BAB 32 - TIDAK ADA KELANJUTAN

2164 Kata
            “Terus udah? Gak dilanjutin usahanya?” tanya Saira setelah Fatih selesai menceritakan awal mula ia mendekati Aliyyah.             “Gak ada yang signifikan, sih,” jawab Fatih.             “Kayak apa, emang?” tanya Saira dengan tetap penasaran.             “Kamu masih inget gak waktu Aliyyah ke sini ngasih brownies?”             Saira mengingat-ingat, dan ia tampaknya tau waktu kapan yang dimaksud Fatih. Waktu pertama kali Saira mendengar bahwa kakak keduanya itu sholat di Masjid, tapi bukan di hari Jumat, dan bukan pula saat lebaran atau bulan puasa.             “Waktu Mas Fatih tiba-tiba sholat Ashar di Masjid?”             Fatih mengangguk. *** Flash back mode: ON             Fatih sedang mempertimbangkan, apakah baiknya ia mengirim pesan pada Aliyyah. sudah sejak satu jam yang lalu, Fatih terus saja membolak balik telepon gengagamnya dan mencari topik pembicaraan untuk mengganggu Aliyyah. Entah kenapa, di akhir pekan saat banyak tugas yang menanti untuk dikerjakan, Fatih malah merindukan Aliyyah.             Mungkin karena Fatih terlalu ingin bertemu dengan anak cantik bernama Aliyyah itu, atau memang karena suara Aliyyah selalu terngiang di telinga Fatih, tiba-tiba Fatih mendengar suara perempuan yang mengucapkan salam dengan halus. Fatih langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, menyuruh dirinya untuk sadar.             Fatih langsung turun dari lantai atas untuk mengambil cemilan, dengan tujuan mengalihkan pikirannya dari Aliyyah Omar. Namun, ia langsung mematung saat melihat Aliyyah berada di depannya, bukan dengan pakaian sekolah seperti terakhir kali Fatih melihatnya, namun dengan baju terusan panjang berwarna coklat bermotif. She is extremely beautiful in some way. And Fatih couldn’t stop looking at her.             Wanita berkerudung di depannya tampaknya sadar bahwa ia sudah menghipnotis Fatih dengan tidak sengaja. Aliyyah langsung menunduk. Dan saat itulah Fatih bisa mengendalikan dirinya. Ia ikut menunduk.             “Mas Fatih ngapain?” tanya Saira, menyadari Fatih sudah terlalu lama berdiam di sana.             “Mau ambil minum,” jawab Fatih berpura-pura cuek. Kemudian ia berjalan ke dapur.             Saira ikut ke dapur dan mengambil beberapa peralatan makan. Sementara Aliyyah duduk di ruang tamu dan tampak serius menonton tv yang sudah dinyalakan sebelumnya oleh Saira.             “Temen kamu cantik banget sih, Sar,” kata Fatih pada Saira saat sudah yakin bahwa Aliyyah tidak akan mendengar dirinya.             “Udah sana ah! Nanti dia takut loh, enggak ramah kayak dulu lagi waktu pertama kali ke sini,” Saira mengingatkan.             Mendengar jawaban Saira, Fatih sadar dan menjawab dengan bercanda, “Oh iya. Mas harus keliatan cuek dan humoris ya.”             Saira tertawa. Kemudian adik perempuan Fatih itu berjalan keluar dari area dapur dengan membawa pisau kue dan segelas air putih dingin untuk Aliyyah. Fatih mengikutinya.             “Hai cantik,” sapa Fatih dengan maksud ingin bercanda. Namun, jujur di dalam hatinya, Fatih mengamini panggilannya untuk Aliyyah.             Namun ternyata Fatih salah langkah. Aliyyah tidak sama sekali merespon, dan hanya diam sambil menunduk. Fatih segera mencari jalan lain.             “Aliyyah tadi naik apa ke sini? Keluarga di rumah sehat?”             Fatih melirik Saira yang tertawa cekikin sambil menikmati brownies yang dibawa oleh Aliyyah. Fatih langsung memandang Saira dengan tajam.             “Tadi Aliyyah naik TransJakarta, Kak. Alhamdulillah keluarga di rumah baik,” jawab Aliyyah, kemudian Aliyyah beralih pada Saira dan menanyakan rasa brownies yang ia bawa.             Kemudian obrolan mereka lanjutkan, dan Fatih masih berada di tempatnya, ia tidak kembali ke kamar. Ia ikut menikmati brownies yang dibawa Aliyyah dan mengobrol dengan teman adiknya itu dengan nyaman. Mereka membicarakan mengenai SMA Pelita Mulia yang juga merupakan tempat Fatih besekolah dulu, dan hal-hal mengenai kampus. Fatih berusaha terlihat seperti kakak bagi Aliyyah. Dan Fatih tau bahwa Aliyyah juga nyaman dengan itu.             Obrolan yang sangat Fatih nikmati itu selesai saat azan Ashar berkumandang, dan Aliyyah ingin berwudhu untuk menumpang sholat di rumah Saira. Fatih sudah semangat untuk mengimami Saira dan Aliyyah, namun semua rencana Fatih dipatahkan saat Aliyyah berkata, “Laki-laki itu sholatnya di Masjid, Kak.”             Aliyyah berkata pelan sambil tersenyum, tidak ada judgement di nada bicaranya dan juga tatapan matanya. Fatih pun yakin bahwa Saira tidak mendengar, hanya dirinya. Karena Saira sedang sibuk mempersiapkan peralatan sholat untuk Aliyyah.             Fatih ingat bahwa dulu saat ia masih kecil sekali, sebelum ayah meninggal, ayah pernah mengajak dirinya dan Salman ke Masjid. Saat itu ayah bilang bahwa ini akan membuat Fatih dan Salman terbiasa. Karena tempat ayah, Salman dan dirinya sholat adalah di Masjid. Sementara bunda boleh sholat di rumah.             Sejak ayah meninggal, Fatih sudah lupa dengan pesan ayah yang satu itu. Salman pun selalu mengajak Fatih sholat di Masjid, namun lama kelamaan, karena jadwal dan aktivitas Fatih dan Salman berbeda, apalagi Salman bersekolah di pesantren—bukan di SMA Pelita Mulia—dan tinggal di asrama, maka Fatih tidak pernah lagi membiasakan dirinya untuk sholat di Masjid. Salman pun juga menyerah mengajaknya sholat di Masjid.             Saat Aliyyah memasuki kamar mandi untuk berwudhu, tiba-tiba Fatih begitu merindukan ayahnya. Ia ingin mendengar lagi pesan-pesan ayah dengan nada bicara santai, dan tidak pernah memukul ia dan Salman. Fatih merasa ia ingin ke Masjid hari itu. Flashback mode: OFF ***             Fatih mengakhiri ceritanya tentang Aliyyah dan ia merindukan ayah. Fatih sedikit tersenyum saat mengingat ayah yang waktu kecil sering mengajak ia dan Salman untuk sholat di Masjid dan mengajari mereka membaca Al-Quran.             “Karena itu jadi semakin suka sama Aliyyah?” tanya Saira. Ia memandang kakaknya yang saat ini diliputi dengan ekspresi kerinduan. Kadang Saira juga sedih, karena ia tentu tidak merindukan ayah sama sekali. Namun, Saira tidak pernah absen berdoa untuk ayah, dan kadang ingin bertemu ayah untuk sekedar membicarakan hal-hal ringan.             “Ya, lumayan. Dia ngingetin Mas sama ayah,” jawab Fatih sambil mengangguk-angguk.             “Terus? Ada cerita apa lagi?”             “Mas udah merasa ditolak sama Aliyyah,” kata Fatih akhirnya.             “Ditolak gimana? Mas udah nembak?” tanya Saira kaget. Ia tidak ingin mendengar bahwa nasib Fatih sama persis seperti Bian. *** Flashback mode: ON             Fatih menolak bangun saat suara alarm di handphone-nya berbunyi. Ia bermimpi tentang ayah dan di dalam mimpi itu, ayah meminta Fatih untuk menjaga bunda dan Saira dengan seutuhnya. Ayah berpesan agar Fatih tidak pernah meninggalkan sholat satu kali pun, ayah juga meminta Fatih untuk banyak-banyak belajar dari orang terdekat. Mungkin maksud Fatih adalah Salman.             Namun dari sekian banyak nasihat dari ayah di dalam mimpi, Fatih mengingat satu hal yang sangat tidak biasa. Yaitu, carilah jodoh yang baik.             Fatih terbangun saat kata jodoh dikatakan oleh ayah. Dan ia langsung mengingat Aliyyah. Semalam ia mengirim pesan pada Aliyyah karena sudah lama sekali Aliyyah tidak main ke rumah Saira. Dan belakangan ini Fatih sudah jarang menjemput Saira di sekolah, dan kalaupun Fatih menjemput Saira, ia tidak akan bertemu Aliyyah.             Fatih memeriksa layar handphone-nya dan tidak menemukan apapun. Aliyyah tidak membalas pesannya. Fatih: aliyyah, lg sama saira gak?             Tidak seperti biasa, Aliyyah tidak membalas pesannya meski Fatih sudah membawa-bawa nama adiknya. Sebelumnya, Fatih menanyakan Saira pada Aliyyah dan perempuan berkerudung itu membalas. Fatih: aliyyah, saira lg sm km? Aliyyah: gak kak Aliyyah: saira gak di rmh kak? Fatih: gak, gak sm km? Aliyyah: gak kak Aliyyah: coba saya cariin kak Aliyyah: sebentar Fatih: eh sorry al, sairanya ada di kamar ternyata Fatih: maaf ya ganggu Aliyyah: ok kak Fatih: maaf ya             Itu adalah terakhir kali Fatih iseng menanyakan Saira pada Aliyyah, meskipun sebenarnya Fatih tau bahwa Saira memang ada di kamarnya. Ia sudah kehabis kata untuk mendekati Aliyyah yang tidak ada respon. Dan beruntung, saat itu Aliyyah membalasnya.             Jika Fatih sedang mendekati perempuan di kampusnya atau di sekolahnya, sudah pasti ia meninggalkan perempuan itu jika responnya tidak baik, namun ia tidak bisa menyerah untuk Aliyyah, si anak berkerudung dengan senyum malu-malu.             Malamnya Fatih mencoba peruntungannya kembali. Ia mencoba menghubungi Aliyyah, namun kali ini bukan mengirim pesan singkat, namun ia menelpon Aliyyah langsung. Dan benar saja, Aliyyah mengangkat telepon-nya!             “Halo, Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,” kata suara Aliyyah di seberang sana dengan suara bindeng. Fatih tersenyum. Jantungnya berdegup kencang.             “Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh.” Fatih menjawab salam Aliyyah.             “Iya?” tanya Aliyyah dengan nada malas, dan Fatih sadar itu. Namun Fatih berusaha mengusir pikiran bahwa Aliyyah ogah-ogahan menjawab teleponnya. Mungkin karena Aliyyah sedang sakit, pikir Fatih.             “Aliyyah, ini Fatih.”             “Ya, Kak?”             “Aliyyah lagi di rumah?”             “Iya,” jawab Aliyyah. Namun tiba-tiba Fatih mendengar suara Aliyyah berdehem dan terisak pelan. Fatih tau itu bukan suara bindeng atau karena Aliyyah sedang sakit, melainkan Aliyyah sedang menangis.             “Aliyyah kenapa?” tanya Fatih khawatir.             Aliyyah terbatuk, kemudian buru-buru menjawab pertanyaan Fatih, “Gak apa-apa. Kenapa Kak Fatih?”             “Kamu nangis ya?”             “Gak, Kak Fatih kenapa nelpon?” tanya Aliyyah langsung to-the-point.             “Kalau Aliyyah lagi gak pingin nelpon, gak jadi deh. Gak penting, kok,” kata Fatih tak enak hati.             “Oke,” sahut Aliyyah singkat.             “Dah Aliyyah, nanti kapan-kapan telfonan lagi deh. Aliyyah jangan nangis, ya. Bye! Assalamualaikum,” Fatih mengucap salam, hendak memutus sambungan setelah Aliyyah menjawab salamnya.             “Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh,” jawab Aliyyah. Tapi kemudian Aliyyah memanggil Fatih lagi, “Eh Kak.”             Mata Fatih membesar. Aliyyah memperpanjang pembicaraan mereka saat Fatih sudah akan memutuskanya. Fatih senang.             “Ya?”             “Kalau emang telfonnya gak penting, kayaknya gak usah, Kak. Aliyyah gak suka telfonan,” jawab Aliyyah, membuat Fatih langsung merasa tertonjok palu godam.             “Jadi?” tanya Fatih memastikan. Sulit baginya memproses perkataan Aliyyah barusan. Tentu saja itu bukan kata-kata dari seseorang yang sedang playing hard to get.             “Jadi Kak Fatih jangan telfon Aliyyah, kecuali kalau penting,” jawab Aliyyah tegas.             Fatih diam membeku. Ia tidak tua apa yang harus dipikirkan dan bagaiman harus merespon perkataan Aliyyah. Fatih merasa seperti ditolak sebelum menyatakan perasaannya.             “Oke. Maaf ya, Al,” kata Fatih.             Aliyyah menutup teleponnya setelah mengucapkan salam tanpa menunggu Fatih menjawabnya.             Esoknya Fatih tau bahwa Aliyyah ke rumahnya. Namun, karena ia sangat malu untuk bertemu dengan teman adiknya itu, ia tidak turun sama sekali dari kamar. Selain itu, ia juga sedikit marah karena Aliyyah terlalu tegas menolaknya. Apakah sebenarnya Aliyyah punya pacar?             Namun, saat ia hendak ke bawah karena ingin ke kamar mandi—saat itu kamar mandi lantai dua sedang digunakan oleh Salman—Fatih turun ke bawah, namun ia tetap tidak bisa melepaskan pandangannya dari Aliyyah. Ia melihat Aliyyah dengan gaya yang agak berantakan. Namun, wajahnya masih cantik seperti sebelumnya.             Fatih berjalan ke dapur terlebih dahulu karena ia ingin meletakkan gelas dari kamarnya, dan kebetulan Saira juga keluar dari kamarnya dan mengambil beberapa kudapan untuk Aliyyah.             “Kenapa dia? Putus dia sama pacarnya?” tanya Fatih pada Saira yang sebelumnya menolak menjelaskan ada apa dengan Aliyyah.             Namun, jawaban yang Fatih dapati adalah, “Aliyyah mana mungkin pacaran! Udah sana!”             Fatih kemudian menawarkan coklat miliknya pada Saira untuk diberikan pada Aliyyah. Namun, respon Saira juga tidak bersahabat.             Fatih menyadari bahwa Aliyyah habis menangis tatkala ia dan Aliyyah berpapasan di depan kamar mandi. Saat itu Fatih salah tingkat karena baru saja keluar dari kamar mandi, dan mengingat kata-kata Aliyyah semalam untuk tidak meneleponnya jika tidak ada urusan yang penting. Sementara Aliyyah terlihat kaget melihat Fatih dan segera menunduk. Flashback mode: OFF ***             “Aliyyah ngomong gitu?” tanya Saira kaget. Namun, ia ingat saat itu kondisi hati Aliyyah sama sekali tidak bagus. Ia baru saja mendapat berita bahwa Aisyah sakit.             “Iya,” kata Fatih.             “Jadi abis itu Mas Fatih gak pernah nelpon Aliyyah lagi?”             “Enggaklah, orang gak ada urusan penting.”             “Kalau chat?”             “Enggak juga. Waktu itu Mas mau jemput kamu pas nginep di rumah Aliyyah, kamu gak mau,” jawab Fatih.             “Oh iya, yah. Abis waktu itu males dijemput sama Mas Fatih,” kata Saira jujur.             “Padahal itu kesempatan Mas, biar tau kalau mau ngelamar,” kata Fatih bercanda.             “Terus Mas Fatih gak coba deketin lagi? Menurut Saira sih gak usah. Karena akan ditolak juga,” kata Saira meyakinkan. Ia yakin Aliyyah tidak mau pacaran, dan kalaupun mau, bukan Fatih orangnya.             “Nanti aja, pas Aliyyah udah kuliah, terus Mas udah mapan.” Baru kali ini Saira mendengar Fatih memiliki rencana.             “Ih, gaya banget.”             “Kayak Mas Salman tuh, tunggu mapan.”             “Mas Fatih gak tau? Mas Salman kan lagi taaruf,” kata Saira. Ia tidak bisa menjaga rahasia di depan kakaknya.             “Hah? Kok gak cerita sama Mas?”             “Saira juga gak sengaja dengar pas Mas Salman cerita sama bunda,” kata Saira.             Fatih kemudian menunjukkan ekspresi kecewa karena kakaknya itu tidak menceritakan hal penting seperti ini pada dirinya. Ia merengut dan membuka handphone.             “Gak usah dipikiran! Mas Salman nanti cerita kalau udah fix nikah, Mas. Kalau sekarang kan lamaran Mas Salman belum tentu diterima,” Saira menenangkan Fatih.             Fatih mengangguk.             Kemudian Saira membuka telepon genggamnya dan mencari kontak Gibran di sana. Saat ini Gibran masih berada di Bogor karena harus membantu usaha penginapan pakde bersama ibunya, oleh karena itu sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Setiap hari mereka hanya berkirim pesan, atau menelepon, namun jarang sekali karena Gibran sibuk di waktu siang dan sering kelelahan saat malam. Saira: kak gibs Gibran: iya, sayang Saira: mas fatih kayaknya serius suka sama aliyyah *** “Masih inget kan? Gue Saira!” – Saira
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN