Hari pertama masuk sekolah sebagai senior! Saira sangat menunggu-nunggu hari ini, bukan karena ia adalah kakak kelas galak yang menyetujui senioritas, melainkan karena ingin menjadi seorang senior tingkat dua. Memiliki kakak kelas, dan juga adik kelas.
Semua teman sekelasnya masih sama persis. Kebijakan sekolah membiarkan murid-muridnya untuk tetap berbaur dengan lingkungan yang sama, meski akibatnya mereka akan berada di zona nyaman. Namun, karena banyak club dan acara antar kelas yang dapat menjadi ajang para siswa untuk berbaur dengan kelas lain, akhirnya sekolah membiarkannya.
Bukan hanya jumlah teman sekelas Saira yang sama persis, namun sifat dan sikap mereka pun sama saja. Aliyyah masih alim layaknya lulusan pesantren biasanya. Bian masih sangat dihargai oleh guru-guru karena kecerdasannya dan dihargai oleh teman-teman karena ia ketua kelas dan anak konglomerat. Dan Saira, masih tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka.
Bian datang ke tempat duduk Saira dan menyenggol lengan Saira, membuat lengannya yang tadinya ada di atas meja, jatuh ke bawah.
“Aduh!” kata Saira dengan suara keras, sengaja agar Bain mendengarnya.
Sementara Bian hanya tersenyum usil sambil menaikkan kedua alisnya di depan Saira, seperti menantang. Saira kemudian melihat Bian melirik diam-diam pada Aliyyah yang sedang sibuk dengan handphone-nya—Saira yakin dia sedang membuka aplikasi baca Al-Quran—namun kemudian langsung berpura-pura mengerjakan yang lain.
“Halah, sok-sok nyenggol gue padahal pingin negor yang lain,” kata Saira menyindir Bian dengan satir.
Bian yang sadar bahwa ia sedang disindir, melotot pada Saira. Sementara Aliyyah tidak begitu tertarik yang teman-temannya lakukan.
Kemudian Bian mengambil handphone dari kantung celananya, sepertinya ia baru saja menerima pesan. Ia mengangguk-angguk saat membacanya dan matanya berkeliling mencari sesuatu.
“Ngapain, Bi?” tanya Saira penasaran.
“Kita ada bangku kosong enggak ya?” tanya Bian. Kondisi kelas yang sedang berantakan membuat ia sulit menemukan bangku kosong. Hampir semua anak-anak tidak berada di meja mereka. Semuanya asik melampiaskan rasa rindu mereka.
“Buat apaan?” tanya Saira tanpa menjawab pertanyaan Bian.
“Guys, sorry deh. Kita ada bangku kosong kan ya? Harusnya ada sih, soalnya dari empat kelas IPA, kelas kita yang paling sedikit anggotanya, kan?” kata Bian dengan suara yang mampu didengar seisi kelas.
“Kan belakang gue kosong, Bi,” kata Bayu.
“Belakang gue juga,” kata salah satu anggota kelas mereka bernama Arm atau Nattawut. Konon, ia adalah keturunan Thailand, maka bernama Nattawut. Nama panjangnya adalah Nattawut Fangmak. Ia selalu memperkenalkan diri dengan nama panggilannya, Arm.
“Kenapa emangnya?” tanya Aliyyah dengan suara halus. Ia ternyata sudah selesai dengan handphone-nya. Ia kini memandang Bian.
“Hah?” sahut Bian salah tingkah.
Saira tertawa cekikikan. Ia yakin Bian pasti salah tingkah karena sudah lama tidak bertemu dengan Aliyyah. Mungkin ia rindu, tapi malu. Sejak dari tadi ia tak berhenti melirik Aliyyah.
“Bay, lo pindah ke belakang ya? Ada anak baru, kan kasihan kalo dikasih bangku paling belakang,” kata Bian setelah dapat mengendalikan dirinya.
“Kalo Bayu pindah ke belakang, dia jadi sebelah gue dong?” tanya Nadia sewot. Selalu saja keributan di antara mereka berdua.
“Kenapa sih emangnya? Emang gue bau?” tanya Bayu tak kalah sewot.
Bian geleng-geleng kepala melihat aksi kedua temannya yang masih seperti anak kecil. Ia membuang napas karena lelah menjadi ketua kelas mereka.
“Yaudah, Arm aja yang pindah, gimana?” kata Aliyyah memberi saran. “Atau aku juga gak apa-apa disuruh pindah ke belakang, kan aku udah enam bulan di sini.”
“Jangan,” jawab Bian cepat.
“Jangan, nanti jauh sama Bian,” kata Saira reflek. Ia ingin sekali meledek kedua temannya itu dari tadi.
Seisi kelas hening. Tidak ada yang membantu Saira untuk meledek ketua kelas dan anak lulusan pesantren. Mereka bahkan tidak tau bahwa Bian menyukai Aliyyah dan sudah ditolak.
“Jadi gimana? Arm, lo pindah ya?” Bian meminta pada Arm, namun malah terdengar seperti perintah.
“No,” jawab Arm.
“Astagah!” kata Bian kesal. Kalau bukan karena dia punya janji pada ayahnya, ia pasti sudah undur diri dan melepas jabatan ketua kelas ini.
“Yaudah, gua pindah ke belakang, Bi. Santai aja jangan marah-marah,” kata Bayu mengalah. Ia segera mengambil tasnya dan memindahkannya ke bangku belangkang. Sebelum itu, sempat menoleh pada Nadia dan menjulurkan lidah.
Nadia, namun ia hanya melotot dan menghempaskan tubuhnya, duduk di atas bangku kembali.
Bian terlihat lega saat Bayu memindahkan tasnya ke bangku belakang dan membiarkan bangku lamanya kosong. Ia juga tidak lupa memindahkan label nama di mejanya ke meja barunya. Di SMA Pelita Mulia, setiap meja yang memiliki penghuni sengaja diberi label nama, sehingga kebersihan meja itu menjadi tanggung jawab penghuni tetapnya.
“Loker-nya juga dipindahin ya, Bay,” kata Bian mengingatkan. Sama halnya seperti meja, loker yang terletak di bagian belakang kelas pun diberi label di pintunya. Dan setiap loker berpasangan dengan meja. Jika satu orang siswa pindah meja, tandanya ia juga harus pindah loker.
“Iya nanti aja,” jawab Bayu malas. Dan Bian pun tidak begitu peduli.
Tidak lama setelah urusan tempat duduk di kelas selesai, bel tanda masuk berbunyi. Semua anak berhamburan dan saling menabrak karena panik untuk kembali ke tempat duduk masing-masing. Hanya Aliyyah yang tenang karena ia sudah duduk di tempatnya sejak tadi.
Muncullah seorang ibu-ibu tua dengan wajah super ramah yang mengingatkan Saira pada nenek Belanda—ibu kandung ayah—yang kini sudah meninggal. Saira mengetahui bahwa namanya adalah Ibu Lisbet. Ibu Lisbet adalah seorang guru matematika yang terkenal akan sifatnya yang ramah dan penyayang. Meskipun ia tau bahwa mata pelajaran yang ia ajar adalah mata pelajaran inti, namun ia tidak memaksakan semua murid harus mahir di pelajaran itu. Ia yakin semua anak terlahir istimewa dengan bakatnya masing-masing.
Dan jika orang yang mendengar nama Lisbet mengira bahwa nama panjang Ibu Lisbet adalah Elizabeth, tidak, ia salah besar. Nama panjang Ibu Lisbet adalah Lilis Beti.
Ibu Lisbet adalah seorang ibu dengan umur di atas 40an, ia memiliki tubuh berisi dan tinggi serta kulit putih pucat layaknya orang Eropa. Ibu Lisbet selalu berpakaian tertutup, dengan kerudung yang menutupi dahi, dan selalu berwarna coklat yang sama. Apapun pakaiannya.
Anak-anak bergembira mengetahui bahwa guru yang masuk adalah Ibu Lisbet, tandanya Ibu Lisbet akan menjadi wali kelas mereka. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kelas yang ditangani Ibu Lisbet adalah kelas yang paling banyak mendapat nilai di atas rata-rata.
Dan hal paling mengejutkan bagi Saira adalah anak lelaki yang berdiri di sebelah Ibu Lisbet. Anak itu adalah anak dengan wajah familiar!
Hah, dia? Tanya Saira dalam hati dengan dahi yang berkerut. Namun kemudian Saira menggelengkan kepala, mengendalikan diri karena telah berlama-lama menatap anak itu dengan heran.
“Halo, kelas sebelas ipa 4!” kata Bu Lisbet menyapa untuk pertama kalinya.
“Halo Bu!!!!!” seisi kelas heboh karena dua kemungkinan. Mungkin karena terlalu bahagia mengetahui Bu Lisbet akan menjadi wali kelas mereka, atau karena ada wajah baru di sampingnya. Anak lelaki dengan rambut cepak khas polisi. Ia juga menggunakan jaket kanvas coklat hari ini.
“Perkenalkan saya Bu Lisbet, saya mengajar pelajaran matematika, dan akan menjadi wali kelas kalian sampai kalian naik kelas tiga nanti. Semoga naik, ya?” kata Bu Lisbet dengan candaan.
“AAMIIN!” anak-anak mengamini dengan kompak.
“Ini kalian punya temen baru. Coba perkenalkan diri, ya?” pinta Bu Lisbet pada anak laki-laki berwajah familiar di sebelahnya. Si anak berwajah familiar mengangguk dengan kaku. Tidak ada senyum sama sekali di wajahnya.
“Nama saya Adnan Ali, biasa dipanggil Adnan. Saya pindahan dari Hayaku Internaltional School for Boys,” kata anak berwajah familiar yang mengaku bernama Adnan.
“Adnan duduk dimana nih?” tanya Bu Lisbet pada Bian. Bu Lisbet pasti sudah tau bahwa Bian adalah ketua kelas saat kelas satu.
“Di depan Bayu, Bu.” Bian menunjuk kepada bangku nomor dua dari belakang di bagian kiri kelas.
“Oke. Adnan, silahkan duduk ya.”
Adnan duduk di tempatnya dengan wajah seperti biasa dan tidak sadar sama sekali bahwa ada Saira disana. Padahal Saira sudah berkali memandangnya dengan kentara agar Adnan menoleh, namun ternyata dia. Saira yang mudah malu, akhirnya diam saja.
Seisi kelas mulai gaduh lagi saat Bu Lisbet keluar dari kelas dan menyerahkan semua urusan hari pertama pada Bian, meskipun tidak ditentukan dengan jelas bahwa Bian akan tetap menjadi ketua kelas mereka.
“Ketua kelasnya enaknya siapa, ya? Voting?” tanya Bu Lisbet, meskipun matanya sudah jelas ke arah Bian.
“Biaaaaan,” jawab anak-anak sekelas bersamaan. Penanda bahwa mereka tidak akan melakukan voting untuk menyelesaikan masalah ini.
“Oke. Bian, tolong diatur ya. Kalau ada perlu saya ada di ruang guru, cuma kamu bisa langsung hubungi saya, ya,” kata Bu Lisbet dengan wajah keibuan dengan tulus seolah-olah sedang meminta tolong anak pertamanya untuk menjaga adik-adiknya.
Bian mengangguk. Ia pasti masih enjoy dengan jabatan ini, pikir Saira.
Bian menghampiri Adnan dan langsung saja memperkenalkan diri. Saira mendengar bahwa Adnan menanggapi Bian dengan gaya kaku dan wajah yang sama sekali tidak berubah.
Dingin banget anaknya Pak Ali, kata Saira dalam hati.
Saira menemui Gibran di kantin pada jam istirahat. Di hari pertama sekolah, kantin lebih ramai dari biasanya. Membuat Saira yang bertubuh pendek tidak bisa menguasai. Ia terhimpit dan terdorong-dorong.
Gibran yang melihat pacarnya terdorong-dorong sampai tidak bisa meraih dirinya, langsung bergegas bertindak. Ia yang sedang berada di stand untuk membantu ibunya, langsung berjalan ke arah Saira. Saira bisa melihat itu, namun baru saja Saira melihat Gibran menuju dirinya, Saira langsung merasa seseorang menutupi dirinya dari anak-anak lain, dan mendorong dirinya keluar dari kerumunan.
Saira menoleh dan tidak menemukan Gibran di sampingnya. Alih-alih Gibran, Saira menemukan Adnan dengan wajah serius sedang memandang dirinya dengan wajah galak. “Lo pendek banget sih, Sar,” kata Adnan padanya.
Saira tidak menjawab perkataan Adnan, matanya langsung berkeliling untuk menemukan Gibran. Dan benar saja, Gibran baru sampai di tempatnya berdiri dengan napas terengah. Saira memperhatikan wajah Gibran. Kapten basket itu mengerutkan dahi saat melihat Adnan berada di depan Saira dengan wajah serius.
Tanpa banyak bicara, Saira langsung menyambut Gibran, “Kak Gibs!” panggil Saira dengan tersenyum.
Mendengar panggilan Saira, Gibran tersenyum dan seperti berusaha mengabaikan apa yang dilihatnya barusan. “Kamu gapapa, sayang? Tadi saya liat kamu kedorong-dorong.”
Saira berusaha menyembunyikan senyumnya karena Gibran memanggilnya sayang. Ia menduga bahwa Gibran cemburu pada Adnan.
“Kak, ini Adnan. Anak baru di kelas Saira,” Saira memperkenalkan Adnan.
“Hai, Adnan! Gue Gibran,” kata Gibran dengan senyum ramah yang dibuat-buat.
Adnan mengangguk. “Gue Adnan,” jawab Adnan tanpa membalas senyum Gibran.
“Adnan, Kak Gibran ini kapten basket di sekolah kita. Dia anak kelas XII IPA,” kata Saira menambahkan sembelum suasana menjadi canggung.
“Oh. Kemarin sempet ikut anter brownies kan?” kata Adnan.
“Iya, lo inget?” tanya Saira bersemangat.
“Inget. Browniesnya enak, Sar. Enak banget. Kapan-kapan gue order lagi,” kata Adnan, masih dengan wajah kaku dan dingin. Seperti biasa.
“Wah, thank you Nan. Boleh banget kalau mau order lagi,” kata Saira dengan lebih bersemangat. Semua orang pasti mengira bahwa Saira sangat bahagia sekarang. Memang tidak ada yang lebih membahagiakan dari dipuji oleh orang lain.
“Lo masih supply ke cafe?” tanya Adnan.
“Masih. Kalau lo mau pesan lewat cafe juga sebenarnya bisa. Cuma, harganya kan jadi lebih mahal. Ini jangan lo kasih tau orang lain, ya,” kata Saira.
“Iya,” sahut Adnan pendek.
Saira diam saja. Ia tidak tau bagaimana harus memperpanjang obrolannya dengan Adnan.
“Ehem,” Gibran berdeham pendek untuk memberi tahu Saira dan Adnan bahwa dia ada.
“Oh iya kalo kue lain lo bisa bikin juga?” Adnan bertanya lagi, menenggelamkan suara Gibran.
“Bisa, kok. Lo mau apa?” tanya Saira. Ia juga tidak terlalu memperhatikan Gibran.
“Kalau risoles atau bitterballen?”
“Bisa, kok. Dua-duanya bisa.”
“Bisa dipesen juga?”
“Bisa. Bilang aja ke Pak Ali atau bilang ke Mas Salman. Lo masih nyimpen nomor Mas Salman kan?” tanya Saira, mengingat bahwa Adnan lumayan dekat dengan Salman dan pernah datang ke rumah menemui Salman.
“Ehm... Sar, saya balik ke stand ibu, ya,” kata Gibran saat Saira dan Adnan sedang sibuk dengan obrolan mereka mengenai kue.
Saira tidak menjawab kata-kata Gibran, namun ia langsung mengenggam tangan kanan Gibran dengan tangan kirinya, saat pacarnya hampir saja pergi meninggalkan dia dan Adnan. Saira kemudian menyembunyikan genggaman tangan mereka di belakang pinggangnya. Dan Gibran tidak melepas genggaman tangannya.
Saira tau betul bahwa Adnan melihat mereka dan kemudian merasa tidak enak. Namun Saira tidak peduli, biarkan saja Adnan tau bahwa Gibran pacarnya.
“E... gue balik ke kelas, ya. Bye!” kata Adnan setelah melihat Saira memegang tangan Gibran.
“Oke, bye!”
Setelah Adnan pergi, ia cepat-cepat melepaskan tangan Gibran. “Maaf ya Kak Gibs, aku tarik tadi,” kata Saira.
Gibran tertawa dan menjawab, “Gak apa-apa.”
“Gak ngambek lagi?”
Gibran mengangkat kedua bahunya, namun sambil tersenyum.
Dari kejauhan Aliyyah memperhatikan sahabatnya itu dengan geleng-geleng kepala.
***
“Anak baru itu ngeliatin kamu terus deh, Sar.” – Aliyyah