jaketnya. Tidak sulit untuk menentukan ukuran.             “Saya kira, kamu akan lama pilih-pilih kado untuk Mas Salman. Ini masih jam 11 lewat, loh. Kamu pilih jaket cuma lima belas menit,” kata Gibran tertawa sambil memandang wajah Saira di depannya. Saat ini mereka sedang duduk di sebuah warung sate ayam di luar mall. Saira tidak ingin mempermalukan pacarnya saat bill datang karena terlalu mahal. Bukan karena Saira meremehkan Gibran, hanya saja ia tau diri.             “Iya, Saira gak suka pilih barang lama-lama,” jawab Saira sambil meminum teh manis tawar di depannya.             Gibran memandang Saira sambil menopang dagunya. Ia tersenyum.             “Abis ini kita kemana?” tanya Gibran.             “Terserah,” jawab Saira. “Eh, gimana kamu kemarin ngajar di TK? Did you have fun?”             “Yes. Anak TK tuh lucu banget, ya?”             Saira tertawa. Ia belum pernah melihat Gibran seperti itu.             “Kak Gibs suka anak kecil ya?”             “Tadinya saya pikir enggak, karena dari dulu saya cuma sendiri, gak punya saudara. Sampai mikir, kayaknya saya gak cocok punya anak. Tapi pas kemarin, kayaknya saya pingin punya anak yang lucu-lucu, deh,” jawab Gibran panjang lebar. Saira bisa melihat dari mata Gibran bahwa kapten basket sekolahnya itu excited.             “Aamin, semoga kesampaian, ya?”             “Sar,” panggil Gibran tiba-tiba serius, setelah hening beberapa menit di antara mereka.             “Apa?” sahut Saira tidak kalah seriusnya. Ia kaget tiba-tiba dipanggil seperti itu oleh Gibran.             “Saya janji akan berusaha supaya diterima dan kuliah. Biar gak malu-maluin pas ngelamar kamu nanti,” kata Gibran.             Saira mengerutkan dahinya, “Please stop this serious topic! I cannot….”             Gibran tertawa karena respon Saira yang menyebalkan, “Hahaha dasar kamu nih.” Gibran mengetuk kepala Saira, yang membuat hidung Saira terkena bumbu kacang dari sate ayam yang sedang dimakannya.             “Aduuuh!” Saira mengaduh.             Gibran tertawa, ia mengambil tissue dan membersihkan noda di hidung Saira dengan lembut. Untungnya saat itu masih jam setengah 12, sehingga belum banyak orang di warung sate tersebut.             “Udah! Saira malu,” kata Saira langsung mengambil tissue dari tangan Gibran.             Gibran mendekatkan wajahnya ke wajah Saira, kemudian ia berbisik, “Aku juga.”             Saira tertawa diikuti dengan Gibran.             Setelah makan dan sholat, Saira dan Gibran beranjak untuk menuju ke alun-alun dan berjalan-jalan santai di sekitar sana. Gibran membawa dua buah topi, dan ia berikan kepada Saira salah satunya. Saira yang tidak terbiasa memakai topi berulang kali melihat ke cermin tangan yang dibawanya. Ia tidak nyaman menggunakan topi ini.             “Cantik, kok,” kata Gibran, menyadari ketidakpercayaan diri pacarnya. Ia memperbaiki letak topi di kepala Saira. Mereka sedang berjalan-jalan di sebuah museum bank milih pemerintah unutk menghindari panas matahari yang menyengat dan membakar energi yang tadi telah mereka isi.             Saira tersipu malu mendengar kata-kata Gibran. Ia berusaha menyembunyikan senyumnya, namun Gibran terlanjut memergoki Saira.             “Malu ya? Emang cantik, kok. Beneran deh,” kata Gibran meyakinkan.             “Udah ah, Saira malu,” jawab Saira sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.             Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi kota, Gibran dan Saira kembali menaiki TransJakarta untuk menuju ke rumah Saira, kemudian Gibrna akan pulang sendiri. lagi-lagi, Gibran membiarkan Saira untuk duduk di area khusus wanita, sementara dirinya di area umum. Karena keadaan yang padat saar sore hari, Saira tidak bisa melirik ke tempat Gibran berdiri. Mereka tidak bisa lagi berukar pandang.             “Sar, saya janji akan nabung buat beli motor, supaya kamu gak capek naik bis sama saya,” kata Gibran tiba-tiba saat mereka sedang berjalan kaki menuju rumah Saira dan berniat untuk membeli nasi goreng dulu di perjalanan.             “Ih, apasih Kak Gibs. Saira jalan sama Kak Gibs aja udah seneng banget,” kata Saira. Ia tidak merasa nyaman dengan rasa bersalah Gibran.             Gibran menggandeng tangan Saira, dan membuat Saira menoleh pada tangannya, kemudian beralih pada Gibran.             Saira merasakan jantugnya berdegup kencang namun ia mencoba mengalihkan perasaan itu, “Kak Gibran mau nyebrang? Kok pegangan?” tanya Saira usil dengan nada polos.             Gibran tertawa. Ia mengetuk kepala Saira pelan persis seperti di warung sate ayam tadi.             Di waktu malam di hari libur, banyak sekali mobil dan motor berjalan dengan kecepatan tinggi dan suara klakson dimana-mana. Belum lagi banyak sekali pedagang kaki lima yang menawarkan barang dagangannya, atau penjual makanan yang masih menggoreng dengan minyak panas dalam jumlah besar, membuat suaranya terdengar sampai ke jalan-jalan. Namun, suara degup jantung Saira karena bahagia, masih lebih kencang lagi, andai saja Gibran bisa mendengarnya.             “Minggu depan kan kita libur, Saira mau ngapain?” tanya Gibran.             Saira sudah tersenyum, ia mengira Gibran akan sering-sering mengajaknya jalan-jalan atau sengaja bertamu ke rumahnya.             “Gak kemana-mana, kenapa?”             “Kalau libur panjang, saya sama ibu mau ke villa pakde di Bogor. Bantu-bantu di sana. Karena, kalau libur sekolah kan berarti ibu gak ada pemasukan. Jadi saya sama ibu harus cari cara lain,” kata Gibran.             Saira tidak berpikir jauh sampai ke situ, masih banyak sekali ternyata yang harus ia pahami dari Gibran. Namun, ia langsung tersenyum saat menyadari bahwa hubungannya dan Gibran akan sangat unik.             “I don’t mind,” jawab Saira. Ia tersenyum santai.             Gibran ikutan tersenyum.             “Tapi, guru TK gimana?” tanya Saira saat menyadari bahwa Gibran sudah punya pekerjaan lain.             “Setiap Jumat malam, saya balik ke Jakarta. Terus ke Bogor lagi pas Sabtu siang,” jawab Gibran.             “Kamu gak capek ngerjain semua itu?” tanya Saira khawatir.             “Gak apa-apa, sayang,” jawab Gibran enteng. “Yang tau semuanya cuma kamu dan Kemal, loh,” tambah Gibran.             “Kok Saira disamain sama Kak Kemal?” kata Saira berpura-pura tidak rela.             “Hahaha enggaklah. Tapi Kemal itu temen saya yang paling baik. Dia aja nawarin untuk minjemin saya motornya. Tapi, saya malu karena udah kebanyakan utang sama Kemal,” kata Gibran. Lelaki itu menceritakan semuanya dengan malu-malu.             “Makasih ya Kak, udah percaya sama Saira,” kata Saira.             “Makasih juga, karena sudah bisa dipercaya,” kata Gibran menanggapi dengan santai.             “Nah! Ini nasi goreng yang Saira bilang enak,” Saira menunjuk sebuah gerobak nasi goreng yang penjualnya adalah seorang bapak-bapak dengan perut buncit, memakai kupluk hitam yang sudah pudar warnanya, dengan ditemani oleh seorang ibu-ibu berkulit putih dengan rok hijau sampai betis di sebelahnya.             “Bu, nasi goreng tiga, ya. Satu lagi dibungkus,” kata Gibran langsung memesan. Ia menarik Saira dan duduk di bangku yang kosong.             “Kamu bawain buat ibu?” tanya Saira, menyadari jumlah pesanan Gibran lebih dari satu.             “Iya. Seharian udah saya tinggal, masa gak saya bawain oleh-oleh,” jawab Gibran sambil tesenyum.             “Maaf ya, gara-gara nemenin Saira..” Saira merasa bersalah.             “Gak apa-apa, ibu seneng kok kalo anaknya akhirnya have a date as couple with the one he loves the most,” kata Gibran dengan mengatakan bagian akhir dengan perlahan, seoalah memberi Saira waktu untuk tersipu.             “Kak, kita pesan satu untuk berdua aja, ya? Saira gak begitu laper,” kata Saira, khawatir makanannya tak mampu ia habiskan.             “Oke. Saya juga takut ibu udah masak, sih. Nanti sampai rumah saya makan lagi,” kata Gibran.             “Oke.”             Setelah memperbaiki jumlah pesanannya, Gibran duduk dan memandangi penjual nasi goreng yang sedang memasak.             “Kak Gibs,” panggil Saira saat ia sadar bahwa Gibran sedang memandangi penjual nasi goreng.             “Iya, sayang,” sahut Gibran.             “Kok bengong?”             “Gak apa-apa, saya cuma inget kalo bapak tuh suka banget nasi goreng pinggir jalan kayak gini. Dulu sebelum meninggal aja, bapak minta dibeliin nasi goreng di rumah sakit,” kata Gibran tersenyum pahit.             “Bapak meninggal kenapa, Kak?”             “Sakit kanker,” jawab Gibran pendek. Ia tersenyum, membayangkan masa lalunya. “Dulu, semua yang keluarga saya punya dijual buat biaya pengobatan bapak. Rumah, mobil, dan bapak dulu juga punya motor Harley. He loved bike a lot. Sampai akhirnya bapak meninggal, yang saya dan ibu punya cuma motor tua yang kemarin saya jual buat bayar rumah sakit ibu,” Gibran tersenyum seolah-olah menertawakan kehidupannya. “Padahal motor tua itu dulu bapak beli buat dipakai sama supir bapak. Dipinjemin cuma-cuma karena menurut bapak itu receh. Eh, sekarang saya mempertahankannya aja gak mampu.” Gibran bercerita sambil tersenyum.             Saira tertegun mendengarkan. Ia pikir selama ini Gibran memang terlahir di keluarga serba kekurangan. Namun ternyata, ia berasal dari keluarga yang jauh lebih berada dari Saira, namun dalam sekejap semua kekayaan keluarga Gibran hilang karena harus membayar biaya obat bapak. Saira mengiba. Ia tau, bahwa berjuang dari bawah dalam keadaan pernah di atas pasti lebih sulit bagi Gibran.             “Kak Gibs kelas berapa waktu itu?” tanya Saira.             “SMP kelas dua,” jawab Gibran.             “Ini Mas, Mba, nasi gorengnya. Sendoknya silahkan.” Penjual nasi goreng ternyata sudah selesai dengan pesanan Gibran dan Saira. Ia mengantarkan satu piring nasi goreng dengan porsi besar, memberikannya pada Gibran, dan menunjuk pada tempat peralatan makan di meja tempat Saira dan Gibran berbicara.             “You’re strong, Kak,” kata Saira.             “Alhamdulillah,” kata Gibran bersyukur. Gibran kemudian menyendok nasi goreng dan mengarahkannya ke mulut Saira.             Saira memundurkan kepalanya, kemudian berkata, “Saira bisa makan sendiri, Kak,” kata Saira, kemudian menjulurkan lidahnya dengan usil.             “Kirain sengaja pesan satu piring karena minta disuapin,” balas Gibran tak mau kalah. Ia kemudian memasukkan ujung sendok yang ia pegang ke mulutnya.             “Gimana? Enak gak?”             “Enak banget!”             “Mau dong!”             Gibran melepaskan sendok yang ia pegang, agar Saira bisa menyendok sendiri. “Sendok barunya ada di meja, tuh,” tunjuk Gibran ke peralatan makan di atas meja.             “Suapin!” pinta Saira menelan ludahnya sendiri.             Gibran tertawa. Ia menyentil ujung hidung Saira dengan jarinya. “Katanya kamu bisa makan sendiri,” sindir Gibran dengan bercanda.             “Emang bisa, siapa bilang gak bisa?”             Gibran geleng-geleng kepala, ia menyadari tidak ada gunanya melawan anak perempuan di sampingnya. Ia hanya tersenyum, kemudian menuruti permintaan Saira untuk menyuapinya.             “Ih! Lebih enak kalo disuapin Kak Gibran,” kata Saira sambil mengunyah. Ia takjub dengan suapan nasi goreng dari Gibran.             Gibran tertawa lagi mendengar pujian Saira. ***             “Bye, Kak Gibs!” Saira melambaikan tangannya di depan rumah. Gibran sudah mengantarnya sampai di depan rumah, namun tidak berani masuk karena tidak ada siapa-siapa. Salman, Fatih, dan Bunda tidak mengabarinya. Saira masuk menggunakan duplikat kunci yang dimilikinya.             “Bye, sayang!” Gibran tersenyum, balas melambaikan tangannya pada Saira.             “Salam untuk ibu, ya?”             “Oke.”             Saira sudah hampir masuk ke dalam rumah, saat Gibran memanggilnya lagi. “Sayang.”             “Ya?”             “Gak apa-apa. Pingin bilang sayang aja.”             Saira menyipitkan mata dan tersenyum.             Gibran berjalan mundur tanpa melepaskan pandangannya dari Saira, dan berbalik saat dirasa cukup jauh, sementara Saira masuk ke rumah ketika punggung Gibran sudah tidak lagi terlihat. *** “Mas Salman mau nikah!” – Saira
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN