Sejak Saira lahir, tidak pernah satu kali pun bunda lupa untuk menyebutkan kebaikan ayah Saira, Salman, dan Fatih pada mereka. Bunda juga selalu mengakui bahwa sampai saat ini, bunda belum pernah bertemu dengan orang yang lebih baik dari ayah. Hal ini tentu saja membuat anak-anak bunda menginginkan cinta sejati seperti layaknya kedua orang tua mereka.
Bunda sering bercerita pada Saira, bahwa sebelum bertemu ayah, bunda adalah manusia biasa yang tidak percaya bahwa nasib bunda suatu saat akan berubah. Bunda terlahir di keluarga biasa, kedua orang tua bunda—nenek dan kakek Saira—adalah PNS dengan gaji yang hanya cukup untuk menyekolahkan tiga anaknya sampai lulus SMK.
Lulus SMK di jurusan Manajemen Logistik, bunda langsung bekerja di sebuah perusahaan Logistik dan bertemu dengan ayah di sana. Saat bekerja di perusahaan itu, rumornya ayah sudah jatuh hati pada bunda. Namun, bunda tidak ambil pusing karena bunda tau diri. Ayah adalah seorang lulusan sarjana dari universitas negeri ternama.
Tapi ternyata rumornya benar. Ayah mulai mendekati bunda dan bunda lambat laun pun mulai menyukai ayah. Setelah enam bulan kenal, ayah melamar bunda dan tidak lama setelah itu, bunda hamil seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Salman.
Setelah dua tahun Salman lahir, bunda melanjutkan kuliah strata satu, dan ayah melanjutkan kuliah master. Ayah dapat menyelesaikan kuliah dalam waktu dua tahun, sementara bunda sempat cuti kuliah 1 tahun karena Fatih lahir, dan akhirnya menyelesaikan kuliah strata satu dalam waktu lima tahun. Semua itu dilakukan ayah dan bunda sambil bekerja.
Hari ini bunda mengajak Salman, Fatih, dan Saira untuk berziarah ke makam ayah. Kata bunda, bunda sudah sangat rindu pada ayah. Semalam Saira mendengar bunda bangun malam sambil menangis, mungkin karena bunda terlalu rindu pada ayah. Saira sendiri hanya melihat ayah dari foto, dan membayangkan seperti apa ayah akan mendidiknya, jikalau ayah masih hidup.
Makam ayah tidak terlalu jauh dari rumah, hanya berjarak beberapa kilometer dan menghabiskan waktu paling lama setengah jam untuk bisa sampai di makam. Salman mengendarai mobil sedan milik bunda, dan Fatih berada di sebelahnya sambil mendengarkan radio pagi. Sementara bunda dan Saira duduk di bangku penumpang. Bunda memandang ke jendela—sebuah aktifitas yang selalu bunda lakukan di perjalanan menuju makam ayah—dan Saira sibuk dengan handphone-nya, berkirim pesan dengan Gibran.
Gibran: saira, saya jalan ke tk
Saira: hati2 di jalan kak gibs
Gibran: saya udh sampai tk
Gibran: km jd ke makam ayah?
Saira: otw sama bunda, mas fatih, mas salman
Gibran: take care
Saira: you too, good day!
“Hai listeners, bagaimana kabar kamu pagi ini? Di weekend yang cerah ini, semoga suasana hati kalian juga cerah, ya? Di sini ada gue, Bimo, yang akan menemani kalian….,” suara dari radio yang sedang didengarkan Fatih terdengar sampai ke bangku belakang.
“Dulu setiap pagi, ayah juga suka dengerin radio sambil bantu bunda beres-beres rumah…” tiba-tiba saja bunda mulai bercerita.
Mendengar bunda bicara, Fatih langsung mengecilkan volume radio. “Terus Bun?” tanya Fatih, ingin mendengar lebih banyak tentang ayah.
“Kamu masih kecil ya, Tih waktu itu? Mas sempet ngalamin diajak ayah muter-muter cari radio lama. Waktu itu mas udah SD, tapi masih belum ngerti apa-apa,” Salman ikutan bercerita.
“Radionya masih ada gak ya Man di rumah?” tanya bunda.
“Kayaknya di gudang ada, Bun,” jawab Salman. “Cuma Salman gak tau masih bisa dipakai atau enggak, ya.”
“Sini Fatih coba benerin. Di youtube kan pasti banyak tutorialnya ya,” ujar Fatih ikut dalam perbincangan.
Saira diam saja. Selalu begitu, Saira tidak tau harus bicara apa saat kakak-kakaknya dan bunda membicarakan ayah. Namun, Saira sangat menikmati obrolan ini. Paling tidak, meskipun tidak pernah bertemu, ia harus benar-benar mengenal ayahnya, walaupun hanya dari cerita.
“Ya boleh kalau mau coba, cari sama Salman di gudang,” kata bunda menanggapi tawaran Fatih.
“Oh iya Bun, jas ayah pas nikah sama Bunda kan masih ada di rumah ya?” tanya Salman.
“Masih kok, di lemari Bunda. Kenapa? Kamu mau pakai untuk nikahan kamu?” tanya bunda, sekalian membeberkan rencana Salman.
Salman tertawa, Fatih dan Saira diam saja pura-pura tidak tau.
“Nanti Fatih sama Saira jadi nanya-nanya nih, Bunda,” kata Salman.
“Kita gak peduli kok. Ya kan, Mas Fatih?” kata Saira. Ia tau Salam ingin membuat Saira dan Fatih menasaran dengan membicarakan pernikahan secara tiba-tiba.
“Gak peduli apa?” tanya Salman.
“Gak peduli kalo Mas Salman sebentar lagi mau nikah. Gimana taarufnya? Diterima gak?” tanya Fatih, membuat semuanya semakin jelas.
“Bunda…” panggil Salman.
“Bunda gak cerita ke siapa-siapa loh,” kata bunda membela diri.
“Kok Fatih tau?”
“Eh Saira, kamu tau gak?” tanya Fatih, ia sepertina ingin membuat Salman semakin bingung karena sudah mengetahui rencananya.
“Saira gak tau kalau namanya Asma…” kata Saira dengan kalimat menggantung yang disengaja.
“Bunda, kok ini Fatih sama Saira tau detail banget?” Salman minta klarifikasi lagi pada ibunya.
“Fatih sama Saira tau dari mana?” tanya bunda yang juga penasaran.
“Gak tau,” jawab Saira dan Fatih dengan kompak. Mereka kemudian tertawa karena menjawa secara bersamaan tanpa disengaja.
“Kamu udah pernah cerita tapi lupa mungkin, Man,” kata bunda meminta Salman mengingat.
“Enggak!” elak Salman dengan cepat dan yakin.
Saira dan Fatih cekikikan. Mereka bahagia sekali bisa mengusili kakak pertama mereka.
“Jadi gimana Mas Salman? Lancar gak?” tanya Saira.
“Kasih tau dulu kamu tau dari mana?” tanya Salman tidak mau kalah.
“Saira denger pas Mas Salman cerita sama bunda,” aku Saira.
“Oh….”
“Jadi gimana lancar gak?”
“Doain ya, sampai saat ini sih lancar. Masih dalam perkenalan,” cerita Salman.
“Aamiin,” bunda, Fatih, dan Saira mengamini.
Tepat setelah lima puluh menit di perjalanan, bunda, Salman, Fatih, dan Saira sampai di makam ayah. Saira ingat terakhir kali datang ke tempat ini adalah saat ia bercerita mengenai Gibran di depan pusara ayahnya. Tidak disangka, kali selanjutnya ia ke sini, Saira sudah jadian dengan Gibran.
Bunda mendahului ketiga anaknya untuk mulai membersihkan daun-daun kering dari atas makam ayah. Sebuah nisan dari kayu berdiri tegak, tertulis di sana, “Muhammad Bayu bin Muhammad Banyu.” Salman dan Fatih menyiram makam ayah mereka dengan air biasa yang mereka bawa dari rumah agar terlihat bersih, juga membersihkan nisan ayah mereka, agar tidak ada debu atau tanah kering yang menutupi nama ayah.
Saira mengangkat kedua tangannya, mulai berdoa untuk ayah yang tidak pernah ditemuinya tersebut. Ia berdoa agar bisa menjadi alasan ayahnya masuk surga. Saira juga berdoa agar ayahnya dijauhkan dari api neraka.
Yah, next time Saira bawa senior Saira yang waktu itu Saira ceritain ya? Ternyata dia juga suka sama Saira, kata Saira pada ayahnya, dalam hati. Sebelum itu, ia menyudahi doanya dengan mengusapkan telapak tangannya pada wajah.
Bunda, Salman dan Fatih, menerapkan hal yang sama. Mereka tenggelam dalam doa yang mereka panjatkan pada Tuhan sampai Saira melihat air mata bunda mengalir dan ia mendegar Salman berkata pelan, “Salman kangen, Yah.”
Selesai berdoa, bunda beralih pada anak-anaknya. “Kalian ingat ya, suatu saat kita akan meninggal juga. Perbanyak ibadah kalian, ya?” kata bunda memberi nasihat. Ketiga anak bunda, refleks mengangguk. Ini memang hal yang berkali-kali bunda katakan pada anak-anaknya setiap kali mereka berkunjung ke makam ayah. Bahwa suatu saat nanti, mereka semua juga akan menyusul ayah.
Fatih yang berada di samping bunda, menggandeng lengan ibunya untuk berjalan keluar dari area makam menuju mobil sedan mereka diparkir. Salman sebagai pengemudi berlari menuju mobil terlebih dahulu untuk menghidupkan mesin. Saira berjalan sendiri di belakang.
Pulang dari makam, keluarga itu kelaparan. Saira yang sudah lama sekali tidak makan makanan siap saji—karena dilarang bunda—merengek minta dibelikan ayam goreng, burger, kentang goreng, dan segelas minuman soda dengan banyak es batu.
“Kamu sendiri, gimana Fatih? Gak ada yang dikenalin lagi sama Bunda, nih?” tanya Bunda sambil mengambil satu potong kentang dan mencocol saus sambal di depannya.
Saira yang sedang menggigit cheeseburger-nya sontak ingin membeberkan rahasia kakak keduanya itu. Namun, ia mengurungkan niatnya saat melihat Fatih melotot padanya, menyuruhnya diam.
Salman juga tampak penasaran, karena perempuan terakhir yang dibawa Salman ke rumah bernama Sasha sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya. Ia memandang Fatih menunggu jawaban.
“Fatih mau fokus kuliah, nanti kalo udah mapan baru cari calon istri,” jawab Fatih mantap.
“Yang kemarin emang kemana?” tanya Salman.
“Tidak berjodoh,” jawab Fatih santai.
“Kayaknya udah lima orang kamu kenalin sama Bunda, masa gak ada yang jodoh?” tanya bunda tidak percaya.
“Lima orang itu baru yang dikenalin sama Bunda, yang gak dikenalin berapa, Mas?” tanya Saira meledek.
“Yah, biasanya Fatih bawa ke rumah kan kalo udah yakin. Kalo masih pacaran satu dua bulan sih belum yakin, Bun,” jawab Fatih sambil memasukkan sisa burgernya ke mulut.
“Padahal Sasha baik, loh,” kata Bunda.
“Tenang Bunda, Fatih ada calon yang lebih baik,” ujar Fatih.
“Hah? Udah ada calon? Katanya mau fokus kuliah?” tanya Salman heran mendengar pengakuan adiknya yang bertentangan dengan cerita sebelumnya.
Mata Fatih mendadak membesar, ia sadar bahwa ia baru saja kelepasan bicara. Ia menepuk dahinya sendiri dengan pelan dan memandang Saira dengan mata memelas. Saira tertawa.
“Maksudnya Mas Fatih tuh, nanti kalo Mas Fatih udah mapan kan akan banyak cewek yang lebih baik. Gitu bun maksudnya,” kata Saira mencoba menolong Fatih. Sebagai gantinya, ia mengambil es krim sundae coklat di tangan Fatih dan mencicipi hampir setengahnya. Kemudian, ia mengembalikan sisanya pada Fatih yang tidak bisa berkutik.
“Tapi cerita dong, Sasha kenapa sih? Kok gak jodoh?” tanya bunda penasaran.
“Kata Mas Fatih sih, Kak Sasha terlalu baik buat Mas Fatih.” Bukannya Fatih yang menjawab, melainkan Saira. Entah sejak kapan ia menjadi juru bicara kakaknya.
“Terlalu baik kok, nanti cari yang lebih baik sih?” tanya bunda bingung. “Fatih, yang bener yang mana sih?”
Saira nyengir, mengetahui dirinya salah bicara. “Kenapa sih Mas Fatih putus sama Kak Sasha? Saira juga penasaran.”
“Ehm….” Fatih memberi intro pada ceritanya.
Ketiga anggota keluarga lain diam, menunggu jawaban Fatih dengan serius, kecuali Salman yang terlihat penasaran namun tidak begitu peduli pada cerita remeh temeh seperti ini.
“Sasha tuh baik, cuma sebulan terakhir sebelum putus tuh, Fatih jadi gak kepingin pacaran. Fokus ke kuliah, sering ke Masjid, jadi gak ada waktu juga,” kata Fatih. “Jadi, Fatih diputusin deh sama Sasha.”
“Yah, sedih dong?” kata Bunda.
“Biasa aja sih, Bun. Kan Fatih mau fokus kuliah dulu,” jawab Fatih.
Saira tau Fatih bukannya tidak sedih karena ingin fokus kuliah, hanya saja pikiran Fatih sedang teralih pada Aliyyah yang tidak bisa didapatkannya. Saira bersyukur Aliyyah tidak menanggapi Fatih, ia tidak tega pada Kak Sasha.
“Yaudah, semoga anak Bunda dapat yang lebih baik,” kata Bunda.
“Aamiin,” sahut Fatih.
Salman kemudian berdeham dan membicarakan sesuatu yang tertuju pada Saira.
“Kalau Saira, gimana?” tanya Salman.
Saira yang ditanya langsung begitu kaget dan hanya bisa menunjukkan wajah bingung. Ia tau bahwa yang dimaksud Salman adalah Gibran, namun Saira tidak tau harus bercerita dari mana.
“Apaan?” tanya Saira. Kini giliran ayam goreng bagian paha yang menjadi santapannya.
“Kata Adnan, dia sekelas sama kamu?” tanya Salman membuat pikiran Saira tentang Gibran buyar.
“Hah? Oh iya, dia anak baru di kelas Saira. Pinter orangnya,” jawab Saira. “Kok tau?”
“Dia chat Mas kemarin bilang kalau dia pindah sekolah dan sekelas sama Saira,” jelas Salman.
“Adnan siapa ya?” tanya bunda bingung.
“Dia anaknya yang punya café tempat Salman magang dulu, Bun. Seumur sama Saira. Eh, sekarang malah satu kelas,” kata Salman menjawab pertanyaan bunda.
Saira beranjak dari duduknya untuk mencuci tangan karna tangannya dipenuhi minyak ayam goreng yang kini sudah ia habiskan. Saat ia kembali, bunda menanyakan pertanyaan yang membuat Saira terkejut.
“Jadi kamu sama Adnan? Bunda kira kamu sama anak yang waktu izin ke Bunda untuk sering anter kamu pulang, siapa namanya?” tanya bunda. Pasti yang bunda maksud adalah Gibran.
“Gibran,” balas Saira.
“Ah iya, Gibran.”
“Saira gak sama Adnan. Dekat pun enggak, Bun,” elak Saira. Ia menduga-duga apa yang baru saja ia lewatkan saat mencuci tangan.
“Bukan sama Adnan, Bun. Maksud Salman, Adnan baik, cocok sama Saira,” Salman memberi alasan.
“Jadi kamu sama Adnan atau Gibran? Atau gak usah pacar-pacaran dululah, kamu sekolah aja. Jangan lupa jaga diri, loh!” kata bunda mendadak tegas.
“Tuh, denger kata bunda!” Salman ikut memberi nasihat dengan tegas.
“Saira sama Kak Gibran cuma temenan biasa kok, tapi dekat aja. Karena Kak Gibran baik,” kata Saira.
“Jadi pacaran?” tanya bunda.
Saira diam saja. Ia belum memberi tau siapapun dari anggota keluarganya mengenai status hubungannya dengan Gibran.
“Heh, ditanya bunda, tuh!” Fatih menendang kaki Saira dari bawah meja.
“Iya, Saira pacaran, Bun,” kata Saira pelan.
“Oke, besok atau lusa, atau minggu depan, kamu ajak ke rumah, ya?” pinta bunda, membuat Saira cemas, sekaligus senang.
***
“Mas Fatih! Kak Gibran!” – Saira