Saira melambaikan tangannya pada Adnan setelah mereka selesai berdiskusi mengenai materi presentasi untuk masing-masing kelompok. Dan Adnan tidak membalas lambaiannya. Ia hanya berjalan saja keluar dari perpustakaan dan sempat berpapasan pada Gibran yang hendak menemui Saira sepulang sekolah.
“Kamu sama dia?” tanya Gibran saat ia dan Saira bertemu.
“Iya, ngomongin tugas,” jawab Saira. “Kayaknya Adnan anaknya pinter, dia banyak bantuin Saira.”
“Ehm… ngomongin tugasnya berdua aja?” tanya Gibran. Ia kini sedang mengintip isi perpustakaan, mencari teman-teman Saira yang lain.
“Iya.”
“Satu kelompok berdua?” tanya Gibran heran, ingin tau.
“Bukan, Saira sama Adnan sama-sama ketua kelompok. Terus pembahasan kita sama, makanya kita diskusi untuk pembagiannya,” kata Saira menjelaskan.
“Gak sama anggota kelompok masing-masing?” tanya Gibran lagi.
“Bang Gibran lagi interogasi?” tiba-tiba suara Bian masuk dalam pembicaraan sepasang sejoli ini.
“Eh, Bi,” sapa Gibran saat melihat juniornya di club basket menghampiri mereka sambil membawa beberapa buku.
“Mulai latihan lagi kapan, Bang?” tanya Bian basa-basi. Buku yang dibawanya tidak banyak, jadi tidak masalah baginya mengobrol lama di depan perpustakaan sambil menenteng buku yang akan dikembalikan.
“Kamis ini, ya,” kata Gibran menjawab pertanyaan Bian.
Bian mengangguk dan pamit pada Saira juga Bian. Sepertinya Bian sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang besar. Mungkin ia ingin ikut lomba lain atau club lain.
***
Saira menerima email dari Adnan malam harinya dengan perasaan takjub karena lelaki itu sudah mempersiapkan bahan yang harus dicari oleh kelompoknya. Saira menduga, hal itu pun terjadi karena anggota super power kelompok mereka. Bian, Aliyyah, Bayu, semuanya pasti bisa mengerjakan apapun bahkan tanpa Adnan. Sebenarnya, Aliyyah tidak jauh berbeda dengan Saira, namun Saira tau bahwa Aliyyah anak yang rajin.
From: Adnan Ali XI.IPA4 (adnanaliipa4@smaspm.co.id)
To: Saira Bayu XI.IPA4 (sairabayuipa4@smaspm.co.id)
Saira,
Terlampir bahan yang akan dibahas kelompok 1.
Waiting for yours.
Thankyou,
Adnan
Saira mengeruthkan dahi dan mulai berpikir bahwa Adnan dan kelompoknya memang super power. Saira bahkan belum sempat beristirahat sepulang sekolah tadi dan dia baru saja selesai mandi, hendak membuat brownies yang akan diambil besok. Dan kelompok Adnan sudah selesai menentukan bahan? Bukannya mereka masih punya waktu dua minggu?
Gibran menelepon pukul delapan malam tetap saat Saira hendak menghubungi teman-teman kelompoknya untuk mengajak berdiskusi.
“Lagi apa, sayang?” tanya Gibran di sebrang telepon.
“Saira barusan dapet email dari Adnan, dan ternyata dia udah kirim bahan kelompok dia,” kata Saira, tanpa intro langsung mencurahkan perasaan tidak percaya dirinya.
“Terus?”
“Saira aja belum ngomong apa-apa sama anggota kelompok.”
“Cieee ketua kelompok,” goda Gibran.
“Aduh Kak Gibs, Saira takut banget. Tadi pas dites sama Bu Nova, Saira gak bisa jawab loh. Terus Adnan yang ngalihin perhatian Bu Nova.”
“Adnan? Baik banget dia mau nolongin kamu,” lirih Gibran.
“Mungkin Saira emang keliatan gak kompeten,” kata Saira mengasihani dirinya sendiri.
“Apasih, kok ngomongnya gitu. Mungkin Adnan tuh memang orangnya ambisius dan suka nge-lead? Jadi dia pingin keliatan hebat di depan Bu Nova,” kata Gibran. Saira menduga Gibran sebenarnya ingin bilang bahwa Adnan itu pintar cari muka, hanya saja dengan bahasa yang lebih baik. Gibran tidak suka membicarakan kejelekan orang.
“Iya, mungkin. Bu Nova orangnya gimana sih?” tanya Saira mengalihkan pembicaraan.
“Asik,” jawah Gibran pendek.
Asik? Tanya Saira dalam hati. Kemudian Saira baru sadar bahwa Gibran adalah penerima beasiswa, pastilah Bu Nova memihaknya. Saira mengingat bagaiman tadi Bu Nova senang sekali berbicara pada Cindy, si penerima beasiswa di kelasnya, saat seluruh ketua kelompok dipanggil ke ruangannya.
Pembicaraan Saira dan Gibran berlalu selama satu jam untuk membicarakan mengenai Bu Nova yang baik, tidak membedakan anak-anak, selalu bercanda, dan pintar membuat semua muridnya enjoy saat kegiatan belajar mengajar. Dan itu semua dari sisi Gibran. Sementara Saira tidak memiliki pendapat apa-apa mengenai guru biologi itu, kecuali kekhawatirannya karena untuk pertama kalinya ditunjuk sebagai ketua kelompok.
“Sar, udahan ya? Saya mau bantu ibu siapin untuk jualan besok. Kamu jangan tidur malam-malam, jangan lupa belajar. Daaah!” kata Gibran pamit.
“Bantuin ibu sampai jam berapa?” tanya Saira, saat menyadari jam di kamarnya menujukkan angka sembilan lewat.
“Ehm… mungkin jam 12.”
“Jangan sampai sakit, ya.”
“Iya, sayang.”
“Daaah!”
***
Hari yang paling Saira takutkan tiba! Hari ini adalah hari dimana Bu Nova akan menyuruh semua ketua kelompok untuk memimpin presentasi kelompoknya mengenai topik yang sudah ditentukan.
Saira, serta tiga teman kelompoknya, Rania, Bela, dan Ais, sudah mempersiapkan bahan semampu mereka, semampu Ais lebih tepatnya. Ia lebih banyak memberi pendapat dibandingkan Saira. Saira banyak berhutang padanya, jika bukan karena Ais, pasti ia sudah tidak punya muka di depan Adnan.
“Sar, menurut gue, lebih baik kita klasifikasi invertebrate, terus setelah kita explain semuanya secara general, kita pilih satu jenis hewan, terus kita bahas dari spesiesnya, sampai ke subfilumnya, yaitu invertebrate,” kata Ais di salah satu diskusi mereka.
Rania, Bela, dan Ais, memandang Saira, menunggu jawaban.
“Ehm… boleh,” jawab Saira.
“Oke, kalau gitu hewan apa ya yang enak dibahas?” tanya Ais pada anggota kelompok yang lain.
“Hewan invertebrate apa aja sih?” tanya Rania.
“Ini, gue kirim bahannya ke email kalian. Gue juga lihat di internet, sih,” jawab Ais.
Saira langsung melihat laptonya. Kenapa bukan dirinya, sebagai ketua yang punya insiatif seperti ini?
“Jangan bahas kecoak, gue geli,” sahut Bela.
“Me too,” kata Ais tertawa.
“Iya,” sahut Saira.
Rania hanya mengangguk setuju.
“Kupu-kupu gimana?” tanya Rania. Ia sedang keranjingan dengan drama Korea yang menceritakan tentang kupu-kupu.
“Boleh,” jawab Saira.
“Kenapa kupu-kupu? Apa istimewanya?” tanya Ais.
Mendengar pertanyaan Ais pada Rania, Saira menyalahkan dirinya karena tidak bertanya hal serupa pada Rania.
“Itu hewan kecil, tapi pas gue browsing, unik loh, mulai dari sayap transparannya, proses metamorfosisnya. Apalagi, metamorphosis kan salah satu ciri-ciri invertebrate. Pasti menarik presentasi kita nanti. Dan gue rasa gak ada yang phobia deh sama kupu-kupu,” jawab Rania sambil memandang layar netbooknya.
Saira kemudian langsung mencari mengenai kupu-kupu di internet. Dia selalu menjadi ketua kelompok yang telat berinisiasi.
“Kalo menurut gue, mending kita bahas spons? Kan spons sederhana banget, jadi gak akan banyak yang tanya, gimana? Terus karena spons itu langka, pasti banyak yang belum tau detailnya. Nilai kita bisa tinggi,” kata Ais memberikan pendapat dan menunggu jawaban.
“Gue sih ikut Saira aja, gimana Sar?” kini giliran Bela yang menunggu jawaban Saira.
“Hah?” Ditanya begitu, Saira langsung panik. “Boleh, spons juga boleh,” kata Saira pada akhirnya.
“Sar, please. You’re the leader. Lo mau hewan apa?” tanya Ais. Mungkin ia gemas.
“Gue pilih…..,” Saira bingung sendiri. Ia kemudian memikirkan hewan yang paling sering ada dan pasti semua orang pernah melihatnya. “Kecoak gimana?”
“Hah? Gue takut, bukannya lo juga takut?” tanya Rania.
“Yaudah deh, kupu-kupu aja,” kata Saira berubah pikiran.
“Oke, kupu-kupu ya,” kata Ais sambil membuka netbooknya kembali.
Namun kemudian Adnan mengirim chat pada Saira.
Adnan: kelompok lo pilih hewan apa?
Saira: lo apa?
Adnan: ya mamalia, kan contohnya manusia
Adnan: saran gue pilih yg simple aja, biar gak banyak pertanyaan
Saira: kyk spon?
Adnan: ide bagus! Cerdas bgt!
“Guys,” Saira memanggil anggota kelompoknya yang langsung menoleh.
“Apa?”
“Kita bahas spons aja,” kata Saira.
Seluruh anggota kelompoknya bingung karena Saira berubah pikiran hampir setiap waktu. Namun, mereka menghargai Saira sebagai ketua kelompok.
Adnan mempersilahkan kelompok Saira untuk maju lebih dulu, karena ia akan membahas manusia, spesies yang lebih kompleks. Namun, mata Saira membesar karena tidak mau presentasinya sebagai opening, ia langsung memandang Adnan yang balik menatapnya dan mengisyaratkan ”Ada apa?” dengan mengangkat kepalanya sedikit.
Saira menjawab isyarat Adnan dengan isyarat juga. Ia menggelengkan kepalanya, seolah ingin memberi tahu Adnan bahwa ia tidak mampu untuk presentasi sekarang. Ternyata Adnan pun langsung mengetahui maksud Saira, ia mengangguk dan langsung mengangkat tangan.
“Bu, kayaknya kelompok saya dulu aja. Kan kita mau bahas tentang manusia, jadi opening dan closing-nya nanti lebih baik tentang manusia, gimana Bu?”
Bu Nova mempertimbangkan alasan Adnan dan langsung setuju. Ia mempersilahkan kelompok satu untuk maju.
Adnan, diikuti dengan Aliyyah, Bian, dan Bayu, maju ke depan kelas setelah menyambungkan netbook milik Adnan ke proyektor di kelas mereka dan memastikan materi mereka terlihat di layar proyektor gantung.
“Good afternoon, Bu Nova and all audience. Thank you for letting us presenting our material. We are going to explain about…..”
“Kelompok satu pasangannya kelompok berapa?” tanya Bu Nova.
“Kelompok empat, Bu.”
“Oke, ketua kelompok empat, tolong kamu sebagai time keeper dan record Q&A-nya, ya!” perintah Bu Nova.
Presentasi dari kelompok satu dilanjutkan. Saira, sebagai ketua kelompok empat juga ambil posisi di bangku depan dan mencatat semua pertanyaan dan jawaban untuk kelompok satu.
Tidak ada satu pertanyaan pun yang tidak bisa dijawab oleh kelompok satu. Bahkan, Aliyyah, Bian, dan Bayu selalu menambahkan jawaban pertanyaan yang sudah dijawab oleh Adnan, ketua mereka. Ditambah lagi, tambahan jawaban dari Bayu selalu dilengkapi dengan lelucon yang menghibur, membuat seisi kelas tertawa.
Tibalah giliran kelompok Saira yang maju ke depan untuk menjelaskan mengenai Invertebrata dan Spons, hewan yang sudah mereka pilih. Saira memandangi catatan materinya yang sudah ia hapalkan dan ia konsultasikan dengan Rania, Bela, dan Ais terlebih dahulu.
“Semangat, leader!” kata Rania, Bela, dan Ais bergantian saat mereka berjalan maju ke depan kelas dan hendak menyiapkan presentasi mereka dengan netbook dan proyektor. Adnan yang merupakan time keeper dan Q&A recorder, juga menyemangati Saira.
“Good luck, Sar!” Adnan berbisik saat melewati Saira yang sibuk dengan netbook yang sedang ia setting. Saira merasa lebih kuat setelah mendapat empat dukungan dari Adnan dan anggota kelompoknya.
Namun Saira merasa benar-benar kuat saat menghadapi seisi kelas dan melihat Aliyyah, Bian, Bayu, dan Nadia menyemangatinya dengan isyarat. Saira tersenyum.
“Good afternoon, Bu Nova and everyone. My name is Saira, and here are Rania Annisa, Salshabila Dwiyani, and Sulaiman Uwais. We are going to explain about invertebrate in general, and at the end, we prepared a material contained of a very unique creature, named Sponge,” Saira merasa bahwa semua audiens menikmati penjelasan dari kelompok mereka, dan ia tidak merusak hasil kerja Ranis, Bela, dan Ais sama sekali. Mereka memang lebih hebat dari Saira saat mempresentasikan, namun Saira tidak seburuk itu.
“That’s all from us. Is there any question?” tanya Saira saat Ais sudah menutup penjelasannya.
Bian mengangkat tangan, begitu juga dengan Nadia, Bayu, dan beberapa teman dari kelompok lain. Pertanyaan-pertanyaan mereka tidak menyulitkan, juga tidak membuat Saira takut, karena ada Ais di kelompok mereka. Selain itu, Rania dan Bela juga koopertif.
“Give applause!” kata Bu Nova setelah Saira menutup presentasi mereka dan menyelesaikan pertanyaan terakhir yang diajukan oleh Bayu.
Seisi kelas bertepuk tangan dengan riuh karena permintaan Bu Nova.
“Saira, thank you for leading group 4. Saira ini tipe pemimpin yang mendukung penuh seluruh anggota kelompoknya. Terlepas dari kemampuan masing-masing individu dalam menguasai materi, Saira saya perhatikan selalu memberi ruang kepada anggota kelompoknya untuk bicara terlebih dahulu. That’s good point,” kata Bu Nova pada Saira.
Saira tersipu dipuji seperti itu, namun ia bersyukur dan berterima kasih pada Bu Nova setelahnya.
Dan ternyata bukan hanya Saira saja yang diberi pujian oleh Bu Nova. Secara berurutan, setelah Saira, Bu Nova memberi tahu kelebihan Rania, Bela, dan Ais saat presentasi dan memuji mereka juga. Bu Nova hanya berpesan untuk memperbaiki apapun yang bisa diperbaiki dari kerjasama kelompok empat.
Di akhir kelas, Bu Nova lupa bahwa ia belum mengatakan kelebihan dari kelompok satu. Ia kemudian membuka catatannya, dan mengatakan, “Group 1 is like an avenger. A group, contains of super people. Kalian pasti sadar ya bahwa kalian pintar, rajin, mungkin pesan saya keep going. Adnan, your leading is good, all members are so ambitious and well prepared. I respect you, guys!”
Namun, dari semua pujian untuk kelompok satu, semua anak paling iri dengan pujian yang diberikan pada Cindy dan kelompoknya, kelompok 3. “Cindy, you’re so fine. You did great in this presentation, your members shone beside you, and so did you. I cannot be glad enough to be your teacher, such an honor. Thank you group 3 for your effort and work. Keep going, okay?”
***
Saat pulang, Saira diliputi dengan perasaan paling bahagian yang pernah ia rasakan berkaitan dengan akademik. Ia belum pernah dipuji oleh guru mana pun di SMA Pelita Mulia, kecuali pujian-pujian standard dari Pak Arnon, Kepala Sekolah SMA Swasta Pelita Mulia, saat upacara bendera yang hanya diadakan beberapa kali dalam satu tahun.
Saira berjalan turun dari gedungnya bersama dengan Adnan dan ia menuju ke kantin, tempat ia dan Gibran bertemu. Saira berjanji akan membelikan Adnan roti goreng Bu Dewi, roti goreng paling enak dan paling terkenal seantero sekolah. Ia membelikan Adnan karena Adnan telah membantunya mempersiapkan bahan presentasi biologi.
Sebenarnya Saira juga mengajak Bian dan Aliyyah, namun Bian ada urusan dengan Bu Lisbet sepulang sekolah dan Aliyyah ingin segera pulang karena Paman dan Bibi, dua orang tua yang bekerja di rumahnya, hari ini tidak bisa datang.
“Saira!” Gibran memanggil Saira saat pacarnya itu sampai di kantin. Namun ia terlihat terkejut saat mendapati Adnan ada di sebelahnya.
“Kak Gibs, Saira mau roti goreng, dong. Adnan mau coba,” kata Saira ceria. Saat itu kantin tidak begitu ramai. Hanya ada Gibran dan bebeberapa penjual, termasuk Bu Dewi.
“Oh, masih ada sih tadi. Sisa tiga. Mau berapa?” tanya Gibran.
“Semuanya aja. Adnan kan suka cemilan. Ya kan, Nan?” kata Saira pada Adnan.
“Boleh,” kata Adnan dengan wajah serius. “Eh, gue mau ke toilet dulu ya. Titip tas,” Adnan menunjuk pada tas yang ia letakkan di bangku terdekat dengan Saira.
Saira mengangguk. Ia kemudian berjalan menuju ke stand Bu Dewi untuk membeli roti goreng terenak yang ia janjikan pada Adnan.
Tiba-tiba Gibran berhenti di depan Saira, membuat Saira terkejut dan menghentikan langkah kakinya. “Kenapa Kak?”
Gibran menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kembali dan dengan wajah serius, ia berkata, “Sar, maaf kalo saya egois. Tapi saya jealous lihat kamu sama Adnan.”
***
“Jadi kamu sama Adnan?" – Bunda