Membicarakan tentang Salman, selalu membuat Saira seperti membicarakan tentang Bayu, ayahnya yang meninggal sebelum ia dan kakak-kakaknya besar. Bahkan, saat ayahnya meninggal dan kemudian dimakamkan, bunda sedang hamil besar, Saira belum lahir.
Kata orang, di antara Salman, Fatih dan Saira, Salmanlah anak yang paling mirip dengan ayah. Ia tegas dalam bersikap, namun lembut kepada bunda. Ia usil pada adik-adiknya, namun melindungi dengan caranya, yang seringkali tidak diketahui adik-adiknya.
Tidak jarang Salman melarang Fatih dan Saira tanpa sebab yang diketahui jelas oleh mereka, namun pada akhirnya, larangan Salman selalu benar. Mereka terhindar dari akibatnya.
Tidak jarang pula Salman mengerjai adik-adiknya, namun bahkan pada akhirnya keusilan Salman akan memiliki manfaat untuk Fatih dan Saira, membuat mereka semakin dewasa. Kakak pertamanya itu, persis seperti pengganti ayah.
Jika dilihat dari kebiasaan Salman, semua tau itu pasti diturunkan dan dicontohkan langsung oleh ayah sebelum meninggal. Ayah meninggal saat Salman masih berumur delapan tahun, dan saat itu, ayah sudah banyak sekali mengajarkan Salman tentang hal-hal yang harus dilakukan.
Saat umur delapan tahun, bunda sangat terpuruk karena ayah meninggal tanpa pesan. Bunda sulit makan, tidur, dan mengerjakan hal-hal lain. Namun Salman bertindak, mengetahui bahwa ia sudah tidak lagi memiliki ayah, dan tidak mau kehilangan bunda dan adik keduanya jika bunda tidak segera bangkit. Salman mulai mencoba membeli makanan di warung nasi dengan uang yang ia dapatkan dari orang-orang yang melayat saat hari duka—saat itu Salman tidak tau bahwa ayah meninggalkan uang untuk keluarga di bank—dan mulai merawat Fatih yang saat itu berumur lima atau enam tahun. Salman mengajarkan Fatih untuk mandi sendiri, bersiap-siap ke sekolah, dan menggandeng tangan Fatih setiap hari menuju ke dan dari sekolah. Persis seperti yang biasa ayah lakukan pada mereka.
Konon, nenek mereka, ibu dari ayah, juga sama terpuruknya seperti bunda. Setelah pemakaman ayah, nenek kembali ke Belanda—yang saat itu adalah seorang janda dengan pekerjaan sebagai dosen bahasa Indonesia—dan tidak mau menghubungi bunda sama sekali. Ia merasa ayah seharusnya akan baik-baik saja jika tidak menikah dengan bunda. Wajar, ayah adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Dua anak sebelum ayah, meninggal saat masih bayi. Hanya Bayu—ayah mereka—yang tumbuh hingga dewasa.
Sebenarnya Salman sempat meminta nenek untuk tinggal, ia tau bunda sedang butuh bantuan. Dan Salman terlalu kecil untuk membantu bunda, namun alih-alih tinggal, nenek meminta agar Salman dan Fatih boleh ia bawa ke Belanda. Terang saja bunda menolak, namun yang paling menolak lebih dulu adalah Fatih. “Nenek mau balas dendam ya? Karena bunda misahin nenek dari ayah, terus nenek mau pisahin Salman dan Fatih dari bunda?” begitu kata Salman. Ia mengatakannya dengan tangis dan rengekan. Bagaimana pun, Salman masih sangat kecil waktu itu.
Lain halnya dengan nenek dan kakek dari bunda. Nenek dan kakek dari bunda adalah dua orang tua yang hidup bersama di Sumatra dengan uang pensiun pas-pasan dari pekerjaan kakek sebagai PNS. Dan dua adik bunda yang saat itu masih kuliah sambil bekerja serabutan, tidak akan mampu menolong. Bunda yang sudah terbiasa menjadi seorang kakak yang harus menutup pahit hidupnya berbohong dan bilang bahwa mereka masih punya cukup uang, bahkan jika bunda tidak bekerja sampai anak-anaknya besar. Mereka percaya, keluarga ayah memang terkenal serba berkecukupan.
Selama satu bulan, bunda akhirnya bangkit, melihat anak laki-laki pertamanya berjuang mati-matian untuk melanjutkan hidup dan terus sibuk membela bunda dari keluarga ayah. Ia tidak mau jadi beban untuk Salman dan Fatih. Maka, bunda mulai menata hidup dan memikirkan bagaimana cara menghasilkan uang.
Bunda yang sebelumnya adalah seorang ibu rumah tangga, tidak memiliki penghasilan, karena ia terpaksa resign dari pekerjaan sebelumnya karena kandungannya lemah—saat itu bunda hamil Saira—dan tidak mungkin jika dipaksakan.
Salmanlah yang menguatkan bunda dan bilang bahwa ia akan menjual apapun yang bisa bunda buat di rumah. Makanan ringan, makanan berat, aksesoris untuk anak perempuan, dan apapun itu. Salman berjualan setelah pulang sekolah, semua yang bisa ia jajakan, ia tawarkan kepada teman-temannya, atau orang tua dari teman-temannya.
Satu bulan Salman berjualan, bunda tidak tega. Bunda tidak lagi memproduksi apapun, namun mulai mengirit uang peninggalan ayah dan bunda mulai melamar di perusahaan-perusahaan yang mungkin menerimanya. Namun tidak ada yang mau menerima seorang wanita yang hamil tua, yang alasan resign dari kantor sebelumnya adalah karena kandungannya lemah. Sepintar apapun bunda.
Saat itu Salman mengingat semua yang pernah diajarkan ayahnya, termasuk ajaran ayah untuk meminta kepada Dzat Yang Maha Segalanya. Salman mulai rutin mengerjakan sholat wajib—meskipun saat itu ia belum wajib melaksanakannya—dan ia menghapal seluruh doa sholat, bahkan saat hafalan-hafalan bacaan sholat belum diajarkan di sekolah.
Tuhan pasti sangat mencintai Salman. Doa paling tulus dari seorang anak yatim yang mencintai orang tua dan adik-adiknya. Saat itu ada seorang produser film yang mencari anak laki-laki untuk dijadikan actor cilik, datang ke sekolah Salman. Salman tau ini adalah jawaban dari doa-doanya. Dan benar saja, ia lolos casting. Dan selama satu tahun, Salman menjadi tulang punggung keluarga, namun penghasilannya lebih dari cukup. Jika mengingat hal itu, Salman bersyukur, namun ia malu setengah mati. Ia tutup rapat-rapat rahasianya itu dari teman-temannya sekarang.
Satu tahun setelah Salman menjadi artis cilik, bunda mendapat pekerjaan. Namun, Salman masih sering berjualan karena iseng, dan perasaan puas hati yang didapatnya saat menghasilkan uang dan dagangannya habis. Dan nenek mereka, ibu dari ayah datang jauh-jauh ke Jakarta untuk tinggal bersama menantu dan cucu-cucunya. Ternyata Nenek menonton Salman dari saluran tv dan mengetahui bahwa cucunya itu jadi aktor. Di salah satu acara tv, Salman berpesan pada nenek, “Nek, Salman, Fatih, Saira, sama bunda kangen sama nenek. Nenek sehat-sehat, ya!” Meskipun pesan itu tidak dimaksudkan Salman untuk apapun, ia hanya menjawab pertanyaan dari pembawa acaranya yang menyuruhnya mengirim pesan pada orang yang sudah lama tidak ditemui. Dan nenek yang berada di Belanda-lah orangnya. Caranya bicara di tv, mengingatkan nenek pada Bayu, anaknya, dan ayah dari Salman, Fatih, dan Saira.
Nenek meminta maaf pada bunda dengan tangis penyesalan. Bunda yang memang tidak pernah membenci nenek, menyambut pelukan nenek. Mereka tinggal bersama, meskipun tidak lama. Saat Saira masuk SMP, nenek meninggal karena sakit jantung yang dideritanya. Salmanlah yang paling sedih saat itu. Ia masih merasa bersalah karena menuduh nenek sengaja membalas dendam. Setiap hari, didoakannya nenek agar masuk surga dan mereka bisa berkumpul lagi di sana.
Namun semua itu sudah lewat. Kini Salman berdiri di depan bunda. Ia hendak meminta izin untuk melamar seorang perempuan. Ia kini sudah sarjana, dan sudah memiliki penghasilan karena ia telah diterima di sebuah perusahaan swasta dengan gaji yang cukup. Ia juga sudah memiliki tabungan, hasil saat ia bekerja magang di café—meskipun tidak seberapa—dan hasil dari tabungannya sejak SMA sampai kuliah, ia terus berjualan sana sini karena memang sudah menjadi kebiasaannya.
Bunda terkejut mendengar permintaan dari anak pertamanya. Bunda merasa Salman terlalu muda untuk memutuskan menikah. Di samping itu, bunda juga tidak pernah mendengar Salman memiliki pacar atau membawa perempuan ke rumah untuk dikenalkan pada bunda.
“Kamu punya pacar, Man?” tanya bunda heran. Saira mendengarnya dari balik pintu kamar. Jam dinding di kamar Saira menjukkan angka delapan malam, namun ia sudah pamit pada bunda saat Salman kembali dari Masjid.
“Enggak Bun, bukan pacar,” jawab Salman.
“Jadi?” Saira bisa membayangkan wajah bunda saat ini. Dapat dipastikan bahwa bunda bingung sembari mengerutkan dahi. Saira pun bingung, apakah selama ini Salman yang terkenal sibuk dengan masalah-masalah penting seperti akademik dan bisnis, masih punya waktu untuk masalah asmara?
“Salman pingin taaruf, Bun. Kayaknya Salman udah mampu, Salman gak mau menunda hal baik.” Saira mendengar cara bicara Salman, yang selalu sopan dan lembut pada bunda. Saira tau bahwa taaruf adalah istilah yang digunakan pasangan untuk saling berkenalan sebelum menikah. Cara ini digunakan untuk menghindari zinah dan fitnah sebelum menikah.
“Taaruf?”
“Iya.”
“Sudah ada calonnya?”
“Sudah, Bunda.”
“Kenal dimana?”
“Dia senior Salman waktu kuliah.”
“Lebih tua?” tanya bunda. Dari nada bicaranya, sepertinya bunda kaget.
“Iya Bunda, lebih tua satu tahun.”
“Siapa namanya?”
“Asma,” jawab Salman mantap.
“Cerita dong sama Bunda, kenapa kamu suka sama Asma?”
“Salman malu, Bunda,” jawab Salman pelan. Saira semakin mendekatkan telinganya ke pintu. Ia mematikan semua sumber suara di kamarnya.
“Dia udah tau kalau kamu mau ajak taaruf? Siapa yang bantu kamu taaruf nanti?”
“Besok Salman dapat jawaban dari Asma, dia mau taaruf atau enggak. Salman minta tolong temen Salman. Istri temen Salman itu temen dekatnya Asma.”
“Oke, anak bunda udah gede, ya. Udah mau jadi suami orang. Bunda doain semoga lancer ya.”
“Aamiin, makasih ya Bunda.”
“Adik-adik kamu gak dikasih tau?”
“Nanti deh Bunda kalau sudah mau khitbah.” Mendengar jawaban dari Salman, membuat Saira kecewa. Saira langsung mencari arti khitbah di mesin pencari di smartphone-nya. “Proses Penting Perkenalan Menuju Pernikahan dalam Islam,” begitu yang tertulis di sana. Saira mengangguk-angguk mengerti.
“Eh, ceritain dong kenapa suka sama Asma,” kata bunda lagi, menagih.
***
Flashback mode: ON
Salman berjalan cepat menuju kelasnya, meski ia sedang tidak telat. Ia belum pernah terlambat. Semua rencananya sudah memiliki waktu yang sudah ia perkirakan. Tidak ada yang terlambat, atau terlalu cepat.
Namun, karena jalannya yang cepat itu, Salman menyenggol tumpukan buku yang sedang dibawa oleh seorang perempuan. Salman langsung mengambil buku-buku itu. Kemudian, perempuan yang membawa buku-buku itu berkata, “Mas, gak apa-apa. Saya ambil sendiri.”
Salman mendongak. Ia melihat seorang perempuan dengan rok hitam panjang dan kemeja coklat kebesaran dengan panjang hampir selutut. Perempuan itu juga memakai kerudung menutupi d**a, dengan raut wajah panik dan tak enak. Salman berdiri sambil mengembalikan tumpukan buku yang sudah disusunnya.
“Gak apa-apa, kan salah saya. Maaf, ya?” kata Salman dengan senyuman.
Perempuan itu mengangguk tanpa tersenyum. Ia sedikit menunduk dengan malu-malu dan tidak mau memandang mata Salman. Salman pun sadar, ia ikut menunduk untuk menghindari tatapan.
Perempuan itu mengambil tumpukan buku yang diberikan Salman dan segera masuk ke kelas. Namun, Salman tidak tau bahwa perempuan itu masuk ke dalam kelas yang sama dengan dirinya. Ia tidak tau bahwa perempuan itu mengambil kelas yang sama dengan dia.
“Assalamualaikum, selamat pagi semunya!” perempuan yang membawa tumpukan buku tadi ternyata duduk di bangku yang seharusnya disinggahi oleh dosen yang mengajar hari ini. Perempuan itu mengucapkan salam setelah jam pelajaran sudah harus dimulai, sesuai jadwal.
“Waalaikumsalam, pagi!” jawab seisi kelas, beberapa yang Salman ketahui tidak beragam Islam tidak menjawab salam.
“Nama saya Asma, saya asisten dosen. Asistennya Pak Adi. Karena hari ini Pak Adi berhalangan hadir, jadi beliau titip untuk kasih kuis ke kelian. Pak Adi udah infokan minggu kemarin, kan?”
“Iya,” serentak seluruh mahasiswa.
“Oke, Pak Adi pesan supaya kalian open book aja. Jadi, setelah kertas soalnya dibagikan, kalian bisa mulai kerjakan, ya.”
Salman berkali-kali melihat Asma dari tempat duduknya di belakang. Ia berkali-kali berusaha untuk tidak melihat ke arah Asma, namun akhirnya ia kembali melihat wajah Asma yang selalu terlihat tersenyum, bahkan saat Asma sama sekali tidak tersenyum. Kuis kali ini kacau. Untuk pertama kalinya, kuis yang sudah dipersiapkan Salman kacau hanya karena seorang Asma, perempuan dengan wajah teduh dan selalu terlihat tersenyum, bahkan saat ia tidak sedang tersenyum.
Salman mengumpulkan lembar kuisnya dengan pasrah. Pikirannya kacau. Tiba-tiba ia penasaran mengapa ia tidak pernah tau bahwa Asma ada di dunia ini. Jika Asma adalah asisten Pak Adi, tandanya sudah banyak kebetulan-kebetulan yang terlewatkan. Salman berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkannya.
Kali kedua Salman bertemu Asma adalah satu tahun kemudian saat Asma menjadi qoriah—pembaca Alquran—di acara buka puasa bersama BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Saat itu Salman adalah ketua pelaksana, dan lagi-lagi ia terkecoh saat gladi bersih dan akhirnya bisa bertemu lagi dengan Asma.
“Man, kenalin ini Asma yang nanti jadi qoriah,” kata Rizky, koordinator acara buka bersama saat mereka akan memulai rapat panitia sebelum gladi bersih dimulai.
“Asma,” Asma menyatukan kedua telapak tangannya, tanda bahwa ia tidak ingin berjabat tangan dengan Salman.
Salman halnya dengan Salman yang memang menghindari berjabat tangan dengan yang bukan mahromnya, melakukan hal yang sama.
“Salman,” kata Salman menyebutkan namanya untuk memperkenalkan diri.
“Salman si raja Arab,” kata Rizky menggoda.
“Raja Arab?” tanya Asma bingung.
“Iya, kan Muhammad Salman itu Raja Arab,” Rizky menjelaskan.
“Oh,” bibir Asma membentuk huruf O. “Tapi Salman kan nama sahabat Rasulullah SAW, penakluk Persia,” kata Asma.
Salman terpana. Jarang sekali ia menemukan orang yang mengidentikkan namanya dengan nama Sahabat Rasulullah, padahal bundanya dan ayahnya memberi nama Salman memang untuk menjadi doa agar ia mulia seperti sahabat Rasulullah SAW tersebut, kebanyakan orang-orang akan mengingat raja Arab yang kaya raya.
“Oh iya, ya. Sampai lupa,” Rizky menepuk dahinya.
Flashback mode: OFF
Dua kali terpana tidak cukup bagi Salman saat mengenal Asma. Suara Asma yang merdu juga sempat meneduhkan hati Salman. Membuat Salman sering berdoa disepertiga malam agar diberi jodoh seperti Asma.
Sejak pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja itu, Salman sering mendapat informasi mengenai Asma, padahal ia tidak pernah sengaja mencarinya.
Ia tau Asma adalah putri dari seorang guru pesantren, sekaligus pedangan bakso yang sudah memiliki dua cabang dan warungnya selalu ramai, tidak pernah sepi. Asma mendapat IPK di atas 3,5 dan gelar cumlaude. Asma sempat menjadi pembimbing di Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam. Asma adalah mahasiswa andalan Pak Adi, hampir semua dosen menyukainya karena kecerdasan dan kejujuran yang dimiliki Asma.
Dan Salman juga tau bahwa saat Asma lulus kuliah, Asma sudah memiliki calon suami. Lelaki itu datang bersama keluarganya dan tampak akrab dengan keluarga Asma. Namun, entah apa yang terjadi, ternyata mereka tidak jadi menikah. Salman memiliki kesempatan.
***
“Makanya Salman takut ditolak, Bunda,” kata Salman setelah menceritakan tentang Asma.
“Gak apa-apa. Kamu doa, semoga diberikan yang terbaik,” kata bunda menguatkan. Kaki Saira rasanya sudah pegal sekali karena terlalu lama berdiri dan menguping.
Setelah yakin bahwa tidak ada percakapan lanjutan antara Salman dan bunda, Saira naik ke atas tempat tidur dan membuka handphone-nya.
Saira: kak gibs
Gibran: iya, sayang?
Saira: mas salman mau nikah
***
“Aliyyah tuh cantik banget ya?” – Fatih