Sudah lama sekali Saira tidak bertemu Gibran. Selama liburan, jangankan untuk bertemu, saling menelepon pun Saira dan Gibran tidak pernah.
Namun hari ini berbeda, Gibran berjanji pada Saira akan meneleponnya malam nanti setelah semua pekerjaannya selesai. Hari ini banyak tamu yang checkout karena liburan sekolah sudah akan berakhir. Sehingga pekerjaan Gibran pun berkurang sedikit.
Saira sudah menunggu-nunggu hari ini, ketika jam menunjukkan pukul Sembilan malam, Gibran akan menghubungi.
Suara notifikasi handphone membangunkan Saira dari tidur yang tidak direncanakannya. Saat menunggu telepon dar Gibran, Saira dengan sengaja merebahkan badannya yang kelelahan membuat brownies. Besok ada banyak pesanan, karena akhir pekan.
“Halo,” kata Saira dengan suara keras yang dipaksakan. Saira memeriksa jam di layar smartphone-nya dan mengetahui bahwa Gibran terlambar dua jam. Ini sudah pukul sebelas malam.
“Halo, Saira,” kata suara Gibran di seberang. “Kamu udah tidur ya?”
“Iya, abis kamu lama banget. Mana Saira juga lagi kecapekan,” kata Saira menggerutu.
“Maaf ya, yaudah besok aja deh saya telpon lagi. Kamu lanjutin tidur,” kata Gibran memberi ide.
“Gak mau.”
“Kenapa? Kangen ya?” goda Gibran.
“Pake nanya lagi.”
Gibran tertawa. “I miss you too.”
“Kamu besok jadi pulang kan? Jadi ketemuan gak kita?” tanya Saira.
“Jadi! Besok sore saya jemput ke rumah ya?”
“Asik! Akhirnya ketemu Kak Gibs lagi. Muka kamu berubah gak?”
“Ah, lusa kan kita udah masuk sekolah. Muka saya masih ganteng, dong,” canda Gibran.
“Ish!”
Kemudian hening sebentar.
“Kak Gibs,” panggil Saira.
“Iya, sayang.”
“Besok temenin Saira antar kue, ya? Ada pesanan banyak.”
“Boleh. Kemana?”
“Dekat dari café cabang pertamanya Pak Ali, sih. Masih inget Pak Ali, kan?”
“Masih dong, kan aku dulu kerja di sana. Kok tumben minta diantar langsung?”
“Pak Ali yang suruh antar langsung. Katanya harus Saira yang jalan, soalnya ini rumahnya Pak Ali.”
Kemudian obrolan mereka bergulir tak tentu arah. Antara Saira dan Gibran, keduanya meluapkan rasa rindu yang sudah tertahan masing-masing. Meskipun mereka masih saling berkomunikasi lewat chat, namun ada rindu yang bisa dihapus dengan mendengar suara satu sama lain.
“Mas Salman jadi nikah?” tanya Gibran.
“Gak tau, Saira belum sempet dengar apa-apa,” kata Saira jujur. Ia lupa bahwa ia tidak bilang pada Gibran kalau semua berita pernikahan Salman ini hasil mencuri dengar.
“Denger apa-apa? Emang Mas Salman gak langsung cerita sama kamu?” tanya Gibran, menyadari ada yang tidak beres.
Saira tertawa karena kelepasan bicara. “Iya, Saira nguping waktu Mas Salman cerita sama bunda,” jawa Saira.
“Ya ampun, Saira. Kalo yang soal Mas Fatih? Kamu nguping juga?”
“Nah, kalo itu Mas Fatih cerita sendiri sih. Cuma kata Mas Fatih gak boleh bilang siapa-siapa. Tapi Saira malah cerita langsung ke Kak Gibran,” kata Saira cekikikan. Ia menyadari betapa tidak bisa dipercayanya dia.
“Ya ampun, kamu nih.” Gibran ikutan tertawa.
“Kak Gibs, kelas dua itu susah gak?” tanya Saira. Ia sengaja mencari topik pembicaraan dengan pacarnya yang sudah lama tidak mengobrol panjang dengannya.
“Enggak, buktinya saya yang tidak pintar ini bisa naik kelas,” kata Gibran merendah. Ia memang tidak begitu pintar, namun tidak juga bisa dibilang bodoh. Paling tidak, ia tidak pernah mengulang ujian—remedial—atau mendapat nilai merah.
“Tapi Saira lebih gak pinter dari Kak Gibs,” kata Saira mengasihani dirinya sendiri.
“Nanti kalau kamu susah, bilang sama saya, ya. Saya bantuin sebisa saya.”
Saira tersenyum. Benar-benar pacar yang bisa diandalkan.
“Sayang,”panggil Gibran.
“Hm?”
“Udah jam dua belas lewat. Kamu tidur, ya. Besok kita ketemuan. Setelah anter ibu ke rumah, saya langsung jalan ke rumah kamu.”
“Oke.”
“Kok cuma oke? Bete ya?” tanya Gibran, memastikan bahwa Saira tidak sedang merajuk padanya.
“Enggak,” jawab Saira tidak jujur. Ia sebenarnya masih sangat merindukan Gibran. Namun ia tahu besok Gibran harus bangun pagi-pagi sekali untuk mulai bekerja di hari terakhir, kemudian pulang dan tidak bisa langsung istirahat karena harus bertemu dengannya. Maka dari itu, Saira marah pada dirinya sendiri.
“Kalo kamu masih mau ngobrol, gak apa-apa. Saya temenin,” kata Gibran dengan suara yang pelan sekali.
Saira sadar ia berlebihan. Ia langsung berpikir cepat, “Besok gak usah ke rumah deh, Kak. Kamu istirahat aja, Saira antar kuenya sendiri,” kata Saira dengan tegas.
Maksud Saira baik, ia ingin Gibran istirahat dan ia tau bahwa Gibran sudah kelelahan dengan pekerjaannya di penginapan pakde, dan Saira rasa ia bisa mengurus pengantaran kuenya sendiri. Toh, kue itu pun juga urusan pribadinya, tidak ada hubungannya dengan Gibran.
“Saira. Kok kamu jadi gini?” tanya Gibran. Dari nada suaranya, Saira tau ia kesal karena Saira tiba-tiba membatalkan janji besok.
“Saira gak marah. Cuma biar kamu besok bisa istirahat. Kan kamu capek,” kata Saira memberi alasan. Namun, kedengarannya seperti sindiran.
“Udah ah Kak, Saira ngantuk. Bye!” tiba-tiba Saira kesal juga karena Gibran salah sangka pada niat baiknya. Ia juga menyalahkan nada bicaranya yang membuat Gibran tersinggung.
“Yaudahlah. Bye.”
Sambungan dimatikan. Ini pertama kalinya Saira dan Gibran bersitegang. Kemudian Saira menanyakan pada dirinya sendiri, mengapa ia tiba-tiba kesal barusan? Kenapa ia tidak pura-pura tertawa saja, atau apapun yang dapat membuat Gibran tidak salah kira? Memangnya salah, jika ia menjawab “Oke” saja? Saira terus dan terus mencari alasan dan pembenaran. Dan itu tidak ada akhirnya, hingga ia tertidur lagi.
Kayaknya besok beneran akan antar kue sendiri, kata Saira dalam hati sebelum tidur.
***
Esoknya Saira bangun siang karena kelelahan dengan pikirannya mengenai Gibran semalam. Ia mengakhiri perdebatan dengan pikirannya sendiri sekitar pukul dua pagi.
Saira terbangun jam sebelas siang di hari Minggu karena mendengar bunda memanggil-manggil namanya dalam mimpinya. Selain suara bunda, Saira juga menyadari adanya suara kedua kakaknya yang membantu bunda untuk membangunkannya. Di akhir, Saira tau bahwa itu bukan mimpi, melainkan kenyataan.
“Sar, bangun!” Fatih menggedor pintu kamar Saira. Di belakang Fatih, terdengar suara bunda yang mengomel, seperti “Adek kamu semalam tidur jam berapa sih?” atau “Anak perempuan kok siang gini baru bangun?” dan yang paling membuat Saira terbangun adalah saat kata-kata bunda terdengar olehnya, “Bangunin Saira. Kalo ngga, kamu tetep di situ sampai dia bangun!” s***s banget bunda, kata Saira dalam hati.
Saira segera bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamar. Dilihatnya Fatih sedang berdiri di depan wajah kesal. Begitu pun dengan Salman dan bunda sendiri. Semua langsung menoleh ke arah Saira dengan wajah kesal.
“Kamu kok baru bangun? Udah jam berapa ini?” tanya bunda.
“Iya Bunda, semalam Saira gak bisa tidur.”
“Mandi, gih. Bantu bunda beres-beres,” kata bunda tidak menggubris alasan Saira.
Fatih langsung mengetuk kepala Saira pelan, namun bunda tiba-tiba membentak anaknya, “Fatih! Jangan gitu sama adiknya!”
Fatih terkejut. “Iya, Bunda. Maaf,” katanya dengan rasa bersalah. Bukan rasa bersalah pada Saira, melainkan pada bunda.
Bunda selalu ngomel pas gue bangun siang, kata Saira dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri.
Fatih langsung berjalan ke garasi dan menyiapkan peralatan untuk mencuci mobil dan motor. Jelas sekali bahwa ia mencari kesibukan agar tidak dimarahi oleh bunda. Sementara Salman yang sejak tadi sedang mencuci piring, selamat.
“Mandi, Sar!” Perintah bunda.
Tanpa berani melawan, Saira berjalan ke kamar mandi.
Entah karena Saira memang ingin mandi lama-lama, atau karena ia sengaja menghindari kemarahan bunda, Saira baru keluar dari kamar mandi setelah menghabiskan waktu satu jam di dalam. Ia baru keluar kamar mandi saat ia tiba-tiba ingat bahwa Gibran akan datang kerumah—kalau jadi—hari ini. Ia tidak boleh membiarkan Gibran datang saat bunda sedang mengomel terus sepanjang hari.
Saat memasuki kamar, dengan rambutnya masih digelung oleh handuk, Saira meraih handphone-nya untuk menghubungi Gibran.
Saira: kak gibs, jgn kesini
Namun terlambat. Suara Gibran mengucapkan salam dan memanggil namanya terdengar dari depan pagar rumahnya. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah satu siang!
Jam segini udah nyampe? Tanya Saira pada dirinya sendiri. Ia panik.
“Saira, ada tamu,” teriak bunda dari luar. Nada bicara benar-benar berubah dibandingkan saat membangunkan Saira tadi.
Saira dengan takut-takut segera mengenakan pakaian rumah dan keluar dari kamar. Ia takut jika ia langsung mengenakan pakaian pergi, bunda akan semakin kesal.
Saat keluar dari kamar, Saira melihat Gibran sedang menatap ke arah pintu keluar, sehingga Gibran pasti tidak menyadari kehadirannya. Sementara bunda dengan wajah ketus, memandanginya, minta penjelasan.
Saira mengangkat kedua bahunya, berusaha memberi tahu bunda bahwa ia tidak tau mengapa Gibran berada di rumahnya jam segini. Bunda hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Kamu, kok ke sini?” tanya Saira takut-takut. Pertama, ia masih takut pada bunda. Kedua, ia takut Gibran masih marah soal kemarin.
“Saya udah pulang. Kamu jadi nganter kue?” tanya Gibran dengan wajah serius. Ia memandangi Saira dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia mungkin bertanya-tanya mengapa Saira tidak bersiap-siap.
“Jadi. Tapi bukannya kita janjian sore?” tanya Saira dengan suara sepelan mungkin. Ia memang belum meminta izin pada bunda soal rencanana hari ini.
“Saya ganggu, ya?” tanya Gibran tidak enak hati.
“Ehm….” Saira tidak tau bagaimana menjawabnya. Baru saja bunda bilang ingin dibantu beres-beres. Namun tiba-tiba Gibran datang. Ia harus bagaimana?
“Saira, ganti baju dong kalau mau pergi. Masa pakai baju rumah gitu,” kata bunda dari meja makan. Bunda sedang duduk di sana.
“Tante, maaf ya. Saya datang tiba-tiba. Sebenernya saya janjian sama Saira sore nanti. Tapi, saya datang kecepetan….” Kata Gibran dengan suara yang terdengar agak bingung. Salman tersenyum tipis. Mungkin ia menyadari Gibran berbicara dengan kikuk.
“Maaf ya tante. Saya pulang…,” Gibran sempat menambahkan. Namun kemudian langsung terpotong kata-kata bunda.
“Gak apa-apa. Jangan pulang. Saira ganti baju, terus pergi sekarang aja. Kan bagus juga, jadi gak kemaleman. Kalau pergi sore, nanti pulangnya malam. Besok sekolah loh,” kata bunda. Nada bicara bunda sudah kembali seperti biasa. Tidak lagi ketus.
Saira mengerutkan dahinya kepada bunda. Namun kemudian bunda mengangguk, meyakinkan. Hingga akhirnya Saira bergegas ke kamarnya untuk bersiap-siap.
“Saya gak enak banget sama bunda kamu,” kata Gibran saat mereka sudah berada di perjalanan menuju alamat pemesan kue.
“Gak apa-apa,” kata Saira tertawa. Padahal dalam hatinya sendiri, ia pun takut pada bunda. Ia tidak tau apa jadinya nanti ketika ia pulang.
“Kamu gak marah lagi kan sama saya?” tanya Gibran.
“Engga marah kok dari kemarin. Saira bingung kenapa Kak Gibs ngira Saira marah,” kata Saira.
“Abisan kamu langsung ngebatalin gitu. Bilang saya gak perlu dateng, lagi,” jawab Gibran.
“Ah, perasaan kamu aja. Cuma takut aja, kan Kak Gibs baru selesai kerja, masa langsung antar Saira.”
Gibran dan Saira sampai di depan sebuah rumah besar tingkat dua dengan cat coklat muda di temboknya. Rumah dengan gaya minimalis ini menyiapkan bel di depan untuk tamu.
Saira menekan bel dan seorang laki-laki dengan wajah familiar keluar dari pintu rumah dan membuka pagar untuk mereka.
“Oh iya, lo kan anaknya Pak Ali, ya?” kata Saira reflek saat melihat anak dengan wajah familiar berada di depannya dan keluar dari rumah besar itu.
Anak dengan wajah familiar itu mengerutkan dahi bingung. Mungkin ia sudah lupa bahwa ia pernah bertemu Saira, berkenalan, mencari kunci motor bersama Saira, dan mengantar pulang Saira. Mereka memang sudah lama tidak bertemu. Sejak Salman jarang ke café, Saira tidak lagi tau kabar anak ini.
“Masih inget kan? Gue Saira!” kata Saira percaya diri. Gibran yang berada di sebelah Saira, langsung menoleh karena Saira terlihat bersemangat saat mengetahui siapa pemilik rumah ini.
“Ehm…” anak dengan wajah familiar itu terlihat berpikir.
“Lo kan pernah nganterin gue pulang. Masa lupa? Adiknya Mas Salman!” tanya Saira, mencoba mengingatkan anak itu akan dirinya.
Gibran masih memandangi dirinya.
“Iya, inget,” jawab lelaki itu. Ia melirik pada Gibran yang berada tepat di sebelah Saira sambil membawa empat kotak besar brownies buata Saira.
Bukannya memberikan browniesnya, Gibran malah menaikkan alis sebelah kirinya.
Anak laki-laki itu kembali memfokuskan pandangannya pada Saira.
“Mana browniesnya?” tanyanya.
“Hah?” Saira langsung sadar tujuannya ke rumah ini. Ia segera mengambil bungkusan di tangan Gibran dan memberikannya pada anak laki-laki dengan wajah familiar di depannya.
“Mau masuk?” tanya anak laki-laki itu.
“Enggak, takut ngerepotin,” bukan Saira yang menjawab, melainkan Gibran.
“Oke,” jawab anak laki-laki itu.
Saira melambaikan tangan dan berjalan menjauh dari rumah, sementara anak laki-laki berwajah familiar itu mundur dan menutup pagar.
Gibran cemberut seharian, ia tidak banyak bicara dan berkali-kali bertanya pada Saira siapa anak laki-laki itu sebenarnya. Meskipun Saira sudah menjawab dengan jujur dan detail, Gibran tidak percaya.
“Masa sih, kamu kenal cuma karna dia anaknya Pak Ali?” tanya Gibran saat mereka sedang menyantap mie ayam pinggir jalan.
“Beneran. Oh, dia juga temennya Mas Salman,” jawab Saira. Ia menyantap mie ayamnya dengan lahap karena belum sempat sarapan tadi pagi.
“Kok bisa nganter kamu pulang?”
“Disuruh Mas Salman, soalnya sekalian nunjukin jalan.”
“Kok gak pakai google maps aja?”
“Ya gak tau, mungkin lebih gampang kalau Saira yang nunjukin.”
“Kok dia gak pesan brownies dari café aja?”
“Kan Pak Ali yang pesan. Pak Ali bilang mau ada acara di rumahnya.”
“Tadi rumahnya sepi-sepi aja. Gak kayak ada acara.”
“Saira gak tau, mungkin acaranya di rumahnya yang lain.”
“Kok kamu masih inget dia? Dia aja udah lupa sama kamu.”
Saira menghentikan aktivitasnya. Hal yang ditanyakan Gibran juga aneh menurutnya.
“Iya, ya? Saira juga bingung. Menurut kamu kenapa?” Saira balik bertanya.
“Gak tau,” jawab Gibran ketus.
“Loh, kamu kenapa? Kok jutek?”
Gibran mengangkat kedua bahunya.
***
“Kamu kenapa?” – Gibran