Membicarakan tentang Fatih tidak akan seserius membicarakan Salman. Sederhananya, Fatih adalah Saira versi laki-laki. Namun, jika membicarakan tentang ketenaran, Fatih tidak kalah dengan Salman si mantan aktor cilik.
Fatih terkenal di lingkungannya karena kemampuannya mencairkan suasana. Leluconnya yang menghibur, jarang sekali gagal membuat orang tertawa. Dan meskipun tidak seperti Salman yang rapih, bersih, dan terencana, bisa dibilang Fatih adalah sosok manis yang istimewa karena kulit gelapnya.
Saat ayah meninggal, Fatih masih berumur lima tahun. Ia tidak tau apa yang terjadi, dan yang ia lakukan hanyalan menuruti perkataan Salman. Terkadang ia marah pada Salman karena cara Salman merawatnya jelas berbeda dengan apa yang selama ini ayah dan bunda lakukan. Namun, saat Salman mulai sibuk menjadi aktor cilik dan tidak pernah mengurusnya lagi dan nenek dari Belanda tiba-tiba datang kemudian menangis di depan bunda untuk minta maaf, Fatih mulai mengerti apa yang terjadi.
Sejak kedatangan nenek dari Belanda, Fatih mulai menurut pada Salman dan sering membantu nenek untuk merawat Saira yang saat itu masih bayi. Ia juga semakin menurut pada bunda, dan sering bergadang dengan sengaja agar bisa menyambut bunda ketika bunda pulang kerja. Fatih memang suka menghibur sejak kecil.
Dibandingkan dengan Salman, Saira lebih dekat dengan Fatih. Ia selalu menurut pada Fatih dan selalu meminta Fatih untuk membantu Saira. Sementara Salman hanya seperti sosok kakak pertama yang hanya Saira sadari eksistensinya, namun tidak benar-benar hadir di kehidupan Saira.
Dan ternyata, urusan kepercayaan, bukan saja Saira yang menitipkan semua ceritanya pada Fatih. Baik bunda dan Salman pun, lebih sering mencurahkan perasaan mereka pada Fatih. Alasannya hanya satu, Fatih tidak pernah terlalu ambil serius, namun selalu menjawab semua curahan dengan nasihat sederhana. Fatih memang tidak terlalu suka berpikir keras.
Saira sering kali mendapati Fatih membawa teman perempuannya ke rumah. Sejak kakak keduanya itu masih SMP, hingga masuk kuliah. Fatih selalu meperkenalkan pacar-pacarnya pada bunda. Dan memang, pacar-pacarnya itu adalah perempuan-perempuan yang sopan dan baik hati. Namun belakang, Saira tidak pernah lagi melihat Fatih membawa teman perempuannya ke rumah untuk dikenalkan pada bunda.
“Mas Fatih,” panggil Saira suatu ketika. Saat itu hanya ada dia dan Fatih di lantai satu. Bunda pergi pengajian, sementara Salman masih belum turun sejak pagi.
“Apa?” jawab Fatih malas-malasan sambil bermain game.
“Lagi kosong?” tanya Saira santai.
“Hah? Apaan yang kosong?” tanya Fatih bingung.
“Tumben gak ngenalin siapa-siapa ke bunda. Lagi gak ada pacar?”
“Oh, enggak ada.”
“Yang kemaren udah putus? Siapa namanya? Kak Sasha?” tanya Saira mengingat-ingat.
“Udah. Sasha terlalu baik buat Mas Fatih,” jawab Fatih asal.
“Ih, buaya!” Saira melempar bantal di kursi ruang tamu kepada Fatih.
Fatih mengelak, bantal itu terus melesat sampai ke lantai dapur. Fatih menoleh untuk melihat bahwa bantal yang dilempar Saira tidak merusak apapun. Kemudian ia menatap adiknya.
“Ambil, Sar. Jangan gitu, gak sopan,” kata Fatih santai, tidak ada kemarahan di nada bicaranya. Saira merasa bersalah.
“Maaf ya, Mas Fatih,” kata Saira sambil berjalan mengambil bantal menuju dapur.
“Hm…,” sahut Fatih. Kemudian dia menambahkan, “Sar.”
“Apa?”
“Aliyyah tuh cantik banget ya?”
Saira membeku. Entah sudah berapa kali Fatih menanyakan Aliyyah, sahabatnya. Saira tidak setuju jika Fatih menaruh hati pada temannya yang lulusan pesantren itu. Saira tau Aliyyah tidak menyukai Fatih, dan Saira juga tau bahwa Fatih hanya menyukai Aliyyah dari fisiknya saja. Namun tampaknya Fatih serius, meskipun Saira tidak pernah serius menanggapi pertanyaan-pertanyaan Fatih tentang Aliyyah.
“Iya, Mas. Jangan ngomongin Aliyyah mulu, ah. Cari pacar aja gih, biar gak aneh-aneh,” kata Saira. Dalam hati ia berdoa agar Fatih segera menemukan perempuan lain yang akan dikenalkan pada bunda.
“Mas suka sama temen kamu, Sar,” kata Fatih, mengatakan hal yang paling tidak ingin Saira dengar.
“Stop!” kata Saira.
“Kenapa? Aliyyah udah punya pacar belum sih?” tanya Fatih tidak peka.
“Belum,” jawab Saira jujur. “Mas Fatih emang serius suka sama Aliyyah?”
Fatih meletakkan handphone yang ia gunakan untuk bermain game. Wajahnya serius.
“Serius, Sar. Tapi, Aliyyahnya cuek banget, deh,” Fatih memulai curahan hatinya.
“Hah? Emang Mas Fatih udah mulai deketin?” tanya Saira sedikit panik.
“Udah. Tapi responnya cuek banget. Apa karena Mas kakak kamu, ya? Jadi Aliyyah gak enak?”
Mata Saira membesar. Fatih selama ini mendekati Aliyyah dan Saira tidak tau apa-apa. Baik Fatih atau pun Aliyyah tidak memberitahunya. Saira merasa dikhianati dua orang terdekatnya.
“Kok gak bilang-bilang?” tanya Saira dengan dahi mengerut.
“Ini lagi bilang. Lagian kalo bilangnya dari awal, takutnya kamu gak setuju,” jelas Fatih.
Saira merengut. Ia sungguh malu pada Aliyyah. “Deketin lewat apa?”
“Chat,” kata Fatih pelan.
“Chat? Emang punya nomor Aliyyah?”
“Punya.”
“Dapet dari mana?”
“Minta langsung. Tapi kayaknya Aliyyah langsung tau kalau Mas emang ada niat terselubung,” cerita Fatih dengan nada sedikit kecewa.
“Kenapa emangnya?”
“Dia awalnya bales, tapi lama kelamaan balasnya lama dan kadang gak dibales. Susah deh pokoknya,” kata Fatih. “Kalo lagi main ke sini juga kebanyakan nunduk terus. Mas lama-lama jadi gak enak.”
Saira iba pada kakak keduanya. Mungkin ini kali pertama Fatih ditolak oleh perempuan. Sayangnya, pertama kalinya juga Fatih menyukai perempuan seserius itu.
“Mas padahal udah sering sholat di Masjid, biar cocok sama dia. Kan dia alim, Mas juga berubah alim deh,” kata Fatih melanjutkan curahan hatinya.
“Ya ampun Mas Fatih! Kirain udah berubah. Ternyata sholatnya karena cewek,” sindir Saira. “Ceritain dong, gimana deketinnya? Kok Mas Fatih bisa suka sama Aliyyah sih? Karena cantiknya aja?”
***
Flash back mode: ON
Saira baru saja pulang dari sekolah bersama teman-temannya yang baru pertama kali ia ajak ke rumah. Mungkin karena Saira juga baru saja masuk SMA dan baru memiliki kesempatan untuk mengajak dua temannya yang sering ia bicarakan, Aliyyah dan Bian.
Salman seperti biasa jarang ada di rumah, apalagi ia sedang sibuk dengan sidang akhir, magang, urusan UKM yang belum selesai, dan asistensi dosen yang masih saja mempercayai Salman meski Salman sudah di semester akhir.
Tinggallah Fatih yang sedang ada di rumah karena hari ini pulang cepat selepas kelas pagi di kampus. Fatih sedang tidur-tiduran dengan kaus oblong putih dan celana pendek hitam. Pakaian paling nyaman yang sering sekali ia gunakan saat di rumah.
Fatih mendengar suara Saira yang berteriak memanggil namanya. Dengan cepat, kakak kedua Saira itu, turun dan menemui Saira.
Fatih terkejut mendapati dua anak perempuan dengan seragam SMA Swasta Pelita Mulia sedang berdiri sambil menunggu seseorang turun dari tangga—dirinya—dan salah satunya adalah perempuan yang paling cantik yang pernah Fatih temui. Gadis itu berkerudung panjang hingga menutup tubuh bagian atasnya, dan kulitnya putih serta senyum manis malu-malu yang menggemaskan. Jantung Fatih langsung berdegup kencang. Rasanya seperti melihat selebriti di rumahnya sendiri. Tidak, bahkan lebih cantik dari selebriti yang sering Fatih lihat di media.
“Ini siapa?” tanya Fatih sambil memandang teman Saira tanpa berkedip. Ia tidak lupa menambahkan ledekan untuk Saira, agar suasana tidak canggung, “Cantik banget enggak kayak adiknya Mas.”
Teman Saira hanya menunduk dan tidak memandang Fatih sama sekali. Ia pasti sedang tersenyum sekarang karena lelucon Fatih barusan. Lawakan emang gak pernah gagal, begitu pikir Fatih.
Alih-alih, orang cantik di depannya menjawab, Fatih mendapat jawaban dari Saira. Alhasil, iya menoyor kepala adiknya, dan ingat bahwa tadi pagi ia dengan tega meninggalkan Saira begitu saja. Ia langsung berangkat ke kampus, meskipun bunda sudah menitip pesan agar ia memastikan Saira bangun untuk sholat subuh dan tidak terlambat ke sekolah selama bunda di luar kota.
“Tadi pagi gak kesiangan, kan?” tanyanya.
“Enggaklah, Saira ditelpon sama Aliyyah makanya langsung bangun. Syukur banget, kan?” jawab Saira.
Wait!
Fatih mendengar nama yang ia ingin tanyakan dari tadi, sambil Saira menunjuk perempuan cantik dengan senyum malu-malu di sebelahnya.
“Jadi namanya Aliyyah?” tanya Fatih.
Aliyyah… nama yang cantik. Secantik pemilik namanya, pikir Fatih.
Kemudian aktivitas Fatih terganggu dengan kedatangan seorang teman Saira yang lain yang belakangan Fatih ketahui bernama Bian. Karena tidak enak mengganggu adiknya dan teman-temannya, Fatih undur diri dan mengaku ingin belajar. Padahal, tidak sama sekali. Ia ingin menonton film di kamar.
Malamnya, Fatih berpikir bagaimana cara untuk mendekati teman adiknya itu. Ia penasaran sekali ingin tau Aliyyah ornag yang seperti apa. Saira tidak akan mudah memberikan kontak Aliyyah , meskipun Fatih bersikeras memintanya. Lagi pula, mau ditaruh dimana muka Fatih, jika nanti Saira mengira bahwa ia centil pada temannya.
Fatih membuka handphone-nya dan mencari nama Aliyyah di daftar followers Saira di aplikasi i********:. Namun, hasilnya nihil.
“Aduh, nama akunnya apa ya?” tanya Fatih pada dirinya sendiri, mulai putus asa.
Fatih mencoba berbagai macam pengejaan nama Aliyyah, mulai dari Aliyah, Alliyah, Aliyyah, sampai Aleeah, tidak ditemuka. Fatih meletakkan handphone-nya dengan kecewa.
Namun kemudian ia mendapat sebuah ide. Shota. Seorang junior di SMA Pelita Mulia—Fatih juga bersekolah di SMA Pelita Mulia dulu—yang dulu dekat dengannya karena berada dalam satu tongkrongan. Tongkrongan anak-anak famous di sekolah. Saat Fatih kelas tiga, Shota baru saja masuk di kelas satu, dan langsung terkenal karena sifat easy going-nya dan kenyataan bahwa Shota memiliki darah Jepang. Kini Shota sudah menjadi wakil ketua OSIS di SMA Pelita Mulia.
Fatih: shota
Shota: yes bang fatih
Fatih: minta tolong dong
Shota: apa bang?
Fatih: lo ketos kan ya?
Fatih: ada akses ke database dong?
Shota: wakil ketos bang, tp ada akses jg
Shota: knp?
Fatih memikirkan bagaimana caranya agar Shota tidak curiga. Bagaimana harus bertanya pada Shota, namun terkesan biasa saja.
Fatih: cariin email temen2 adek gue dong
Shota: kelas brp bang? Namanya siapa?
Fatih: kelas 1 ipa, tp gak tau ipa brp
Fatih: namanya biyan sama aliyah
Shota: nama adek lo siapa bang?
Fatih: Saira Bayu
Shota: ipa4 bang
Shota: di database ipa4, gak ada nama biyan, nama lengkapnya apa?
Fatih tidak begitu peduli pada Bian. Namun Shota tak menjelaskan mengenai Aliyyah. Membuat Fatih harus menanyakan secara jelas mengenai Aliyyah.
Fatih: kalo si Aliyah?
Shota: ada aliyyahomaripa4@smaspm.co.id
Fatih: thankyou shot
Fatih: good luck ujiannya
Fatih: mau lanjut kemana?
Bahkan Fatih sempat berbasa-basi dengan Shota. Kemudian diketahuilah bahwa Shota ingin melanjutkan ke Kyoto, Jepang dan tinggal bersama keluarga ayahnya di sana. Sementara ayah dan ibunya masih ada urusan di Indonesia.
Setelah mendapat email Aliyyah, Fatih langsung mulai mencari lagi di daftar followers i********: Saira. Namun sayangnya ia juga tidak menemukannya.
Saatnya mengeksekusi plan B, sebuah rencana yang sedikit berbahaya dan beresiko, namun tidak bukan pantangan bagi Fatih. Ia mulai membuka emailnya dan mengirim email ke alamat yang baru saja diberikan oleh Shota.
From: Muhammad Fatih (mfatih02@email.com)
To: Aliyyah Omar X.IPA4 (aliyyahomaripa4@smaspm.co.id)
Assalamualaikum Aliyyah,
Hai! Ini Fatih kakaknya Saira
Boleh minta kontak Aliyyah dan Biyan?
Thank you,
Regards,
Muhammad Fatih
Dalam waktu beberapa menit, Fatih menerima balasan dari Aliyyah.
From: Aliyyah Omar X.IPA4 (aliyyahomaripa4@smaspm.co.id)
To: Muhammad Fatih (mfatih02@email.com)
Waalaikumsalam, Kak Fatih
Aliyyah: 08xxxx
Bian: 08xxxx
Thank you & Regards,
Aliyyah Omar
Sungguh jawabannya yang cepat, ringkas, dan tidak bertele-tele. Plan B yang beresiko berhasil, nanti Fatih hanya harus menciptakan kesempatan agar dia bisa berkirim pesan dengan Aliyyah. Kini Fatih bisa tidur nyenyak.
Dan suatu hari kesempatan itu tiba. Saira belum juga pulang dari sekolah, dan tidak bisa dihubungi. Faith sudah menelepon bunda dan Salman untuk diminta bantuan, namun bukannya menerima bantuan, bunda malah panik dan menyuruh Fatih menghubungi siapapun yang bisa dihubungi. Dan Fatih mengingat sebuah kontak yang susah payah dia dapat.
Fatih: Assalamualaikum Aliyyah
Dalam waktu lima belas menit, Fatih tidak mendapat balasan meskipun Aliyyah tampaknya sudah membacanya. Padahal, selain karena Fatih memang ingin cari perhatian pada Aliyyah, ia juga harus segera menemukan adiknya.
Fatih: aliyyah, maaf ganggu. Ini fatih, kakaknya saira
Fatih: saira lg sama km gak ya?
Setelah memperkenalkan diri, Aliyyah langsung membalas.
Aliyyah: waalaikumsalam kak
Aliyyah: saira gak sama aliyyah
Aliyyah: td katanya saira pingin ke makam ayahnya
Aliyyah: dan gak mau ditemenin
Makam ayah? Pikiran Fatih teralih. Sejak kapan Saira suka ke makam ayah sendirian? Apa ada masalah?
Pesan dari Aliyyah tidak lagi dibalas oleh Fatih, ia langsung bergegas ke makam ayahnya untuk memeriksa apakah benar Saira ada di sana sendirian.
Dan benar saja, Fatih menemukan Saira sendirian sedang berbicara sendiri pula di depan pusara ayahnya. Fatih menjadi sedikit rindu pada ayahnya.
Fatih: km bener al, saira ada di makam
Fatih: makasih ya
Aliyyah: sama2 kak
Fatih: aliyyah sendiri udh plg?
Tidak ada balasan.
“Mas tau dari mana Saira ada di sini?” tanya Saira saat ia menyadari Fatih mendekat dari belakangnya.
“Aliyyah yang bilang,” jawab Fatih jujur. Namun saat melihat mata Saira yang menyipit, Fatih tau bahwa ia baru saja kepergok oleh adiknya sendiri. Dan yang membuat Fatih juga tidak enak hati adalah, pesan terakhirnya tidak dibalas lagi oleh Aliyyah.
“Aku enggak mau jadi adik iparnya Aliyyah,” kata Saira kemudian.
“Pikiran kamu kejauhan,” Fatih menunjuk dahi adik perempuannya dan mendorong dengan pelan, “Aliyyah susah banget tau dideketinnya. Dia emang sealim itu ya?”
“Aduh! Kepala aku ditoyor,” kata Saira mengaduh. Kemudian ia mengangguk, “Iya Mas, Aliyyah sealim itu. Dia kayaknya enggak punya niat pacaran. Lagi pula, saingan Mas Fatih terlalu banyak.”
“Yah, Mas langsung ajak nikah aja deh.”
“Benerin dulu sholat Mas. Jadi makmum aja jarang, mau jadi imam!”
Kata-kata Saira barusan membuat Fatih berpikir. Apakah mendekati Aliyyah akan menjadi satu hal yang sulit? Sekali lagi Fatih memeriksa chat terakhirnya dengan Aliyyah. Dan perempuan berkerudung itu tidak juga mengirim jawaban, sementara tanda bahwa pesan Fatih telah dibaca membuat Fatih semakin sedih.
Ini baru pertama, masih ada kesempatan lain, kata Fatih menyemangati dirinya dalam hati.
Flash back mode: OFF
***
“Aliyyah bilang kayak gitu?” – Saira