BAB 35 - NAMANYA ADNAN

2241 Kata
            “Saira,” panggil Aliyyah dengan suara pelan saat mereka berada di dalam kelas setelah jam istiraha. Konon setelah ini guru biologi akan masuk ke kelas mereka sebagai initial class.              “Ya, Al?”             “Kamu pacarannya biasa aja, Sar. Jangan pegangan gitu. Apalagi di tempat umum,” kata Aliyyah dengan pelan, ia pasti takut menyinggung Saira.             Saira awalnya bingung, namun mengingat bahwa Aliyyah yang dikatakan Aliyyah adalah hal baik, Saira mengerti. Disamping itu, ia sendiri pun tidak enak sebenarnya terlihat berpegangan tangan di kantin sekolah.             “Iya, lain kali enggak,” kata Saira sambil tersenyum.             Aliyyah mengangguk. “Sar, by the way….”             Saira menunggu Aliyyah melanjutkan kata-katanya dengan menaikkan kedua alisnya.             “Anak baru itu ngeliatin kamu terus deh, Sar.” Aliyyah melanjutkan kalimatnya dengan suara pelan. Ia berusaha agar anak yang dia maksud tidak mendengar.             Saira langsung menengok pada Adnan, karena ia tau Adnan adalah anak baru yang Aliyyah maksud. “Kenapa Nan?”             Adnan mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Saira. “Apaan sih?” ia bertanya balik dengan ketus.             Saira heran. Baru saja di kantin tadi ia mengobrol dengan Adnan dan mengira bahwa Adnan membuka diri untuk menjadi temannya, meksipun mereka mengobrol dengan wajah kaku Adnan sepanjang pembicaraan. Namun ternyata Saira salah.             Tanpa menjawab pertanyaan ketus Adnan, Saira membuang muka dan kembali pada Aliyyah. Bibir Aliyyah mengucapkan sorry tanpa suara. Saira mengangguk saja, ia maklum karena jelas bukan salah Aliyyah.             Guru biologi masuk, ternyata kelas Saira mendapat Bu Nova sebagai guru biologi mereka. Seorang guru perempuan berambut pendek dan selalu memakai hairpin warna hitam. Guru bertubuh tinggi layaknya model tersebut masuk ke dalam kelas dengan wajah garang.             “Siang semuanya,” sapa Bu Nova saat ia memasuki kelas. “Siapa ketua kelasnya?”             Bian mengangkat tangannya.             “Siapa nama kamu?”             Hah, di sekolah ini ada yang gak kenal Bian ya? Tanya Saira bingung.             “Arisbian Haryo,” jawab Bian. Tegas dan berwibawa seperti biasa.             “Oh, yang terkenal itu ya?” tanya Bu Nova. Entah mengapa Saira tidak suka mendengarnya. Tampaknya Bu Nova meremehkan Bian karena ia terkenal akan harta orang tuanya.             “Hah?” sahut Bian bingung.             “Anyways, tolong kamu bagi kelas ini jadi 5 kelompok, ya? Satu kelas ini 20 orang kan?” perintah Bu Nova.             “Iya, Bu,” jawab Bian, ia tidak setegas sebelumnya.             Bu Nova mengangguk. “Oke, next kita akan belajar secara berkelompok. Setiap kelompok akan punya project masing-masing. Detailnya saya akan jelasin ke ketua kelas kalian. Bye, class!” kemudian Bu Nova pergi begitu saja.             Seluruh kelas sontak langsung membicarakan Bu Nova saat ia meninggalkan kelas. Mereka memiliki feeling bahwa Bu Nova tidak akan bersahabat. Sementara Saira mengangkat kedua bahunya, semua guru di mata Saira memang tidak pernah ada yang benar-benar bersahabat. Semua guru hanya menyukai murid pintar, atau murid terkenal, atau murid yang kelewat sopan dan penjilat. Sementara bukan bagian dari semuanya.             Saira merasa ada yang memperhatikan dirinya saat ia sedang melamun dengan wajah berkerut. Ia memikirkan bagaimana nasib akademiknya yang pas-pasan, jika Bian saja got canceled by Bu Nova.             “Apaan sih, lo?” tanya Saira kesal. Karena jelas-jelas baru saja Adnan sedang memperhatikan dirinya, namun sengaja membuang muka saat Saira memergokinya.             Adnan tidak menjawab.             “Guys, jadi kita bagi kelompoknya berdasarkan absen ya?” tanya Bian di depan kelas setelah berhasil menenangkan seisi kelas yang tadinya gaduh.             “Bian, gue satu kelompok sama lo, ya,” Nadia langsung mengangkat tangan mengajukan diri.             “Gue kan A, lo kan N. Jauh banget! Lo sama Arm tuh,” jawab Bian. Saira curiga bahwa Bian sengaja agar satu kelompok dengan Aliyyah. Dasar, gak mikirin perasaan gue yang sendirinya, kata Saira dalam hati.             “Centil amat sih lo, Nad!” kata Bayu.             “Yee, burung sangka aja sih lo, Bay!” jawab Nadia.             Bian menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali ke tempat duduk. Ia membuka netbook-nya dan mengetik sesuatu selama beberapa saat. Kemudian sesuatu muncul di layar smart tv di depan kelas mereka, setelah sebelumnya Bian menghidupkannya menggunakan handphone sebagai remote-nya. Kelompok satu: 1.     Adnan Ali 2.     Aliyyah Omar 3.     Arisbian Haryo (Bian) 4.     Bayu Satria Gaze Kelompok dua: 5.     Cindy 6.     David Sebastian 7.     Daud Muhammad 8.     Hanna Lee Kelompok tiga: 9.     Luisa Anna 10.  Nadia Bumi Mecca 11.  Nattawut Fangmak (Arm) 12.  Ryo Wada Kelompok empat: 13.  Rania Annisa 14.  Saira Bayu 15.  Salshabila Dwiyani (Bela) 16.  Sulaiman Uwais (Ais) Kelompok lima: 17.  Taro Tobias 18.  Ulfah Baheera 19.  Wulandari Sekar (Sekar) 20.  Zsa zsa Kania Indriyani (Sasa)             Setelah semua nama terpampang di layar tv, anak-anak mulai mencari orang-orang yang akan menjadi teman seperjuangan mereka satu semester ke depan. Padahal, mereka sendiri sudah tau urutan absen mereka, namun karena ada Adnan sebagai tambahan, mereka perlu memastikan.             “Ini gue share ke Bu Nova ya? Cocok semua kan?” tanya Bian pada teman-teman sekelasnya.             “Gue cocok sama temen sekelompok, tapi kayaknya gak akan cocok sama gurunya, Bi. Gimana ya?” tanya Bayu humoris yang disambut dengat gelak tawa teman-teman sekelas mereka.             Saira tertawa karena mendengar candaan Bayu. Teman yang sering memanggilnya “Twin” karena kesamaan nama mereka itu memang sering sekali bercanda.             “Waaah, dark comedy tuh, Bay!” sahut Ais, si juara kelas.             “Udah gak apa-apa, mungkin orangnya baik,” kata Bian menenangkan. Namun ia sendiri juga tertawa dan wajahnya seperti setuju dengan omongan Bayu.             “Lo mah tenang aja, Is. Juara kelas pasti bisa ngambil hati guru. Lah gue?” kata Sasa. Perempuan dengan nama lengkap Zsa zsa Kania Indriyani turut bicara pada si juara kelas.               “Iya, apalagi gue,” ujar Saira setuju.             “Yaudah bismillah, pasti bisa,” kata Aliyyah ikut menenangkan dengan suara halusnya.             “But guys, I heard a rumor….” kata Hanna mulai bergosip.             “Apa?” tanya Sasa penasaran. Saira tertawa melihat wajah Sasa yang serius.             “Bu Nova loves scholarship student. Meaning, she’ll love Cindy a lot,” kata Hanna sambil melirik Cindy, si penerima beasiswa di kelas Saira. Cindy menerima beasiswa berkat kepintarannya dalam pelajaran matematika dan menggambar. Ia adalah calon arsitek.             “But she’s kinda racist. I don’t think she will love me that much,” Cindy menimpali, mematahkan rumor yang dikatakan Hanna.             “Racist? What race does she stand for?” tanya Arm yang dari tadi diam saja. Sebagai seorang Thailand, ia merasa terancam.             “I don’t think she’ll stand for Thai,” kata Bayu membuat Arm merengut.             “Guys,” kata Aliyyah membuat teman-teman sekelasnya diam. Aliyyah jarang bicara omong ksong, jadi terkadang semua orang mau mendengarnya. “It doesn’t sense. Kita ini kan ada di sekolah multicultural, jadi agak aneh kalau ada guru yang rasis. Mungkin gosip itu gak bener?”             Anak-anak mencoba memproses kata-kata Aliyyah. Beberapa mengangguk, namun beberapa masih tidak tenang, “I wish, Al,” sahut Hanna.             “Bisa jadi, sih,” kata Luisa, Taro, dan Cindy.             “Tapi mungkin kalau Bu Nova suka sama anak beasiswa sih mungkin. Kan penerima beasiswa itu memang spesial,” kata Aliyyah melanjutkan.             Beberapa anak memasang wajah tegang lagi. “If Aliyyah said so….,” kata Nadia.             “Udah, gausah dipikirin. Baru juga hari pertama sekolah, udah stress aja,” kata Bian. Ia kemudian mengirimkan daftar kelompok yang tadi disiapkan ke akun Bu Nova. Dalam waktu lima menit, sudah mendapatkan balasan. Bian langsung menyambungkan layar netbook-nya ke layar tv di depan kelas. From: Nova Tobing (novat.biologi@smaspm.co.id) To: Arisbian Haryo XI.IPA4 (arisbianharyoipa4@smaspm.co.id) Arisbian, Thank you for your help. Saya sudah menentukan orang-orang ini untuk menjadi ketua kelompok. Tolong infokan agar mereka ke ruangan saya sepuluh menit lagi, jangan lupa bawa netbook masing-masing. Kel 1: Adnan Ali Kel 2: Cindy Kel 3: Nattawut Fangmak (Arm) Kel 4: Saira Bayu Kel 5: Taro Tobias Terima Kasih, Nova Tobing (Mrs) Science – Biology             Belum sempat Bian mengatakan sesuatu, semua anak-anak langsung berisik karena mendapati bahwa yang terpilih menjadi ketua kelompok bukanlah anak-anak dengan nilai paling tinggi di kelas, kecuali Cindy dan Adnan, yang mereka belum tau kemampuannya karena masih baru.             Saira hanya bisa mendapati dirinya membeku karena baru kali ini ditunjuk menjadi ketua. Ia bukanlah tipe pemimpin seperti Bian atau pun Gibran, pacarnya. Ia hanya anak biasa. Ia lebih senang dijuluki sebagai mediocre.             Saira baru beranjak dari tempat duduknya saat ia melihat Cindy membawa netbook-nya dan beranjak dari bangkunya. Kemudian, Saira merasakan ada seseorang menyenggol lengannya. Ia menoleh dan melihat Adnan di sebelahnya dengan wajah serius.             “Lo gak ikut?”             “Iya, ini mau jalan.”             Saira bangun dari tempat duduknya setelah Adnan meninggalkan dirinya dan berjalan keluar dari kelas. Saira nervous bukan main.             Sampai di ruang guru, Saira berdiri di sisi paling jauh dari pandangan Ibu Nova. Bisa dibilang Saira berlindung di sebelah Adnan yang berada di sampingnya.             “Ketua kelompok satu yang mana?” tanya Bu Nova.             Adnan mengangkat tangan.             “Nama?” tanya Bu Nova.             “Adnan Ali.”             “Oke Adnan, dari sistem klasifikasi makhluk hidup, kamu pilih kingdom apa?” tanya Bu Nova tiba-tiba.             “Animals,” jawab Adnan cepat.             “Why?”             “Karena manusia bagian dari kingdom animalia. Jadi lebih menarik membahas diri sendiri daripada yang lain,” jawab Adnan lagi dengan cepat.             “Interesting. Ketua kelompok dua siapa?”             Cindy mengangkat tangan.             “Dengan atau tanpa tulang belakang, which one do you prefer?” tanya Bu Nova pada Cindy.             “Vertebrata, dengan tulang belakang,” jawab Cindy mantap.             “Cindy ya? Beasiswa?” tanya Bu Nova excited.             Cindy mengangguk.             “Good. Nice to meet you.”             “Nice to meet you too.”             “Next?”             Arm mengangkat tangan, sebagai ketua kelompok selanjutnya.             “Saya boleh panggil kamu apa?” tanya Bu Nova.             “It’s up to you, Bu,” jawab Arm.              “Fangmak boleh?” tanya Bu Nova dengan menyebutkan nama belakang Arm.             “Boleh, Bu,” jawab Arm ragu. Pasti belum pernah ada orang yang memanggilnya Fangmak.             “I will call you Arm, just like everyone,” kata Bu Nova pada akhirnya.             “Oke,” sahut Arm.             “Arm, which class?” tanya Bu Nova.             “Em.. IPA 4, Bu,” jawab Arm percaya diri.             Ibu Nova kaget dengan jawaban Arm sampai membuat ia mengerutkan dahi dan memandang Arm dalam beberapa detik. Kemudian ia berkata setelah membuang napas. “I appreciate your humor. Tapi maksud saya, di subfilum vertebrata, kamu pilih kelas apa untuk dibahas?”             “Oh,” sahut Arm. “Mamalia.”             “Kalian janjian ya?” tanya Bu Nova, ia seperti mulai bisa membaca kemana arah murid-muridnya. “Next, kelompok empat?”             Saira mengangkat tangan dengan takut-takut di sebelah Adnan. Adnan melirik dirinya.             “Nama kamu siapa?”             “Saira Bayu, Bu,” jawab Saira.             “Oke, next kamu pilih apa?” tanya Bu Nova.             Saira tidak ada bayangan sama sekali. Ia tidak membaca modul, tidak juga sempat melihat-lihat materi kelas sebelas. Selama beberapa detik Saira diam saja. Ia merengut karena kecewa dengan ketidakberdayaan dirinya.             “Bu,” Adnan mengangkat tangan.             “Ya?”             “Kami janjian untuk bahas homo sapiens, manusia,” jawab Adnan. “Makanya kita mengarah ke sana, Animalia, Vertebrata, Mammalia, Primata, Hominidae, Homo, dan terakhir Homo Sapiens.”             Saira menghapalkan yang disebutkan Adnan.             “Jadi, Saira kamu akan pilih apa?” tanya Bu Nova.             “Primata, Bu,” jawab Saira tidak percaya diri.             “Yang terakhir?”             Taro mengangkat tangan.             “Hominidae, Homo, Homo sapiens,” jawab Taro langsung. Tampaknya ia juga menghapalkan yang dijelaskan oleh Adnan, karean Saira tau Taro tidak sehebat itu.             Bu Nova menganggukkan kepalanya. “Adnan, kamu sama Saira cari materi untuk kingdom Animalia.”             Saira melirik Adnan yang ternyata juga sedang melirik dirinya.             “Arm dan Taro bisa cari detail tentang vertebrata,” tambah Bu Nova.             “Dan Cindy, karena saya lihat di report bahwa kamu nilainya paling tinggi, kamu bisa cari tentang Mammalia, Primata, Hominidae, Homo, dan Homo Sapiens.”             “Hah?” sahut Cindy. Saira melihat, sahutan Cindy barusan bukanlah karena ia kesal telah diberi banyak tugas, melainkan karena terlalu senang.             Setelah itu Bu Nova mempersilahkan kelima ketua kelompok untuk kembali ke kelas dan mulai mempersiapkan bahan dan rencana mereka untuk materi masing-masing. Bu Nova akan menagih hasil makalah yang telah masing-masing kelompok buat di minggu depan.             “Nan, gue bisa bantu apa?” tanya Saira saat mereka sudah sampai di kelas.             “Lo mau pilih vertebrata atau invertebrata?” tanya Adnan tanpa senyum.             “Vertebrata,” jawab Saira. Ia ingat jawaban Cindy tadi.             “Lo pilih invertebrata aja. Tadi kita fokus ke homo sapiens, jadi ketika kelompok lo present invertebrata, kelompok lain dan Bu Nova akan cuek-cuek aja,” kata Adnan memberi masukan.             Saira mempertimbangkan saran Adnan, dan menyetujuinya karena ia sama sekali tidak memiliki petunjuk.             “Oke.”             “Bahannya kita buat singkron ya? Mau discuss dimana?” tanya Adnan.             “Berdua aja atau sama anggota kelompok?” tanya Saira.             “Berdua aja. Setelah kita udah tentuin, baru dishare ke member masing-masing.” Lagi-lagi Adnan memberi saran, dan Saira menyetujuinya.             “Oke.”             Saira kesal pada dirinya sendiri. Semua ditentukan oleh Adnan dan dia hanya menyetujui saja. Ketua kelompok macam apa dirinya?             “Jangan dipikirin, Sar. Ini cuma kerja kelompok biasa,” kata Adnan. Ia mempersilahkan Saira untuk kembali ke bangkunya.             Setelah itu Saira melihat Bian, Aliyyah, Adnan, dan Bayu berkumpul. Kelompok super ya itu? Ada Adnan, Bian, Aliyyah, dan Bayu yang pandai mencairkan suasana, kata Saira dalam hati. Pantes gak ada gue. *** “Sar, maaf kalo saya egois. Tapi saya jealous lihat kamu sama Adnan” – Gibran
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN